
#57
Punya Pacar?
Panas terik, tidak sempat sarapan, quiz dadakan, lengkap sudah. Kini perut keroncongan itu harus segera diisi sebelum seluruh tubuh ini tumbang.
Willy, memilih duduk di bangku ujung menikmati semangkuk soto ayam dengan ekstra sambal ditemani es teh manis.
"Bro.."
Uhuk.. uhuk..
Tepukan tiba-tiba dipundaknya benar-benar berhasil membuat Willy tersedak. Dia terbatuk merasakan rasa pedas sampai ke hidung. Sakit sekali.
"Sorry, sorry Ngek.." Ucap Salim menepuk punggung Willy sambil menyodorkan minum.
"******! Kebiasaan kamu Lim!" Umpat Willy setelah dirinya merasa lebih baik.
Salim hanya nyengir kuda dan bergerak mengambil posisi duduk di sebelah Willy.
"Masak orang masih napas gini dikata ******. Jahat banget.." Jawab Salim cengengesan.
"Mau aku katain setan sekalian?" Ucap Willy masih kesal.
"Hush, mulutnya gak boleh kotor Ngek. Ntar bisa seret jodoh." Celetuk Salim asal.
"Hubungannya apaan mulut kotor sama jodoh?"
"Ada dong.. Cewek itu suka kata-kata yang manis. Kalo mulut kamu kotor, mana ada cewek yang mau."
"Terserah kamu aja.." Willy memilih menyerah dan melanjutkan makan.
"Wil, kamu sudah dapat undangannya?" Sapa seorang gadis yang langsung mengambil duduk berhadapan dengan Willy.
"Eh, ada Lala.. Apa kabar yank?" Ucap Salim.
"Yank, yank, apaan sih Lim?" Lala yang mendengar sapaan "yank" dari Salim langsung begidik jijik.
Willy tertawa terpingkal melihat ulah Salim menggodai Lala. Begitulah Salim yang konyol dan blak-blakan. Namun, Willy tahu betul panggilan "yank" oleh Salim khusus untuk menggodai Lala seorang. Terlihat sekali bahwa Salim tertarik pada Lala. Sementara Lala, selalu saja tak peduli bahkan mengabaikannya, karena Lala menyukai Willy secara terang-terangan.
"Wil, berangkatnya bisa bareng gak? Aku gak ada yang antar soalnya.. please.." Ucap Lala sedikit memohon.
Undangan yang dimaksud adalah undangan dari bapak Bupati untuk para juara pada event kompetisi olahraga, seni, dan budaya pekan kemarin.
Pertandingan basket kurang lengkap tanpa pertunjukan dan sorakan para dancers cheerleaders yang mengiringinya. Oleh karena itu, pertunjukan cheerleaders menjadi salah satu cabang yang dilombakan. Nah, Lala dan tim cheerleadersnya rupanya berhasil meraih juara pada event tersebut, sehingga dia pun mendapatkan undangan dari bapak Bupati tersebut.
"Aduh maaf, gak bisa La.. Aku udah duluan janjian berangkatnya bareng Salim." Jawab Willy berbohong.
"Eh, kapan kita janjian bareng? Gak ada, gak ada.." Sahut Salim mengelak telak kebohongan temannya itu.
"Sialan Congek! Kalau gak mau bareng Lala, kenapa gak ngelempar ke aku. Malah aku yang dijadiin alasan." Gerutu Salim dalam hati.
"Tuh, yang bener yang mana?" Lala mulai nampak kesal mendapak penolakan dari Willy untuk yang kesekian kalinya.
"Em..-" Willy nampak berpikir sambil melirik ke arah Salim mencari suaka pada temannya itu. Salim yang menangkap kode dari Willy pun segera menanggapi.
"Udah deh Ngek, gak usah malu ngakuin kalau kamu itu udah janjian duluan sama..." Kata-kata Salim nampak terputus mencari alasan yang tepat yang bisa membuat dirinyalah yang akan pergi bersama Lala.
"Sama siapa?" Tanya Lala tidak sabar.
"Oh, sama.. Sama pacarnya. Iya betul. Sama pacarnya. Ya kan Ngek?" Ucap Salim sambil melirik kembali Willy, memberi kode dengan anggukan kecil.
"Pacar?" Ucap Willy bingung.
"Pacar?" Begitupun Lala yang terkejut mendengar ucapan Salim.
Willy yang mulai menyadari akal-akalan Salim pun mulai mengerti. "Pacar? Ini pertolongan dari kamu Lim?" Batin Willy.
"Oh iya.. Pacar. Hahaha.. Kok kamu bilang-bilang gitu sih Lim? Aku kan jadi malu.. Hahaha.." Akti.g Willy benar-benar payah.
"Kamu sudah punya pacar Wil?" Tanya Lala langsung pada Willy.
"Iya punya dong Lala.." Sahut Salim.
"Siapa?" Ada rasa kesal terselip dari pertanyaan Lala.
"Ada La..Tapi bukan ank sini." Lagi-lagi Salim yang menjawab.
"Benarkah apa yang dikatakan Salim?" Tanya Lala menatap tajam pada Willy yang berusaha menyibukkan diri dengan mangkuk sotonya. Nada suara Lala terdengar melunak. Guratan kecewa mulai terlihat pada raut wajahnya.
Willy melirik Salim sambil mengangguk ragu. Mulanya, Willy berpikir kebohongan perkataan Salim mengenai pacar dapat membuat Lala move on dari orbitnya. Namun mendengar nada bicara Lala yang biasanya ceria berubah menjadi lunak dengan sedikit getaran menahan sesak yang ia sembunyikan, terbit rasa bersalah telah berbohong pada gadis di depannya itu.
"Gimana kalau bareng aku aja La? Aku free. Aku juga bisa kok bawa motor. Lagian motorku lebih keren dari pada motor butut Congek.." Gurau Salim berusaha mengalihkan kesedihan.
"Sialan! Berani banget kamu ngatain motorku butut Lim.. Biar casing butut, tapi mesinnya boleh diadu. Mau coba balapan?" Lanjut Willy yang ikut mencoba bercanda menghapus aura suram disekitar mereka.
Hahahaha..
Mereka berdua lantas memaksakan bibirnya mengeluarkan tawa. Alhasil suara tawa yang terdengar nampak kaku dan terlihat sekali kalau dibuat-buat. Akting yang sangat buruk.
"Ini pasti cuma akal-akalan kalian kan?" Lala kembali bersuara.
"Wil, kalau kamu gak bisa berangkat bareng sama aku, gak apa apa. Tapi gak usah ngarang-ngarang cerita kalau kamu bareng pacar segala." Ucap Lala.
"La, yang ngarang si Salim, bukan aku." Batin Willy.
Suasana hening seketika.
"Ya udah La, gak usah kesel gitu. Lagian haknya Congek punya pacar atau enggak." Sambar Salim masih berusaha.
Willy melirik Salim memberi kode agar menyudahi omong kosongnya.
"Eh, terus gimana La? Jadi bareng aku kan?" Ucap Salim.
Gadis yang sedati tadi menatap tajam pada Willy itu, mengalihkan pandangannya pada Salim. Memandang Salim dengan ekspresi kesal.
"Gak usah! Mending aku naik ojek aja!" Ucap Lala yang setelah itu langsung hengkang dari sana.
Willy mengelus dadanya. Dia menghembuskan nafas lega.
Plak,
"Wadaaw.."
Salim mengelus lengannya yang tiba-tiba dipukul oleh Willy.
"Apaan sih Ngek? Sakit tau.." Cibir Salim kesal.
"Yah kamu yang apa apaan? Ngarang pacar segala. Untung si Lala gak nangis disini." Omel Willy.
"Yah apa salahnya sih? Kan bagus kalau Lala mikir kamu punya pacar. Biar dia gak ngarep ke kamu lagi. Aku kan jadi bisa masuk.." Ucap Salim enteng.
"Iya juga sih.. Tapi untung aja Lala gak lanjut nanya aneh-aneh masalah siapa pacar aku. Haduh, aku gak ngerti jawab apa."
"Makanya.. buruan dijadikan kenyataan. Pepet terus doi." Ucap Salim menyemangati.
Lagi-lagi Willy hanya tersenyum kecut. Dia tidak memiliki rasa percaya diri sedikitpun. Dia yakin Mario tidak akan mudah menyerah. Sementara Diana, Willy tidak yakin kalau gadis itu mungkin tidak akan sanggup menahan untuk tidak tertarik pada pesona Mario.
Salim yang menyadari perubahan mimik temannya menjadi sendu, memberi tepukan penyemangat di pundak Willy.
"Aku kan udah bilang, jangan menyerah dulu. Kita kan gak hasilnya nanti kayak gimana?" Ucapnya.
Willy tersenyum lesu, menganggukkan kepala membenarkan perkataan Salim barusan.
"Pacar? Apa anak seusiaku sudah boleh? Tapi sepertinya itu terlalu jauh." Batin Willy.
Sluruup,
Bunyi suara udara dari sedotan yang tengah dihisap oleh Willy.
"Ayo, balik ke kelas."
...
Author's cuap:
Yah, gitu deh..
Masa-masa SMP biasanya udah ada percikan-percikan ketertarikan pada lawan jenis.
Itu adalah suatu bentuk gejolak emosi yang normal pertanda menuju fase kedewasaan.
Tapi inget, semua emosi itu tetap harus dikontrol agar tidak sampai menyimpang ya..
(Ngerti kan arah omong kosongku ini kemana? Hahaha..)
Intinya, selama masih sekolah.. Belajar dulu lah nomer satu..
Terimakasih sudah membaca..