
#110
Menuju Kompetisi - Dia yang Sama (part 2)
"Eh, eh, kamu mau ke mana?" Ucap Diana ketika mendapati Mario yang mengekor di belakangnya.
"Mau masuk." Jawab Mario santai.
"Masuk? Ngapain?" Diana mengernyit heran karena Mario tak segera pergi.
"Mau nonton kamu latihan." Jawab Mario dengan entengnya.
Diana sontak berusaha memutar badan Mario dan mendorong punggung pemuda itu agar kembali menuju motornya.
"Gak ada acara nonton. Emangnya aku anak TK pake ditungguin segala." Ucap Diana.
"Berasa tukang ojek abis nganter langsung balik. Gak dibayar pula." Kini Mario pun ikut merengut.
"Oh, jadi mau dibayar. Berapa?" Diana mulai merogoh kantongnya mencari rupiah yang tersisa di sana.
"Sial! Tinggal koin." Batin Diana ketika melihat sisa uang jajan di telapak tangannya.
Hmpft..
Mario berusaha menahan tawanya ketika mendapatkan tatapan tajam dengan bibir mengerucut dari gadis dihadapannya.
"Aku gak mau dibayar pakai uang." Mario lantas menunjuk pipi kanannya dengan telunjuknya.
"Aw.. "
Mario berteriak kesakitan ketika pipi yang ia tunjuk tadi langsung mendapatkan kejutan berupa cubitan pedas dari jemari mungil Diana.
Hahaha..
Diana tertawa renyah melihat Mario yang meringis kesakitan mengusap pipinya.
"Sini yang satunya sekalian." Ucap Diana sambil mendekatkan jemarinya ke pipi kiri Mario yang membuat Mario sontak menutupi pipi kirinya sebelum jemari Diana benar-benar menyentuhnya.
"Seneng banget sih nyiksa aku. Udah hati tersiksa, fisik juga jadi korban."
Diana tersenyum puas. Rasanya sangat menyenangkan sekali ternyata. Wajah pemuda itu tampak lucu dan menggemaskan ketika merengut kesal. Ah, mungkin kepuasan itu pula yang didapatkan Mario ketika ia berhasil membuat gadis itu kesal.
"Makasih ya, Mario baik deh.. Pulang sana.. Nanti sore kan ada ekskul bola, ya kan.." Ucap Diana dengan mendayu dayu manja.
"Gak usah sok manis, geli!" Mario masih dalam mode ngambeknya.
Diana terus saja tertawa melihat pemuda itu memasang helm dengan wajah merengut kesal. Dia melambaikan tangan namun bukan terlihat seperti ucapan perpisahan, tapi melainkan gerakan mengusir. Hush hush..
"Oh ya satu lagi."
Diana yang sudah berbalik kembali menoleh pada Mario yang bertengger di atas motor bersiap meluncur.
"Kalau ada pelatih genit kamu itu, gak usah deket-deket. Atau kalau ada Congek juga di sana, gak usah pakai nyapa. Pokoknya gak boleh deket-deket cowok lain." Mario menatap serius pada gadis itu.
"Ih, kenapa? Masa nyapa aja gak boleh."
"Aku gak suka!" Ucap Mario yang kemudian segera meluncur pergi sebelum Diana membalas ucapannya.
Mario berlalu dengan perasaan kesal. Dia juga tidak mengerti apa yang membuatnya begitu kesal saat ini. Apa karena ia terlalu takut bila Diana akan lebih dekat dengan kakak pelatihnya nanti? Atau Willy? Lalu apa kabar nanti bila Mario benar-benar pergi begitu jauh dari gadis itu?
Sungguh, bila sampai ia benar-benar ikut masuk dan menunggu gadis itu sampai selesai kegiatan latihannya, itu adalah hal terkonyol yang akan ia lakukan. Membuang waktu untuk sesuatu yang akan menjadi lelucon bahkan dirinya sendiri akan menertawainya nanti.
"Sudahlah Mario, berhentilah untuk terlalu bertindak posesif pada gadis itu." Gumamnya memperingati diri sendiri.
"Kenapa sih tu anak ngomel mulu." Gerutu Diana yang mulai melangkah masuk.
~
"Tim basket SMA 7 udah nungguin."
Willy tersenyum malu-malu mendapat pujian tiada henti dari seniornya itu.
"Aku gak sehebat itu lah." Balas Willy.
"Serius! Pelatih basketnya langsung yang bilang. Dia berharap sekali kamu bisa lolos tes seleksi masuk SMA dan memperkuat tim basket kita. Dua tahun kita cuma jadi runner up dari SMA 2." Ungkap Ari panjang lebar.
"Wah, gengsinya gede ya kak?" Lanjut Willy yang dijawab anggukan oleh Ari.
"Kak Ari nih dari dulu gak berubah. Dulu di SMP ribet ngurusin OSIS sama ekskul, eh udah SMA masih ruwet sama organisasi sekolah juga. Jangan-jangan kalau udah kuliah tipe tipe mahasiswa yang suka demo nih.." Ledek Willy pada Ari.
"Sialan kamu!" Ari menoyor bahu Willy yang berguncang karena tertawa.
Willy cukup mengenal baik pemuda yang dipanggilnya kak Ari itu karena mereka pernah tergabung dalam satu divisi di OSIS. Saat itu Ari sudah kelas 3 sementara Willy masih di kelas satu.
Willy begitu menghormati dan mengidolakan seniornya itu. Tampan, kharismatik, berwibawa, dan mudah bergaul. Bahkan Santi, kakak perempuan Willy sempat naksir pada pemuda yang berusia dua tahun di bawahnya itu.
"Ih, mbak Santi sukanya sama brondong." Begitu cara Willy menggodai kakaknya kala itu.
"Kamu gak tau aja dek, meskipun brondong tapi dia kerrreeen buwangeet.." Dan begitu pula cara Santi membela diri kala itu. Hal itu akan selalu menjadi candaan kakak beradik itu seumur hidup.
"Pacar apaan? Ngeledek ya? Gak ada pacar!"
"Masa sih? Cowok ganteng kece sampe kakak senior aja kepincut, masa masih jomblo sih?"
Ari tertawa mendengar ucapan Willy. Ia tau betul siapa kakak senior yang dimaksud oleh Willy. Tentu saja itu adalah Santi.
"Seriusan gak ada. Sekalinya naksir cewek udah keduluan sama cowok lain. Hahaha.." Balas Ari yang menanggapi gurauan Willy.
Willy menepuk bahu Ari sambil berkata "Tembak lah kak.. Aku yakin tuh cewek langsung putusin cowoknya kalau tau kakak naksir dia."
"Sialan! Kamu nyuruh aku nikung pacar orang?"
Willy terkekeh melihat Ari yang menanggapinga dengan serius. Mungkin itu salah satu kekurangan pemuda itu. Terlalu pemikir dalam menanggapi suatu candaan yang acap kali memberi kesan pemuda itu terlalu serius.
"Gak usah ngurusin aku, urusin aja tuh gebetan kamu sendiri. Palingan juga kamu gak berani ungkapin perasaan kamu." Ari tak mau kalah kembali melempar ledekan untuk Willy.
"Idih, siapa bilang gak berani? Aku udah pernah bilang kok kalau suka sama dia." Jawab Willy dengan jumawa.
"Serius?" Tanya Ari meyakinkan yang dijawab anggukan oleh Willy. Wajah Ari berubah antusias ingin mendengar cerita lebih lanjut.
"Rasanya gimana waktu itu? Deg-deg an gak?"
"Ya deg-deg an lah kak. Badan udah kayak dispenser, panas dingin. Tapi rasanya lega banget. Serasa seminggu mules nahan kentut akhirnya bisa keluar juga tuh angin di perut. Hahaha.. "
"Kenapa harus kentut sih perumpamaannya?"
Ari tak sanggup lagi menahan tawanya mendengar pemuda itu bercerita dengan kocak.
"Terus diterima? Jadian dong kalian?"
Wajah Willy berubah sendu dan menggeleng lesu.
"Aku gak perlu balasan kak, bisa ngungkapin aja lega banget rasanya. Aku gak mau maksain perasaan aku. Cukup dia tau aja,"
Ari menepuk-nepuk pundak Willy. Dia benar-benar salut pada adik kelasnya satu ini. Bagaimana bisa dia memiliki pemikiran yang sangat bijak seperti itu?
"Aku terharu nih, sampe perih berkaca-kaca mata aku." Gurau Ari sambil pura-pura mengusap matanya.
"Rese kamu kak! Malah ngeledek."
Dan mereka pun tertawa bersama. Menertawai kisah hati mereka yang tak sempurna.
"Kak Ari, belum mulai ya latihannya?"
Suara seorang gadis dari arah belakang membuyarkan tawa canda dua pemuda itu. Diana.
Diana datang dan langsung mengambil duduk di sebelah kak Ari sambil menyeka keringatnya akibat panas matahari.
"Belum nih, kecepetan kita datangnya." Jawab Ari.
"Eh, ada Willy juga." Sapa Diana pada pemuda di samping Ari yang melemparkan senyum manis sejak kehadirannya.
"Hei Di.." Balas Willy.
"Kok belum balik?"
"Sengaja nungguin kamu." Ucap Willy menaik turunkan alisnya.
Ah, seperti biasa. Willy selalu saja tak menyiakan kesempatan menggodai gadis itu.
Diana mencebikkan bibirnya seolah sudah hafal benar modus pemuda satu itu.
Ari mengamati dua anak muda di sisi kanan dan kirinya. Dia menggeleng pelan dan tertawa dalam hati.
"Wil, jangan bilang kalau gadis yang kamu ceritakan tadi adalah Diana?" Gumam Ari dalam hati ketika melihat wajah ceria dari Willy ketika gadis itu tiba.
Rupanya kalian menceritakan seseorang yang sama.
...
Author's cuap:
Ruwet dah..
Ketemu rival lain nih si Ari.
Dari pada nikung Diana, nikung author aja lah..
Serempeeeeet...
Terimakasih yang sudah membaca..
Jangan diem-diem bae ya..
Jempol komennya dong..