My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menghadiri Pertunangan David



Keesokan lusanya,


David terlihat berada di rumah Ibunya ditemani oleh Ashley namun Ken tak terlihat, karna ia harus melakukan pekerjaan penting dan berjanji akan datang bersama Alana setelah pekerjaannya selesai, David disibukan akan pesta pertunangannya yang akan digelar sore nanti. Tidak ada semangat atau senyuman di raut wajah laki-laki itu.


Ashley yang terlihat sedang asik menikmati kue, segera menghampiri sahabatnya tersebut.


"Hey, kau hari ini akan bertunangan, kenapa kau terlihat tidak bahagia seperti itu?" tegur Ashley dengan suara tak jelas akibat tersumbat kue yang ada di dalam mulutnya.


"Memang aku tidak bahagia, jadi untuk apa dipaksa bahagia?" seru David. Ia beranjak berdiri dan hendak pergi ke dalam kamarnya.


"David..." suara wanita yang diiringi dengan langkah kaki sepatu yang terdengar jelas akibat berbenturan dengan lantai membuat David menghentikan langkah kakinya, menoleh dengan rasa malas.


"Ada apa, Bu?" tanyanya tak bersemangat.


"Cepatlah bersiap-siap, setelah ini Bibi Nam dan juga putrinya akan segera kemari," tutur wanita itu dengan ucapan lembut.


"Acaranya nanti sore, jadi untuk apa mereka kemari sekarang?" seru David, mengernyitkan dahinya. Entahlah, hari itu rasanya ia benar-benar kesal, setiap kali berbicara ia ingin sekali meluapkan rasa emosinya.


"David, kenapa kau berbicara seperti itu? Ibu ingin kau berlatih dulu bersama putri Bibi Nam, agar nanti tidak  terlihat kaku saat berada di hadapan banyak tamu,"


"Ibu, aku sungguh lelah. Aku ingin sekali beristirahat!" David berlalu pergi meninggalkan ibunya itu dan segera masuk ke dalam kamar.


"David!"


"Bibi..." Ashley terlihat menghampiri ibu sahabatnya itu sembari meletakan kedua tangan di bahunya.


"Biarkan David beristirahat dulu, Bi." tuturan Ashley membuat wanita parubaya itu mengiyakannya.


 


David terlihat duduk berselonjor di atas tempat tidurnya, kedua matanya menyiratkan sebuah kebingungan yang mendalam. Ia mengacak-acak rambutnya dengan begitu frustasi.


Tiba-tiba terlintas Valerie dipikirannya. David memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang ia rasa begitu kacau.


"David..."Ashley yang tiba-tiba naik ke atas tempat tidur membuat laki-laki itu terkejut.


"Ada apa?"


"Kau ini kenapa?"


"Aku sungguh bingung! Aku masih benar-benar belum ingin menikah, tapi ibuku."


"Kalau kau benar-benar tidak ingin menikah, lalu kenapa kau tidak menolaknya dari awal?" seru Ashley.


"Aku tidak bisa! Kau kan tau jantung ibuku sedang bermasalah! Kalau ibuku tidak sakit, aku juga tidak akan mau!" seru David.


"Iya juga, lalu sekarang maumu bagaimana?" tanya Ashley.


"Bagaimana kalau kau saja yang menggantikanku bertunangan dengan putri dari teman ibuku?


" usul David.


"Apa kau sudah gila? bisa-bisa aku dibunuh oleh Ibumu!" seru Ashley.


"Tidak ada gunanya kau kemari, keluarlah, aku ingin istirahat!" perintah David.


"Sialan kau!" Ashley melempar bantal ke wajah David dan segera  berlari meninggalkan kamar itu.


 


 


 


***


 


Di kantor David.


Valerie terlihat sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Ia beranjak berdiri dengan membawa beberapa berkas di tangannya. ia pergi ke ruang foto copy untuk menggandakan beberapa berkas tersebut. Langkah kaki Valerie terhenti di depan ruangan David, kedua matanya mengawasi  ruangan yang  nampak tertutup dan berpenghuni itu.


"Ke mana David? tumben sekali sudah siang dia belum datang?" gumam Valerie. Ia hendak melanjutkan kembali pekerjaannya dan berlalu pergi dari sana.


"Nona Valerie?" langkah kaki Valerie kembali terhenti tatkala dirinya melihat  sekertaris David yang bernama Nona Yoshie menghampiriya.


"Iya, Nona Yoshie?"


"Tolong foto copy berkas-berkas ini." Menyodorkan beberapa lembar berkas kepada Valerie. "Nanti tolong letakan di meja kerjaku saja, karna aku mau ke rumah Tuan David untuk meminta tanda tangan," imbuhnya.


"Memangnya Tuan David kemana, Nona? kenapa hari ini dia tidak bekerja?" tanya Valerie.


"Tuan David hari ini libur karna beliau sedang sibuk untuk menyiapkan acara pertunangannya," jawab Yoshie.


"Acara pertunangan?" Kedua mata Valerie membulat.


"Iya, sore ini Tuan David akan bertunangan. Aku permis pergi, ya, Nona Valerie." Yoishie tersenyum kepada Valerie, mengusap lengannya dan berlalu pergi dari sana.


Valerie masih mematung di tempat yang sama.  Ada yang tercekat di dalam rongga dadanya, hingga membuatnya  merasa kesulitan mengatur napas. Masih tak mempercayai ucapan yang ia dengar dari mulut Nona Yoshie.


"David bertunangan?" ucapnya tanpa mengeluarkan suara. Kedua sudut matanya terlihat hampir basah. Memang benar, tidak ada yang istimewa di antara mereka berdua. Tapi, kenapa kabar yang wanita itu dengar baru saja, seolah menghancurkan harapannya.


Saat melihat Office girl melintas di sana, Valerie meminta tolong untuk mengalihkan pekerjannya tersebut kepadanya. Dengan langkah yang masih berat, Valerie kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil ponsel mencoba menghubungi Ashley menanyakan kebenaran itu, namun tidak ada sautan sama sekali darinya.


"Aku harus memastikannya, tapi tidak mungkin jika aku bertanya langsung kepada David." Valerie menggenggam ponselnya dengan raut wajah yang nampak begitu bingung.


"Alana..."


Nama itu terlintas dipikirannya. Valerie segera menghubungi nomer ponsel milik Alana yang sempat Alana berikan kemarin waktu di rumahnya.


Nada dering menghubungkan, hingga terdengar sautan dari balik ponsel yang saat ini wanita itu genggam.


"Hallo..."


"Alana, aku Valerie."


"Iya, Valerie. Ada apa?" suara Alana terdengar begitu bersemangat menyautinya.


"Kau sekarang di mana?" tanya Valerie.


"Di rumah, menunggu Ken pulang," jawab Alana.


"Alana, apa aku boleh bertanya sesuatu?" bibir Valerie terlihat bergetar.


"Bertanyalah..." sautnya dengan senang hati.


"A-apa, ha-hari ini, David akan be-bertunangan?" tanya Valerie dengan terbata-bata, seakan pertanyaan itu begitu berat untuk ia lontarkan. Alana tak langsung menyautinya. Ia masih terdiam, lalu berucap, "Iya, Valerie. Hari ini David bertunangan," jawabnya dengan enggan.


Seketika mendengar pernyataan Alana, bibir Valerie bungkam, tak bisa berucap atau bergerak sedikitpun. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca, menahan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi.


"Valerie...." Panggilan Alana berkali-kali tak membuat wanita itu langsung menyautinya.


"Valerie, apa kau mendengarku?"


"I-iya, Alana. Aku mendengarmu.  Terimakasih banyak atas informasinya, pantas saja hari ini David tidak datang ke kantor," jawab Valerie, mencoba tersenyum.


"Memangnya David tidak memberi taumu kalau dia akan bertunangan?" tanya Alana.


Valerie terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku hanya karyawannya, jadi untuk apa dia memberitauku."


"Ya sudah, ya, Alana. Aku banyak sekali pekerjaan, terimakasih." Alana mengiyakannya, dan mereka berdua saling mengakhiri panggilan itu.


Valerie meletakan ponsel miliknya di atas meja. Ia memejamkan kedua matanya, menarik napasnya dengan sesenggukan, Ia beranjak berdiri, kaki jenjangnya mengajak dirinya pergi ke toilet yang terlihat sepi. Ia masuk ke dalam salah satu toilet itu dan menutup pintu itu dengan rapat.


"David benar-benar akan bertunangan?" ucapnya ringan, air matanya tiba-tiba menderas membasahi wajah ayu manita itu.


"David memang baik, dia baik kepada siapapun. Lalu, apa yang sedang  kau harapkan Vaerie? apa yang kau harapkan?" Valerie menjatuhkan tubuhnya di lantai. Melipat kedua tangan dan menumpu wajahnya, air matanya menderas tak tertahankan. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


 


***


 


Ken dan Alana memberi kabar tentang pernikahan David kepada keluarganya, termasuk Jesslyn. Semuanya senang akan kabar itu, namun tidak dengan Jesslyn yang terlihat sedikit kecewa, sebab, perempuan itu sudah sejak lama mengagumi sahabat kakaknya. Hanya sekedar mengagumi namun tak membuatnya patah hati. Ia juga akan menghadiri pesta pertunangan itu bersama Jasson dan Harry.


^


Sore itu, Alana terlihat bersama Ken  di dalam mobil mereka berdua hendak pergi ke kediaman rumah David untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, sementara Jesslyn, Jasson dan juga Harry telah membuat janji bersama kakaknya untuk langsung bertemu di sana.


Di dalam mobil, Alana terlihat menatap ke sembarang arah. Wanita itu melamun seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Apa yang kau pikirkan?" tegur Ken.


Alana menggeleng kepalanya. "Tidak ada," ucapnya sambil tersenyum.


"Mau makan atau minum sesuatu barangkali?" tawarnya kembali.


"Tidak sayang..." jawab Alana. Ken seketika terdiam, menatap heran istrinya.


"Kenapa dia?" gumamnya dalam hati. "Biasanya sehari ada saja yang diminta," gumamnya.


 


sunyi.


 


sunyi.


"Ken..." panggilan Alana membuat Ken menyautinya.


"Aku tiba-tiba sangat merindukan Mami," ucap Alana dengan tatapan sendunya. Karna sangat lama sekali ia tak mendengar kabar ibunya itu, bahkan biasanya Brianna sering mendatangi rumahnya, namun untuk akhir-akhir ini, ia sama sekali tak pernah melihat dan mendengar kabarnya kembali.


Ken sejenak terdiam. "Kau ingin bertemu dengan Mami?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya pelan.


"Besok kita akan menemuinya."


"Kau tidak marah jika aku menemui Mami?" tanya Alana.


"Untuk apa aku marah? Mami adalah wanita yang telah melahirkanmu, jadi aku tidak akan marah. Yang tepenting, kau selalu mengingat perkataanku, agar tidak mudah terpengaruh oelh siapapun!" tutur Ken, Senyuman Alana mengembang dan mengiyakannya.


 


***


 


Ken menghentikan mobilnya di depan rumah mewah yang tak lain ialah rumah sahabatnya, masih belum ada tamu yang datang, karna hanya terlihat beberapa mobil saja yang berjajar di sana. Ken mengajak turun Alana, menggandeng tangan istrinya itu dan hendak mengajaknya  masuk ke dalam rumah tersebut. Namun Alana menghentikan langkah kakinya, ketika mendapati mobil mini coopers yang tak asing  terparkir di sana.


"Seperti mobil Clara," gumam Alana.


"Sayang ada apa?" tanya Ken, menatap heran istrinya.


"Tidak apa-apa!" Alana dan Ken melanjutkan masuk ke dalam rumah, namun di ruang tamu, Alana dikejutkan oleh ketiga mantan sahabatnya yang kala itu juga berada di sana"


"Alana?" sapa Clara. Alana hanya diam tak menyautinya, ia mengalihkan pandangannya kepada Lecya dan juga Darrel yang sedang menggendong anak bayi, yang ia yakini adalah anak mereka berdua.  begitu juga dengan Laurrent yang terlihat begitu cantik dan anggun dengan gaun yang membaluti tubuhnya.


Mereka bertiga berjalan menghampiri Alana.


"Heh, kau sedang apa di sini?" Lecya melontarkan pertanyaan tidak suka, sambil melirik ke arah perut buncit Alana. Entalaa, kenapa wanita itu begitu sangat membencinya.


"Kau sedang apa di sini Alana?" tanya Laurrent.


"Kalian  sendiri sedang apa di sini?" tanya Alana.


"Ini acara pesta pertunanganku," jawab Laurrent. Kedua mata Alana membulat lebar. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ken yang masih setia berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangannya itu.


"Ken, apa benar ini rumah David? Apa kita tidak salah rumah?" tanya Alana dengan memastikan.


"Tidak sayang ini benar rumah David..." jawab Ken.


"Alana, Ken..." terlihat David yang sudah berpakaian rapi berjalan menghampiri mereka berdua.


Alana hanya diam, ia masih menatap Laurrent, lalu mengalihkannya pandangannya kepada David.


"Alana... Ken... ayo masuk ke dalam," ajak David.


"David tunggu!" panggilan Alana, menghentikan laki-laki itu yang hendak melangkah.


"Ada apa, Alana?" tanya David.


"Siapa calon istrimu?" tanya Alana, David terdiam, kedua matanya melirik ke arah Laurrent, sudah menunjukan dengan jelas apa jawaban laki-laki itu.


Alana mengikuti kedua mata David mengarah, ia benar-benar  tak mempercayai jika Laurrent yang akan menjadi calon istrinya.


"Laurrent calon istrimu?" tanya Alana.


"Iya, Alana. Aku dan David akan segera menikah, hari ini kami bertunangan," timpal Laurrent.


"Ken, Alana, ayo jangan di sini, kita masuk ke dalam saja." David mengajak paksa sahabat dan juga istri sahabatnya itu. Namun Alana masih tak bergeming dari tempatnya.


Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya untuk masuk mengikuti David ke dalam ruang tengah, mereka di sambut oleh  Ashley yang sedari tadi tak henti menikmati makanan miliknya.


"Alana... Ken... kalian datang sendiri? kemana Jasson?"


"Nanti dia menyusul bersama Harry dan Jesslyn," jawab Ken.


"Alana, kau kenala dengan Laurrent?" tanya David.


Alana menganggukan kepalanya.


"Mereka bertiga mantan sahabatnya Alana," timpal Ken.


"Ken, ayo  ikut aku..." Alana menarik tangan suaminya dan mengjakanya untuk menjauh dari sana.


"Sayang ada apa? apa kau lapar? kau ingin makan sesuatu? katakan kau ingin makan apa? aku akan mengambilkannya untukmu."


Alana menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau memakan sesuatu," jawabnya.


"Lalu kenapa kau mengajakku kemari?" tanya Ken.


"Ken, kenapa kau tidak bilang kalau Laurrent yang akan menjadi calon istri David?" tanya Alana.


"Aku kan sudah bilang kemarin, aku tidak tau siapa calon David, dia dijodohkan oleh ibunya.  Dan aku baru tau hari ini kalau mantan temanmu itu yang akan menjadi calon istrinya," jawab Ken.


Alana hanya diam, rasanya begitu tidak rela jika orang sebaik David menikah dengan Laurrent. "Sayang, kau kenapa?" tanya Ken.


"Ken, aku tidak suka melihat David menikah dengan Laurrent," ujar Alana.


"Laurrent bukan orang yang baik, dia tidak pantas untuk David!" imbuh Alana.


"Alana, aku tau kau memiliki masalah dengan mantan teman-temanmu itu, tapi kita tidak berhak menentukan hubungan seseorang!" seru Ken.


"Ini sudah menjadi pilihan David, jadi kau jangan ikut campur!"


"Tapi, Ken--"


"Sudah! Jangan berbicara lagi!" Ken dengan kesal meninggalkan Alana dari sana.


Alana mematung di tempat yang sama. "Aku benar-benar tidak rela jika laki-laki sebaik David menikah dengan Laurrent."


 


 


 


 


 


 


.


.


.


.


 


Jangan lupa tinggalin jejak, ya....


aku mau nyelesaiin apa yang ingin aku selesaiin, jadi minta tolong kasih semangat dengan komentar yang positif biar aku semangat nglearin nih novel dan bikin yang baru.


"Kalau ngga suka atau kecewa, tinggal beralih aja ke novel lain. Hidup ngga seribet itu kok..."


"Sombong banget sih lu thor!" kata Reader.


"Nak, kalau tidak menyukai sesuatu, lebih baik diam, jangan menghina atau menghujat sampai membuat orang lain itu sakit hati, Kalau tidak suka lebih baik diam, pergi dan tinggalkan!" kata emaknya Nona.


"Kalau tidak bisa menyenangkan hati orang lain setidaknya jangan menyakitinya! Karna setiap ucapan dan perkataan seseorang itu menunjukan jati diri mereka yang sebenarnya," tutur Nona.