
Ken semakin mengeratkan pelukannya dengan Alana, seakan ia tak ingin melepaskan wanita itu dari dekapannya.
"Ken, aku tidak bisa bernapas..." Alana berucap dengan suara manjanya. hingga Ken tersenyum di buatnya. seketika itu, Ken melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah Alana dengan begitu sekasama.
"Sudah jangan menangis! lihatlah, rambutmu berantakan seperti ini." Ken mengusap wajah Alana yang masih basah secara bergantian dengan menggunakan tangannya. kemudian, ia merapikan rambut Alana yang terlihat berantakan dengan jari-jarinya.
"Tidak, aku tidak menangis." Alana mengisak hingga ingusnya yang masih naik turun dari tempatnya.
"Terserah kau mau bilang apa! Ayo, cepat ganti bajumu dan istirahat," tutur Ken. Alana mengiyakannya. ia hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Alana, kenapa kakimu?" tanya Ken yang saat ini sedang memperhatikan kaki Alana yang berjalan tak seperti sebelumnya.
"Ehm, tidak apa-apa." Alana mencoba menyembunyikan luka di kakinya. Ken segera menghampiri Alana dan berjongkok melihat luka di kakinya.
"Kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya Ken. ia bergantian menyentuh luka di tempurung lutut Alana dan juga ibu jari kakinya, hingga membuat Alana mendesis pedih.
"Bahkan, bajumu juga kotor seperti ini."
"Ken, aku tidak apa-apa." Alana menjauhkan kakinya dari Ken.
"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas ini terluka dan kau bilang tidak apa-apa?" seru Ken dengan kesal.
"Hanya luka kecil," ucap Alana. Ken menarik tangan Alana dan menyuruhnya untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Tunggu di sini sebentar..." Ken mengambil kotak obat. kemudian, ia segera kembali menghampiri Alana.
"Ken, ini hanya luka ringan. kau terlalu berlebihan," ujar Alana.
"Apanya yang terlalu berlebihan? kalau tidak di obati nanti akan infeksi kau mengerti!" seru Ken. Ken berjongkok dan menyingkap sedikit gaun yang menutupi sebagian kaki Alana.
"Bagaimana kau bisa terluka seperti ini?" tanya Ken.
"Ehm, tadi aku terjatuh karna tersandung batu," jawab Alana.
"Kau ini seperti anak kecil saja! ceroboh sekali. kenapa bisa tidak berhati-hati?" seru Ken. tangannya kini mulai sibuk memberikan obat merah kepada luka Alana yang terlihat masih basah itu. Alana mendesis menahan rasa pedih di kakinya akibat obat yang baru saja meresap di lukanya itu. namun, kedua matanya tak bergeming memperhatikan Ken yang sibuk mengobati lukanya.
"Sudah..." Ken mengembalikan obat merah ke tempatnya semula. Alana hanya diam dan menatap Ken dengan tatapan sendunya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken.
"Maafkan aku, ya, Ken. aku selalu menyusahkanmu," ucap Alana pelan.
"Tidak! kau tidak pernah menyusahkanku," saut Ken.
"Apanya yang tidak pernah menyusahkanmu? jelas-jelas aku sering menyusahkanmu! pasti dalam hatimu kau berkata, "Iya, Alana. Kau sangat menyusahkanku!" Alana mencoba menirukan suara Ken.
"Iya, kan? jawab saja iya!" seru Alana hingga membuat Ken tak bisa menahan tawanya.
"Astaga, kenapa kau begitu menyebalkan?" Ken meletakan kotak obat yang sedang ia pegang. lalu, memeluk Alana dan mencium pipinya dengan begitu gemas.
"Kau memang tidak menyusahkanku."
"Benarkah?" tanya Alana. kedua matanya yang terlihat masih sipit itu melirik ke arah Ken seolah tak percaya.
"Iya, kau ini sungguh banyak bicara sekali. sudah cepat gantilah bajumu sana!" Ken mengusap kepala Alana sambil tersenyum. entahlah, perasaan Ken begitu lega malam itu. seakan sesuatu yang mengganjal di hatinya selama ini hilang begitu saja ketika ia mengungkapkan perasaannya kepada Alana tadi.
"Baiklah!" saut Alana dengan penuh semangat.
Ia segera mengganti gaun pesta yang masih melekat di tubuhnya dengan night gown yang sekiranya nyaman untuk dirinya tidur. lalu, Alana sejenak menemui Holmes di kamarnya.
Setelah memastikan Ayahnya sudah tertidur.
Alana kembali menghampiri Ken di kamar. di sana, Ken terlihat sedang duduk di sofa kamar sembari menikmati kopi yang sempat di buatkan oleh Bi Ester tadi.
"Kau belum tidur, Ken?" Alana mendudukan tubuhnya di samping Ken.
"Aku menunggumu." Ken tersenyum dan melingkarkan tangannya di bahu Alana.
"Apa Daddy sudah tidur?" tanya Ken.
"Ehem..." saut Alana. Ken menghabiskan kopi miliknya dan segera mengajak Alana untuk beristirahat.
***
David dan Ashley kini sedang bersama Valerie di dalam mobil. mereka berdua mengantarkan wanita iu pulang sesuai dengan permintaan Ken. Valerie terlihat duduk tepat di belakang David. raut wajah wanita itu terlihat begitu gelisah, seolah tersimpan banyak sekali kecemasn di balik wajah cantiknya itu. ia meremmas kedua tangannya sembari mengingat apa yang sempat Ken katakan kepadanya.
"Ken pernah membuka hati untukku?" gumam Valerie sambil menelan keras ludahnya.
"Aku sangat mengenal Ken. dia sangat sulit dekat dengan wanita. apa sampai sekarang dia masih membuka hatinya untukku? bagaimana wanita itu bisa begitu mudah menikah dengan Ken?" pertenyaan itu terlontar secara bersamaan di dalam hati dan pikirannya.
"Aku sudah lama memendam perasaanku kepadanya. bahkan, hingga sekarang. rasanya tak adil jika wanita lain dengan mudah memilikinya. semantara aku? dulu setiap hari aku harus mati-matian membunuh perasaanku setiap kali bersama Ken." Valerie memejamkan kedua matanya dengan perasaan yang begitu menyesakan dadanya.
"Apa benar ini alamat rumahmu?" suara David membuyarkan pikiran Valerie. matanya yang semula terpejam, kini terbuka dengan sendirinya.
"I-iya, Tuan." Valerie menganggukan kepalanya sembari takut melihat ke arah David. namun, Valeri tak bergeming akan duduknya.
"Ya sudah, kau menunggu apa lagi, Nona? cepat turunlah!" perintah David.
"Oh, i-iya, baiklah. terimakasih banyak, kalian sudah mau mengantarkanku." Valerie menggeser sedikit tubuhnya hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu, Nona Valerie!" suara David sejenak menghentikan Valerie.
"Iya, Tuan?" saut Valerie. David memutar kepalanya menoleh ke belakang dan menatap tajam kepada Valerie.
"Aku ingatkan! Ken sudah menikah. jangan sekali-sekali kau mencoba mengganggunya!" tutur David. suaranya seolah terdengar seperti ancaman bagi Valerie. Valerie menganggukan kepalanya tanpa bersuara dan ia segera turun dari sana.
dan saat David sudah memastikan bahwa wanita itu masuk ke dalam rumah, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Valerie.
"Nona Valerie sangat cantik sekali ya? pantas saja, dari dulu Ken tidak pernah mau memperkenalkan dia kepada kita," puji Ashley. namun, David diam saja.
"Oh, Iya, David. kenapa kau tadi berbicara seperti itu kepada Nona Valerie?" tanya Ashley dengan heran.
"Kau kan tau, dari dulu tak hanya sedikit wanita yang begitu menyukai Ken. aku hanya tidak mau wanita itu datang dan merusak hubungan Ken dengan Alana," ujar David.
"Alana?" David teringat sesuatu.
"Ashley, cepat hubungi Ken dan tanyakan, apa Alana sudah ketemu!" perintah David sambil fokus dengan kemudinya.
"Astaga, aku sampai lupa dengan Alana." Ashley merogoh ponsel yang terselip di saku celananya dan segera menghubungi Ken.
Tut... Tut... Tut...
"Iya, ada apa?" suara Ken terdengar dari balik ponsel.
"Ken, apa Alana sudah ketemu?" tanya Ashley.
"Sudah! tadi, Jasson tidak sengaja menemukannya di jalan," jawab Ken.
"Syukurlah." Ashley bernapas dengan lega.
"Apa kalian sudah mengantar Valerie?" tanya Ken.
"Sudah, baru saja kami mengantarkannya. Kalau begitu aku dan David akan kembali ke apartement," ucap Ashley dengan pemuh semangat.
"Baiklah, hati-hati! terimakasih banyak. Maaf, aku sudah merepotkan kalian," ucap Ken.
"Tidak apa-apa namanya juga sahabat, bukannya kita harus saling merepotkan?" Ashley tertawa dengan keras.
"Sialan, kau ini." Ken mengumpat. bahkan dirinya juga ikut tertawa.
"Ashley!" tegur David.
"Maaf, Ken. Aku hanya bercanda, ya sudah, aku akhiri dulu ya, Ken. bye... Sampaikan salamku dan David kepada Alana," pinta Ashley. Ken mengiyakannya dan mereka berdua dengan segera memgakhiri panggilan suara yang sedang berlangsung itu.
***
Setelah bertukar suara dengan sahabatnya melalui ponsel seluler. Ken meletakan ponsel miliknya di sembarang tempat. kedua matanya melirik ke arah Alana yang sedang memperhatikannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ken sembari mencubit pipi Alana.
"Apa Valerie sudah pulang?" tanya Alana. rupanya, sedari tadi Alana mendengarkan pembicaraan Ken dan Ashley dari telpon itu.
"Iya," jawab Ken. raut wajahnya berubah seketika.
"Sudah, ayo tidur." Ken menarik tubuh Alana dan memeluknya dengan begitu erat.
"Kalau memelukku jangan erat-erat! kau ingin aku mati apa?" seru Alana. Ia mencoba mengendurkan tangan Ken dari tubuhnya.
"Banyak bicara sekali." Ken tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ken dengan seksama memperhatikan wajah Alana dan mencium bibir tipis istrinya tersebut. Alana mencoba membalas ciuman itu. hingga semakin lama membuat tubuh mereka seakan terbakar di buatnya. Ken tak segan menindih tubuh Alana dan menciumi setiap jengkal tubuh itu, tangannya mulai bergerilya menyusup ke dalam balutan gaun yang di kenakan oleh Alana. mereka berdua menghabiskan malam bersama. malam yang begitu berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.
***
Tubuh Alana dan Ken kini hanya terbalut dengan satu lembar selimut. Alana melingkarkan tangannya di tubuh Ken yang masih di penuhi dengan keringat. kedua mata Ken terpejam. namun tidak dengan Alana yang saat ini sibuk dengan pikirannya.
Dering ponsel milik Ken berbunyi dengan begitu nyaring, memecah suasana hening kamar itu.
"Ken, ponselmu berdering," ucap Alana sambil menggoyang bahu suaminya itu. Ken membuka kedua matanya dan berdecak kesal. bahkan, ia sibuk mengatur napasnya yang masih naik turun.
"Siapa malam-malam seperti ini mengganggu?" Ken meraih ponsel miliknya.
Ia melihat ada satu panggilan masuk, "Valerie?" seketika itu bibir Alana berucap saat dirinya melirik ke arah ponsel yang di pegang oleh suaminya itu.
"Biarkan saja!" Ken mematikan ponselnya.
"Kenapa di matikan, Ken?" tanya Alana.
"Tidak penting," jawab Ken. ponsel itu berdering kembali. penelpon yang sama seperti sebelumnya.
"Angkatlah, Ken. siapa tau dia membutuhkan bantuanmu!" perintah Alana. Ken berdecak dan mengiyakan perintah Alana. Ken menggeser ikon berwarna hijau.
"Ha-halo, Ken. Ini aku Valerie." suara Valerie terdengar dari balik ponsel itu.
"Iya, ada apa?" tanya Ken dengan nada malasnya.
"Ti-tidak apa-apa! Aku hanya ingin menanyakan, apa istrimu sudah ketemu?" tanya Valerie.
"Sudah! dia sudah pulang bersamaku, ini kami mau beristirahat." kata-kata Ken penuh dengan sindiran halus.
"Oh, syukurlah, jika sudah ketemu. Ya sudah, maaf jika aku menggangg kalian!" ucap Valerie.
Tanpa menjawab kata-kata terakhir Valerie, Ken dengan segera mengakhiri panggilan suaranya yang masih berlangsung itu. Ia melirik ke arah Alana yang menatap dirinya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Dia hanya menanyakanmu," ucap Ken. Alana hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum seolah dengan penuh paksaan. jelas sekali, ada rasa ketidak senangan saat melihat Valerie menelpon Ken. sekalipun, dirinya yang di jadikan sebagai Alasan.
Seorang wanita mungkin bisa saja memendam perasaanya selama bertahun-tahun lamanya. tapi, bukankah? seorang wanita tidak akan pernah bisa memendam rasa cemburunya, walaupun itu hanya sedetik saja?
"Alana... " panggil Ken.
"Aku tidak apa-apa, Ken." Alana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku akan menghapus dan memblokir nomernya." Ken segera mengutak-atik ponselnya untuk memblokir nomer Valerie.
"Tidak usah, Ken. jangan di blokir!" ujar Alana mencoba menyaut ponsel itu. namun usahanya sia-sia.
"Sudah!" ucap Ken. ia meletakan ponselnya ke tempat semula.
"Kenapa kau memblokir nomer Valerie? aku benar-benar tidak apa-apa, Ken. Aku tidak mau merusak hubungan pertemanan kalian," ucap Alana. Ken manatap Alana dan mengusap kepalanya.
"Aku tidak mau berteman dengan seorang wanita lagi, kecuali dirimu! mulai sekarang teman wanitaku hanya kau saja," tutur Ken.
"Teman?" tanya Alana dengan suara yang sedikit kecewa. Ken tersenyum.
"Teman hidup!" ucap Ken.
"Sudah, ayo tidurlah!" Ken memeluk erat Alana dan menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya. Alana tersenyum dengan perasaan yang begitu lega. entahlah, ia begitu bahagia malam itu, ia benar-benar menemukan cinta setelah Ayahnya
Demi apapun raut wajah Alana terlihat begitu bahagia. namun, tiba-tiba raut wajah yang mulanya bahagia itu, kini tiba-tiba sirna seketika.
"Ken pernah membuka hati untuk Valerie? apa suatu saat hatinya akan terbuka lagi untuk dia?" pertanyaan itu membuat hati Alana menjadi was-was. namun, karna Alana kelelahan, dirinya langsung terlelap tidur.
"Alana, aku lupa. seharusnya tadi aku mau mengajakmu ke bukit kunang-kunang," ucap Ken. namun, ia tak mendapat jawaban dari Alana.
"Alana?" panggil Ken.
Ken melepaskan pelukannya agar lebih leluasa melihat wajah istrinya tersebut, "Astaga, dia sudah tidur." Ken tersenyum, ia memandangi wajah Alana dan mengusap pipinya dengan lembut. tiba-tiba bayangan Valerie terlintas di pikirannya hingga membuat wajah laki-laki itu berubah.
"2 tahun dia tidak menghubungiku. bahkan kita tidak pernah bertemu dan berbagi kabar setelah hari itu. dan sekarang hanya karna pertemuan kami di pesta pertunangan Adam, dia tiba-tiba menghubungiku lagi, seharusnya kita tidak pernah bertemu lagi."
"Aku tidak mau Alana salah paham. aku tidak mau menyakitinya, aku benar-benar mencintainya." Ken menatap Alana dengan rasa yang begitu sesak. ia mencium kening Alana dan memeluknya, bahkan, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya. aku akan membalas siapa saja yang pernah menyakitinya." Ken mengepalkan tangannya dengan geram.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya Nona lagi sibuk ada pekerjaan tambahan. terlebih lagi sama sekali gak nemu inspirasi buat nulis. pusing aku wkwkwk, tapi tetep Nona sempetin update, kok. lihat noh, sampek 2 novelku yang masih on going jadi terbengkalai wkwk. sabar yaaa...
aku mau jawab beberapa komentar.
MIH 3 kapan tamatnya?
. segera!
kenapa sih thor updatenya lama?
. Ya gimana lagi, karna nulis cerita gak asal nulis loh. enak dong kalau tinggal ketik-ketik doang wkwkwk.
Sombong banget di mintain update aja lama amet. sampe pembaca negemis-ngemis padahal masih banyak kok cerita bagus.
. Astaghfirullah, lah aku sombongnya di mana sih? Kalau misal aku sibuk dengan kehidupan nyata dan ngga nemu inspirasi. masa iya harus di paksain nulis? kalau gak sabar nunggu ya sudah sayangkuh, kan bisa baca cerita lain... aku juga manusia yang banyak kekurangan. pinginnya nurutin kemauan kalian buat update banyak. tapi apa daya, aku cuma bisa update semampuku saja. soalnya aku bukan pengangguran sayang.