
"David, aku tidak mau semua orang mengira aku merusak hubungan orang lain, kumohon pergilah... pergilah dari sini." Valerie mengatupkan kedua tangannya, air mata yang mengalir dari dagu runcingnya kini terjatuh membasahi kedua tangannya yang mengatup itu.
"Valerie, apa yang kau lakukan?" Melepaskan katupan tangan wanita itu. "Tidak ada yang merusak hubungan siapapun! Aku dan Laurrent tidak jadi bertunangan."
Penuturan David membuat telinga Valerie tersentak dan begitu terkesiap, ia tak mempercayainya, namun David sesegera mungkin mencoba menjelaskan apa yang terjadi dan kenapa dirinya bisa hampir bertunangan dengan Laurrent.
^
Susana menjadi sunyi, David dan Valerie terlihat duduk di atas sofa ruang tamu. Setelah penjelasan yang diberikan oleh David, mereka saling berdiam-diaman. Tidak ada obrolan setelah itu.
David tiba-tiba beranjak berdiri dan menarik tangan Valerie.
"Ayo ikutlah denganku..." ajak David.
"Kau mau mengajakku ke mana?" Valerie masih berdiam akan posisinya dan akhirnya memilih beranjak berdiri saat David memaksanya tanpa memberitau ke mana laki-laki itu akan mengajaknya pergi.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. David melajukan mobilnya meninggalkan rumah Valerie dan
mengajaknya pergi untuk menemui Ibunya di rumah.
Setibanya di rumah David, Valerie menatap ke luar jendela mobil dengan begitu heran.
"Kenapa kau mengajakku ke mari?" tanya Valerie.
"Ikutlah saja..." David turun dari mobil, membukakan pintu untuk Valerie. Ia merekatkan jemari tangannya untuk menggandeng tangan wanita itu dan segera mengajaknya masuk ke dalam sana.
David menyuruh Valerie untuk duduk, sejenak menungu saat laki-laki yang membuatnya jatuh hati itu masuk ke dalam rumahnya. Udara yang keluar dari AC seakan tak mampu mendinginkan suhu tubuh wanita itu. Valerie terlihat meremmas kedua tangannya yang berkeringat, pikirannya masih bertanya-tanya akan David yang mengajaknya pergi ke rumahnya secara mendadak seperti ini.
Langkah sepatu berbenturan dengan lantai marmer yang terdengar mendekat ke arah Valerie, membuat wanita itu menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat David keluar bersama Ibunya yang sedang berjalan beriringan menghampirinya.
Valerie menggigit bibir bawahnya, menundukan kembali pandangannya dengan takut. Tubuhnya gemetar tak karuan, dan masih bertanya-tanya akan David yang mengajak Ibunya keluar untuk menemuinya tersebut.
Valerie beranjak berdiri dan memberi salam kepada Ibu David, wanita parubaya itu masih menatap Valerie dengan tatapan tak ramah.
Mereka bertiga duduk di sofa yang memiliki lajur berbeda. Ibu David bertanya panjang lebar kepada Valerie seakan sedang mengintrogasinya. Membuat wanita itu menjawab dengan gugup dan tak nyaman.
"Apa maksud David mengajakku ke mari?" gumam Valerie, ia menatap David namun anehnya laki-laki itu malah tersenyum ringan kepadanya.
"Apa Margamu?" tanya Ibu David, memperhatikan Valerie dari atas hingga bawah.
"Lincoln, dulu saya mengikuti marga Ayah saya, Valerie Lincoln. tapi setelah Ayah dan Ibu saya meninggal dan saya tinggal bersama Nenek. Nenek mengganti dengan marganya, Vaghela. Valerie Vaghela," jawab Valerie.
"Vaghela?" tanya Ibu David sambil mengernyitkan dahinya. Valerie menganggukan kepalanya.
"Berarti, kau cucunya Nyonya Welly Vaghela?" tanyannya kembali.
"Kenapa ibu David bisa tau?" gumam Valerie heran.
Valerie mengannggukan kepalanya. "Ehm, iya, Bi. Nenek saya Welly Vaghela."
"Astaga..." Ibu David tiba-tiba tersenyum sambil menggeleng kepalanya.
"Ibu mengenal Neneknya Valerie?" tanya David.
"Iya, Apa Bibi mengenal Nenek saya?" Valerie melontarkan pertanyaan yang sama.
"Tentu saja, siapa yang tidak mengenalnya, Nenekmu adalah pemilik akomodasi terbesar di negara Irlandia, dulu Bibi sempat bekerja sama dengan Nenekmu selama lima tahun lamanya," ujar Ibu David yang masi tersenyum.
"Benarkah, Bi?" senyuman mengembang di raut wajah Valerie dan juga David. Seolah harapan itu terbuka di antara mereka berdua.
"Iya, Nak. Aku sangat mengenal baik Nenekmu. Nenekmu sering berkata bahwa dia memliki cucu kandung perempuan, dan Bibi tidak tau jika ternyata cucu Nyonya Welly adalah dirimu."
"Bagaimana kabar Nenekmu sekarang? semalam aku mengundangnya, tapi Nenekmu tidak datang katanya dia sakit apa itu benar, Nak?" tanyanya.
"Saya sudah delapan bulan tidak tinggal bersama Nenek karna ada masalah pribadi di antara kami, Bi. Dan saya terakhir ketemu Nenek satu bulan yang lalu, jadi saya kurang tau keadaan Nenek sekarang" ujar Valerie.
"Bibi bisa mengertikannya, kau ini sama persis seperti David, jika David ada masalah dengan Bibi, dia selalu memilih tinggal di apartementnya dan membiarkan Bibi kesepian di rumah sendirian," ledek Ibu David.
"Tapi David sangat menyayangi, Ibu..." timpal David sambil memeluk dan mencium pipi ibunya itu.
Wanita yang telah melahirkannya itu tersenyum. "Ya sudah, kalian lanjutkan mengobrolnya, Ibu permisi pamit ke dalam, pekerjaan Ibu masih banyak belum terselesaikan."
Valerie mengiyakannya, Ibu David pun berlalu pergi dari sana.
"Valerie, tunggulah di sini, aku ingin berbicara sebentar kepada Ibu." David mengusap bahu Valerie dan segera mengikuti Ibunya ke dalam saat mendapatkan izin dari Valerie.
David mengetuk pintu ruang kerja ibunya, setelah mendapat izin, ia pun masuk. Ibunya terlihat baru saja mendudukan tubuhnya di atas kursi yang menampakan laptop di atas meja kerjanya saat itu.
"Ada apa lagi, Nak?" tanyanya sambil menoleh.
"Bagaimana, Bu?" tanya David yang saat ini berdiri di samping Ibunya. Wanita yang telah melahirkan David itu menghela napas, ia beranjak berdiri sejajar dengan putranya.
"Apa Ibu menyukai Valerie? apa Ibu setuju jika Valerie menjadi pendamping David?" tanyanya dengan tidak sabar.
Wanita itu memegang kedua bahu putranya, memberi usapan lalu menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Ibu benar mengizinkannya?" tanya David.
"Iya, tapi ingatlah, kau harus memiliki tanggung jawab! Jangan seperti ayahmu, sekarang cepat keluar dan temani dia, ibu sedang memiliki banyak pekerjaan." Penuturan yang terucap dari mulut Ibunya, membuat David melebarkan senyumnya.
"Terimakasih banyak, Bu. David sangat mencintamu." David memeluk dan memberi banyak ciuaman di wajah dan puncak kepala Ibunya, untuk pertama kalinya, wanita paru baya itu melihat putranya sebahagia itu. Dengan langkah penuh semangat, David meninggalkan ruang kerja ibunya dan menghampiri Valerie yang masih menunggunya di ruang tamu.
Ia tersenyum dari kejauhan. Mendudukan tubuhnya dan merengkuh tubuh Valerie. Membuat Valerie begitu heran dan semakin bertanya-tanya. "David lepaskan!" David seketika melepaskan pelukannya.
"David tolong katakan, sebenarnya kau kenapa mengajakku kemari?" tanya Valerie.
"Kau masih belum mengerti kenapa aku mengajakmu kemari?" tanya David. Valerie menggelengkan kepalanya.
"Aku semalam berbicara dengan Ibuku agar Ibu tidak menjodohkanku lagi." David menarik tangan Valerie dan menggenggamnya erat. Menatap dengan begitu lekat kedua bola mata wanita yang ada di hadapannya itu.
"Lalu ibu bilang, ajaklah wanita pilihanmu menemui Ibu. Jika wanita itu baik, ibu tidak akan menjodohkanmu lagi." David menirukan ucapan ibunya semalam. Tatapan itu semakin lama semakin dalam.
"Dan hari ini aku membawa wanita itu kemari dan memperkenalkannya kepada ibuku..." ucapnya sembil mencium tangan Valerie yang saat ini masih ia genggam.
"Lalu baru saja aku menemui Ibu dan bertanya kepadanya, ibu menyetujui hubunganku dengan wanita pilihanku..."
Kedua mata Valerie terlihat berkaca-kaca seakan tak mempercayai apa yang telah laki-laki itu ucapkan, namun kenyataannya memanglah seperti itu.
"Aku akan menikahimu," ucapnya.
"David, kau tidak sedang bercanda?" tanya Valerie.
David menggelengkan kepalanya. "Menyangkut masalah hati aku tidak akan pernah bercanda," tuturnya dengan penuh keyakinan.
"Tapi, Nenekku..." Valerie seakan tak yakin saat mengingat neneknya.
"Kau tidak perlu khawatir, kau tadi mendengar sendiri bukan, Ibu mengenal Nenekmu. Jadi kau jangan mengkhawatirkan itu," tuturnya. Valerie tersenyum dan seketika memeluk David.
"Aku mencintaimu, David."
"Aku juga mencintaimu, Valerie."
(Yak elah bucinnn wkwk)
***
Di rumah Ken dan Alana,
Jam makan siang Ken menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah, sesuai janjinya kemarin, ia hendak mengantarkan istrinya itu ke rumah Afford untuk menemui ibunya. Namun, saat dirinya pergi ke rumah Afford, rumah itu nampak sepi dan terlihat seakan tak berpenghuni. Mobil yang dikendarai oleh Ken berhenti tepat di depan gerbang rumah, membuat dua orang penjaga yang kala itu melihatnya segera menghampirinya.
"Selamat siang, oh ternyata Nona Alana..." kata dua penjaga itu sambil memberikan salam. Namun Alana dan Ken masih tetap berada di dalam mobil. Membuka jendela mobil agar mempermudah untuk berkomunikasi dengan penjaga itu.
"Iya Paman, saya mampir ke mari, ehm kenapa rumah Paman Afford sepi, ke mana orang-orang?" tanya Alana memperhatikan rumah mewah milik Pamannya yang terlihat tak terawat seperti biasanya.
"Tuan dan Nyonya sedang pergi ke luar kota, Nona Caleey sedang bekerja, Nona..."
"Kalau Mami saya?"
"Ehm..." Kedua penjaga itu saling tatap, membuat Alana mengernyit curiga.
"Mami saya ke mana? apa Mami ada, Paman?" tanya Alana.
"Ehm, Nyonya Brianna sedang pergi ke luar negeri, Nona."
"Luar negeri? memang ada urusan apa Mami ke luar negeri? dan kapan Mami pulang?" tanya Alana.
"Untuk masalah itu kami kurang tau Nona," jawabnya bersamaan, namun menunduk seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oh, baiklah... terimakasih banyak, Paman. Jangan memberitau siapapun kalau Alana kemari ya," tutur Alana, kedua penjaga itu mengiyakannya.
"Mau pulang? atau mau makan?" tanya Ken.
"Aku mau ke makam Daddy saja, Ken," pinta Alana.
"Baikah..." Ken memutar lajur jalan menuju ke tempat peristirahatan terkahir ayah mertuanya yang lokasinya tak jauh dari sana.
Setibanya di pemakaman, Ken dan Alana turun dan segera masuk ke dalam pemakaman itu. Langkah kaki mereka tertuju ke gundukan tanah, tempat ayahnya dikebumikan, dari kejauhan nampak terlihat begitu banyak bunga bertaburan di atasnya, membuat Alana mengernyit heran dan bertanya-tanya.
Ken mengira jika yang berziarah adalah adik iparnya, namun ternyata bukan, karna setelah pulang dari pemakaman, Alana menanyakan secara langsung kepada adik laki-lakinya itu, dan Daven menjawab dirinya sudah hampir satu bulan tidak berziarah ke makam ayahnya tersebut. Alana semakin dibuat penasaran oleh si peziarah tersebut. Sebab, Holmes sudah tidak memiliki keluarga lagi, Alana sempat berpikiran bahwa Brianna yang berziarah di makam Ayahnya, tapi apa mungkin? bukankah Ibu kandungnya itu tidak mencintai Ayahnya? jadi sangatlah tidak mungkin jika ibunya yang berziarah di makam ayahnya tersebut. Alana seketika membuang rasa penasaran itu.
***
Empat bulan berlalu,
Selama empat bulan ini, Alana dan Ken tinggal di rumah Mama Merry dan juga Papa Gio, karna Mama Merry ingin sekali menjaga dan merawat menantunya tersebut. Kehamilan Alana yang semakin membesar dan mungkin hanya menunggu hitungan hari karna sebenarnya sudah melebihi batas HPL, membuat Ken begitu was-was jika harus meninggakannya pergi bekerja atau sekedar urusan bisnis ke luar kota. Ia lebih mementingkan untuk menemani istrinya dibanding harus pergi ke luar kota untuk mengambil pekerjaan, ia tak peduli sekalipun pekerjaan itu penting.
bahkan setiap kali Ken bekerja, dirinya selalu menyempatkan waktunya untuk pulang ke rumah saat jam makan siang, hanya sebatas untuk menemani Alana saja dan memastikan kebutuhan istrinya itu terpenuhi.
Selama empat bulan ini, Alana juga berkali-kali mendatangi kediaman keluarga Afford secara diam-diam untuk bertemu dengan ibunya, namun situasi dan jawaban yang sama selalu ia dapatkan dari para penjaga rumah itu. Hingga akhirnya Alana menyerah dan memutuskan tidak mencari ibunya kembali.
Sementara David, baru satu bulan yang lalu dirinya dan Valerie melaksanakan pertunangannya dan mereka akan segera melaksananakan pernikahan mereka 7 bulan lagi, sesuai kesepakatan antar keluarga.
di sini Alana-lah yang paling bahagia. Sebab, daridulu ia sangat berharap akan penyatuan hubungan di antara mereka berdua. Dan kini Tuhan menjawab harapannya, membuat wanita itu berbahagia, terlebih lagi kedekatannya dengan Valerie semakin menambah hangatnya suasana persahabatan antara Ken dan juga David.
***
Siang itu Alana terlihat tengah bercengkrama dan bersenda gurau bersama Mama mertuanya. Sementara, Ken, Papa Gio, Jasson dan Jesslyn sedang melakukan rutinitas seperti biasanya.
Saat sedang asik bercengkrama sambil menikmati teh akan teriknya siang hari, tiba-tiba Alana merasakan sedikit kram di perutnya. Ia berpamitan kepada mama mertuanya itu untuk pergi ke toilet, dan Merry pun mengizinkannya.
namun saat di dalam toilet, Alana dibuat terkejut saat melihat flek di celana dalamnya. Dengan langkah yang sedikit khawatir, Alana segera keluar dari kamar mandi dan menemui kembali Mama Merry untuk memberitaukan apa yang saat ini ia rasakan. Mama Merry seketika takut dan khawatir seperti menantunya, ia segera mengajak menantunya itu pergi ke rumah sakit dan di antar oleh Paman Lux yang kala itu kebetulan ada di sana.
Selama dalam perjalanan, Merry mencoba menghubungi suami dan juga anak-anaknya, untuk memberitaukan bahwa dirinya dan Alana sedang menuju ke rumah sakit. Alana nampak tenang, namun tak jarang perutnya masih diserang rasa sakit hanya sekedar kram dan juga melilit, namun terkadang rasa itu sirna dengan sendirinya.
Perjalanan itu memakan waktu lima belas menit, hingga setibanya di rumah sakit.
Merry dan Paman Lux membantu Alana untuk turun dari mobil. Merry menggandeng tangan menantunya itu dan membantunya berjalan menuju ke ruang dokter spesialis kandungan, dan saat melakukan pemeriksaan. Dokter menyarankan Alana untuk dirawat inap hari itu juga, mengingat ternyata HPL sudah melebihi satu minggu dari waktu yang seharusnya, bayi yang ada di dalam perutnya seharusnya sudah siap untuk dilahirkan.
Setelah melakukan pemeriksaan, Merry dan Alana keluar dari ruang dokter kandungan, bermaksud untuk menunggu Ken dan juga Papa Gio di ruang tunggu. Namun, Merry tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang berjalan menggunakan tongkat, hingga membuat berkas yang dibawa oleh wanita itu jatuh berserakan di lantai.
"Maaf, Nyonya.... maafkan aku." Merry membantu wanita itu memunguti beberapa map dan kertas yang terjatuh berserakan di lantai tersebut.
"Tidak apa-apa...."
saat berkasnya sudah terpunguti. Merry membantu wanita itu untuk berdiri dan mengambil tongkatnya yang tergeletak di sana. Namun, Alana dibuat tekejut saat melihat wanita yang tidak sengaja ditabrak oleh Mama Mertuanya itu tak lain ialah Brianna, ibu kandungnya.
"Mami..." Alana menyapanya seakan tak percaya, lantaran penampilan Ibunya kini terlihat memprihatinkan. Tubuhnya terlihat kurus kering, wajahnya yang memucat itu terlihat jelas bersembunyi di balik polesan make upnya yang tebal. Bahkan dirinya berjalan dibantu dengan menggunakan tongkat.
"Mami, ini Mami..." Alana memegang kedua bahu Brianna seakan tak percaya.
"Alana, putriku." Sapaan dan adu pandang antara Ibu dan anak itu berakhir dalam pelukan.
"Mami ke mana saja, Alana sangat merindukan Mami..." ucap Alana, memeluk erat ibunya tersebut sambil menciuminya. Kedua matanya terpejam, air matanya berurai menunjukan bahwa Alana benar-benar sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu. Sejenak melepaskan pelukannya, Alana memperhatikan perubahan drastis ibu kandungnya tersebut.
"Mami kenapa jadi kurus seperti ini? Mami sakit?" tanya Alana. Brianna tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Tak lama kemudian, dari belakang arah Brianna, Alana dibuat terkejut tatkala di tempat yang sama ia melihat adik laki-lakinya sedang berjalan menghampirinya dengan membawa kantung plastik yang berisi begitu banyak obat-obatan di dalamnya.
"Kakak..." Daven begitu terkesiap saat melihat Ibu dan Kakaknya itu. Kedua mata Alana tak lepas memperhatikan adiknya sedang memberikan obat yang ia pegang itu kepada Ibunya.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Daven.
"Seharusnya Kakak yang bertanya kepadamu, kenapa kau bisa ada di sini, Daven? dan obat apa yang kau berikan kepada Mami?" tanya Alana. Daven hanya diam.
"Daven---"
"Nyonya Brianna, Daven... lebih baik kita mencari tempat untuk duduk, kasian Alana jika terlalu lama berdiri," ajak Merry. Brianna mengiyakannya. Merry membantu menantnya itu untuk berjalan dan Daven membantu ibunya tersebut. hingga kini mereka bertiga duduk di kursi tunggu yang ada di jangkauannya saat itu. Sementara Daven berdiri di antara mereka sambil menundukan pandangannya.
Alana masih tak melepaskan tatapannnya akan ibunya itu. Membelai wajah sang ibu dengan air mata yang berurai, entah kenapa dirinya sangat merindukan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa Nyonya Brianna sakit?" tanya Merry sambil melirik ke arah map coklat besar yang dibawa oleh besannya itu. Brianna sejenak diam, menganggukan kepalanya hingga air mata yang semula sempat ia tahan itu jatuh membasahi wajahnya.
"Mami sakit apa?" tanya Alana yang sedikit memaksa.
"Daven, Mami sakit apa?"
"Katakan, Mami sakit apa? Kenapa tubuh Mami menjadi kurus seperti ini?" Alana begitu tak sabar ingin segera mendengar jawaban adik dan juga ibunya.
"Hanya sakit biasa, Nak. Sakitnya orang tua," Brianna mencoba mengalihkan pandangannya hingga Alana dan Merry bisa menebak bahwa wanita itu sedang berbohong.
"Mami jangan berbohong, kalau Mami tidak sakit parah, Mami tidak akan terlihat seperti ini, katakan Mami sakit apa?"
"Daven, beritau Kakak!" Alana masih saja memaksa, namun Brianna tak mau mengakuinya, begitu juga Daven yang hanya bungkam. Hingga membuat Merry yang kala itu duduk lebih dekat dengan besannya itu, ia segera menyaut map berwarna coklat yang kala itu dipegang oleh Brianna, yang ia yakini bahwa di dalam map itu pasti ada riwayat penyakit yang diderita oleh besannya itu.
"Jangan berbohong, Nyonya. Kalau kau tidak memberitau kau sakit apa, aku sendiri yang akan mencari taunya." Merry hendak membuka isi dari map coklat tersebut. Namun Brianna melarangnya.
"Nyonya Merry, tolong kembalikan... Aku akan jujur dan memberitau sebenarnya, tolong kembalikan map itu..." permintaan Brianna seketika membuat Merry terdorong untuk mengembalikan map yang ia pegang kepada si pemiliknya.
"Cepat katakan, Mam. Mami sakit apa?" Alana masih tak berhenti mendesak Maminya yang masih diam.
"Mami--"
"Mami mengidap kanker rahim, Nak."
Pernyataan yang terlontar dari mulut Brianna seketika membuat Merry dan Alana begitu terkesiap saat mendengarnya. Kedua mata Alana semakin membulat, membiarkan air matanya lebih leluasa terjatuh dengan deras.
"Mami sudah sakit selama hampir empat tahun ini," imbuhnya sambil menahan isakan tangis.
"Ya Tuhan..." ucapan itu lolos dari bibir Merry yang sedikit menganga.
"Mami sakit, lalu kenapa Mami tidak pernah bercerita kepada Alana?" tangisan Alana memecah. Seakan tak percaya, bahwa penyakit yang ganas dan mematikan itu bersarang di tubuh wanita yang telah memberinya kehidupan. Brianna hanya diam dan menunduk, membiarkan air matanya mengalir bebas dari tempatnya.
"Kenapa Mami tidak memberitau Alana?"
"Mami tidak mau membebankan siapapun, Mami tidak mau membebankan anak-anak Mami termasuk Daddymu. itu sebabnya Mami lebih memilih pergi meninggalkan Daddymu dan ikut bersama Paman, Nak. Biar Paman bisa membantu pengobatan Mami."
"Demi untuk bertahan hidup dan pengobatan yang tak murah di saat Daddymu jatuh bangkrut, Mami terpaksa memilih tinggal bersama Pamanmu, Pamanmu mau membiayai semua pengobatan Mami, asal Mami mau benar-benar meninggalkan Daddymu dan menuruti semua kemauannya, termasuk membenci dan benar-benar melupakannya. Karna dari dulu, Paman sangat tidak menyukai Daddymu... Mami tidak memiliki pilihan lain, memang daridulu Mami tidak pernah mencintai Daddy, tapi Daddymu orang yang sangat baik, dia sangat baik..." ucapnya sambil sesenggukan.
"Mami orang jahat, Daddymu meninggal karna Mami, dia meninggal karna Mami, Nak..." tangisan Brianna semakin memecah dengan penuh penyesalan, mengingat perkataan yang diucapkan olehnya kepada Holmes saat di rumah sakit sebelum napasnya berhembus untuk terakhir kalinya.
"Tidak, Mami... Daddy meninggal karna sudah takdir, Mami jangan bicara seperti itu..." Alana memegang kedua pipi Brianna menyeka setiap air matanya yang jatuh.
"Apa Daddy juga tidak tau kalau Mami sedang sakit?" tanya Alana. Brianna menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada yang tau kecuali keluarga Paman dan juga Daven."
Alana mengalihkan pandangannya kepada adik laki-lakinya tersebut. "Daven, kenapa kau tidak memberitau Kakak?" seru Alana yang masih terisak-isak.
"Maaf, Kak. Daven baru mengetahui ini sejak beberapa bulan belakangan ini, Kak. Mami menyuruh Daven untuk menyembunyikan ini semua dari Kakak," ucap Daven pelan. Laki-laki itu juga menahan suaranya yang terdengar berat.
"Maafkan, Mami, Nak. Mami tidak mau menyusahkanmu, Mami sempat membenci Daddymu karna Mami mengira Daddymu memang sengaja menjadikanmu sebagai alat untuk kepentingan bisnis saja, karna yang Mami tau selama ini dari Pamanmu memang seperti itu. Tetapi Mami baru tau yang sebenarnya dari Daven. Mami banyak salah kepada suamimu, karna sudah menuduhnya yang tidak-tidak."
"Selama lima bulan ini, Daven yang membantu membiayai pengobatan Mami, sebelumnya Mami selalu berobat ke luar negeri, tetapi karna perusahaan Pamanmu sedang collapse, Mami melakukan pengobatan dan kemotherapy di rumah sakit ini." Brianna menunduk sambil mengusap air matanya secara bergantian.
"Mami selalu melihatmu, bahkan jika kau mendatangi rumah Paman, Mami selalu melihatmu dari kejauhan."
"Lalu kenapa Mami tidak mau menemui Alana?"
"Mami tidak mau mengganggu kehidupanmu, Nak. Mami tidak mau membebankanmu..." ucapnya seakan tak kuat untuk berbicara lagi.
"Mami, tidak ada anak yang merasa terbebani oleh orang tuanya..." Alana mengangkat wajah ibunya yang basah, berusaha mengeringkan dengan kedua ibu jarinya itu. Perhatian Alana teralihkan akan rambut Brianna, mencoba menyentuh rambut itu hingga rambut imitasi itu sedikit terlepas dari rambut asli wanita paru baya itu. Pemandangan yang menyesakan dada, Alana kini hanya melihat sejumput rambut yang tumbuh di kepala ibu kandungnya itu akibatnya efek samping kemotherapy. Tangisan Alana memecah kembali.
"Mami..." Alana memeluk Brianna dengan begitu erat menumpahkan semua air matanya di sana. Demi Tuhan, hatinya begitu sakit melihat ini semua. Bagaiamana bisa dirinya tidak tau bahwa Ibunya sedang berjuang melawan penyakit.
"Mami baik-baik saja, Nak." Brianna mencoba menenangkan putrinya itu dengan mengusap-usap punggungnya. Alana tiba-tiba melepaskan pelukannya, ia memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kencang, kedua matanya mendelik menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya bahkan hingga menusuk ke tulang punggungnya.