
Alana seketika menjauhkan tubuhnya, mundur beberapa langkah dari mereka. Namun, tangan Ken menahannya membuat Alana menatap ke arahnya dengan napas yang naik turun, seakan ada sesuatu yang mengguncang ingatannya, ia begitu tak tenang dan resah.
"Alana..." Ken melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu dan mendekapnya dengan erat. Membuat Alana sedikit tenang.
Saat dirasa Alana sudah tenang, Ken mengalihkan pandangannya ke arah mantan sahabat istrinya itu, lalu pandangannya kini mengalih ke arah Darrel. Kedua alis tebal Ken yang simetris itu menaut dengan tajam seakan tidak menyukai laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Laki-laki yang pernah menjadi pengisi hati istrinya.
"Maaf, kami tidak tau jika kalian..." ujar Darrel.
"Alana, Ken... Kami sedang membutuhkan bantuan," sambungnya.
Ken mendengus kesal. Ia tak melihat ke arah Darrel mencoba menetralkan agar rasa kesalnya tidak semakin bertambah.
"Masuklah segera, kami akan memberikan tumpangan..." perintah Ken.
"Terimakasih banyak, kalian sudah mau membantu kami!" ucap Darrel kepada Ken, namun kedua matanya berbicara ke arah Alana yang sedang menunduk. Ken sangat tidak menyukai Darrel yang menatap Alana dengan sebegitunya. Ia segera membawa Alana untuk mendahului mereka masuk ke dalam mobil.
"Lecya, Clara, Ayo..."
"Tidak... kita tidak perlu bantuan mereka!" Lecya tiba-tiba mengeraskan suaranya saat suaminya hendak membantu Laurrent untuk masuk ke dalam mobil Ken. Hingga membuat sejenak Darrel mengurungkan niatnya.
"Lecya..." teriak Darrel.
"Kita kembali ke mobil... kita bisa mencari bantuan orang lain!" serunya.
"Orang lain siapa yang kau maksud? apa kau tidak bisa sedikit saja menggunakan otakmu? ini bukan jalanan kota yang sering dilewati oleh kendaraan. Laurrent sedang tidak sadar dan membutuhkan bantuan, kau mau meminta bantuan kepada siapa?"
"Kalau kau masih ingin tetap di mobil, silahkan! Aku tidak peduli..." seru Darrel.
"Felix, ayo bantu Laurrent untuk masuk." Darrel memerintah teman laki-lakinya itu yang tadi sempat meminta tolong kepada Ken untuk membantu Laurrent masuk ke dalam mobil.
"Clara, biarkan mereka. Ayo kita menunggu di mobil saja." Lecya tiba-tiba menarik tangan Clara saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobil. Namun, Clara menepis kasar tangannya.
"Kalau kau masih mau menunggu di mobil, silahkan! Aku akan ikut dengan mobil Alana..." Clara segera ikut masuk ke dalam mobil, di susul oleh Darrel dan Felix yang juga ikut masuk ke dalam mobil itu. Lecya masih tak bergeming akan posisinya, kedua matanya menyoroti sekitar dengan raut wajah yang begitu bingung, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Mendengar suara mesin mobil yang baru saja dihidupkan oleh Ken dan siap untuk dilajukan. Tiba-tiba Lecya berjalan mendekat.
"Tunggu..." Suara Lecya mengurungkan niat Ken yang akan melajukan mobil itu.
"Aku akan ikut tumpangan kalian." Lecya segera membuka pintu mobil dan ikut masuk ke dalam mobil itu.
"Banyak drama sekali..." gerutu Ken. Ia segera melajukan kembali mobilnya menuju ke villa.
Setelah bertemu dengan mantan kekasih dan mantan temannya tersebut, Alana tiba-tiba menjadi diam dan tidak cerewet seperti sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Ken sedari tadi memperhatikan Alana yang sedang diam menunduk dan mendekap erat tubuhnya.
"Sayang, apa kau kedinginan?" tanya Ken. Alana mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Ken dan menganggukan kepalanya dengan wajah polosnya.
Ken sejenak menepi dan menghentikan mobilnya, membuat Alana bertanya. Namun Ken hanya diam dan sibuk melepas sweater yang ia kenakan, hingga kini hanya terlihat kaos polos berwarna putih yang masih melekat di tubuhnya, yang memperlihatkan lekuk otot tubuh kekarnya tersebut.
"Pakailah sweaterku..." Ken membantu Alana memasangkan sweater itu secara paksa di tubuh istrinya.
"Jangan, Ken. Pakailah saja..."
"Sudah pakailah..." Alana menuruti perintah suaminya itu, Ken kembali melajukan mobilnya. Darrel yang duduk di kursi paling belakang sedari tadi tak henti memperhatikan mereka berdua.
***
Setibanya di villa. Ken mengajak Alana turun dari mobil, Ia berteriak memanggil penjaga Villa agar segera menghampirinya. Hingga panggilan ketiga sepasang suami istri yang menjaga villa itu datang menghampirinya.
"Paman, Bibi... tolong turunkan barang belanjaan. Lalu siapkan beberapa kamar untuk mereka," perintah Ken.
"Baik Tuan..."
Ken menarik tangan Alana hendak mengajaknya masuk ke dalam villa.
"Alana, Ken..." suara Darrel menghentikan langkah kaki mereka berdua. Namun Ken maupun Alana tak menyautinya. Mereka berdua berbalik badan menoleh ke arah Darrel.
"Terimakasih, kalian sudah memberi kami tumpangan dan tempat untuk bermalam," ujar Darrel.
"Hemm." Ken mengangguk satu kali. Kedua matanya masih mengawasi Darrel dan Alana, ia benar-benar takut merasa kecurian.
"Alana, aku turut berduka cita atas kepergian Paman Holmes," tutur Darrel. Ia menatap Alana yang menunduk dengan tatapan dalam. Alana mengangkat wajahnya hendak menatap Darrel dan menyautinya. Namun tangan Ken tiba-tiba menghalangi wajahnya.
"Sayang ayo masuk, nanti kau semakin kedinginan." Ken dengan cepat menarik tangan Alana dan segera mengajaknya masuk ke dalam villa.
Darrel masih mematung, memperhatikan Alana dan Ken yang berjalan menjauh dari jangkauan matanya. Hingga ia mengembuskan napas resah.
"Sedang apa kau memperhatikan Alana?" suara Lecya tiba-tiba mengejutkan Darrel.
"Aku hanya berterimakasih kepadanya!" sautnya.
Penjaga villa segera mengantarkan Darrel dan yan lainnya ke beberapa kamar yang yang sudah siap untuk di tempati. Setibanya di kamar, penjaga villa itu mempersilahkan mereka untuk beristirahat, dan berpamitan pergi dari sana.
Felix yang sedari tadi menggendong Laurrent, ia segera membaringkannya di atas tempat tidur. Ia menggerak-gerakan kedua tangannya yang kram akibat menumpu tubuh wanita yang ia rasa tak ringan itu.
"Ini semua gara-gara Laurrent, menyusahkan saja! Seharusnya tadi kita tinggalkan saja di jalanan!" seru Lecya dengan kesal.
"Lecya kenapa kau berbicara seperti itu?" saut Clara.
"Lihatlah! Kalau bukan karna Laurrent. Kita tidak akan mengemis meminta bantuan seperti ini kepada Alana dan suaminya! Kenapa waktu terjatuh dia tidak mati biar hidupnya tamat sekalian!" seru Lecya.
"Lecya, kau ini sedang hamil bicaralah yang baik!" tutur Felix.
"Kau ini benar-benar keterlaluan berbicara seperti itu kepada Laurrent.
Laurrent terjatuh juga karna mengambilkan air untukmu, kalau kau tidak menyuruhnya, dia tidak akan jatuh terpeleset!" seru Clara.
"Lecya, di saat seperti ini, kau masih saja sempat-sempatnya menyalahkan Laurrent! Dia itu sahabatmu, kenapa kau berbicara seperti itu?" bentak Darrel.
"Sahabat jika selalu menyusahkan dan tidak menguntungkan, lalu untuk apa?" seru Lecya.
Tok...Tok...Tok...
"Alana..." sapanya saat melihat Alana berdiri di depan sana sambil membawa baskom berisi air dan kain kecil.
"Ada apa, Alana?" tanya Darrel.
"Aku membawakan air es untuk mengompres luka Laurrent," ujar Alana.
"Terimakasih, Alana. Silah--" belum menyelesaikan perkataanya kepada Alana. Lecya tiba-tiba keluar menarik tangan Darrel, menjauhkannya dari Alana dan mengajaknya untuk pergi ke kamar sebelah dan di ikuti oleh Felix yang keluar dan menempati kamar lainnya. Alana tak menghiraukan drama sepasang suami istri itu. Ia masuk ke dalam kamar yang sudah menampakan Clara dan Laurrent yang masih berbaring tak sadarkan diri.
"Alana..." Clara menghampirinya dengan tersenyum. Namun Alana tak membalas senyuman itu.
"Aku membawakan air es untuk Laurrent." Alana menyodorkan baskom yang ia pegang kepada Clara tanpa menatapnya sedikitpun.
"Terimakasih banyak, Alana," ucap Clara. Tanpa mengiyakan, Alana keluar dari sana.
Clara segera mengompress beberapa bagian tubuh Laurrent yang terlihat memar akibat terpeleset. Sembari memberi pijatan di jari-jari kakinya berharap sahabatnya itu sadar.
Tak lama kemudian, kedua mata wanita itu akhirnya mengerjap, membuat Clara begitu girang dibuatnya
"Laurrent... kau sudah sadar?" tanya Clara yang sudah melebarkan senyumnya dengan penuh syukur.
Kedua mata Laurrent membuka sempurna, membuat Clara seketika memeluk tubuh sahabatnya tersebut.
"Badanku sakit semua..." ucap Laurrent pelan sambil mendesis merasakan nyeri yang hampir meradang dan menjalar di seluruh tubuhnya.
Tok...Tok...Tok...
Alana terlihat masuk kembali ke dalam kamar iu dengan membawa kotak obat di tangannya. Ia sejenak menatap Laurrent yang sudah sadarakan diri, Laurrent begitu terkesiap saat melihat Alana di sana. Ia berulang kal mengucek matanya, memastikan apa yang dilihat itu memanglah Alana.
"Alana?" bibir pucatnya berucap pelan.
"Kau sudah sadar?" tanya Alana. Laurrent hanya diam saja dan menatap bingung akan keberadaan Alana.
"Ini P3K untuk mengobati luka Laurrent..." Kotak obat yang baru saja ia minta dari Paman penjaga villa, segera Alana sodorkan kepada Clara. Dan Clara menerimanya dengan baik.
"Paman sudah menyiapkan makanan untuk kalian, ajaklah yang lainnya untuk makan di dapur..." Alana melangkahkan kakinya hendak pergi dari sana.
"Alana..." tarikan tangan Clara membuat Alana menghentikan langkah kakinya dengan paksa. Ia memandang Clara dengan wajah datarnya, tidak ada senyuman ataupun pertanyaan yang ia loloskan.
"Aku turut berduka cita atas kepergian Daddy Holmes."
Alana mengernyit kesal saat mendengar ucapan Clara.
"Daddy hanya memiliki satu anak perempuan yaitu aku. Jadi tidak ada yang boleh memanggilnya dengan sebutan Daddy, kecuali aku!" tutur Alana.
"Maaf, maksudku Paman Holmes... aku turut berduka cita atas kepergian Paman Holmes," sambungnya. Alana hanya diam tak memberi respon apapun.
"Terimakasih banyak kau sudah mau membantu kami..." ucap Clara. Ia menatap Alana dengan mata yang berkaca-kaca. Alana menganggukan kepalanya satu kali. Lalu berlalu pergi meninggalkan kamar itu dan kembali ke kamarnya.
"Clara, kenapa ada Alana di sini? dan sekarang kita ada di mana?" tanya Laurrent yang hendak beranjak bangun. Clara segera menghampiri dan membantu menyempurnakan duduk sahabatnya tersebut.
"Tadi, mobil Darrel mengalami overheat dan kerusakan, lalu Felix mencari bantuan. Dan kita tidak sengaja bertemu dengan Alana dan suaminya. Jadi mereka memberi kita tumpangan dan tempat untuk bermalam di sini," ujar Clara.
"Alana membantu kita?" tanya Laurrent yang melongo seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Clara. Namun Clara membenarkannya.
"Apa dia meminta syarat atau sesuatu karna sudah membantu kita?" tanya Laurrent.
"Laurrent, Dia benar-benar menolong kita, kau kan tau bagaimana Alana dari dulu? kenapa kau dan Lecya dari dulu selalu saja berpikiran buruk kepada Alana!" seru Clara.
"Bisa saja, dia sengaja menolong kita hanya untuk membalas dendam karna dulu kita sudah menghianatinya!" saut Laurrent.
"Laurrent, cukup! Kalau Alana ingin membalas dendam. Dia tidak akan memberi tumpangan dan tempat untuk kita bermalam. Dia pasti tidak akan mau menolong kita dan akan membiarkanmu mati kedinginan di tengah jalanan lembah tadi! Seperti Lecya yang akan meninggalkanmu dan membiarkanmu di sana!" seru Clara.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Laurrent mengernyit bingung akan perkataan terakhir yang Clara lontarkan.
"Di mana Lecya? kenapa aku tidak melihatnya?" imbuhnya.
"Kau pikir saja di mana dia... obati sendiri lukamu!" Clara memberikan kotak obat yang masih ia pegang kepada Laurrent dengan kasar. Lalu, ia keluar meninggalkan kamar itu. Laurrent berkali-kali memanggilnya, namun Clara sama sekali tak menghiraukannya.
***
Saat Alana masuk ke dalam kamar, ia berpapasan dengan Ken yang hendak keluar dari kamar. Alana kembali menutup pintu kamar itu dengan rapat dan bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Mencarimu..." jawab Ken.
"Kau dari mana?" tanya Ken.
"Aku baru saja memberikan kotak obat dan air es untuk Laurrent," jawab Alana. Ken tiba-tiba terdiam dan memandang istrinya.
"Kenapa kau tidak membiarkannya saja?" tanya Ken.
"Ken, dia kan sedang terluka. Jadi aku harus membantunya," ujar Alana.
"Lalu bagaimana dengan lukamu? apa mereka juga membantumu untuk mengobatinya?" tanya Ken. Alana hanya diam dan menatap Ken, kedua sudut matanya terlihat basah saat mengingat perlakuan buruk ketiga mantan temannya itu. Alana menunduk hingga air matanya kini mengalir bebas membasahi pipinya.
"Aku sudah melupakan itu semua. Biarkan saja." Mungkin mulut Alana bisa berbicara dengan ringannya. Namun tidak dengan hatinya. Ken bisa melihat dan merasakan dengan jelas. Rasa sakit, kesedihan, penghianatan, kekecewaan, jatuh di setiap buliran air mata itu. Ia bisa merasakan itu semua.
Ken melangkahkan kakinya lebih dekat, memudahkan tangannya menjangkau wajah Alana dan mengusap air matanya.
Ken mengangkat wajah Alana dan memperhatikannya dengan seksama. "Kau tau, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?" tanya Ken. Alana hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Kau begitu polos, dan dengan mudahnya melupakan kesalahan orang lain." Ken seketika memeluk dan mendekap erat tubuh Alana seraya memejamkan kedua matanya.
"Aku benar-benar tidak tau bagaimana kacaunya dirimu waktu itu, andai saja, Tuhan mempertemukanku denganmu lebih awal. Aku akan selalu memelukmu seperti ini dan tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu. Sekalipun orang itu hanya mematahkan sehelai ujung rambutmu," sambungnya sembari memberi begitu banyak ciuman di kepala Alana.