
Jesslyn terlihat melebarkan senyumnya sembari menyelipkan ponselnya kembali ke dalam saku celana pendeknya. Membuat Kimmy mengernyit heran akan sikap temannya yang baru saja bertukar pesan dengan Alana.
"Kau kenapa tersenyum? bagaimana dengan Alana?" tanya Kimmy.
"Kita pergi sendiri saja ke pantai, Alana sedang membuatkanku keponakan yang lucu..." Jesslyn kegirangan dengan suaranya yang manja. Bahkan, ia tidak tau yang sedari tadi yang membalas pesan singkatnya bukanlah Alana, melainkan Kakaknya.
"Keponakan?" mata dan bibir Kimmy melebar dengan sangat sempurna.
"Iya, Keponakan. Alana dan Kakak sedang membuatkan keponakan yang lucuuuuu untukku." Sangking senangnya, suara Jesslyn terdengar mendayu-dayu.
"Yeay... aku mau keponakan, aku mau..." ujar Kimmy yang tak kalah girangnya dari Jesslyn.
"Jesslyn, aku juga bisa membuatkan keponakan yang lucu-lucu untukmu," imbuhnya.
"Mana bisa kalau belum menikah?" saut Jesslyn.
"Kalau aku menikah dengan Jasson, bisa-bisa saja." Kimmy terkekeh penuh harap.
"Menghayalah... menghayalah..." Jesslyn meraup wajah Kimmy dan mengacak-acak rambut wanita itu dengan telapak tangannya.
"Jesslyn, kau ini sungguh menyebalkan!" Kimmy berdecak seraya merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ayo kita ke kamar Jasson." Jesslyn dengan segera menarik tangan Kimmy.
"Untuk apa ke kamar Jasson? apa kau mau ku buatkan keponakan yang lucu juga?" tanya Kimmy dengan begitu polosnya. Jesslyn menghentakan tangan Kimmy.
"Kau ini! Kita ke kamar Jasson untuk mengajaknya ke pantai supaya ada yang menjaga kita di sana!" seru Jesslyn.
"Oh, baiklah, aku kira, kau mau ku buatkan keponakan." Kimmy cekikikan membuat Jesslyn menggeleng kepalanya.
"Sudah, ayo, jangan banyak bicara!" tukas Jesslyn. Ia menarik tangan Kimmy dan menggeretnya pergi ke kamar saudara kembarnya.
***
Jasson terlihat sedang menikmati teduhnya sore di balik jendela kamar yang ia tempati saat ini, tangannya memegang sebuah buku novel fantasy yang halamannya sudah hampir habis ia baca. Di depan mejanya terlihat dua cangkir kosong bekas dirinya menikmati kopi yang telah dibuatkan oleh penjaga villa tadi.
"Permisi..." suara seorang perempuan membuatnya menoleh ke arah pintu. Terlihat anak penaga Villa itu berdiri di sana dengan membawa nampan yang tertata secangkir kopi di atasnya.
"Permisi, Tuan. Kata Ayah saya, tadi Tuan meminta dibuatkan kopi lagi, apa benar?" tanya Alea.
"Iya, masuklah! Aku memang meminta kopi tadi," jawab Jasson yang mengalihkan pandangannya untuk membaca kembali buku yang ia pegang. Alea pun berjalan mendekati Jasson dan meletakan kopi tersebut di atas meja yang ada di depannya. Alea sejenak melirik buku yang dipegang oleh Jasson kala itu.
"Kau membaca novel Percy Jackson?" pertanyaan Alea membuat Jasson menoleh ke arahnya.
"Kau tau?" tanya Jasson.
"Tentu saja," ujar Alea dengan tersenyum.
"Kau menyukai Novel Percy Jackson?" tanya Jasson.
"Ehem, bahkan, aku memiliki semua koleksi bukunya," jawab Alea.
"Kau memiliki semua koleksinya? benarkah?" Jasson beranjak berdiri, ia mulai tertarik dengan pembicaraan novel yang sangat ia gemari itu. Jarang sekali, ia menemui wanita yang menyukai novel bergenre fantasy.
"Iya, yang kau baca itu buku ketiga bukan?" tanya Alea yang masih memperhatikan buku yang dipegang oleh Jasson.
"Iya, aku hanya memiliki 3 koleksi buku saja. Aku belum membaca koleksi yang lainnya," ujar Jasson.
"Aku bisa meminjamkan koleksi bukuku kepadamu, aku memiliki banyak sekali buku novel bergenre fantasy, mulai dari Percy Jackson, Harry potter, The Lord of The Rings dan masih banyak lagi," ujar Alea.
"Wah, Kau sangat suka membaca novel fantasy juga ternyata, Kau mau meminjamkannya untukku?" tanya Jasson.
"Tentu saja, aku akan meminjamkannya untukmu." Alea melebarkan senyumnya.
"Jasson..." Suara Jesslyn menghentikan Jasson yang hendak berbicara kepada Alea. Ia dan Alea bersamaan menoleh ke arah pintu kamar. Terlihat Jesslyn dan juga Kimmy yang sedang berjalan ke arah mereka. Kimmy memandangi Alea dan Jasson secara bergantian. "Sedang apa Jasson berdua di kamar dengan Nona cantik ini?" gumam Kimmy yang penuh tanda tanya di hatinya.
"Ada apa?" tanya Jasson dengan suaranya yang tak ramah kepada Jesslyn.
"Jasson, ayo temani aku dan Kimmy ke pantai!" ajak Jesslyn.
"Aku sedang sibuk, pergilah sendiri!" perintah Jasson.
"Jasson, ayo temani kami... kami ingin menikmati sunset," Jesslyn menarik-narik tangan Jasson.
"Iya, Jasson." Kimmy ikut memohon. Ia seketika menutup mulutnya saat Jasson meliriknya dengan tatapan dingin.
"Aku lelah! Pergilah sendiri sana," perintahnya kembali.
"Ehm, Tuan, Nona... saya permisi." Alea menundukan pandangannya dan hendak berlalu keluar dari kamar itu.
"Nona, siapa namamu?" pertanyaan Jasson membuat langkah kaki Alea terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Alea..." ia menyebutkan namanya diselipi dengan senyumannya.
"Nanti, aku akan menemuimu, aku ingin meminjam semua koleksi bukumu," ujar Jasson.
"Baiklah Tuan," saut Alea. Ia segera melanjutkan kembali langkah kakinya untuk keluar dari kamar itu. Kimmy melihatnya dengan begitu tak senang, hatinya tiba-tiba merasa sesak saat melihat Jasson berbicara akrab dengan wanita yang ia anggap asing itu.
"Jasson, ayo temani kami," Jesslyn merengek, terlebih lagi saat melihat Jasson mendudukan kembali tubuhnya di atas sofa dan melanjutkan kembali membaca buku miliknya. Membuat hatinya merasa jengkel. Jesslyn merasa lelah, saat melihat Jasson tak menghiraukannya.
"Ya sudah, ayo Kimmy, kita pergi sendiri saja. Tidak ada gunanya mengajak dia," Jesslyn menarik tangan Kimmy dan mengajaknya pergi dari sana. Jasson melirik mereka berdua yang berjalan cepat meninggalkan kamarnya itu.
Jasson menutup buku miliknya dan meneguk habis kopi yang dibawakan oleh Alea tadi. Ia mengganti bajunya dengan kaos yang ia rasa nyaman untuk di kenakan, kemudian, ia keluar dari kamar itu dan tak sengaja bertemu dengan Ashley, membuat mereka berdua sejenak meluangkan sapaannya.
"Jasson, kau mau ke mana?" tanya Ashley.
"Mau menyusul Jesslyn dan Kimmy, aku mau mengawasi mereka. Apa kau mau ikut ke sana?" tanya Jasson.
"Tidak, Jasson, besok saja. Aku masih sangat lelah," ujar Ashley.
"Baiklah, aku pergi dulu." Jasson menepuk bahu Ashley dan berlalu meninggalkan teman kakaknya itu.
Kedua kaki Jasson mengajaknya melangkah keluar dari Villa. Namun, langkahnya terhenti tatkala, suara Alea meneriakinya.
"Tuan... Tuan..." Alea berjalan cepat menghampiri Jasson.
"Alea, ada apa?" tanya Jasson.
"Ayo, katanya kau mau melihat koleksi bukuku," ajak Alea dengan suara yang penuh semangat.
"Nanti saja, aku harus menyusul adikku dan temannya di pantai," ujar Jasson.
"Kau tidak mau melihatnya sekarang?" tanya Alea. Jasson terdiam sejenak, ia begitu penasaran dengan semua koleksi buku Alea. Namun, ia juga bingung karna harus menyusul saudara kembarnya di pantai.
"Lebih baik aku ikut Alea sebentar untuk melihat koleksi bukunya, aku sungguh penasaran. Nanti, setelah melihat koleksi bukunya, aku akan menyusul Jesslyn dan Kimmy," gumamnya dalam hati.
"Ya sudah, ayo..."
Alea pun segera mengajak Jasson untuk pergi ke tempat di mana dirinya menyimpan semua koleksi buku miliknya.
***
Jesslyn dan Kimmy berjalan kaki menuju ke pantai yang letaknya 100 meter dari villa yang ia singgahi, cukup melelahkan, bahkan membuat mereka berdua harus berhenti sejenak, berlomba-lomba menghirup oksigen karna napasnya yang ngos-ngosan.
Raut wajah Kimmy yang semula riang, kini terlihat begitu muram. Ia tak henti sedari tadi memikirkan Jasson dan Alea.
"Apa yang salah dengan diriku? Jasson tidak pernah mengajakku berbicara dengan ramah," gumam Kimmy.
"Kau kenapa?" tegur Jesslyn. Yang sedari tadi memperhatikan perubahan wajah temannya itu.
"Kenapa Jasson daridulu tidak menyukaiku, ya, Jesslyn?" tanya Kimmy dengan tatapan sendunya.
"Dia bukan tidak menyukaimu! Dia memang seperti itu dengan wanita," ujar Jesslyn.
"Apa dia tidak menyukai wanita?" tanya Kimmy.
"Semua laki-laki menyukai wanita, tapi belum menemukan wanita yang tepat saja. Kakak juga dulu seperti itu, tapi sekarang dia menemukan Alana, wanita yang tepat."
"Apa aku bukan wanita yang tepat untuk Jasson?" tanya Kimmy dengan suara polosnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Jesslyn. Kimmy hanya diam menatapnya, menunggu jawaban akan pertanyaannya tadi.
"Sudahlah, Kimmy. Kalau Tuhan menakdirkanmu untuk Jasson, kau pasti akan menjadi wanita yang tepat untuknya. Begitu juga dengan Jasson, dia akan menjadi laki-laki yang tepat untukmu," tutur Jesslyn.
"Kau daritadi murung hanya karna memikirkan Jasson?" tanya Jesslyn.
Kimmy menganggukan kepalanya. "Jasson sepertinya menyukai Nona cantik tadi," katanya dengan suara yang sedih.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Jesslyn.
"Iya, buktinya tadi Jasson menanyakan namanya, seumur hidupku saja Jasson tidak pernah menanyakan siapa namaku!" ujar Kimmy.
Jesslyn tiba-tiba tertawa lepas. "Dasar bodoh, dari dulu kan Jasson sudah tau namamu, jadi untuk apa menanyakan namamu lagi!" Jesslyn tak lepas akan tawanya akibat mendengar ucapan konyol temannya tersebut, Namun, Kimmy hanya diam saja dengan memasang raut wajah yang sangat melas.
"Sudah jangan bersedih, kita sama-sama belum menemukan orang yang tepat! Ayo, sini peluklah aku," Jesslyn melebarkan tangannya menyambut teman kecilnya itu untuk segera memeluknya. Kimmy tersenyum dan segera memeluk Jesslyn.
"Ayo, kita lanjutkan lagi, pantainya sudah dekat..." Jesslyn kembali menggandeng tangan Kimmy dan berjalan cepat menuju pantai yang sudah terlihat di jangkauan matanya.
Setibanya di sana, mereka berdua berpapasan dengan Valerie yang hendak menyudahi sesi pemotretannya.
"Jesslyn..." sapa Valerie yang berjalan mendekatinya dan juga Kimmy.
"Valerie, kau di sini? kau cantik sekali?" puji Jesslyn yang memperhatikan Valerie.
"Terimakasih..." Valerie tersenyum kepadanya.
"Kau sedang melakukan sesi foto prewedding ya?" tanya Jesslyn. Senyuman Valerie seketika sirna dan mengiyakan pertanyaan Jesslyn.
"Kau hanya berdua saja? di mana Kakakmu?" tanya Valerie.
"Jesslyn di sini saja, ombaknya sangat besar!" Kimmy meneriaki Jesslyn. Namun, Jesslyn tak menghiraukannya. Ia terlihat melepas sandal yang ia kenakan dan membiarkan sisa-sisa ombak yang menerjang bibir pantai itu membasahi kakinya yang telanjang.
"Kau tidak mau menikmati sunset Nona Valerie?" tanya Kimmy kepada Valerie yang masih tak memindah posisinya.
"Tidak, aku sangat lelah, aku harus kembali ke villa," jawab Valerie.
"Baiklah..." Kimmy mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kenapa kau hanya berdua bersama Jesslyn saja? kau tidak mengajak Nona Alana?" tanya Valerie.
"Alana tidak bisa, Kata Jesslyn dia sedang membuatkan keponakan yang lucu untuknya," kata Kimmy dengan suara polosnya.
"Keponakan?" tanya Valerie.
"Iya, keponakan yang lucu. Kakak Ken dan Alana akan membuatkanku dan Jesslyn keponakan yang lucu," Kimmy melebarkan senyumnya dengan begitu heboh.
"Oh..." Valerie hanya membalas dengan bulatan bibirnya saja.
"Oh iya, apa kau tau, Nona Alana sebelumnya pernah memiliki hubungan apa dengan Ken?" tanya Valerie.
"Istrinya..." saut Kimmy.
"Maksudku sebelum mereka menikah!" Valerie berucap dengan suara kesalnya.
"Mereka pernah berpacaran, teman atau apa? ehm, aku ingin hanya tau saja, kenapa Ken menikahi Nona Alana?" tanya Valerie dengan begitu penasaran.
"Alana menikah dengan Kakak Ken, Karna---" Kimmy tiba-tiba tak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa Nona Valerie begitu penasaran menanyakan Alana dan Kakak Ken?" gumam Kimmy dengan tatapan penuh curiga.
"Karna apa?" tanya Valerie.
"Karna apa Nona Kimmy? jawablah?" tanya Valerie dengan tidak sabar.
"Karna mereka saling mencintai, makanya mereka menikah." Kimmy terkekeh. Raut wajah Valerie terlihat sangat kecewa saat mendengar kata-kata Kimmy.
"Baiklah, aku kembali ke villa dulu," pamit Valerie. Kimmy mengiyakan dan segera menyusul Jesslyn untuk bermain ombak di tepi pantai itu sembari memandang Matahari yang perlahan menenggelamkan diri, menikmati langit berwarna jingga yang teramat menenangkan hati mereka berdua.
***
Alana ikut tertidur saat dirinya tak di perbolehkan oleh Ken untuk pergi dari kamar itu. Tak lama kemudian,
Ken terbangun dan kedua matanya menyorot ke arah jam dinding yang terpampang di dalam kamar itu. Waktu sudah menunjukan pukul 17.15 Pm. Tak terasa, dirinya tidur satu jam lamanya, setidaknya sedikit menyegarkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Alana, bangunlah..."
"Sayang..." Ken menepuk-nepuk pipi istrinya itu hingga ia mengerjapkan kedua matanya.
"Hem?" saut Alana seraya menyipitkan kedua matanya, melihat Ken dengan mata yang buram.
"Ini sudah sore," ujar Ken.
"Lalu, sebelum kau tidur tadi apa? malam!" seru Alana.
"Ayo bangunlah dan mandi, kita makan malam," ajak Ken.
"Aku masih mengantuk," Alana kembali memejamkan kedua matanya.
"Kau masih mau di sini?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya dengan matayang masih terpejam.
"Katanya ingin menghabiskan waktu di dalam kamar!" kata Alana yang masih tak kunjung membuka matanya kembali.
"Oh, Baiklah, kalau begitu kita bisa melakukannya lagi sekarang," goda Ken. Alana melebarkan kedua matanya dan segera beranjak bangun dari tidurnya.
"Tidak mau! Aku sudah lelah!" seru Alana. Ken pun terkekeh.
"Ya sudah, mandilah sana!" Perintah Ken. Alana mengerucutkan bibirnya, membalutkan seimut di tubuh telanjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Alana keluar dan bergantian memakai kamar mandi itu dengan Ken.
Alana berdiri di depan cermin. Ia menyisir rambutnya dan memoles sedikit bibirnya dengan lipbalm, ia melihat pantulan tubuhnya di depan cermin datar yang memantulkan seluruh tubuhnya itu.
"Kata Ken, aku kurus, tapi aku merasa tubuhku semakin gemuk," Alana menggembungkan pipinya. Dan memperhatikan tubuhnya itu.
Ken terlihat keluar dari kamar mandi dan menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk, ia memperhatikan Alana yang sedang bercermin, lalu segera menghampirinya.
"Kenapa kau bercermin?" tanya Ken.
"Gunanya cermin ya untuk bercermin, memangnya tidak boleh apa bercermin!" seru Alana.
"Ken, tubuhku semakin kurus atau gemuk?" tanya Alana. Ia kembali menggembungkan pipinya membuat Ken tersenyum gemas untuk menghamipiri istrinya itu.
"Kenapa memangnya?" tanya Ken seraya menyibakan tambut Alana.
"Aku merasa tubuhku semakin gemuk. Tapi katamu tubuhku kurus kering," Alana berucap sembari mengerucutkan bibirnya.
Ken memegang kedua pipi Alana. "Kurus ataupun gemuk aku tetap mencintaimu," Ken memberi kecupan di pipi Alana. Membuat pipi sang pemiliknya itu bersemu merah. Alana tersenyum malu tidak karuan, membuat Ken mengernyitkan dahi saat melihat wajahnya,
"Kenapa wajahmu seperti itu? biasa saja... biasa!" seru Ken.
"Kau sih!"
"Ya sudah, aku keluar dulu menemui Jesslyn ya sayang," ujar Alana. Ken tersenyum dan mengiyakannya.
"Dia benar-benar menggemaskan," Ken masih tak lepas akan senyumannya memperhatikan Alana yang bayangannya sudah tak tertinggal di kamar itu.
Dengan langkah riang, Alana keluar dari kamarnya menuju ke kamar Jesslyn, namun, ia tak menmui siapapun di sana.
"Apa Jesslyn dan Kimmy belum pulang? ini sudah hampir petang," gumam Alana yang kini meninggalkan kamar Jesslyn.
Ia pergi ke ruang depan, di sana terlihat Ashley, David dan Billy yang sedang terlihat asik mengobrol, Valerie juga ada di sana, namun wanita itu sibuk memainkan ponsel di tangannya.
Semua orang meyapanya kecuali Valerie yang berpura-pura tak mengetahui kehadiran Alana di sana, David menyuruh Alana untuk duduk di sofa yang kosong yang letaknya ada di samping Ashley, Alana segera mendaratkan tubuhnya duduk di sana.
"Alana, di mana Ken?" tanya David.
"Di kamar, setelah ini dia akan kemari," jawab Alana.
"Oh, Iya, Apa kalian tidak melihat Jesslyn, Kimmy? di kamar mereka tidak ada?" tanya Alana.
"Mereka berdua sepertinya masih di pantai, Jasson tadi menyusulnya," jawab Ashley.
"Syukurlah, jika mereka pergi bersama Jasson," Alana menghela napasnya dengan lega.
***
Ken keluar dari kamarnya. Tubuh tegapnya mengajaknya untuk menghampiri Alana dan lainnya yang kala itu masih berada di ruang depan.
"Sayang..." Alana memanggil Ken dan menarik tangannya untuk duduk di sampingnya. Valerie hanya meliriknya di sela memainkan ponselnya itu.
"Jesslyn dan Kimmy ke mana?" tanya Ken yang bingung saat tak melihat mereka di sana.
"Mereka masih di pantai bersama Jasson," jawab Alana.
"Ya sudah..." hati Ken serasa lega saat mendengar Jasson bersama Adiknya dan juga Kimmy.
Ken memulai membuka obrolan bersama David, Ashley dan juga Billy. Mengobrol ringan di selingi candaan, Valerie masih sama tak menghiraukan mereka dan sibuk mengusap-usap layar ponselnya.
Alana tiba-tiba beranjak berdiri karna teringat akan Daddyya, bahkan menghentikan percakapan empat lelaki itu.
"Mau ke mana?" tanya Ken.
"Mau mengambil ponselku, aku lupa mengabari Daddy," Alana terburu-terburu hendak kembali ke kamarnya. Namun, kakinya tersangkut meja membuat dirinya terjatuh.
"Awww." Alana berteriak saat tubuhnya terbentur lantai.
"Alana..." Ken dan David sama-sama memanggil nama itu. Membuat Valerie melirik ke arah David. David hendak beranjak menghampiri Alana, namun ia urungkan karna Ken begitu cepat beranjak berdiri menghampiri istrinya tersebut
"Kenapa bisa terjatuh?" tanya Ken. Alana hanya menggeleng kepalanya.
"Kau selalu saja tidak berhati-hati,! Ceroboh sekali..." seru Ken. Ia mencoba membantu Alana untuk berdiri.
"Lulutku sakit sekali..." Alana mendesis sembari memegangi lututnya.
"Duduklah! Lutut yang mana yang sakit?" Ken berjongkok di depan Alana dan memeriksa lututnya istrinya itu.
"Kenapa kau selalu tidak berhati-hati? kalau tadi kau jatuh dan terkena kaca meja bagaimana?" seru Ken suaranya terdengar begitu panik. Perhatian Valerie teralihkan kepada Ken yang sebegitu mencemaskan istrinya. Karna Valerie tau betul bagaimana sifat Ken dari dulu.
"Aku sudah tidak apa-apa, Sayang, sebentar, aku akan mengambil ponselku." Alana hendak beranjak berdiri namun Ken dengan cepat menahan tubuhnya.
"Tunggu di sini, biar aku yang mengambilkan ponselmu, jangan ke mana-mana!" Ken beranjak berdiri dan berlalu pergi dari sana.
David memperhatikan Valerie yang tak henti memandangi Ken dengan kedua mata senduhnya, sejenak Valerie mengalihkan pandangannya kepada David yang sedang memperhatikannya dan menajamkan kedua matanya.
"Dia selalu saja mengawasiku!" gumam Valerie dengan kesal.