
Author's cuap:
Temen-temen pembaca tersayang,,
Penasaran ya ama kelanjutannya???
😁😁😁
Lanjoooot...
--
Hal yang paling menyebalkan jika terlambat saat upacara bendera adalah sanksi sosialnya yang melatih ketangguhan mental kita. Itu hanya kiasan indah dari makna sebenarnya yaitu mempermalukan harkat dan martabat ketika nama kita dipanggil satu persatu di depan seantero warga sekolah sebagai murid yang tidak disiplin. Aduh malunya...
Pernah suatu ketika beberapa siswa ada yang memilih bolos ketika terlambat mengikuti upacara bendera. Besoknya mereka langsung mendapat hukuman yang sama pada saat jam istirahat ditambah pemanggilan orang tua.
Kejam?
No! Selama tidak main fisik, semua itu masih sebatas wajar demi mendisiplinkan anak didiknya.
Upacara selesai dan gerbang pun sedikit digeser. Kami para murid yang terlambat satu persatu memasuki gedung sekolah.
"Semangat ya,," sapa pak Supri dengan senyumnya.
Aku sedikit menerobos beberapa anak untuk memberi jarak dengan Mario. Aku tidak mau terlalu lama berdekatan dengannya. Itu terlalu berisiko.
Kami berjajar di tengah lapangan bersama teriknya matahari. Ku lihat teman-temanku melambai-lambai dan cekikikan menatapku. Jahatnya...
Hiks,
Pak Jamal, kepala sekolahku mulai membuka pembicaraan.
"Anak-anak sekalian, seperti yang kalian lihat, di samping saya sudah berderet murid-murid yang sangat istimewa karena mereka akan melakukan upacara lebih lama dari pada kalian." Ujar pak Jamal dengan suara kharismatik khasnya.
Suasana menjadi riuh dengan tawa seluruh warga sekolah. Aku semakin menundukkan kepalaku karena malu.
"Nah, otomatis mereka akan menjadi lebih sehat dengan memperoleh sinar matahari yang lebih banyak." Lanjut beliau.
"Kebetulan mereka juga ingin jadi artis. Ingin namanya jadi terkenal. Sekarang satu per satu sebutkan dengan suara yang keras nama dan kelas kalian. Biar temen-temen kalian gampang kalau nyari mau minta tanda tangan."
Hahahaa...
Terdengar suara tawa yang sangat riuh mengiringi kami yang dihukum untuk menyebutkan nama dan kelas kami saat ini. Inilah yang kumaksud dengan sanksi sosial alias bikin malu.
"Robi kelas 1C." Kata orang pertama yang berdiri tepat disamping pak kepsek.
"Belum sarapan kamu? Kok lembek amat. Ayo yang keras!" Mendadak nada suara pak Jamal sedikit galak.
"ROBI KELAS 1C." Jawabnya dengan berteriak, dan terus berlanjut hingga tiba giliranku.
"DIANA KELAS 3A."
"RANI KELAS 2B."
"ABDUl KELAS 3C."
"Stop!" Tiba-tiba pak Jamal menghentikan hitungan. Beliau menunjuk orang terakhir.
"Dia siapa anak-anak?"
Kompak seluruh murid-murid menjawab
"MARIO KELAS 3C."
"Kalau yang ini artis lawas ya.. Sudah bosen lihatnya." Sindir pak Jamal sambil menggelengkan kepala.
"Bapak dan ibu guru dipersilahkan kembali ke ruangan dan anak-anak boleh bubar, kembali ke kelas masing-masing." Kata pak Jamal membubarkan lapangan.
"Dan kalian yang terlambat, berdiri disana dengan posisi hormat sampai pak Samsul datang. Mengerti?"
"Mengerti pak." Jawab kami kompak.
...
Matahari tampaknya sedang bersemangat memberikan curahan sinarnya untuk bumi. Kami benar-benar berkeringat dibuatnya. Panas sekali.
Sudah hampir satu jam kami berdiri di sini. Tidak usah ditanya seberapa cenat cenutnya kaki kami. Rasanya seperi kram.
"Sudah panas?" Tiba-tiba ada suara dari arah belakang. Beliau adalah pak Samsul, salah satu guru olahraga kami.
"Sudah pak," jawab kami dengan lemas akibat dehidrasi.
"Ayo duduk menepi dulu biar agak dingin." Kata pak Samsul sambil membagikan air minum kemasan gelas pada kami satu per satu.
Dalam beberapa tegukan air itu langsung ludes, namun lumayan mengembalikan sedikit energi kami.
Aaah... Sensasi plooong...
"Sudah minumnya, sekarang dibagi kelompok masing-masing tiga atau empat anak." Kata pak Samsul kemudian.
Beliau membagi secara acak, dan...
"Kamu, kamu, kamu, satu kelompok." Tunjuk pak Samsul.
Sial! Kenapa diantara banyak anak masih saja aku bisa sekelompok dengan Mario.
"Ya Tuhan, apa Engkau menginginkan Mario membalas tendanganku malam itu?" Aku menggerutu dalam hati.
"Tidak boleh masuk kelas sebelum kantong plastik ini penuh. Tas kalian bisa diletakkan di depan ruang guru." Pak Samsul membagikan satu kantong plastik besar pada tiap-tiap kelompok. Kami pun segera berpencar mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.
Aku menyemangati diriku sendiri. Semakin cepat kantong plastik ini penuh maka akan semakin baik.
"Kita ke lapangan belakang aja yuk," Ajak Mario padaku dan Abdul.
Mario berjalan santai menenteng kantong plastik itu sambil merangkul pundak Abdul. Mereka tampak akrab karena memang teman satu kelas. Sedangkan aku berjalan sambil menyeret kakiku di belakang mereka.
Sial, sial, sial!!!
...
Bersambung..
---
Author's cuap:
Makasih ya teman-teman sudah baca episode ini sampai abis...
Mohon maap nih kalo masih ada typo typo
Jangan lupa klik jempolnya d bawah yaa 👍
Komen uneg uneg, kritik, dan saran kamu
🙏🏻😘