Titip Salam

Titip Salam
Aku Takut...



#138


"Aku hemaphobia, takut darah."


*Hemaphobia atau hematophobia adalab kata lain dari phobia darah. Phobia ini merupakan phobia spesifik yang ditandai dengan rasa takut hingga cemas yang berlebihan ketika melihat darah, baik darah sendiri, orang lain, binatang, dan bahkan darah dalam bentuk tak nyata misalnya gambar atau tayangan televisi.


Huft..


Uhuk.. Uhuk..


Abdul sampai tersedak dibuatnya.


"Hah? Serius Mar? Sampai pingsan?" Abdul benar-benar tercengang mendengar apa yang disampaikan sahabat baiknya. Rupanya ia tak begitu mengenal baik sahabatnya itu. Untuk hal seperti ini saja ia baru tau. Namun tetap saja, mengetahui kenyataan Mario yang phobia pada darah sampai ambruk pingsan menjadi salah satu hal kocak yang menggelitik.


"Kau garang di lapangan bola, tapi lihat darah pingsan?? Wkkk"


Ini juga merupakan hal baru bagi mereka yang mendengarkan pernyataan Mario. Mereka mengira Mario pingsan mungkin karena belum sarapan atau tidak enak badan.


Mendengar mereka semua yang di sana cekikikan, ia hanya mampu mendengus kesal. Terutama dia, Diana yang turut tak mampu menahan tawa.


"Hmmm... Awas ya kamu Diana,, Padahal aku pingsan karena khawatir sama kamu, kamu malah ngetawain aku? Hmm..." Monolog Mario dalam hati.


Ada simpul kecil yang terbit dari bibir Mario. Ah, apa yang sedang kau rencanakan?


"Mungkin karena kecemasan yang aku rasakan dobel. Takut darah ditambah takut Diana kenapa-kenapa." Mario melirik sekilas ke arah gadis yang langsung terdiam itu.


Owh...


Zahra dan Hera tak kuasa untuk tak menyenggol-nyenggol pundak pundak Diana yang duduk terapit di tengah.


Ehem.. Ehem..


"Waduh... Udah berani frontal nih gombalin di depan umum, atau aku yang banyak ketinggalan berita nih?" Ucap Rida setelah menelan kunyahan baksonya.


Diana yang mulanya bisa tertawa, sontak terdiam dan menatap kesal pada pemuda itu. Ia akui mungkin Mario memang berkata jujur, tapi ia merasa risih dengan ledekan teman-temannya karena kejujuran Mario itu.


Tak seperti biasanya, Diana tak membalas kata-kata pemuda itu. Ia merasa lemah tak berdaya menemukan kata untuk membalik keadaan. Ia hanya bisa menampakkan ekspresi kesal, namun dalam hati ada sensasi hangat yang berbunga-bunga untuk perhatian yang begitu manis dari Mario.


"Sebetulnya bukan cuma kamu yang khawatir tadi Mar, tapi Diana juga panik setengah mati waktu kamu tiba-tiba pingsan tadi."


Diana beralih menatap Zahra yang tiba-tiba turut masuk dalam pancingan Mario. Mendadak selera makannya menjadi hilang. Padahal tadi ia merasa lapar sekali.


"Bener banget Mar, Diana tuh sampai lupa kalau lututnya luka, langsung lompat dari kasur, trus elus-elus pipi kamu.." Kini giliran Hera yang bercerita. Cerita yang sedikit ditambahkan micin agar semakun sedap.


Mario begitu antusias mendengar dua orang saksi mata mulai membongkar situasi ketika ia tak sadarkan diri tadi sampai meletakkan sendok yang sedari tadi ia genggam. Yah, ia betul-betul penasaran mendengar kisah lengkapnya. Ia yakin pasti terjadi sesuatu yang seharusnya tak ia lewatkan.


"Her, gak usah nambah-nambahin cerita dong.. Yang elus-elus pipi itu siapa?" Ucap Diana sambil mencubit lengan Hera sampai membuat gadis itu mengeluh kesakitan.


Diana melirik Mario yang sedang menatapnya sambil memegangi kedua pipinya.


"Oh God, pipi aku dibelai Diana? Kenapa aku harus pingsan tadi?" Batin Mario dengan lenuh suka cita.


"Sungguh Di? Kamu elus-elus pipi aku?"


"Enggak lah! Aku tadi nepuk-nepuk pipi kamu, bukan elus-elus." Jawab Diana dengan pelototan tajam.


"Ada lagi Mar.." Kini Abdul yang sumbang buka suara.


Diana beralih menatap pemuda yang cukup jauh di sebrangnya dengan perasaan cemas. "Abdul mau crita apa lagi? Kok pada kompak sih? Udah mulai gak bener nih.." Batin Diana dengan perasaan cemas dan kesal. Ia khawatir Mario lebih percaya cerita membual teman-temannya dari pada logika kalau dirinya tak mungkin seberani itu.


Jangankan mengelus pipi Mario, menyentuh telapak tangannya secara sadar saja, Diana mungkin tak akan sanggup.


Benar-benar hilang sudah selera makan Diana. Semangkuk bakso yang baru ia lahap setengahnya sudah tak menarik lagi.


Cerita Abdul tentu membuat gaduh mulut-mulut tim berisik gadis-gadis Hera, Zahra, dan Rida. Berbagai ekspresi mereka tunjukkan. Ada yang takjub tak percaya, dan Hera yang berada di lokasi otomatis mendukung dan membenarkan cerita abdul yang terlalu banyak bumbu penyedapnya.


Mario sampai menganga tak percaya dengan kisah yang Abdul ceritakan. Apakah se-khawatir itu dirinya pada kondisiku tadi?


Mario merabai leher hinngga ke perutnya sambil berbisik dalam hati "Waduh! Diraba -ra ba semua dong nih badan. Tapi apa gak bahaya sampai longgarin ikat pinggan? Emang Diana seberani itu?"


Diana menggeleng-gelengkan kepalanya pada Mario ketika pemuda itu membeku menatapnya.


"Dul, jangan keterlaluan dong.. Jangan buat cerita aneh-aneh.."


Wajah Diana sampai merah padam karena malu, kesal, marah.


"Bercanda Di.. Gak usah terlalu serius gitu dong.." Ucap Abdul meralat perkataannya di akhir tawanya.


"Gak lucu!"


Diana menyeruput habis minumannya lalu bangkit memilih pergi dari sana. Sedikitpun ia tak bergeming ketika teman-temannya memanggil namanya dan meminta maaf. Kalau bukan karena hari ini pengumuman kelulusan, lebih baik ia istirahat di rumah.


"Parah!! Kalian pasti nambah-nambahin ceritanya kan? Jadi ceritanya gimana sih?" Mario jadi merasa tak tega melihat Diana yang diledek habis-habisan oleh temannya.


"Kalau yang aku ceritain tadi sungguhan deh.. Diana tuh langsung lompat dari kasur trus nepuk-nepuk pipi kamu biar kamu bangun. Dia sampai lupa sama luka di kakinya gara-gara saking paniknya." Jawab Hera meluruskan ceritanya.


"Yah, kalau cerita dari aku sih, gak ada yang bener.. Xixixi.." Abdul masih cekikikan tanpa rasa bersalah.


"Trus siapa yang acak-acak baju aku waktu pingsan?"


Abdul merangkul pundak Mario sambil berkata "Tenang Mar, cuma aku kok yg gre pe - gre pe kamu tadi. Kenapa? Mau di acak-acak lagi?"


Mario langsung begidik geli dan spontan menggeser duduknya menjauh dari Abdul. Tentu hal tersebut membuat kawan lain yang berada di sana terpingkal dengan ulah kocak mereka, melupakan Diana yang sedang marah dan entah pergi ke mana.


"Udah buruan pergi sana, cari Diana.." Ucap Rida yang masih sibuk menghabiskan semangkuk baksonya.


"Betul tuh Mar, gak biasanya Diana gak ngabisin makanannya. Dia pasti marah banget." Ucap Hera yang mulai merasa tidak enak.


Mario menatap mangkuk bakso yang ditinggalkan pemiliknya. Yah, tak biasanya Diana menyisakan makanannya.


Niatan ingin membuat gadis itu kesal, kini gadis itu benar-benar murka.


"Sial! Kok jadi serius gini.." Batin Mario yang mulai putar otak untuk menyelesaikan masalah yang ia tanam sendiri.


Ia berjalan kesegala penjuru sekolah mencari dimana gadis itu bersembunyi.


Pasalnya, kalau sampai gadis itu sungguh sungguh marah, akan sia-sia kerja kerasnya untuk memenangkan pertaruhan yang akan diketahui hasilnya hari ini.


Namun di sudut hatinya yang terdalam, Mario akan selalu lebih takut kalau gadis itu akan jadi menjauhinya.


"Okey, cari Diana, pasang wajah malaikat, lalu minta maaf.." Ucap Mario menyemangati dirinya sendiri.


Ayo Mario.. gunakan intuisimu, temukan gadis itu secepatnya.


...


Author mah percaya aja ama rayuan Bang Mario paling juara..


Pasti bisa leleh deh..


Author yang gak ikut dirayu aja ikutan leleh meluber...


Hahaha..