My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Apa kau pernah mencintai?



Alana duduk di belakang kursi pengemudi, ia memejamkan kedua matanya dengan menahan rasa sesak. ia sudah merasa pasti ada maksud tertentu  dari balik ajakan Ibunya yang meminta dirinya untuk menemuinya. tidak mungkin Ibunya bertemu hanya karna sebatas melepas rindu.


Kata-kata Ibunya yang berbicara tentang Ken, terngiang dengan begitu jelas di telinga Alana. Alana mengusap buliran air mata yang jatuh secara tiba-tiba. begitu juga dengan kata-kata Caleey beberapa hari yang lalu. Alana kembali membenarkan kata-kata itu.


Ponsel Alana yang sudah di ubah ke mode dering. kini berdering berkali-kali, Alana mencoba meraih ponsel miliknya yang masih terselip di dalam tas yang saat ini ia silangkan di tubuhnya .


"Mami?" saat tau itu panggilan masuk dari Brianna. Alana segera menolak panggilan itu.


"Maafkan, Alana, Mam. Alana hanya kecewa saja kepada, Mami." gumam Alana dalam hati.


***


Tak lama kemudian, taxi yang di tumpangi oleh Alana berhenti tepat di halaman rumah. Alana membayar pengemudi taxi itu dengan beberapa lembar uang yang baru saja ia ambil dari dalam dompet miliknya.


Alana turun dari taxi itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.


kebetulan, pintu rumah saat itu tidak di kunci.


jadi, Alana langsung masuk ke dalam sana tanpa perlu mengetuk atau membunyikan bell.


Dengan raut wajah yang muram dan tak bersemangat, Alana berjalan menuju ke dalam kamarnya.


dan di dalam kamar, saat itu, terlihat Ken sedang duduk di atas sofa dengan memangku laptop. pehatian Ken tersita ke arah pintu kamar yang baru saja terbuka.


Ken yang melihat Alana sudah pulang secepat itu, ia  pun terkejut. ia memindahkan laptop miliknya ke atas meja dan segera beranjak berdiri menghampiri istrinya tersebut.


"Kau sudah pulang? kenapa tidak menghubungiku?" tanya Ken. namun, Alana hanya diam saja. kedua matanya sejenak menatap Ken, seakan banyak sekali yang Alana ingin sampaikan saat itu.  tanpa meminta izin, Alana langsung memeluk erat tubuh Ken sembari memejamkan kedua matanya.


"Alana?"


"Kau kenapa? apa kau baik-baik saja?" tanya Ken. namun Alana tetap diam saja, hingga membuat Ken semakin khawatir di buatnya.


Setelah ayahnya, mungkin saat ini,  hanya pelukan Ken lah yang mampu menenangkan dirinya seperti ini. iya, begitu menenangkan. bahkan, hati dan pikirannya yang tadi sempat berkecamuk tak karuan. kini menjadi tenang. seakan gejolak batin yang sempat berperang di dalam jiwanya mereda dengan sendirinya.


"Alana, bicaralah! jangan membuatku khawatir!" seru Ken.


"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin memelukmu. tolong peluk aku!" Alana semakin mengeratkan pelukan itu. Ken membalas pelukan istrinya tersebut dan juga memeluknya, pikirannya kembali bertanya-tanya tentang Alana yang tiba-tiba kembali dengan keadaan tak seceria tadi.


"Bicaralah, kau kenapa?" tanya Ken. Alana masih diam dan berusaha mengumpulkan keceriaannya kembali.


"Tidak apa - apa, Ken." Alana melepas pelukannya dan mencoba tersenyum.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Ken sambil mengangkat dagu Alana.


"Bicara antara Ibu dan Anak. kita hanya saling melepas rindu saja." Alana menghindari tatapan Ken.


"Kalau hanya itu yang kalian bicarakan. kenapa kau tiba-tiba bersedih seperti ini?" tanya Ken.


"Siapa yang bersedih? aku tidak bersedih. aku hanya ingin memelukmu saja tadi!" bantah Alana sambil tersenyum. namun, Ken tak mempercayai itu semua. ia sudah hafal betul sikap dan raut wajah Alana jika sedang mengalami perubahan Mood.


"Kau tidak mau berbicara kepadaku?" tanya Ken. kini, ia mengangkat wajah Alana dan tak membiarkannya bergerak sama sekali.


"Bicaralah! apa Mamimu menyakitimu?" tanya Ken. Alana hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia, Mamiku. mana mungkin menyakitiku, Ken?" ujar Alana sambil tersenyum. Ken melepaskan Alana.


Ken yang merasa kesal karna tidak mendapat jawaban yang ia pertanyakan. ia pun berlalu keluar dari kamar itu dan  meninggalkan Alana. Seketika itu, Alana menjatuhkan tubuhnya dengan lemas di atas tempat tidur tanpa melepas tas dan juga sepatu yang masih melekat di bagian tubuhnya.


"Aku pikir, Mami menemuiku karna benar-benar merindukanku. aku pikir, Mami menemuiku karna mau kembali lagi tinggal bersamaku dan Daddy."


"Kenapa Mami meninggalkan Daddy?" gumam Alana dalam hati sembari memejamkan kdua matanya.


***


Malam harinya, seusai makan malam, Ken kembali ke dalam kamar. sejak dari tadi. pikiran Ken masih di penuhi pertanyaan tentang Alana. bahkan sedari tadi di meja makan. Alana hanya diam saja dan hanya berbicara seperlunya. Ken sangat bisa membaca raut wajah istrinya tersebut.


Sementara Alana, seperti biasa, ia pergi ke kamar Holmes terlebih dulu untuk memastikan Ayahnya beristirahat.


Alana terlihat duduk di samping Holmes dan membantu Ayahnya tersebut untuk minum obat.


"Alana, apa kau baik-baik saja?" bibir pucat Holmes berbicara  dengan suaranya yang terdengar tidak begitu jelas. ia memperhatikan raut wajah anaknya yang nampak tak seperti biasanya.


"Iya, Daddy. Alana baik-baik saja." Alana menyunggingkan senyuman termanisnya di depan Ayahnya tersebut.


"Daddy, apa Alana boleh bertanya?" tanya Alana.


"Tentu saja, Nak. Alana mau bicara apa?" tanya Holmes.


"Sangat, Nak. Daddy sangat mencintai Mamimu," tutur Homes. bahkan, kedua mata Holmes tiba-tiba berkaca-kaca seakan menyimpan begitu banyak kesedihan di sana.


"Lalu kenapa Mami meninggalkan Daddy?" tanya Alana yang saat ini menahan kesedihannya.


"Mamimu dari dulu tidak pernah hidup susah, Nak. Mami tidak bisa hidup susah." suara Holmes terdengar semakin memberat.


"Tapi, Alana bisa hidup susah bersama Daddy," ujar Alana.


Holmes terdiam sejenak dan menatap raut wajah anaknya itu dengan tatapan penuh makna.


"Kenapa Alana memilih hidup susah dan tinggal bersama Daddy?" tanya Holmes.


"Karna Alana sangat mencintai dan Menyayangi Daddy. makanya Alana tidak mau meninggalkan Daddy." Holmes tersenyum, ia tiba-tiba memejamkan kedua matanya dan  tertidur dengan sendirinya karna kelelahan bicara.


Air mata Alana tiba-tiba mengalir begitu saja saat menemukan jawaban atas pertanyaannya kepada Ayahnya tersebut, "Mami tidak pernah mencintai Daddy? makanya Mami meninggalkan Daddy? lalu, kenapa Mami mau menikah dengan Daddy?" gumam Alana dengan menatap ibah wajah Ayahnya.


***


Ceklek


Kedua mata Ken tetuju ke arah pintu kamar yang baru saja  terbuka. terlihat Alana masuk ke dalam sana. kini, wanita itu  berjalan mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Ken.


"Apa Daddy sudah tidur?" tanya Ken. Alana mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.


"Aku sangat lelah..." ujar Alana. Ken melingkarkan tangannya di tubuh Alana.


"Istirahatlah," perintah Ken. Alana mengubah posisi tidurnya saling berhadapan dengan Ken. ia menatap Ken dengan penuh pertanyaan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken sembari menyibakan rambut Alana.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alana.


"Tentu saja bertanyalah!"


"Apa kau pernah mencintai seorang wanita?" tanya Alana dengan menatap sendu kedua mata Ken.


"Pernah..." jawab Ken.


"Siapa?" pertanyaan Alana begitu di penuhi rasa penasaran.


"Mama dan Jesslyn," jawab Ken.


"Selain itu, siapa lagi?" tanya Alana. Ken terdiam dengan menatap kedua mata Alana begitu dalam. Ken sudah tau pertanyaan Alana mengarah kemana.


"Tidurlah, ini sudah malam!" perintah Ken. Alana diam dan hanya menatap Ken. ia benar-benar kecewa karna tak mendapatkan jawaban akan pertanyaan yang saat ini memenuhi pikirannya.


"Jangan mendengarkan apa kata orang lain! percaya apa kata hatimu saja!" tutur Ken.


"Tidurlah!" perintah Ken sembari mencium kening Alana dan memeluknya. Alana menganggukan kepalanya, ia menjaukan tangan Ken dan tidur dengan membelakanginya. Alana mulai memejamkan kedua matanya.


"Alana?" panggil Ken.


"Aku mengantuk, tidurlah!" saut Alana. Ken mengusap kasar wajahnya dengan bingung karna Alana yang tiba-tiba membelakangi dirinya.


"Aku tidak tau perasaanmu kepadaku, Ken. kau selalu memperlakukanku istimewa tanpa pernah ku tau, apa maksud dari itu semua! aku tidak tau perasaanmu kepadaku. apa kau baik kepadaku hanya kasian? jika hanya kasian, kau tidak perlu memperlakukanku hingga seperti ini." ingin sekali Alana berkata seperti itu kepada Ken. tapi, Alana tidak bisa mengatakan semuanya.


.


.


.


.


.


.


.


Pesta pertunangan Adam next episode.


maaf aku sibuk revisi novel MIH 2  sama sibuk di kerjaan jadi maaf aku update sebisaku ya kakak-kakak sayang.