
Keesokan paginya, Alana terlihat sedang menemani Ken sarapan di meja makan. Ken terlihat sudah begitu rapi. karna dirinya hendak pergi ke kantor untuk menggantikan Papa Gio sementara waktu.
Sedangkan Alana, wanita itu terlihat begitu cantik dengan balutan mini dress berwarna putih, karna ia hendak berencana pergi ke toko kue miliknya untuk mengantar bahan - bahan kue yang telah habis. dan di sana, Alana juga sudah menambah satu pegawai baru, seorang perempuan untuk membantu Nona Felly mengelola toko kuenya.
Seusai sarapan, Alana kembali ke kamarnya untuk mengambil syal dan juga tas miliknya yang sebelumnya sudah ia siapkan di atas meja.
"Alana?" panggil Ken. ia terlihat mengikuti Alana dari belakang.
"Ken, Aku kan sudah bilang tunggulah di mobil. kenapa kau mengikutiku ke mari?" tanya Alana sambil sibuk membalutkan syal di lehernya. Ken tiba-tiba menarik syal itu.
"Ken, kenapa kau mengambil syalku? kembalikan syalku!" pinta Alana.
"Tidak usah memakai syal!" perintah Ken.
"Di luar dingin sekali, Ken. kemarikan syalku!" Alana sekali lagi mencoba mengambil kembali syalnya tersebut. namun, Ken tak mau mengembalikan syal itu kepadanya. ia malah menukarnya dengan sebuah kotak berwarna hitam yang kini ada di tangannya.
"Apa ini, Ken?" Alana menyipitkan kedua matanya memperhatikan kotak yang di pegang oleh suaminya itu.
"Ambilah!" perintah Ken.
Alana perlahan mengambil kotak berwarna hitam itu dari tangan Ken. Alana yang begitu penasaran, ia dengan cepat membuka kotak tersebut dengan kedua tangannya.
Dan saat kotak itu terbuka, kedua mata Alana seketika berbinar dan mulutnya sedikit terbuka saat melihat isi dari kotak itu. terlihat satu set kalung dan juga cincin Diamond yang begitu cantik melekat di dalam kotak itu.
"Berlian? cantik sekali... milik siapa ini Ken?" tanya Alana dengan tatapan mata yang begitu takjub.
"Milik Bi Ester..." jawab Ken.
"Bi Ester?"
"Bagaimana Bi Ester bisa membeli perhiasan secantik ini, Ken?" Alana mengernyit.
"Ini berlian mahal. harganya setara dengan harga satu rumah. gaji Bi Ester yang kau berikan tidak sebanyak ini," imbuh Alana seakan tidak percaya.
"Kau percaya jika ini milik Bi Ester?" tanya Ken.
"Ehm, percaya saja jika Bi Ester menjual rumah miliknya." Alana ingin sekali menyentuh perhiasan itu. namun, dirinya tidak berani.
"Ini, Ken. kembalikan saja kepada Bi Ester." Alana menutup kotak itu dan mengembalikannya kepada Ken.
"Kau benar-benar percaya ini milik Bi Ester?" Ken mengernyitakan dahinya. Alana hanya mengangguk.
"Sudah, ayo mana kemarikan syalku. nanti kau terlambat ke kantor hanya karna diriku." Alana menadahkan tangannya berharap Ken segera mengembalikan syal miliknya.
"Astaga, kenapa dia begitu bodoh." Ken menggaruk-garuk rambutnya dengan begitu frustasi. Ken semakin mendekati Alana. kemudian, ia kembali membuka kotak itu.
"Ini untukmu!" ucap Ken dengan suara rendahnya. namun, Alana hanya diam saja.
"Aku membelikan perhiasan ini untukmu!" imbuhnya.
"Katanya milik Bi Ester?" tanya Alana dengan tatapan polosnya.
"Astaga." Ken berdecak.
"Mana mungkin ini milik Bi Ester!" seru Ken.
"Ya, bisa saja kan Bi Ester menjual rumah miliknya yang ada di pedesaan. kau jangan merendahkan seseorang!" seru Alana.
"Siapa yang merendahkan seseorang? aku tidak merendahkan siapapun. maksudku, untuk apa Bi Ester menjual rumah hanya untuk membeli perhiasan seperti ini?"
"Perhiasan ini aku belikan dan aku design-kan khusus untukmu, dasar bodoh!" Ken mengacak-acak rambut Alana dengan begitu gemas.
"Untukku?" tanya Alana seakan tak percaya. Ken mengiyakannya dengan kesal.
"Untuk apa kau membelikan ini untukku, Ken? ini sangat mahal," ucap Alana.
"Waktu kita menikah, aku sama sekali tidak memberikanmu perhiasanmu. sebenarnya, semalam aku ingin memberikan ini untukmu. tetapi, karna semalam ada sedikit drama, jadi, aku berikan sekarang," ujar Ken.
"Tapi, ini mahal sekali, Ken. karna Daddy dulu pernah membelikanku berlian yang berjenis seperti ini. tapi, aku jual untuk menyambung hidup sehari-hari sebelum Daddy mengalami kecelakaan, dan ini benar-benar mahal," ucap Alana.
"Harganya tidak sebanding untuk orang yang sangat berharga seperti dirimu." Ken menatap Alana dengan begitu dalam seolah tatapan itu begitu menyiratkan banyak arti. bahkan, tutur katanya terdengar benar-benar lembut di telinga Alana.
Namun, bibir Alana membungkam seakan tak bisa berkata.
"Mulai sekarang, tidak ada pernikahan bisnis!" imbuhnya sambil memegang kedua pipi Alana.
Ken menatap kedua bola mata Alana yang terlihat berkaca-kaca secara bergantian. Alana tak percaya mendengar apa yang baru saja Ken ucapkan. demi apapun, ia begitu bahagia saat mendengarkan kata-kata itu. bukankah ini lebih dari sekedar jatuh cinta?
"Jangan pernah menganggap pernikahan kita seperti itu lagi. dan jangan mendengarkan apa kata orang lain yang sekiranya membuat hatimu terluka!" imbuhnya.
"Ken..."
Alana mengangguk dan mengusap kedua matanya yang tiba-tiba basah. kemudian, ia memeluk erat tubuh tegap suami yang ada di hadapannya saat ini.
"Terimakasih banyak, Ken." Alana memejamkan kedua matanya, merasakan kehangatan yang saat ini tersalur dengan begitu nyaman di tubuhnya. ia menumpahkan sedikit air mata haru di dada suaminya tersebut. Ken pun membalas pelukan itu.
"Aku sangat mencintaimu, Ken." Alana berucap dengan suara beratnya.
"Aku juga sangat mencintaimu." Ken tersenyum. ia mencium puncak kepala Alana dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih, Ken." ucap Alana kembali. kemudian ia melepaskan pelukan itu.
"Ya sudah pakailah!" perintah Ken sambil mengusap wajah Alana yang terlihat masih basah.
"Aku sendiri yang memakainya?" tanya Alana sambil melirik ke arah Ken.
"Iya, cepat pakailah!"
Alana menghela napasnya, "Tidak romantis sekali." bibir Alana menggerutu kesal.
Alana mengambil kalung berlian itu dan meletakan kotaknya di atas meja. ia hendak mengalungkan kalung tersebut itu di lehernya. namun, Ken seketika langsung meraih kalung itu dan membantunya. Alana pun tersenyum dengan begitu senang saat Ken mau memakaikan kalung itu di leher jenjangnya.
"Cantik sekali, Ken." Alana mendekati cermin dan memperhatikan kalung yang menggantung di lehernya tersebut.
"Sini jarimu! akan ku pasangkan cincinnya," pinta Ken. ia terlihat sedang mengambil cincin itu dari tempatnya. Alana menjulurkan jari manisnya ke arah Ken.
"Kapan kau membelikan ini untukku?" tanya Alana yang saat ini memperhatikan Ken yangtengah sibuk memasangkan cincin ke jarinya.
"Aku design dua hari yang lalu dan baru aku ambil Kemarin sore sebelum menjemputmu di boutique," jawab Ken.
"Oh, pantas saja. jadi, itu alasannya kau terlambat mejemputku?" tanya Alana. Ken mengiyakannya dan tersenyum.
"Cantik sekali..." Alana memperhatikan cincin yang sudah melekat di jari manisnya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Terimakasih banyak, ya, Ken." Alana berkali-kali melontarkan kata-kata itu.
"Seharusnya, semalam aku mengajakmu ke bukit kunang-kunang dan memberikan ini. tapi, kau malah menghilang. untung saja kau ketemu. kalau tidak ketemu mungkin aku bisa gila," ujar Ken dengan tersenyum menggoda Alana.
"Ken, kau ini..." Alana berucap dengan suaranya yang terdengar manja. hingga membuat Ken begitu gemas untuk mencium pipinya.
***
Ken mengantarkan Alana pergi ke toko kuenya terlebih dahulu. kini, mereka terlihat sudah di dalam mobil. kedua mata Alana menyoroti sekitar jalanan yang di lintaskan oleh Ken. sesekali, Alana memainkan ponselnya untuk membalas pesan singkat dari Kimy dan Jesslyn secara bergantian.
"Kau tidak ingin ikut denganku lagi ke kantor?" pertanyaan Ken membuat Alana menoleh ke arahnya.
"Untuk apa ikut denganmu ke kantor? di sana sangat membosankan," saut Alana.
"Ya sudah..." raut wajah Ken terlihat sedikit kecewa. sebenarnya, ia ingin sekali di temani oleh Alana bekerja. namun, ia tak bisa memaksanya.
Karna memang, perempuan seumuran Alana seharusnya masih bersenang-senang dengan masa mudanya, mungkin itu sebabnya, Alana seringkali merasa bosan dengan rutinitas setiap harinya yang terkesan monoton dan tidak menyenangkan.
Tak lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue milik istrinya tersebut.
"Sudah sampai... aku turun dulu ya, Ken." Alana hendak membuka pintu mobil.
"Hanya begitu saja? tidak sopan!" Ken menggerutu kesal.
"Ehm, lalu?" Alana mengangkat kedua bahunya dan mengernyit bingung.
"Sudah sana, cepat turunlah!" seru Ken seraya membuang wajahnya.
"Astaga." Alana menggeleng kepalanya dan tersenyum.
"Begitu saja marah!" Alana memegang wajah Ken dan mencium pipinya hingga membuat Ken tersenyum seketika.
"Biasakan seperti itu!" tutur Ken.
"Cerewet sekali! ya sudah, berangkatlah sana. hati-hati, Ken." Alana segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada mobil Ken yang saat ini sudah berjalan meninggalkan tempat itu.
Ken tersenyum dan semakin menambah laju kecepatan mobilnya.
Saat di rasa mobil Ken sudah jauh dari pandangan matanya, Alana segera masuk ke dalam toko kuenya.
"Selamat pagi, Nona Alana." Nona Felly dan pegawai baru itu memberi sapaan hangat kepada Alana. dan Alana membalas sapaan mereka.
"Apa kau sudah memasak kue Nona Felly?" tanya Alana.
"Sudah, Nona. Saya sudah memasak kue untuk stok hingga siang nanti," jawab Felly.
"Baiklah, kalau begitu, dapurnya aku pakai, ya? aku mau membuatkan kue untuk suamiku," ujar Alana.
"Silahkan, Nona." Felly tersenyum. Ia menawarkan bantuan kepada Alana. namun, Alana menolaknya.
"Aku akan membuatkan kue untuk Ken. setelah itu, pergi ke kantornya." Alana melebarkan senyumnya dengan penuh semangat.
Alana menuju ke dapur yang ada di tokonya tersebut. kemudian, ia mengambil Apron berwarna putih dan melekatkan Apron tersebut di tubuhnya. lalu, ia segera menyiapkan bahan-bahan untuk dirinya membuat kue.
***
Ken baru saja sampai di kantor, ia segera memarkirkan mobilnya di halaman kantor tersebut.
Namun, saat Ken hendak turun dari mobil. tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berdering dengan begitu nyaring. tapi, suara ponsel itu bukan berasal dari dering ponsel miliknya.
Ken seketika mencari asal suara dering ponsel itu, terlihat ponsel milik Alana terjatuh di bawah kolom kursi mobil. Ken segera meraih ponsel itu.
"Mommy Brianna..." bibir Ken berucap tanpa mengeluarkan suara.
Ken melihat satu panggilan masuk dari mertuanya tersebut. namun, Ken tak mengangkatnya hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
Drrt
Drtt
Ponsel itu bergetar dan terlihat ada satu pesan masuk dari nomer yang sama.
Sayang, bisakah kita bertemu sebentar? ~ Mommy.
"Ada apa lagi Mami Alana minta brtemu?" gumam Ken dengan penuh tanya. ken segera memlasa pesan singkat itu.
Di mana? ~ Alana.
Di cafe kapan hari ya, sayang. Mommy tunggu sekarang ~ Mommy.
Datang sendirian saja ya, sayang. jangan mengajak siapapun ~ Mommy.
"Pasti ingin mempengaruhi Alana lagi," gumam Ken dengan kesal.
Baik ~ Alana.
Setelah membalas pesan itu. Ken mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kantor. ia kembali menghidupkan mesin mobilnya dan segera meninggalkan kantor tersebut untuk menemui Brianna. karna, Ken benar-benar begitu di buat penasaran akan sosok mertuanya tersebut.
***
Sementara di cafe tersebut,
Brianna terlihat sudah datang. namun, dirinya tidak sendirian. ia terlihat di temani oleh Caleey. keponakan tersayangnya.
"Mana, Alana, Bi? kenapa belum datang juga?" tanya Caleey sambil tak henti melihat ke arah pintu cafe itu.
"Sabar dong, sayang." Brianna mengusap kepala Caleey.
"Apa Bibi yakin Alana pasti akan datang?" tanya Caleey.
"Iya, Nak. tadi, Alana sudah membalas pesan Bibi. kita tunggu saja, ya." Brianna tersenyum mencoba meyakinkan Caleey.
"Pokoknya, Bibi harus berbicara kepada Alana supaya dia mau membujuk Paman Holmes untuk menyerahkan wewenang perusahaannya agar bisa di kelola oleh Daddy, ya, Bi? Bibi kan tau sendiri perusahaan Daddy sekarang menurun," pinta Caleey.
"iya, Sayang."
"Bibi, Kendrick itu bukan laki-laki baik untuk Alana. dia menikahi Alana hanya untuk memafaatkan perusahaan Paman saja agar perusahaan keluarganya bisa berkembang. dan Caleey sebagai saudara Alana tidak terima jika Alana di perlakukan seperti itu. sekarang hanya Bibi saja yang bisa membujuk Alana agar mau meninggalkan suaminya," ujar Caleey dengan memasang wajah yang benar-benar meyakinkan.
"Iya, sayang. Bibi juga tidak akan diam begitu saja."
"Bibi ini benar-benar pusing, memikirkan Alana. memikirkan Daven yang sampai sekarang Bibi tidak tau di mana dia keberadaannya. ini semua gara-gara laki-laki tua sialan itu. kalau saja Holmes itu tidak bangkrut, hidup Bibi dan anak-anak Bibi juga tidak akan kacau seperti ini!" saut Brianna.
"Jika hal buruk terjadi dengan Alana dan juga Daven, Bibi bersumpah tidak akan membiarkan Holmes begitu saja." Brianna berkata dengan penuh penekanan. memang, umur Holmes dan Brianna terpaut usia 10 tahun, jadi tak heran jika perawakan dan wajah Brianna terbilang jauh lebih mudah daripada Holmes. dulu, Brianna mau menikah dengan Holmes hanya karna berdasarkan harta saja dan tidak lebih dari itu.
"Bibi tenang saja, Daddy kan sedang mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Daven."
"Ehm, oh iya, Bi. kenapa Bibi tidak kembali saja dengan Paman? semua kekayaan Paman sudah kembali bukan? setidaknya dengan kembali, itu akan lebih mempermudah Bibi membujuk Alana," usul Caleey.
"Bibi tidak mau! untuk apa mengurusi orang yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa? hidup Bibi sudah susah dengan kekacauan yang tidak ada ujungnya ini. Bibi tidak mau susah lagi, biar Bibi dan Paman menjalani hidup sendiri-sendiri saja." Brianna memijat keningnya yang serasa penuh dengan beban itu.
"Caleey sangat menyayangi Bibi, Caleey akan selalu mendukung Bibi." Caleey memeluk erat Brianna.
"Terimakasih sayang..." Brianna membalas pelukan Caleey.