My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Mendapatkan incaran



King Roulade  Bussines Hotel.


Saat sudah mendapatkan kamar. Ken dan David segera menuju ke sana, setibanya di kamar, Ken menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan David, laki-laki itu  berpamitan kepada Ken ke  parkiran hotel, karna ia baru teringat jika ponsel miliknya tertinggal di dalam mobil Ken.


Ken meraih ponselnya yang terselip di dalam saku jas miliknya. ia mencari nomer Alana dan segera menghubunginya melalu video call.


Ken meletakan ponselnya tepat di depan wajahnya, menunggu Alana mengangkat panggilan videonya tersebut. Tak lama kemudian, terlihat wajah Alana dengan jelas  dari layar ponsel itu.


"Hallo Ken..." Alana melambaikan tangannya kepada Ken dengan begitu girang.


"Kau sedang di mana? kenapa wajahmu hitam semua?" tanya Ken sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku di kamar Jesslyn sedang bermain ular tangga bersama Jesslyn dan Kimmy," jawab Alana.


"Lalu apa hubungannya dengan wajahmu yang hitam?" tanya Ken. Ia masih mengernyitkan dahimya.


"Karna, yang bidaknya dimakan ular, wajahnya harus dicoret dengan menggunakan spidol," kata Alana.


"Astaga, permainan konyol. Pasti Jesslyn," gumam Ken.


"Bersihkan wajahmu!" perintah Ken.


"Permainannya kan belum selesai, jadi tidak boleh di bersihkan dulu," saut Alana.


"Kau sudah sampai?" tanya Alana.


"Sudah, aku baru saja sampai," jawab Ken.


"Ken, nanti kalau kau pulang, kita bermain ular tangga, ya. Permainannya sangat menyenangkan sekali," pinta Alana.


"Tidak, aku tidak suka permainan anak kecil seperti itu!" ujar Ken dengan suaranya yang kaku, bahkan menunjukan sekali bahwa dirinya tidak tertarik untuk memainkan permainan itu.


"Ya sudah, jika tidak mau bermain denganku tidak usah pulang!" kedua mata Alana terlihat melotot di layar ponsel itu.


"Astaga..." Ken menggeleng kepalanya.


"Baiklah." Ken berdecak dan terpaksa mengiyakannya.


"Kau mau bermain ular tangga denganku?" tanya Alana.


"Iya... banyak bicara sekali!" saut Ken.


"Aku akhiri dulu, ya panggilannya?" tanya Ken.


"Nanti saja..." Alana memelaskan wajahnya.


"Tidak bisa sayang, aku harus menemui client Papa sekarang." Ken mencoba beranjak duduk.


"5 menit lagi," pinta Alana. Ken hanya diam saja.


"3 menit?"


"1 menit lagi."  Ken hanya tersenyum saat mendengar penawaran waktu yang di minta oleh Alana.


"Kau sebegitunya merindukanku?" tanya Ken yang tak melepaskan senyumannya.


"Tidak, aku tidak merindukanmu," bantah Alana.


"Ya sudah, kalau tidak merindukanku, untuk apa mengobrol lama-lama! Aku akhiri dulu, nanti aku akan menghubungimu lagi," seru Ken.


"Janji, kau akan menghubungiku lagi?" tanya Alana.


"Iya..." saut Ken. mereka berdua segera mengakhiri panggilan video tersebut. Ken menyelipkan kembali ponsel itu ke dalam saku jas miliknya. Ia tersenyum, rasanya hatinya begitu tenang saat bertatap muka dengan Alana meskipun hanya melalui ponsel seluler saja.


Tak lama kemudian, ponsel milik Ken kembali berdering diiringi dengan getaran yang bisa ia rasakan dengan jelas. Ken meraih kembali ponsel miliknya, dilihatnya satu panggilan masuk dari Papa Gio. Ken segera mengangkat panggilan tersebut, dan meletakan benda itu di telingannya.


"Iya, Pa?" sapa Ken.


"Kau sudah di hotel?" tanya Papa Gio.


"Sudah, Pa. Ini Ken mau bersiap-siap menemui client Papa," ujar Ken.


"Baiklah, Nak. nanti, jika kau kesulitan untuk menerjemahkan bahasa Tuan Sanichi dan Tuan Rikuto, Tuan Billy akan membantumu," tutur Gio.


"Tuan Billy? siapa dia Pa?" tanya Ken sembari mengernyitkan dahinya.


"Dia kerabat Tuan Sanichi yang tinggal di Irlandia, rekan bisnis Papa juga. Dia seusia kamu," ujar Papa Gio.


"Oh, baiklah, Pa."


"Papa harap kamu bisa mendapatkan tender ini, ya, Nak. karna Tuan Sanichi dan Tuan Rikuto sangat berpengaruh untuk kemajuan perusahaan kita," tutur Gio.


"Ken akan berusaha, Pa." Ken dan Gio saling mengakhiri panggilannya. Ken segera mengembalikan ponselnya ke saku jas miliknya.


 


***


Di parkiran, David segera mengambil ponsel miliknya yang tertinggal di dalam mobil Ken. kemudian, laki - laki itu berjalan menuju lobby untuk kembali ke kamar menemui Ken.


"Tuan..." suara seorang wanita terdengar jelas di telinga David. Namun, David tak menghiraukannya, ia tetap sibuk berjalan menuju ke lift yang ada di lobby hotel itu.


"Tuan..."


"Tuan, tunggu..." seseorang menyentuh bahu David hingga membuat laki-laki itu berhenti melangkahkan kakinya. David menoleh dan kedua matanya terkesiap saat melihat seorang wanita yang kini tersenyum kepadanya. David hanya mengernyit tanpa bertanya ataupun membalas senyuman itu.


"Tuan, kita bertemu di sini..." wanita itu tak lain ialah Valerie.


"Kau?"


"Sedang apa kau di sini? kau mengikutiku dan Ken?" tanya David dengan menatap tak ramah wanita itu.


"Ken? Ken ada di sini?" tanya Valerie dengan begitu terkejut. Nmun, David hanya diam saja. Kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan Valerie.


"Tuan tunggu!" Valerie menarik tangan David hingga membuat guratan kesal di dahinya. David dengan cepat menepis tangan Valerie dari tangannya.


"Aku sedang terburu-buru!" David berbicara dengan nada suara yang membentak. Ia berlalu meninggalkan Valerie dan masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Valerie masih memperhatikan David  hingga pintu lift itu tertutup.


"Ken ada di sini?" gumam Valerie.


"Nona Valerie. Mari, mobilnya sudah siap..." seorang laki-laki paru baya yang tak lain  sopir Valerie  tiba-tiba menghampiri nya membuat pikiran wanita itu buyar.


"Sepertinya saya tidak jadi pulang, Pak," ujar Valerie.


"Tapi, Nona,  Nyonya Besar--"


"Beri tau Nenek, saya akan menemani Tuan muda di sini." sopir itu mengangguk dan Valerie segera pergi meninggalkan sopir itu.


 


***


David berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar menemui Ken. Di sana, Ken terlihat  sedang sibuk menyiapkan berkas untuk kepentingan meeting bersama client Papa Gio.


"Ken..." panggil David dengan napas yang ngos-ngosan.


"Heem?" Ken menyautinya tanoa melihat e arah David.


"Ken, apa kau tau? teman wanitamu yang waktu itu di pesta Adam, ternyata dia ada di hotel ini juga," ucap David dengan hebohnya. Ken sejenak menghentikan aktivitasnya dan melirik ke arah David.


"Biarkan saja, mau di apakan memangnya?" tanya Ken.


"Kau tau dia di sini?" tanya David dengan heran.


"Ini hotel milik keluarganya," jawab Ken dengan santai. David semakin mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban Ken.


"Kau sengaja?" tanya David.


"Apa yang kau maksud sengaja?" tanya Ken.


"Ken, kau sengaja memilih tempat ini untuk bertemu dengan client Paman Gio, supaya kau bisa bertemu dengan Valerie?" ujar David.


"Jangan asal berbicara!" Ken mengeraskan suaranya di depan David.


"Client Papaku yang memilih hotel ini sendiri untuk pertemuannya. Mana mungkin aku menolaknya!" seru Ken dengan kesal.


"Oh, Maaf... aku tidak tau. aku kira--"


"Lupakan saja, mereka sudah menunggu kita." Ken membawa berkas yang sempat ia siapkan, kemudian, ia keluar dari kamar itu dan berjalan mendahului David untuk pergi ke meeting room yang ada di hotel tersebut. David pun mengikutinya dari belakang.


Setibanya di meeting room. Ken dan David segera masuk. Di sana terlihat tiga  orang laki-laki yang tengah duduk saling berhadapan, sepertinya mereka bertiga memang sedang menunggu kedatangan Ken. dua di antara tiga orang laki-laki itu di yakini Ken bahwa mereka berasal dari jepang, dan satunya lagidi yakini bahwa laki-laki yang memiliki usia yang sama dengannya itu ialah Tuan Billy yang sebelumnya Papa Gio katakan.


"Permisi..." Ken mendekati ke tiga orang itu dengan tutur kata yang sopan.


"Oh, kau putranya Tuan Gio?" laki-laki yang berbicara dengan  bahasa yang serupa dengannya  itu beranjak berdiri dan menjabat tangannya.


"Saya Billy," kata orang itu.


"Oh, kau Tuan Billy. Senang bisa bertemu denganmu," ujar Ken.


"Perkenalkan, ini Tuan Sanichi dan ini Tuan Rikuto," ujar Billy.


Ken segera menjabat masing-masing tangan clientnya itu. Ia juga memperkenalkan David kepada Billy dan kedua clientnya. Kemudian, Billy mempersilahkan Ken dan David untuk duduk. Mereka segera memulai pertemuan itu, Ken memperkenalkan kepada dua clientnya itu tentang perusahaan milik Papa dan juga mertuanya yang saa ini sedang bekerja ama.


Tuan Sanichi dan Tuan Rikuto tidak bisa berbicara bahasa inggris. jadi, mereka berbicara menggunakan bahasa jepang. Ken bisa menerjemahkan setiap ucapan clientnya itu. Namun tidak semua dirinya bisa menerjemahkannya dan Tuan Billy juga membantu dirinya untuk berbicara.


Ken berbicara panjang lebar dan begitu detail. Tak ada yang terlewat dari setiap perkataannya, hingga membuat kedua clientnya itu  begitu tertarik dengan setiap kata yang Ken sampaikan.


 


 


***


Setelah makan malam, Mereka pun akhirnya mengakhiri pertemuannya malam itu juga. Tuan Sanichi dan Rikuto saat itu juga  mengajukan kerja sama dengan perusahaan milik Papa Gio. Rasanya, Ken begitu bangga bisa memenangkan tender ini. Terlihat sekali di raut wajahnya. Terlebih lagi, ini tender besar yang akan melibatkan perusahaan mertuanya juga di dalamnya, karna semua produksi akan dikelola oleh semua mesin pabrik yang ada di Celouis Company.


Lalu, Tuan Sanichi dan Rikuto berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Ken dan David, mereka  hendak kembali ke kamar, namun, suara Billy yang keluar dengan khasnya menghentikan mereka berdua.


"Iya, Tuan Billy?" Ken menyaut saat laki-laki itu memanggilnya.


"Tuan Ken, Tuan David.  Mari kita minum anggur atau kopi sejenak di roof top hotel," ajak Billy.


"Maaf, Tuan Billy. sepertinya saya harus pulang," saut Ken.


"Ken, kau mau pulang malam ini? kau yang benar saja?" timpal David.


"Lagi pula ini sudah selesai, bukan? untuk apa kita di sini lagi?" tanya Ken.


"Ken, kalau kita pulang malam ini. Itu sangat berbahaya! Perjalanan pulang dari sini memakan waktu 4 hingga 5 jam, kau yang benar saja!" seru David. Ken terdiam dan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tuan Ken, lebih baik menginap saja di hotel. Kalian sudah check in bukan?" timpal David.


"Iya, Ken. Lebih baik kita pulang besok pagi saja!" pinta David.Ken mendengus kecil, rasanya ia enggan sekali untuk menginap.


"Baiklah..." saut Ken dengan berat hati. Sebenarnya ia ingin sekali pulang menemui Alana. rasanya, ia begitu merindukan istrinya tersebut.


"Bagaimana Tuan? apa kalian mau minum anggur atau minum kopi bersamaku?" tanya Billy kembali. Ken dan David pun mengiyakannya. Billy mengajak Ken dan David ke roof top hotel tersebut yang letaknya ada di lantai 11.


Billy menyuruh Ken dan David untuk duduk, suasana malam di roof top itu begitu menyejukan bagi siapa saja yang berada di sana. terlebih lagi,  angin malam yang berhembus kencang serta bintang yang bertebaran di langit memberi keindahan tersendiri bagi siapapun.


 


Billy memanggil pelayan dan memesankan beberapa anggur dan makanan ringan untuk kedua orang yang ia anggap penting itu. dan tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa semua pesanannya, pelayan itu meletakan anggur dan makanan ringan itu di atas  meja. Billy mempersilahkan Ken dan David untuk menikmatinya. David begitu bersemangat saat melihat botol kaca berisi anggur merah yang begitu menggoda di kedua matanya, tanpa sungkan, ia segera menuangkan anggur itu ke dalam cawan miliknya dan meneguk kasar anggur itu di tenggorokannya.


"Sungguh nikmat." David mengusap mulutnya yang sedikit basah dengan menggunakan tangannya.


"Minumlah, Tuan David. Ini anggur termahal di hotel ini," ujar Billy. David pun mengiyakannya dan meneguk kembali anggur itu.


"Ku lihat, sepertinya  kau sangat lihai sekali dalam dunia bisnis, Tuan Ken?" tanya Billy kepada Ken yang sedang menatap kosong ke sembarang arah


"Tidak juga, Tuan," jawab Ken.


"Tapi aku perhatikan, kau tadi sangat pintar sekali untuk menarik hati client."


"Oh, iya, apa kau tau Tuan Ken, kalau Tuan Sanichi kemari sebenarnya karna beliau mendapatkan tawaran kerja sama dengan Tuan Afford, pemilik AFC Company, karna, Tuan Sanichi akan berencana membuka perusahaan baru di sini," ujar Billy, tiba-tiba, Ken begitu tertarik dengan topik pembicaraan ini. Terlebih lagi ini tentang Afford.


"Lalu?" tanya Ken.


"Tuan Sanichi tidak menerima kerja sama itu, karna beliau masih ragu dengan Tuan Afford yang ia rasa tidak meyakinkan, lalu, itu sebabnya Tuan Sanichi dan Tuan Rikuto ingin tau banyak tentang perusahaan Tuan Gio, itu sebabnya pertemuan ini di lakukan secara mendadak dan tidak di rencanakan sama sekali," kata Billy.


"Kau sangat beruntung bisa meyakinkan mereka, Tuan Rikuto dan Tuan Sanichi adalah pemegang saham terbesar di beberapa perusahaan besar yang ada di dunia. Dan tak sedikit perusahaan mereka yang bertebaran di setiap negara," imbuh Billy.


"Benarkah?" Ken menarik salah satu sudut bibirnya. Billyn pun membenarkannya.


"Kau benar-benar hebat seperti Tuan Gio," ujar Billy sembari menepuk bahu Gio.


"Aku belajar dari Papaku saja, kami sangat berbeda. Papaku sudah menggeluti dunia bisnis sejak remaja, dan memiliki perusahaan sendiri sejak muda. Sedangkan aku, aku belum memiliki perusahaan sendiri," kata Ken sembari meneguk anggur yang baru saja ia tuang di dalam cawan kecil. rasanya ia ingin sekali merayakan kemenangan batinnya itu. Entahlah, ia begitu senang saat bisa merebut apa yang seharusnya menjadi incaran Afford.


"Semuanya butuh proses, Tuan. Kau pasti akan mengikuti jejak Tuan Gio untuk memiliki perusahaan sendiri," tutur Billy. Ken hanya tersenyum mentah.


"Bagaimana jika Afford tau jika client yang ia incar melakukan kerja sama dengan perusahaan Papa dan Daddy?" gumam Ken dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Ingin sekali melihat raut wajah orang licik itu saat berita kerja sama ini menyebar luas," gumamnya kembali.


Suara dering ponsel Billy berbunyi sangat nyaring, membuat sang pemiliknya segera mengangkat ponsel tersebut.


"Tuan Ken, Tuan David. Aku permisi mengangkat telepon," pamit Billy yang kala ini beranjak dari duduknya. Ken dan David pun mempersilahkannya.


Tak lama kemudian, Billy kembali duduk dan meletakan ponselnya di atas meja.


"Tuan Ken, Tuan David. calon istriku akan kemari, apa kalian tidak keberatan?" tanya Billy.


"Tidak, Tuan Billy," saut Ken dan David secara bersamaan.


"Baiklah, terimakasih. Ayo habiskan anggurnya, jika kurang, nanti akan ku pesankan lagi," tutur Billy.


 


***


 


Billy, Ken dan David sedang sibuk mengobrol dan bercanda. Mereka memang baru mengenal satu sama lain melalui pengalaman bisnis yang sempat mereka ceritakan, namun, mereka bertiga terlihat begitu akrab sekali layaknya seorang teman.


Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiri mereka bertiga membuat meja mereka yang mulanya ramai menjadi  sunyi seketika,  Billy segera beranjak berdiri dan menyuruh wanita itu duduk. Kedua mata David dan Ken begitu terkesiap saat melihat wanita yang saat duduk mesra dengan Billy.


"Tuan Ken, Tuan David, perkenalkan ini Valerie calon istriku," ucap Billy.