
#62
Aku Cemburu
...Deras hujan yang turun...
...Mengingatkanku pada dirimu...
...Aku masih di sini untuk setia...
...Selang waktu berganti...
...Aku tak tahu engkau di mana oh...
...Tapi aku mencoba untuk setia...
...(Setia - by Jikustik)...
Bunyi petikan gitar dan senandung suara lembut mengiringi titik gerimis yang seolah tak akan ada habisnya.
Setelah hujan deras yang mengguyur bumi siang tadi, sang surya seakan masih malas-malas menampakkan dirinya.
Awan kelabu masih memayungi bumi, menitikkan tetes tetes gerimis, memberikan hawa dingin yang membuat siapapun serasa ingin bersembunyi saja di balik selimut.
Suasana romantis yang diciptakan oleh alam semesta seolah tak sejalan dengan hati seorang pemuda yang tengah terpejam memetik senar gitarnya, menyanyikan simphoni yang menyayat hati.
Willy, menikmati kesunyian dihatinya dengan meluapkannya melalui lagu-lagu sendu beraroma patah hati. Siapapun yang mendengarnya pasti dapat merasakan betapa terlukanya hati seorang pemuda yang tengah beranjak dewasa tersebut.
Untuk pertama kalinya, dia merasakan debaran didadanya teruntuk seorang gadis yang istimewa. Namun, untuk pertama kali pula dia harus merasakan sakitnya patah hati sekaligus karena debaran yang ia rasakan hanyalah sepihak, tidak ada dia yang menyempurnakan.
"Galau amat lagunya." Ucap seorang gadis yang tiba-tiba ikut duduk disamping Willy.
"Mbak Santi jangan ganggu deh, mood aku lagi gak bagus." Ucap Willy dengan mata yang masih terpejam sambil memeluk gitar klasik miliknya.
"Ehem, apa karena bunga musim semi udah berguguran sebelum mekar?" Lanjut Santi yang terus menggodai adiknya yang ia rasa sedang patah hati.
Willy membuka matanya. Ditatapnya Santi membawa buku sketsa kecil tempatnya corat coret menuangkan isi pikirannya.
Buku sketsa itu banyak berisi tulisan tangan Willy berupa puisi, lirik lagu musisi favoritnya, dan banyak gambar-gambar coretan tangannya.
Dari banyak gambar disana, hanya ada satu sketsa wajah yang berulang kali sengaja digambar disana dalam berbagai ekspresi wajah. Yah, gambar seorang gadis yang sama, yang berulang kali memang dilukis oleh tangan Willy, yang bagian bawahnya selalu terdapat catatan kecil yang berbunyi "bunga musim semi-ku"
Santi tersenyum-senyum sendiri membolak balik tiap halaman buku itu.
"Mbak Santi apaan sih? Ngambil milik orang lain tanpa ijin." Ucap Mario segera meraih bukunya.
"Yah, dek.. Kan belum selesai bacanya. Tanggung dek.. Pinjem bentar lagi ya.." Pinta Santi berusaha meraih kembali buku milik adiknya itu.
"Gak!" Ucap Willy tegas sambil menyembungikan bukunya agar jauh dari jangkauan kakaknya.
"Pelit kamu."
"Biarin, wek.."
Kakak beradik itu selalu seperti itu. Begitulah ikatan saudara yang begitu kental membuat mereka menjadi sepasang kakak beradik sempurna yang saling menyayangi dalam berbagai bentuk salah satunya adalah saling menjahili.
"Mama tau gak ya, kalau anak laki-lakinya udah mulai naksir naksir sama cewek?" Santi mulai menggodai adiknya lagi.
"Mbak Santi gak usah ember gitu. Nanti aku aduin mama juga kalau mbak Santi pernah dici-" Belum sempat Willy melanjutkan kata-katanya, Santi langsung membekap mulut adiknya itu.
"Okeh, okeh, kita impas." Ucap Santi yang terserang panik oleh ancaman Willy.
"Hahahaha.. Macam-macam kau denganku mbak?" Batin Willy tersenyum puas karena memegang kartu As kakak perempuannya
"Apa nama cewek itu Diana?" Ucap Santi setelah melepaskan tangannya yang membungkam mulut Willy.
"Kok mbak tau?" Ucap Willy heran. Seingatnya, dia tidak pernah menuliskan nama Diana di buku itu.
"Ya tau lah.. Mbak kan belajar ilmu perdukunan di sekolah. Makanya bisa ngeramal. Hihihi.." Canda Santi.
"Serius dong mbak.. Mbak kok bisa tau namanya Diana. Emangnya mbak kenal dia?" Willy semakin dibuat penasaran.
"Kalau mbak cerita, takutnya kamu makin galau uring-uringa jadinya."
Willy terdiam. Sepertinya sang kakak tidak sedang mengerjainya. "Makin galau? Memangnya apa yang mbak Santi tau tentang Diana?" Batin Willy yang dipenuhi rasa penasaran.
"Beneran?"
"Iya,"
"Jadi, tadi sepulang dari acara alumni di sekolahan, mbak mampir ke kedai es krim mas Hendra." Santi pun memulai cerita pertemuannya dengan gadis yang sketsa wajahnya terlukis di buku semata wayangnya itu.
"Terus?" Willy meletakkan gitarnya, menyamankan duduknya, dan memasang telinga lebar-lebar mendengarkan kakaknya berkisah.
"Disanalah mbak ketemu sama cewek di gambar kamu itu. Dia datang bareng adik sepupu mas Hendra."
"Adik sepupu?" Willy mengernyitkan dahi.
"Iya, Mario." Jawab Santi.
Deg,
"Aku benar-benar berharap salah mengenalimu. Ternyata itu benar-benar kamu." Batin Willy sambil mendesah pelan.
Santi melirik adiknya yang semakin menekuk wajahnya.
"Mereka pesan es krim couple loh.." Lanjut Santi sambil terus memperhatikan respon adiknya.
"Waktu mbak sama mas Hendra ngatain mereka pacaran, dia benar-benar menyangkal dan berkali-kali berusaha menjelaskan kalau dia bukan ceweknya Mario."
Willy tersentak segera duduk menegakkan punggungnya. "Serius dia ngomong gitu mbak?" Ucapnya kembali bersemangat.
Santi menahan senyum melihat ekspresi Willy yang tiba-tiba berubah setelah mendengar penuturannya barusan.
"Kayaknya Willy beneran lagi jatuh cinta deh.." Batin Santi.
"He-em, aneh banget kan?" Santi menahan senyum liciknya.
"Aneh kenapa mbak?"
"Yah secara dia buru-buru mengklarifikasi kalau dia bukan ceweknya Mario. Padahal yang mbak lihat Mario gak ada penolakan sama sekali waktu mereka dikatain sebagai pasangan. Malah Mario kayak gak suka waktu Diana berusaha menjelaskan kalau dia bukan ceweknya Mario."
Willy tersenyum dalam diam. "Apa Mario ditolak ya? Yes, yes, yess!" Batin Willy kegirangan.
"Mereka itu ribut mulu, hal sepele aja jadi debat. Tapi yang kayak gitu itu malah keliatan manis banget deh." Lanjut Santi mulai menyulut api.
"Oh, ya mereka suap-suapan es krim juga. Aduh, so sweet banget pokoknya."
Senyum Willy lenyap lagi. Lehernya langsung menoleh menatap kakaknya yang masih terus bercerita panjang lebar.
"Ha ha ha.. panas, panas dah kamu dek.. Hihihi" Batin Santi.
"Kayaknya lama-lama Diana bakal luluh juga deh. Secara Mario kan ganteng, populer, motornya keren, dan keliatan sekali kalau dia tuh berjuang banget buat dapetin hati cewek itu." Meskipun ekspresi Willy sudah berubah kusut lagi, nampaknya Santi belum puas untuk mengompori pemuda yang baru mengenal jatuh cinta itu.
"Terus nih ya..-"
"Udah gak usah dilanjutin." Willy pun bangkit, berdiri, meraih gitar dan bukunya, lalu pergi meninggalkan Santi yang tebengong disana.
Tawa Santi langsung pecah melihat Willy yang uring-uringan.
Willy masuk ke kamarnya, meletakkan gitar pada tempatnya, lalu membanting dirinya diatas kasur empuknya dengan posisi tengkurap.
Dipandanginya gambar sketsa wajah itu, membaliknya lagi pada sketsa punggung gadis itu. Ah, Willy benar-benar tengah cemburu.
"Apa masih ada kesempatan?"
...
Author's cuap:
Bang Willy,, selama bendera kuning belum berkibar, kesempatan masih terbuka lebar.
Jalan kamu masih panjang Willy..
Semangaaat..
puk puk puk..