My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Sorotan mata itu



Alana masih berguling - guling di atas tempat tidur. Ia masih begitu malu akan apa yang sudah ia katakan kepada, Ken, tadi. Ia hanya bermaksud membantu Jesslyn dan Kimy. Tapi, sialnya, malah justru mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Ken.


"Alana, kau kenapa?" tanya Kimy dan Jesslyn. Alana beranjak duduk.


"Kalian masih bertanya kenapa?" Alana melototkan kedua matanya dengan gemas melihat Kimy dan adik iparnya itu.


"Iya kau kenapa, Alana? kalau kau tidak bercerita kita  mana tau," ujar Jesslyn. Alana terdiam sejenak. ia mengingat kembali bagaimana tadi dia mengiyakan setiap kata yang ia ucapkan kepada Ken. pantas saja, Ken tadi tiba - tiba bersikap seakan ingin hendak menerkam dirinya seperti itu.


"Ah, aku tidak tau... aku tidak mau bertemu Ken lagi... Ini semua gara - gara kalian!" teriak Alana.


"Kenapa kau tidak mau bertemu Kakak Ken, lagi, Alana?" tanya Kimy.


"Tenanglah dulu, Alana." Jesslyn memegangi bahu Alana dan mencoba menenangkan kakak iparnya tersebut.


"Ayo coba katakan, memangnya tadi kau berbicara apa kepada Kakak?" tanya Jesslyn. Alana sejenak memejamkan kedua matanya, lalu, membukanya kembali dengan rasa malas.


"Aku tadi ke kamar mencoba berbicara kepada Ken supaya mau memaafkan kalian.


jadi, aku terpaksa bilang kepada Ken, kalau, aku yang menyuruh kalian untuk membuat jus itu untuknya dan mencampurkan sesuatu ke dalamnya," ucap alana dengan suara rendahnya.


"Dan aku tidak tau kalau ternyata minuman itu kalian campur dengan obat itu." suara Alana mengeras secara tiba - tiba.


Jesslyn dan Kimy begitu terkejut. mereka berdua saling memandang. lalu, tiba - tiba tawa mereka berdua memecah seketika, saat mendengar apa yang baru saja Alana katakan.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Alana dengan begitu polosnya.


namun, Jesslyn dan Kimy malah semakin mengeraskan tawanya.


"Jesslyn... aku kira, hanya aku saja yang bodoh. ternyata Alana lebih bodoh." Kimy Berbicara di sela tawanya. Bahkan dirinya dan Jesslyn tertawa terpingkal - pingkal di lantai kamar itu. kedua mata Alana begitu polos menatap Kimy dan Jesslyn secara bergantian.


"Ini tidak lucu, kalian benar - benar keterlaluan," seru Alana. ia merasa kesal saat melihat Jesslyn dan Kimy menertawakannya seperti itu.


"Maaf, maafkan kami, Alana." Jesslyn dan Kimy sejenak menahan tawanya. dan kembali mendekati Alana.


"Ya Tuhan, Alana. Hahaha. Aku kan hanya memintamu agar membantuku dan Kimy supaya Kakak memaafkan kami berdua. lalu, kenapa jadinya kau malah mengakui kesalahan kami? jelas - jelas kau tau sendiri, tadi kami sudah mengakui kesalahan kami kepada Kakak." Jesslyn dan Kimy tertawa kembali hingga kedua matanya terlihat berair.


"Aku hanya tidak mau Ken marah kepada kalian. makanya aku terpaksa membela kalian. kalian benar - benar keterlaluan. kenapa tadi tidak memberitauku terlebih dulu," ucap Alana seraya membuang tatapan kesalnya.


"Kau tadi tidak bertanya dan langsung pergi begitu saja. jadi mana kami tau, Alana. maafkan kami," ucap Kimy.


"Aku tidak mau memaafkan kalian. kalian benar - benar sudah keterlaluan." Alana melipat kedua tangannya di atas perut. menunjukan bahwa wanita itu benar - benar marah.


"Alana, jangan marah! tolong maafkan kami." Kimy dan Jesslyn memeluk Alana. namun Alana hanya diam saja tak menghiraukan rayuan mereka.


"Alana, tolong bicaralah jangan marah." Jesslyn memelaskan wajahnya dan menggelayuti tangan Alana. Begitu juga dengan Kimy. Alana melihat wajah Jesslyn yang begitu menyebalkan, hingga membuat siapa saja melihatnya tak tega.


"Jangan memelas seperti itu. wajahmu sungguh menyebalkan!" Alana langsung memeluk Jesslyn dan bergantian memeluk Kimy.


"Kau memaafkan kami Alana?" tanya Jesslyn dan Kimy dengan penuh harap. Alana menganggukan kepalanya.


"Terimakasih banyak, Alana."


"Tunggu dulu! aku tidak akan memaafkan kalian begitu saja. Kalian harus menjelaskan. Kenapa kalian melakukan itu kepada Ken?" tanya Alana. kedua matanya bergantian menyorot ke arah Jesslyn dan juga Kimy.


"Itu karna ide bodoh Kimy!" Jesslyn melotot ke arah Kimy dengan berkacak pinggang.


"Sudah tau ide bodoh. kenapa kau masih saja mau melakukannya?" Kimy melototkan balik kedua matanya kepada Jesslyn.


"Berani sekali kau melotot seperti itu kepadaku?" seru Jesslyn.


"Siapa yang melotot? mataku kalau sakit memang begini sering tiba - tiba melotot sendiri," ucap Kimy dengan takut.


"Lihatlah." Kimy melotot dan melebarkan kedua matanya dengan sengaja supaya Jesslyn percaya.


"Sudah, sudah!" Alana menghentikan percakapan Kimy dan Jesslyn yang membuat kepalanya seakan hendak meledak di buatnya.


"Kenapa kalian melakukan itu?" Alana bertanya kembali.


"Maaf, Alana. kami hanya ingin membuat Kakak supaya bisa lebih dekat lagi dengan dirimu." Jesslyn menundukan pandangannya.


"Iya, Alana. kami hanya menginkan itu saja. tidak lebih," timpal Kimy.


"Astaga, tapi bukan seperti itu caranya." Alana menghela napasnya dengan kasar.


"Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. kepada Kakakmu atau kepada siapapun itu. jangan menyalah gunakan obat itu dengan sembarangan jika kalian tidak tau sisi negative dari obat itu!" tutur Alana.


"Iya, Alana. Maafkan kami, kami tidak akan pernah melakukannya lagi."


terlebih lagi, Alana tadi mempertegas bahwa dirinya-lah yang telah menyuruh Kimy dan juga Jesslyn untuk melakukan hal yang menurutnya gila itu.


Ah sial, jangankan mau menjelaskan kembali. bertatap muka saja, rasanya Alana tidak akan sanggup menahan rasa malu di depan suaminya itu.


"Kalian harus membantuku menjelaskan kembali kepada, Ken. Kalau aku tidak terlibat dengan rencana kalian!" seru Alana.


"Bagaimana mau menjelaskan? Kau kan tau sendiri kalau Kakak masih marah dengan kita," ucap Jesslyn.


"Iya, Alana. kami takut Kakak Ken akan semakin marah kepada kita," timpal Kimy.


"Lalu bagaimana? aku sangat malu sekali. kalian membuat masalah saja!" Alana menggaruk - garuk rambutnya dengan frustasi.


"Maafkan kami, Alana."


"Ah sudahlah, lupakan dulu masalah ini. ayo kita makan malam," ajak Alana. Kimy dan Jesslyn bersemengat Mengiyakannya.


***


Jesslyn dan Alana duduk di kursi meja makan. sementara Kimy terlihat berjalan menghampiri mereka berdua. karna baru saja, Alana menyuruh Kimy untuk memanggilkan Jasson dan juga Harry agar mengajaknya makan malam bersama.


"Jesslyn, panggilkan Kakakmu untuk makan malam," perintah Alana.


"Tidak mau, kau kan istrinya. jadi harusnya kau yang memanggil Kakak. lagi pula Kakak masih marah kepadaku. ini semua gara - gara Kimy." Jesslyn langsung melototkan kedua matanya kepada Kimy.


"Salahkan saja aku terus," gerutu Kimy.


Alana bergantian menatap Kimy yang baru saja mendudukan tubuhnya di atas kursi. Kimy sudah bisa menebak apa maksud dari tatapan mata Alana itu.


"Kau pasti mau menyuruhku lagi kan, Alana? aku tidak mau, aku takut dengan Kakak Ken." Kimy menggeleng - gelangkan kepalanya.


"Kenapa tidak kau saja yang memanggilnya, Alana?" tanya Kimy. .


"Mana mungkin aku memanggilnya? Aku malu! Ini semua gara - gara aku membantu kalian!" seru Alana. tak lama kemudian, Jasson dan juga Harry datang ke dapur untuk bergabung makan malam bersama mereka.


"Jasson, kebetulan. ehm, apa aku boleh meminta tolong kepadamu untuk memanggilkan Kakakmu kemari untuk makan malam?" pinta Alana.


"Kenapa harus aku? kau kan bisa memanggilnya sendiri." Jasson menarik kursi meja makan dan mendudukan tubuhnya di sana.


"Harry?"


"Aku sudah sangat lapar, Alana." Harry ikut mendudukan tubuhnya di samping Jasson.


"Ya sudah jika tidak ada yang mau memanggilnya. biarkan saja dia mati kelaparan di dalam kamar," seru Alana. namun, rasanya ia begitu tak tega.


"Kalian sungguh menyebalkan!" Alana beranjak berdiri. ia hendak pergi ke kamar terpaksa memanggil Ken sendiri. namun saat ia hendak keluar dari dapur. ia berpapasan dengan Ken di sana. hingga membuat di antara mereka saling beradu pandang.


Alana mengalihkan pandangannya dengan begitu malu. Wajahnya terlihat memerah. tanpa berkata, ia membalikan tubuhnya dan kembali duduk di tempatnya.


Ken segera mengikuti Alana. ia juga duduk persis di hadapan Alana. demi apapun, Alana tidak berani menatap Ken karna rasa malu masih tertepis di benaknya. Ken pun dengan sengaja sedari tadi memandangi Alana. hingga membuat wanita itu merasa tak nyaman di buatnya.


"Kenapa kau tidak mengambilkan makanan untukku?" suara Ken menyentak telinga Alana dan juga yang lainnya.


"Astaga, aku lupa." gumam Alana.


"Ma-maaf, aku lupa. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Alana dengan segera mengambilkan makanan di piring Ken. bahkan, ia sama sekali tidak berani menatap suaminya itu sedikitpun.


"Pasti dia malu setengah mati," gumam Ken. ia tak henti memandangi Alana dan menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman usil di sana.


Alana kembali duduk dan mulai menyantap makanan miliknya. Namun, ia merasa sangat tidak nyaman akan sorotan kedua mata Ken yang sejak dari tadi mengawasinya layaknya seorang maling.


"Kenapa daritadi dia memandangiku seperti itu?


Apa yang sedang saat ini dia pikirkan tentangku?


Aku seorang penggoda?


wanita haus belaian?


Apa?


Apa yang di pikirkan dia tentangku?" pertanyaan - pertanyaan itu muncul dan memenuhi isi pikiran Alana saat ini.


Alana mencoba melirik ke arah Ken yang ternyata masih tak lepas memandanginya sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Sial, dia masih saja memandangiku. dia pasti berpikiran yang tidak - tidak. aku benar - benar tidak nyaman. rasanya ingin sekali ku colok mata itu dengan garpu ini," umpat alana seraya memperhatikan garpu yang ada di tangan kirinya.