Titip Salam

Titip Salam
Apa? Hamil?



#31


Sore yang tenang dengan angin sepoi-sepoi meniup dedaunan seolah menari bergelayutan di ranting pepohonan. Burung gereja berkicau sahut menyahut menyanyikan senandung alam nan syahdu.


Nuansa damai yang disajikan tak seirama dengan perasaan berkecamuk antara dua anak manusia yang terlibat suatu perdebatan.


Diana dan Mario sedang bersitegang. Dua kepala batu yang sedang beradu keegoisan dan tak ada yang mau mengaku bersalah.


Mario seolah memegang kendali. Dia bergerak maju berusaha menyudutkan Diana yang perlahan mundur.


Tangan Mario terangkat dan mengepal begitu keras seolah menantang langit. Sementara di sudut lain Rosa mulai histeris menatap temannya Diana terpojok ketakutan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Namun semua yang terjadi ternyata diluar diguaan. Mario bukannya melayangkan pukulan pada Diana yang tengah ketakutan di depannya.


Dia menyentuh kepala Diana dan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu.


Cup..


Eh,


Sontak Rosa terbelalak kaget sembari munutup mulutnya dengan telapak tangan. Mulutnya yang semula histeris otomatis mengatup rapat. Hatinya benar-benar meleleh melihat drama yang di hadapannya secara live.


"Astaga Mario! So sweet banget.." Pikir Rosa.


Diana melepas telapak tangan yang menutupi wajahnya. Seketika tubuhnya menggigil kedinginan.


"Apa itu tadi?" Tanyanya dengan tergagap.


Mario menyeringai penuh kemenangan. Dia merasa sangat puas melihat wajah gadis di depannya memucat.


"Dasar cewek sombong! Ternyata nyali kamu segitu doang." Cibir Mario.


Diana mengusap keningnya. Mulutnya terasa tercekat dan otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Kamu pikir aku bakalan main fisik sama perempuan?" Mario cekikikan melihat Diana yang masih membeku.


Mendengar laki-laki di depannya tertawa senang, hati Diana benar-benar bergemuruh. Dadanya serasa sesak dan matanya mulai berembun.


"Brengsek kamu Mario." Ucap Diana dengan lirih.


Sekepal tangan mungil namun dengan kekuatan yang luar biasa mendarat tepat di hidung Mario.


Mario terjungkal dengan darah yang mengalir dari hidungnya.


"KAMU JAHAAAT!" Diana berteriak begitu kencang.


Air mata Diana mulai meleleh tak terbendung. Dia berlari meninggalkan Mario yang meringis kesakitan mengelus hidungnya yang mimisan akibat tonjokan dari Diana.


Rosa tersadar akan tontonan yang tersuguh secara nyata di depannya. Bibirnya tak sanggup mengatup menikmati setiap adegan yang terjadi.


Rosa berjalan mendekati Mario yang berusaha berdiri. Dia menengokkan kepalanya mengintip pada wajah Mario.


Mulut Rosa semakin menganga lebar melihat ada darah dihidung Mario. Namun tak sepatah kata pun dia berkomentar. Rosa hanya menengok sebentar lalu ikut berlari mengejar Diana.


Mario tertawa.


"Sialan, tonjokannya keras juga." Umpat Mario namun bibirnya tetap tertawa.


"Cewek yang unik." Gumamnya.


Ketika disibukkan dengan usaha menghapus darah dihidungnya, tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan pada Diana?"


Sebuah tangan langsung mencengkeram kuat kerah baju Mario sebelum Mario sempat menoleh.


Willy.


"Hei, apa kabar?" Mario menyeringai mengetahui siapa yang menepuknya tadi.


"Kamu apain Diana?" Ucap Willy sambil mengencangkan cengkeramannya.


"Santai dong, gak usah emosi. Memangnya apa hak kamu marah? Kamu siapanya Diana?" Jawab Mario dengan santai.


Willy nampak mengendurkan cengekeramannya. Dia terdiam sesaat.


"Benar, aku bukan siapa-siapa Diana." Gumam Willy dalam hati.


"Kamu marah lihat aku cium Diana? Kamu cemburu?" Ledek Mario.


"Urusan kamu sama aku. Jangan libatkan Diana. Jangan ganggu dia." Kata Willy lirih.


"Kalau aku gak mau gimana?" Jawab Mario seolah menantang.


"Mario, apa dengan aku tidak mempermasalahkan pengeroyokan malam itu, masih belum cukup buat kamu?" Willy berusaha tenang dan meredam emosinya.


"Aku gak minta kamu buat tidak mempermasalahkannya. Kamu boleh bales kalau kamu mau. Tapi urusan aku sama Diana itu beda." Jawab Mario dengan senyumnya yang menyebalkan.


"Aku cuma mencoba berdamai. Aku gak mau memperpanjang semuanya. Diana gak salah. Dia membela diri ketika kamu akan memukulnya malam itu." Willy benar-benar masih mengingat jelas kejadian malam itu. Dia tidak melupakan hal setitik pun seolah itu baru terjadi kemarin.


"Aku gak peduli. Lagian kamu gak usah cemas. Aku gak akan nyakitin Diana." Jawab Mario.


"Apa maksud kamu?" Willy tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Mario sebenarnya selain balas dendam.


Willy benar-benar terkejut mendengar pernyataan Mario. Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Akankah sekali lagi dia harus bersaing dengan Mario?


"Diana sudah berbuat baik padaku malam itu. Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai kamu menyakiti Diana." Ucap Willy.


Mata Willy menatap tajam menunjukkan ancaman untuk Mario. Dia menunjukkan keseriusan dalam.setiap perkataannya barusan.


"Sebaiknya kamu berhati-hati Mario. Aku gak main-main." Willy seperti mengibarkan bendera perang.


Dia berbalik meninggalkan Mario. Ada sesak didadanya. Dia menguatkan dirinya.


"Aku gak akan lemah." Ucap Willy.


Willy memegang dadanya dan terus berjalan.


...


Diana berlari menyusuri gang sambil menyeka air matanya. Pikirannya kacau dan hatinya berkecamuk. Marah dan takut bercampur menjadi satu.


"Diana.. Tunggu.." Rosa terus mengejar temannya itu.


Rosa mempercepat larinya hingga ia bisa menjangkau Diana.


Huh,


Rosa berhasil menghentikan Diana. Mereka terdiam dan bersama mengatur nafas yang ngos-ngosan.


"Udah dong Di, jangan nangis lagi." Rosa mengajak Diana duduk di pinggir trotoar yang sepi.


Diana masih sesenggukan sambil mengusap keningnya. Dia merasa jijik seolah ingin membasuh keningnya.


"Udah Di, malu dilihat orang." Bisik Rosa menenangkan.


"Mario jahat banget Ros.. Tega banget dia nyium aku.. Hiks hiks.." Diana terus menangis.


"Iya aku tau Di.. Mario emang keterlaluan. Tapi kamu tenang ya.." Rosa mengusap punggung temannya itu.


Diana menatap Rosa menunjukkan wajahnya yang merah dengan mata yang sembab.


"Kenapa sih nih cewek? Dikecup sama cowok ganteng dan populer kok malah nangis sesenggukan kayak gini?" Batin Rosa.


"Ros, aku takut." Ucap Diana sambil menatap Rosa.


"Takut kenapa Di?" Rosa mulai ikut bingung melihat wajah sedih Diana.


"Kalau aku hamil gimana Ros.."


Deg,


Rosa terhenyak mendengar perkataan Diana. Rosa menjadi bingung. Dia tidak berpikir sejauh itu.


Tangisan Diana kembali pecah. Rosa tidak tahu lagi bagaimana cara menenangkan Diana. Diana terlihat begitu sedih dan hancur.


"Di, kamu tenang ya.. Aku juga bingung harus gimana.." Rosa mengusap punggung Diana.


Rosa berpikir keras mencari cara menenangkan temannya yang saat ini sedang kalut.


"Apa dengan dicium kening oleh lawan jenis bisa jadi hamil ya?" Batin Rosa dalam hati.


"Tapi Di, kalau yang aku lihat dari sinetron-sinetron di tivi kayaknya kalau cuma dicium keningnya itu gak bikin hamil deh.." Ucap Rosa.


Seketika tangisan Diana terhenti. Diana menoleh pada teman di sampingnya. Tangannya mengusap pipinya yang tengah basah oleh air mata.


"Beneran Ros?" Tanya Diana yang dijawab anggukan kepala oleh Rosa.


Diana mulai merasakan ketenangan.


"Jadi aku gak akan hamil?" Tanya Diana sekali lagi.


"Apa? Hamil?" Seru seseorang dari arah belakang.


Sontak Diana dan Rosa menoleh menuju sumber suara. Seorang anak laki-laki dengan wajah terkejut sedang berdiri di belakang mereka.


"Ma ri o,-"


Diana tergagap seketika.


...


Bersambung...


 


Author's cuap:


Aduh..


Puk puk Diana..


Gregetan ama Mario..


Pingin ikutan nonjok deh jadinya..