My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menyesakan Dada



Ken berjalan ke balkon gedung, menjauh dari jangkauan semua orang. Valerie mengikuti Ken dari belakang dan saat ini berdiri tepat di samping laki-laki itu. sementara Alana sendiri, ia memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.


"Ken?" panggil Valerie.


"Bicaralah, apa yang ingin kau bicarakan?" perintah Ken tanpa menatap wanita yang saat ini sedang sibuk memandangi dirinya.


"Kau sudah menikah?" suara Valerie merendah. namun Ken hanya diam saja.


"Kau tidak pernah memberikanku kesempatan, Ken." Valerie memandang ke arah Ken yang sedang menatap ke sembarang arah.


"Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. jangan membahas yang sudah-sudah!" tutur Ken.


"Aku akan segera menikah, Ken. aku di jodohkan dengan cucu angkat Nenekku sendiri,"


"Apa kau tau, Ken. aku bersusah payah mencoba melupakanmu hingga mau memilih perjodohan ini."


"Kau bilang, akan mencoba membuka hati untukku, tapi setelah hari itu, kau malah menghindar dan menjauh dariku.  kau sama sekali tidak pernah memberikanku kesempatan, Ken. apa aku benar-benar tidak pantas untuk itu?" Ken hanya melirik ke arah Valerie yang saat ini benar-benar kecewa terhadapnya. suaranya terdengar semakin memberat. namun Ken hanya membungkam.


"Apa yang dia lakukan hingga bisa merebut hatimu, Ken?"


"Apa yang membuatmu mau menikah dengan dia, Ken? apa kau sangat mencintai istrimu itu?"


"Kenapa kau tidak mau memberiku kesempatan untuk membuka hatimu untukku?" pertanyaan - pertanyaan itu Valerie lontarkan secara bersamaan hingga membuat Ken tak memiliki cela untuk mencoba menjawabnya.


"Bicaralah, Ken?"


"Aku sudah pernah membuka hatiku untukmu, tapi bukankah kau sendiri yang menghindar? kau sendiri yang menjauhiku!" seru Ken.


"Aku tidak pernah menghindar... aku hanya ingin memberimu waktu untuk benar-benar membuka hatimu untukku. aku takut kau merasa terganggu setelah aku mengungkapkan perasaanku kepadamu. tapi nyatanya? aku mengira kau yang menghindar dariku. karna sejak hari itu, kau sudah jarang menghubungiku. bahkan tidak sama sekali. sejak saat itu aku mencoba benar-benar melupakanmu. tapi aku tidak bisa..." ujar Valerie. Ken menoleh ke arah Valerie yang sedang menahan kesedihannya.  Ken menatap kedua manik mata Valerie yang terlihat berkaca-kaca.


"Bahkan hingga hari ini, aku masih belum bisa melupakanmu ... kenapa aku tidak seberuntung istrimu, Ken?" Valerie mengusap kedua sudut matanya yang basah secara tiba-tiba.


"Valerie..." entah rasanya Ken tak tega melihatnya.


"Maaf, aku terbawa suasana. aku hanya ingin berbicara itu saja, Ken."


"Setidaknya hatiku sudah lega berbicara apa yang ingin ku bicarakan kepadamu." Valerie cepat-cepat mengusap air matanya dan mencoba tersenyum. setelah itu, ia berlalu pergi meninggalkan Ken.


"Valerie..." Ken memanggilnya. namun, Valerie tidak menghiraukannya.


"Aku justru mengira kau yang mempermainkan perasaanku..." gumam Ken dalam hati seraya memejamkan kedua matanya.


***


Alana berdiri dengan perasaan yang tak tenang. ia begitu kacau berada di kerumunan banyak orang. Alana meremmas tangannya yang berkeringat. berharap Ken segera kembali menemuinya. dan tak lama kemudian, Ken terlihat kembali dan menghampirinya.


"Maaf aku lama..." ucap Ken.


"Tidak apa-apa," Alana mencoba tersenyum.


"Kau pasti lapar. ayo kita makan..." Ken menarik tangan Alana dan hendak menghampiri David dan Ashley. Ken mengajak Alana duduk dan mencoba memulai makan bersama kedua sahabatnya itu.


"Siapa wanita yang berbicara denganmu di balkon, Ken?" tanya David.


"Iya, Ken. siapa dia?" tanya Ashley.


"Dia Valerie, temanku," jawab Ken sambil melihat ke arah Alana.


"Oh, itu Valerie yang dulu pernah kau ceritakan?" tanya Ashley dengan hebohnya. Ken hanya diam dan masih menatap Alana yang seakan tak mempedulikannya.


"Alana, ayo makanlah!" perintah Ken. namun Alana hanya diam saja.


"Alana?" seru Ken dengan sedikit kesal.


"Iya, Ken. aku makan!" saut Alana.


"Dia pasti masih berpikiran hubunganku dan Valerie." Ken bergumam dalam hati sambil  menatap Alana dengan sedikit kesal. Alana melihat ke arah Ken yang masih menatapnya. namun, Alana seketika mengalihkan pandangannya.


Mereka brempat menikmati jamuan yang  di suguhkan oleh keluarga Adam untuk semua para tamunya. David dan Ashley tak henti mengajak Ken berbicara. namun, Alana hanya diam saja dan menikmati makanannya.


Ken kembali mengingat alasan Valerie yang tiba-tiba menghindar darinya, "Selama ini aku hanya salah paham, kepadanya?" gumam Ken dalam hati seraya menelan ludahnya. kemudian, ia melihat ke arah Alana yang nampak diam dan tak bersemangat.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Ken seraya menyibakan rambut Alana. bahkan, David memperhatikan mereka berdua.


"Tidak apa-apa, aku kan makan, masa iya harus berbicara? aku pusing jika berada di keramaian seperti ini," ucap Alana sambil tersenyum.


"Habiskan makananmu, setelah ini kita pergi dari sini," tutur Ken. Alana menganggukan kepalanya.


Bruk


"Aw..." teriakan wanita yang tak lain Valerie, membuat semua orang melihat ke arahnya termasuk Ken. wanita itu terlihat jatuh karna terpeleset di dekat bangku yang saat ini Ken duduki. bahkan, heels yang ia kenakan terlihat rusak.


"Valerie?" Ken beranjak berdiri dan segera menghampiri wanita itu, begitu juga dengan Alana dan David. sementara Ashley, laki-laki itu masih sibuk dengan makanannya.


"Valerie, bagaimana kau bisa jatuh? apa kau baik-baik saja?" tanya Ken.


"Kakiku sakit sekali, Ken." Valerie mendesis dan memegangi pergelangan kakinya. Ken membantu Valerie berdiri dan memapah tubuhnya untuk duduk di kursi yang ada di dekat sana. Ken segera memeriksa pergelangan kaki Valerie yang terlihat membiru.


"Aw sakit, Ken." Valerie mendesis nyeri saat Ken menyentuh pergelangan kakinya itu.


"Tunggu sebentar, aku akan meminta air es untuk mengompres pergelangan kakimu." Ken beranjak pergi dari sana dan meminta ke pegawai gedung lap dan juga air es. tak lama kemudian, pegawai gedung itu kembali memberikan apa yang Ken minta tadi. Ken segera mengompress kaki Valerie.


Alana masih tak bergeming berada di samping David sembari memperhatikan Ken dan Valerie. Hati Alana merasa sakit saat melihat Ken yang sebegitu perhatiannya  kepada Valerie. kedua matanya terlihat berkaca-kaca saat melihat pemandangan yang saat ini menyesakan dadanya.


"Alana..." suara David menyentak telinga Alana.


"Ehm, Iya?" Alana mencoba menundukan pandangannya. David melihat Alana. kemudian, ia bergantian melihat ke arah Ken yang sedang sibuk membantu Valerie.


"Ayo, kita lanjutkan makan kita." David menarik tangan Alana dan mengajaknya kembali untuk melanjutkan makannya. David menyuruh Alana duduk, Alana pun mengiyakannya.


Namun, kedua mata Alana  tak lepas memperhatikan Ken yang sibuk dengan Valerie. bahkan David memperhatikan kesedihan Alana di ke dua matanya  dengan begitu jelas.


"Mana Ken?" tanya Ashley.


"Dia masih membantu temannya. ayo kita lanjutkan lagi makannya," ajak David sambil melihat ke arah Alana.


"Alana... apa kau baik-baik saja?" tanya David.


"Iya, Alana. kenapa kau daritadi ku perhatikan diam saja? apa kau sakit Alana?" tanya Ashley.


"Ti-tidak. aku baik-baik saja..." wanita itu mencoba tersenyum memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. padahal tidak demikian.


"Ehm... David, Ashley, aku permisi mau ke toilet, ya?" pamit Alana.


"Baiklah, segeralah kembali, Alana." Ashley menyautinya sambil mengunyah cepat makanan yang saat ini sedang memenuhi mulutnya. Alana beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan mereka berdua. sedangkan David, ia masih tak lepas memandangi Alana yang berjalan menjauh dari jangkauan matanya.


"Hey..." suara Ashley membuyarkan pandangan David.


"Apa, sih. kau ini?" seru David.


"Ku perhatikan, kau dari tadi memandangi Alana hingga sebegitunya?  jangan bilang kau menyukai wanita itu!" ujar Ashley dengan tatapan penuh curiga. David hanya diam dan menatap sahabatnya tersebut.


"Kenapa kau diam saja?" seru Ashley.


"Kalau aku menyukainya memangnya kenapa? kau ada masalah?" tanya David. Ashley seketika tersedak hingga membuat sebagian makanan yang ada di mulutnya keluar begitu saja. Ashley dengan cepat melarutkan sebagian makanan di dalam mulutnya dengan air yang baru saja ia ambil.


"Kau jangan gila! dia istri sahabat kita. apa kau mau di bunuh oleh Ken!" seru Ashley.


"Aku dulu yang mengenal Alana. dan aku dulu yang memiliki perasaan dengan dia. Ken tidak pernah mengiginkan Alana," ujar David.


"Bicara omong kosong! sadarlah..." Ashley menepuk-nepuk pipi David berkali-kali.


"Ken sangat mencintai Alana, kau harus tau itu!" ucap Ashley.


"Aku pikir juga seperti itu. tapi, lihatlah! dia lebih sibuk dengan teman wanitanya hingga melupakan Alana. dan aku sangat tidak menyukai ini." ucap David sambil melihat ke arah Ken yang saat ini masih sibuk membantu Valerie.


"David, kau seperti tidak tau Ken saja. dari dulu Ken memang seperti itu... dia tidak bisa melihat siapa saja terluka!" tutur Ashley.


"Dulu waktu pertama kali masa orientasi siswa, aku tertimpa pohon di sekolahan dan aku kehilangan banyak darah, Ken berbaik hati mendonorkan darah untukku, padahal Ken sama sekali tidak mengenalku. dan apa kau masih  ingat waktu pertama kali kita bertemu Alana di bar? Ken tidak mengenal dia, kan? dan bahkan, Ken tidak tau asal usul Alana. tapi,  dia mau membantu Alana bahkan mengobati luka di tangannya. orang asing saja selalu Ken bantu. apalagi temannya!" imbuh Ashley. David terdiam sejenak dan membenarkan kata-kata Ashley.


"Tapi seharusnya dia tau, di sini dia mengajak Alana. setidaknya dia bisa menghargai perasaan istrinya sedikit saja!" seru David.


"Kau memikirkan perasaan Alana?" tanya Ashley.


"Aku kasihan dengannya," jawab David.


"Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang gantikan Ken membantu teman perempuannya itu!" seru Ashley.


"Ah sudahlah tidak usah membahas ini! habiskan sana makananmu!" perintah David.


***


Alana masuk ke dalam salah satu toilet, ia duduk di atas closet yang masih tertutup. ia memegangi dadanya yang ia rasa begitu sesak dan perlahan mencoba mengatur setiap napas yang masuk ke dalam rongga hidungnya.


"Kenapa rasanya sakit seperti ini?" Alana memejamkan kedua matanya. bahkan, cairan bening itu ikut tersapu di sana. ia dengan cepat mengusap air matanya yang jatuh secara tiba-tiba.


"Saat Darrel memutuskanku dan dia memiliki hubungan dengan Lecya. aku tidak merasa sesakit ini, bahkan tidak sama sekali."


"Tapi kenapa rasanya sesakit ini saat melihat Ken begitu perhatian kepada Valerie? bahkan tadi dia begitu mengkhawatirkan Valerie."


"Tidak mungkin jika Ken tidak memiliki perasaan dengan Valerie. mereka pasti memiliki hubungan." air mata Alana semakin menderas di wajahnya. kata - kata Ibunya dan juga Caleey  kembali terlintas di pikirannya, hingga membuat Alana menangis sejadi-jadinya. ia kembali mengingat bahwa dirinya dan Ken menikah hanya karna sebatas bisnis.


"Kenapa kau menangis, Alana? bukankah kau tau bahwa hal semacam ini akan terjadi?"


"Kau berharap apa? berharap Ken akan mencintaimu? Kau dan Ken menikah hanya karna kesadaran bisnis. tidak lebih dari itu!" Alana berucap kepada dirinya sendiri dengan sesenggukan.


ia masih sibuk menuangkan air matanya di tempat yang sama. bahkan, kedua bola matanya hampir mengecil karna tertutup kelopak matanya yang membengkak dengan sendirinya. saat di rasa hatinya sudah sedikit lega karna menangis. Alana dengan segera mengeringkan air matanya dan cepat-cepat keluar dari dalam sana.


***


Valerie memperhatikan Ken yang sibuk mengompres pergelangan kakinya. perasaannya kembali kacau akan hal itu. namun, karna insiden kecil ini. ia merasa senang karna melihat Ken begitu mengkhawatirkannya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Ken.


"Iya, Ken." Valerie mengangguk dan menatap kedua mata Ken dengan tatapan sendu.


Seusai membantu Valerie mengompres kakinya. Ken beranjak berdiri dan mengembalikan baskom berisi air es itu kepada pegawai gedung.


"Valerie, ayo aku akan mengantarkanmu pulang!" ajak Ken.


"David, Ashley... Alana mana? aku akan mengajaknya kembali dan mengantarkan Valerie pulang sekalian,"  ucap Ken. ia membantu Valerie untuk duduk di kursi terlebih dulu.


"Dia di kamar mandi, tapi entahlah, kenapa lama sekali." saut Ashley.


"Iya, dari tadi dia di kamar mandi," timpal David.


"Baiklah, aku akan menyusulnya." Ken segera menyusul Alana  ke kamar mandi. namun, di kamar mandi tidak ada orang sama sekali. dan akhirnya, ia  kembali ke tempat sahabatnya tersebut.


"Di kamar mandi tidak ada siapa-siapa, apa dia tidak bilang selain ke kamar mandi ke mana?" tanya Ken kepada kedua sahabatnya itu.


"Tidak! dia hanya pamit ke kamar mandi saja dan belum kembali sampai sekarang."  David menjawabnya. tanpa berkata, Ken berlalu pergi  meninggalkan mereka untuk  mencari Alana. begitu juga Ashley dan David. ia mencoba membantu Ken untuk mencari Alana.


Ken mencari Alana ke semua sudut ruangan yang ada di gedung itu. bahkan, ia juga mencari di luar dan parkiran gedung. namun, ia sama sekali tak mendapati Alana di sana. terlebih lagi, banyaknya kerumunan orang membuat Ken kesulitan untuk menemukan istrinya tersebut.


"Ke mana dia?" gumam Ken dengan kebingungan.


"Ken, kau mencari siapa?" Adam tiba-tiba menepuk bahu Ken dari belakang hingga membuatnya terkejut.


"Aku sedang mencari istriku, apa kau melihatnya?" tanya Ken dengan sedikit panik.


"Tidak, Ken. bukannya tadi dia bersamamu?" tanya Adam.


"Iya, tadi dia bersamaku. tapi aku tingal membantu Valerie sebentar. kata David dan Ashley dia ke toilet. tapi di toilet tidak ada siapa-siapa."


"Coba kau  telepon dia!" perintah Adam. Ken mengangguk dan segera mengambil ponsel yang terselip di saku celananya. Ken mencoba menghubungi Alana melalui panggilan suara. namun, sialnya, ponsel milik Alana tidak aktif.


"Ponselnya tidak aktif."


"Ya Tuhan, ke mana dia ini." Ken memperhatikan ke arah sekitar sambil mengusap kasar wajahnya. terlihat begitu jelas kekhawatiran di kedua manik matanya.


"Ken, tenanglah! jangan terlalu khawatir seperti itu. istrimu bukan anak kecil, nanti juga akan kembali. tunggu saja, mungkin dia di sekitar sini." tutur Adam sambil menepuk bahu Ken.


"Tapi aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ada! jelas aku khawatir, karna ini sudah malam!" seru Ken sambil berlalu pergi meninggalkan Adam dari sana.


Ken pun kembali ke tempat semula, di sana terlihat David dan Ashley juga baru kembali dari mencari Alana.


"Bagaimana, Ken?" tanya David dan Ashley.


"Tidak ada, aku sudah mencarinya  ke mana-mana..."


"Aku dan Ashley juga sudah mencarinya, tapi juga tidak ada. apa kau sudah mencoba menghubunginya?" tanya David.


"Sudah, tapi, masalahnya ponselnya tidak aktif!" seru Ken.


"Ya Tuhan, ke mana Alana." Ken berdecak kebingungan.


"Kalau kau dari tadi menemaninya. mungkin dia sekarang masih ada bersamamu," ucap David dengan penuh sindiran. Ken hanya diam dan menatap David. seketika itu, Ken langsung merasa apa yang di maksud oleh ucapan David kepadanya.


"Bagaimana, Ken?" tanya Valerie yang saat ini berdiri dengan memincangkan satu kakinya. bahkan, ia tak sungkan melingkarkan tangannya di lengan tangan Ken sebagai pegangan.


"Dia tidak ada..." jawab Ken sambil menjauhkan tangan Valerie.


"Ken, antarkan aku pulang dulu ya, Ken. aku tidak tahan dengan rasa sakit di kakiku," ucap Valerie dengan mendesis.


"David, Ashley.  aku minta tolong antarkan Valerie pulang..." pinta Ken. David dan Ashley segera mengiyakannya.


"Ken, katanya kau yang akan mengantarku pulang?" Valerie tiba-tiba menimpali.


"Valerie, biar sahabatku saja yang mengantarkanmu. aku harus mencari istriku," ujar Ken.


"Ken, istrimu tidak mungkin ke mana-mana. tolong antarkan aku sebentar saja. aku takut, aku tidak mengenal mereka berdua!" pinta Valerie dengan memasang wajah yang memelas seraya melirik takut ke arah Ashley dan David. bahkan, ia kembali melingkarkan tangannya ke lengan Ken. Ken terdiam sejenak dan menjauhkan tangan Valerie dari lengannya.


"Kau akan baik-baik saja bersama sahabatku! mereka bukan orang kurang ajar!" tutur Ken.


"Ken, tolong..."


"Maaf, Valerie. istriku lebih penting. aku tidak bisa membiarkan dia sendiri karna ini sudah malam! aku takut dia kenapa-kenapa!" seru Ken.


"Kalau begitu. aku akan ikut denganmu untuk mencari istrimu," pinta Valerie.


"Tidak perlu! Aku bisa mencari istriku sendiri!" ujar Ken sembari  berlalu meninggalkan Valerie. Ken kembali menitipkan Valerie keoada kedua sahabatnya tersebut.


"David, lihatlah, Ken sangat mengkhawatirkan Alana. aku sudah bilang. Ken sangat mencintai Alana," bisik Ashley.


"Setidaknya aku sedikit lega," David tersenyum.


"Nona Valerie, mari kami antarkan kau pulang." David mendekati Valerie dan membantunya untuk berjalan. Valerie memejamkan kedua matanya dengan perasaan kecewa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author noted!


Maaf, Nona gak bisa update cepet dan asal-asalan nulis. karna kalau asal nulis alurnya pasti kacau dan gak masuk akal. terlebih lagi aku juga punya kesibukan. jadi, aku nulis senyamanku aja.


buat yang setia baca dan bener-bener sabar nunggu aja.


toh aku updatenya setiap hari, kalaupun gak nemu inspirasi, paling terlambat 2 hari baru update. kan di setiap episode ada tanggalnya. bisa di lihat tuh hehe.


Sebelumnya, Nona mau berterimakasih banyak buat yang sudah dukung Nona melalui Vote. karna itu menandakan kalian bener-bener dukung karya Nona.


terimakasih banyak ya, sini cium jauh dulu 😘😘😘 wkwkwk.


kalau kalian suka sama novel MIH 3 ini, tolong kalian bantu vote, ya. vote menggunakan poin gratis, hehe.


Tapi Nona gak maksa kok, kalian udah mau setia baca dan kasih like aja Nona udah seneng banget.


bagi yang DM atau koment di instagram. terus inbox di fanspage facebook maaf banget ya belum bisa Nona balas satu persatu, Kalau ada waktu senggang pasti Nona bales. 🙏