My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Ken, maafkan aku!



"Mau kupenggal kepalamu!" Ken masih  melototkan kedua matanya kepada Ashley.


"Apa salahku?" Ashley menatap Ken dan David dengan begitu bingung.


"Ken, aku benar-benar gemuk?" tanya Alana, masih memasang wajah kesal.


"Sedikit gemuk kan tidak apa-apa, katanya dulu kau tidak akan mempermasalahkan jika tubuhmu gemuk yang terpenting anak kita sehat, benar bukan?" bujuk Ken seraya memaksakan senyumannya, karna ia benar-benar takut jika tidak bisa membujuk istrinya tersebut.


Alana sejenak terdiam. "Iya aku memang  tidak mempermasalahkannya."


"Kalau tidak mempermasalahkannya lalu kenapa kau kesal?" Ken berucap dengan suara lembut seraya menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alana.


"Karna Ashley tadi menertawakanku, makanya aku kesal! Memangnya salah jika aku gemuk?" tanya Alana, ia melirik kesal ke arah Ashley.


"Tidak... tidak ada yang salah," bujuk Ken.


"Alana, maaf, aku tidak bermaksud menertawakanmu, aku tadi hanya ingin  memujimu saja, jadi tolong jangan marah!" timpal Ashley.


"Ashley, bagi wanita kata gemuk  itu bukanlah sebuah  pujian, itu sudah termasuk Body shamming," timpal Valerie.


"Tapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu!" Ashley memasang wajah bersalah, memelas berharap dimaafkan.


"Alana... tolong maafkan aku," ucap Ashley. Alana hanya diam saja, menatapnya dengan tatapan yang sama.


"Sebagai perminta maafanku, ayo kutraktir kau makan ice cream," ajak Ashley merangkul leher Alana dan mencoba membujuknya.


Ken yang merasa tak suka melihat pemandangan itu, seketika menjauhkan tubuh Alana dari sahabatnya. "Kau meledekku? kau pikir aku tidak bisa membelikan Alana ice cream?" seru Ken.


Ashley menelan saliva sambil menggeleng kepalanya dengan bingung. "Ya Tuhan, kenapa malam ini perkataannku jadi serba salah," gumam Ashley, menepuk dahinya.


"Bukan seperti itu, Ken! Aku hanya--"


"Hanya apa? aku masih bisa membelikan Alana ice cream, jika perlu kubuatkan pabriknya!" seru Ken.


Alana mendongakan wajahnya sedikit ke atas supaya lebih leluasa menatap wajah suaminya. "Tapi kau tidak pernah membelikanku ice cream," ucapnya pelan.


"Benarkah? memangnya aku tidak pernah membelikanmu ice cream?" tanya Ken. Alana menggeleng-gelengkan kepalanya. Ashley tiba-tiba menahan tawanya, membuat perhatian Ken teralihkan ke arahnya.


"Kenapa kau tertawa?" tegur Ken.


"Tidak, siapa yang tertawa." Ashley menunduk takut .


"Sudahlah, Ken." David menepuk bahu Ken mencoba menghentikan perdebatan kecil itu.  "Oh iya, Ken. setelah ini kalian mau ke mana?" tanya David.


"Mau pulang, memangnya mau ke mana lagi!" jawab Ken.


"Kalau tidak keberatan, ayo kita minum kopi bersama," ajak David.


"Iya, Ken. Lagi pula besok kan hari sabtu, ayo kita minum kopi di coffee shopmu, kita sudah lama tidak minum kopi bersama," saut Ashley.


"Aku tidak bisa, ini sudah malam, Alana juga harus beristirahat."


"Ken..." panggil Alana. Ken menoleh ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan tatapan memelas.


"Ada apa?"


"Aku masih ingin di luar, ayo kita minum kopi bersama mereka, sepertinya sangat menyenangkan." Ken hanya diam, menatap tanpa memberi jawaban.


"Kali ini saja." Alana mengatupkan kedua tangannya dengan penuh harap, membuat Ken tak punya pilihan selain mengiakan permintaannya.


"Baiklah, hanya sampai jam 10 saja..." Ken menarik tangan Alana mengajaknya masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Valerie yang masuk ke dalam mobil berbeda bersama David dan juga Ashley.


"Aku malam ini serba salah..." gerutu Ashley yang baru saja masuk ke dalam mobil dan mendudukan tubuhnya di samping David sambil mendengus kecil.


"Makanya jangan berbicara sembarangan! Ken bilang, semenjak Alana hamil, dia sedikit kuwalahan karna banyak maunya," tutur David.


"Wajar saja, karna Alana sedang hamil jadi dia lebih sensitive," saut Valerie.


"Wanita hamil sungguh berbahaya..." Ashley menggelengkan kepalanya.


"Ken juga sangat sensitive sekali, jangan-jangan dia juga hamil," sambung Ashley sambil tertawa keras.


"Kau berbicara seperti itu di depan Ken, kepalamu akan benar-benar dipenggal olehnya," saut David yang ikut tertawa akan ucapan sahabatnya itu.


 


***


Kini mereka berlima terlihat sedang duduk di salah satu coffee shop milik Kendrick, yang letaknya tak jauh dari supermarket tersebut. Alana terlihat duduk bersama Valerie, memilih tempat duduk lain bersebelahan dengan tempat duduk suami dan juga kedua sahabat suaminya itu.


Ken memesankan beberapa snack dan juga coklat panas untuk Alana, meskipun tidak duduk satu meja, sekalipun Ken sibuk mengobrol dengan kedua sahabatnya, kedua matanya tak berhenti mengawasi istrinya tersebut.


Alana terlihat mengobrol bersama Valerie, mulutnya sedaritadi dipenuhi oleh makanan yang dipesankan oleh Ken untuknya.  Ia tak henti mengunyah sambil berbicara dengan Valerie hingga membuat dirinya tiba-tiba  tersedak.


"Alana, hati-hati," tutur Valerie.


tenggorokan Alana yang terasa tercekik membuatnya segera mengambil minuman yang ada di jangkauannya. Ia mengambil coklat panas miliknya dan segera meneguknya.


"Aw panas..."  Alana menjulurkan lidah, saat merasakan coklat panas itu melukai lidahnya. Meletakan kembali cangkir itu ke tempat semula.


"Alana." Ken yang melihatnya segera beranjak berdiri menghampiri istrinya itu sambil membawakan gelas berisi air putih untuknya. Alana menyaut air tersebut dan segera meneguknya hingga habis.


"Kalau makan berhati-hatilah!" tutur Ken. Alana memberikan gelas kosong itu kepada Ken, ia kembali menjulurkan lidahnya.


"Kenapa lidahmu?" tanya Ken.


"Lidahku hampir saja melepuh, coklatnya terlalu panas," protes Alana.


"Sudah tau panas, masih saja tidak berhati-hati, pasti kau terburu-buru meminumnya!" ketus Ken.


"Bagaimana tidak terburu-buru, tadi aku tersedak!"


"Apa lidahmu sakit?" Ken membuka mulut Alana mencoba memeriksa lidah istrinya itu.


"Sudah tidak!" Alana menggeleng kepalanya.  "Pergi dan kembaliah ke teman-temanmu!" perintahnya.  Ken mengiyakannya dan segera kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan obrolannya bersama kedua sahabatnya itu.


Valerie memperhatikan Alana dan tersenyum kepadanya.


"Kau kenapa memperhatikanku seperti itu  Valerie?" tanya Alana.


"Tidak apa-apa. Kau sangat beruntung sekali, bisa memiliki suami yang  sangat mencintaimu, tidak seperti diriku yang tidak pernah dicintai oleh  siapapun, tidak ada yang menginginkanku, bahkan Billy sekalipun," ujar Valerie, ia kembali mengingat bagaimana perlakuan buruk Billy terhadapnya. Mencoba tersenyum, kehidupan yang ia rasakan tidak seindah yang orang lain pandang, sekalipun neneknya ialah seorang konglomerat.


"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa sekarang, Alana." Kedua mata Valerie terlihat berkaca-kaca, namun mencoba menyembunyikan kesedihannya  di balik senyuman yang menampakan setengah lesung di pipinya itu


"Bersabarlah, Valerie. Aku dulu juga seperti itu.  Aku merasa sendiri, merasakan kehidupan di titik paling rendah, di mana semua orang meninggalkanku, tidak ada dukungan dari siapapun.  Aku selalu menyalahkan Tuhan dan beranggapan semua orang tidak menginginkan diriku. Tapi di balik itu semua, aku menemukan sebuah pelajaran berharga dari sana. Pelajaran yang tidak bisa ditukar dengan harta. Hingga Tuhan berbaik hati mempertemukanku dengan Ken."


Alana menarik tangan Valerie dan menggenggamnya. "Kelak kau pasti juga akan mendapatkan pasangan yang benar-benar tulus mencintaimu, tetapi semuanya butuh waktu. Tuhan tidak mau membuatmu terluka lagi. Jadi kau harus bersabar." Tutur kata Alana membuat Valerie lega dan meyakini apa kata wanita itu.


"Terimakasih banyak  Alana." Tersenyum dan memeluk saling satu sama lain.


 


 


Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Ken segera mengajak istrinya itu untuk kembali pulang, Alana begitu enggan meninggalkan tempat duduknya dikarenakan begitu asyik mengobrol bersama Valerie.


Namun, ia akhirnya mau diajak pulang oleh Ken. Sementara Valerie, di antarkan oleh David dan juga Ashley untuk pulang ke rumahnya.


 


*


 


Setiba di rumah Valerie, David menghentikan mobilnya di halaman rumah minimalis tersebut. Valerie mengambil barang belanjaan miliknya, yang tadi ia letakan di dalam bagasi bersama dengan barang belanjaan miliki David dan Ashley.


David dan Ashley segera  berpamitan pulang kepadanya dan meninggalkan rumah wanita itu


Valerie masih berdiri di depan halaman rumah, saat dirasa mobil yang ditumpangi oleh David dan Ashley sudah tak dijangkau oleh kedua matanya, ia segera masuk ke dalam rumah.


 


*


Apartement


 


David memarkirkan mobilnya dan menurunkan barang-barang belanjaan miliknya dan juga milik Ashley dari dalam bagasi mobil. Mereka berdua membawa barang-barang itu masuk  ke dalam kamar apartement. Namun, David menemukan kantung belanjaan yang ia yakini  bukanlah barang belanjaan  miliknya. Ia membuka kantung itu dan memeriksanya, terlihat ada pembalut dan beberapa kebutuhan kamar mandi di dalamnya.


"Ashley, apa kantung belanjaan yang ada pembalut ini milikmu?" tanya David menunjukan kantung tersebut kepada sahabatnya.


"Lalu ini barang belanjaan ini milik siapa?" tanya David.


"Sepertinya milik Valerie yang tertinggal," jawab Ashley.


"Oh, iya pasti milik Valerie. Ya sudah, besok pagi akan aku akan mengantarkannya."


"Kemarikan, biar kusimpan. Aku takut nanti kau diam-diam akan memakai pembalutnya," ledek David, ia  menyaut kantung belanjaan itu dan menyimpannya di tempat yang aman.


"Sialan! Mana mungkin aku memakai pembalut!" seru Ashley, mengambil bantal dan melemparkannya di kepala David.


 


***


 


Jam 22.25


Alana dan Ken baru saja tiba di rumah, Ken segera mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar, mengantarkannya ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan juga kakinya.


Ken mengambilkan satu set piyama milik Alana dari dalam lemari yang baru saja ia buka. "Cepat ganti pakaianmu dan istirahatlah!" perintahnya menyodorkan piyama tersebut. Alana mengiyakannya, ia segera menanggalkan pakaiannya dan mengganti dengan piyama tersebut.


"Ken, aku lelah sekali..." Alana merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu di susul oleh Ken.


"Aku akan memijat kakimu," Ken menyuruh Alana merebahkan tubuh dan menyelonjorkan kedua kakinya.


"Tidak usah, kau istirahat saja, kau pasti juga lelah."


"Tidak, aku tidak lelah. Aku akan memijit kakimu, kau cepatlah tidur. Besok kita ke dokter untuk memeriksa kandunganmu," tutur Ken, Alana mengiyakan permintaan suaminya itu dan mencoba memejamkan kedua matanya.


Ken mulai memberi pijatan kecil di kaki jenjang istrinya secara bergantian hingga membuat Alana menikmati setiap sentuhan yang seketika mengurangi rasa lelah di kakinya itu.


Namun tak membuat wanita itu tertidur, ia justru malah membuka salah satu matanya, mengintip suaminya yang sedang sibuk memijat kedua kakinya itu. Rasanya Alana begitu kasian kepada Ken, hingga membuat dirinya tak tega.


"Kalau aku tidak mengajak Ken jalan-jalan, pasti dia tadi sudah beristirahat," gumam Alana dengan penuh perasaan bersalah.


"Ken..." suara Alana tiba-tiba  menghentikan aktivitas suaminya.


Ken menoleh ke arahnya, namun tak membuat tangan maupun tubuhnya berpindah. "Kenapa kau belum tidur?"  Alana beranjak duduk dari tidurnya, menjauhkan tangan suaminya yang masih menyentuh kakinya tersebut.


"Ken, apa aku menyusahkanmu?" tanya Alana dengan  melontarkan tatapan sendu.


"Ada saja yang ditanyakan!" gumam Ken dalam hati.


"Kenapa berbicara seperti itu? kau sama sekali tidak menyusahkanku," jawab Ken.


"Benarkah?" tanya Alana. Ken memebenarkannya, hatinya dibuat was-was, takut  jika dirinya akan salah berbicara terhadap istrinya itu.


"Maafkan aku, ya, Ken. Jika selama hamil aku selalu saja menyusahkanmu, aku semakin cerewet, banyak maunya, suka usil kepadamu, selalu mengajakmu bermain dan melakukan hal yang tidak penting.  Tapi entalah, aku ingin melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan itu hanya denganmu."


"Jangan sampai kau melakukannya dengan suami tetangga sebelah!


Menyiksa suaminya adalah hal yang menyenangkan baginya, sunguh menyebalkan!" gumam Ken. masih menatap penuh selidik akan perkataan istrinya yang ia rasa mencurigakan.


"Maafkan aku ya, Ken.  Pasti setiap hari kau selalu jengkel melihat kelakuanku, pasti di matamu aku menjadi sangat-sangat  menyebalkan."


Ken hanya diam dan menatapnya,  tak berani menyautinya karna takut salah bicara.


"Ayo, Ken. Susunlah jawaban yang tepat. Jika kau salah bicara, kau akan tidur di luar rumah." gumam Ken.


"Kenapa kau hanya diam? aku benar-benar sangat menyebalkan, ya?" tanya Alana.


"Iya, Alana. Kau memang sangat menyebalkan!


karna tak mendapat jawaban dari Ken, Alana malah menjawab pertanyaannya sendiri sambil menirukan bagaimana gaya suaminya saat berbicara, hingga membuat Ken terkekeh dan mengusap seluruh wajah Alana dengan begitu gemas menggunakan telapak tangannya. "Bicara apa kau ini!"


"Kau memang menyebalkan, tapi kau sama sekali tidak menyusahkanku, aku lebih menyukai Alanaku yang cerewet seperti ini," Ken menarik tubuh Alana, memberi banyak ciuman dan memeluknya seraya memejamkan kedua matanya seakan tak ingin mengakhiri pelukan itu.


"Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, ayo kita tidur." Ken melepaskan pelukan itu, ia merebahkan tubuhnya, menarik Alana dan mendekapnya dengan erat.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author Note:


Aku selalu sempetin update rutin dan perchapter selalu panjang, jadi jangan lupa dukungannya yakk.


Tapi itu terserah sih, kembali ke kalian masing-masing, kalau kalian suka dengan karyaku yang ini ya mohon dukungannya dengan cara Like dan Vote, kan gratis tuh wkwkwk.


Tapi aku bukan tipe orang yang pemaksa kok wkwk, itu hak kalian.


Kalian udah mau setia baca ceritaku aja itu udah alhamdulilah aku udah seneng  bangettttt, karna niatku nulis supaya tulisanku bisa dibaca oleh semua orang.


terimakasih banyak ya, terutama yang masih setia dan ngga bosen-bosen nunggu update-an cerita MIH 3 ini dan yang udah  setia ngumpulin poin ke sana ke mari terus di sumbangin buat novel ini terimakasih banyak.


Kalau ada yang bosen atau kecewa dengan karaker atau alur cerita novel ini, kalian tinggal beralih aja ke novel lain, banyak kok novel di mangatoon dan noveltoon yang lebih menghibur dan  bisa nemenin kalian yang lagi


di rumah aja.


Jadi jangan ribet-ribet ya, cukup virus corona aja yang bikin ribet, kalian jangan wkwkwkwk.


Stay safe ya teman-teman, jaga kesehatan... semoga wabahnya segera berakhir, biar kita bisa ber-aktivitas kembali seperti biasanya.


Salangeyoooo