My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Cincinnya terjatuh



Alana terlihat sedang bersama Jesslyn dan juga Valerie, wanita itu terlihat sedang berbicara dengan adik iparnya .


"Alana, kenapa kau membiarkan Kak David bertunangan dengan mantan sahabatmu yang tidak tau diri itu?" tanya Jesslyn dengan kesal.


"Jesslyn bicaralah yang sopan! Lagipula tidak ada gunanya, ini sudah keputusan David jadi biarkan saja, daripada kau ikut campur dan akan dimarahi oleh kakakmu seperti diriku!" tutur Alana.


"Tapi, Alana--"


"Jesslyn, kita bukan siapa-saiap David, jadi kita tidak berhak mencampuri urusannya."


Jesslyn mendengus, ia terpaksa mengiyakan penuturan Kakak iparnya tersebut, meskipun hatinya jengkel dan tak terima jika laki-laki yang ia kagumi itu akan menjalin hubungan dengan wanita yang ia anggap barbar.


Alana menyuruh Jesslyn untuk mengambil makanan dan juga minuman, adik iparnya itu mengeluh lapar karna sepulang dari kuliah perutnya sengaja ia kosongkan supaya bisa menikmati semua  makanan di acara sahabat baik kakaknya tersebut.


Sebuah pengumuman dansa antara David dan Laurrent terlontar dengan sangat keras dari mulut Lecya, hingga perhatian semua para tamu teralihkan kepadanya, termasuk Valerie. Alana seketika itu memperhatikan  wanita yang ada di sampingnya sedang mematung dan  memandang ke arah David yang saat ini tangannya ditarik paksa oleh Clara dan Lecya supaya mau berdansa dengan Laurrent. David terlihat menolak, namun penolakannya sia-sia saat suara musik tiba-tiba mengalun merdu, mengalihkan perhatian para tamu dan menyorakinya untuk  segera berdansa.


Dada Valerie seketika sangat sesak saat melihat pemandangan itu. Kedua matanya terlihat penuh. Bahkan di sela-sela berdansa, David masih saja menyempatkan kedua matanya untuk menatap Valerie dari kejauhan, membuat wanita itu semakin tak kuasa.


Ashley dan Ken terlihat berjalan menghampiri Valerie dan juga Alana.


"Valerie, ayo berdansa denganku?" ajak Ashley, menjulurkan telapak tangannya di hadapan wanita itu.


"Ehm, maaf Ashley, aku tidak berminat untuk berdansa," tolak Valerie. "Aku permisi ke toilet..." pamitnya. Ia berlalu pergi dari sana


"Baru saja diajak, sudah menolak!" gerutu Ashley. Ken terkekeh saat melihat raut wajah Ashley yang malu akan penolakan Valerie. "Nikmatilah kesendirianmu di sini..." ledek Ken.


"Sialan kau!" Ashley mendorong tubuh Ken dengan kesal.


"Sayang ayo kita berdansa..."  Ken memegang tangan Alana, namun Alana menjauhkan tangannya.


"Kau yang benar saja, aku sedang hamil kau malah mengajakku berdansa! Berdansalah sendiri saja bersama Ashley, menyebalkan!" seru Alana seraya berlalu pergi dari sana.  Ken juga terlihat malu akan penolakan istrinya.


Seakan ini adalah sebuah pembalasan bagi Ashley. "Kasihan sekali..." Ashley meledek sambil  tertawa terpingkal-pingkal saat melihat raut wajah sahabatnya tersebut. Bahkan kedua matanya terlihat berair membuat Ken begitu kesal saat melihatnya.


"Tertawalah yang kencang, akan kulempar kau ke dalam kolam!" seru Ken. Ashley seketika diam dan mencoba menahan tawanya.


 


 


***


 


Alana segera mengikuti Valerie yang tadi sempat berpamitan pergi ke toilet yang dekat dengan kolam renang. Terlihat ada tiga toilet yang berjajar di sana dengan pintu yang tertutup rapat. Alana mengira tidak ada siapapun di dalam toilet itu karna terlihat sepi dan tidak ada orang sama sekali, ia hendak pergi dari sana. Namun suara isakan tangis yang tertangkap dengan jarang, membuat langkah kaki wanita itu terurungkan.


Alana segera menghampiri asal suara isakan tersebut.


"Valerie?" Alana mengetuk salah satu pintu kamar mandi yang tertutup, suara isakan itu tiba-tiba sirna.


"Valerie, apa kau ada di dalam?: teriak Alana masih mengetuk pintu itu.


"Valerie...."


 


Ceklek...


terlihat Valerie membuka pintu itu, kini ia  berdiri di hadapannya dengan senyuman mengembang tak sempurna.


"Iya, Alana ada apa?" tanyanya.  Alana terdiam, menatap kedua mata Valerie yang hampir sembab itu secara bergantian.


"Kau habis menangis?" tanya Alana.


"Tidak... aku tidak menangis, siapa yang menangis?" Valerie menyangkalnya, namun Alana yang tau betul bagaimana rasanya menyembunyikan tangisan akibat menahan rasa sakit, tak mempercayainya.


"Jangan membohongiku, kau pasti habis menangis!"


"Aku tidak menangis, Alana.  Ayo  lebih baik kita menemui yang lainnya pasti acaranya sudah dimulai," Valerie hendak berjalan mendahului Alana, namun Alana menarik tangannya.


"Jangan berbohong kepadaku, jelas-jelas kau habis menangis. Valerie katakan kau kenapa?" tanya Alana, pelan namun sedikit memaksa.


"Tidak apa-apa, Alana. Aku tidak apa-apa," bantah Valerie. Namun kedua matanya sama sekali tak mau menatap Alana sedikitpun.


"Kau berbohong! Kau pasti terluka karna David?" tanya Alana. Valerie yang masih menunduk itu hanya menggeleng kepalanya, berusaha menahan keras air matanya yang hendak tumpah.


Alana memegang kedua bahu wanita itu. "Valerie jangan membohongiku, kau memiliki perasaan kepada David kan?" pertanyaan Alana membuat Valerie mengangkat wajahnya yang semula menunduk, bibirnya masih tak bergeming, ia menatap lekat Alana dengan tatapan penuh, seakan kedua bola mata itu tak tahan untuk meledakkan cairannya.


"Kau mencintai David?"


"Alana...." Valerie berucap dengan suara berat, air matanya memecah, Alana seketika memeluknya.


"Kenapa Tuhan tidak adil, kenapa aku tidak pernah seberuntung perempuan lainnya yang bisa dengan mudahnya mendapatkan cinta mereka, apa salahku Alana?" Valerie berucap dengan terisak-isak.


"Valerie, jangan berbicara seperti itu, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan rencana yang lain untukmu..." Alana mengusap-usap punggung wanita itu mencoba menenangkannya. Valerie memejamkan kedua matanya, air matanya semakin menderas dan ikut  tersapu di sana. Ia mengingat kembali setiap perlakuan David yang ia berikan kepadanya selalu membuat dirinya tersenyum dan tertawa.


"David memang baik, aku salah mengartikan kebaikannya kepadaku. Aku terlalu berharap, aku merasa sakit saat ini, Alana. Hatiku benar-benar sakit." Bibir Valerie berucap dengan gemetar, air matanya membasahi sebagian rambut Alana yang tergerai panjang, bahkan tak jarang beberapa helai rambut Alana juga menempel di wajah wanita itu.


"Menangislah..."


 


Alana bisa merasakan rasa sakit yang saat ini Valerie rasakan. Ia dengan susah payah mencoba menenangkan Valerie. Hingga wanita yang saat ini ada di dekapannya benar-benar tenang dan berhenti menangis, meskipun isakanya masih tedengar dengan jarang.


Alana melepas pelukannya dengan Valerie, mencoba mengeringkan sisa-sisa air mata yang melekat di wajahnya dan ia juga merapikan rambutnya  yang terlihat sedikit berantakan. Kedua bola mata Valerie terlihat mengecil tertutup oleh kelopak matanya yang sudah membengkak.


"Terimakasih banyak Alana, aku sangat lega bisa menangis seperti ini..." ucap Valerie.


"Seharusnya kau bercerita, Valerie. Kenapa sebelumnya kau tidak bilang kepadaku kalau kau mencintai David?" tanya Alana.


"Aku--"


"Wah, Alana Louis..." suara seorang wanita menghentikan percakapan di antara Alana dan Valerie, membuat mereka berdua  menoleh secara bersamaan. Terlihat Lecya sedang berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di atas perut, senyuman yang menghina itu tersirat di wajah liciknya. Entah sejak dari kapan wanita itu berada di sana, langkah kakinya kini berjalan menghampiri Alana dan juga Valerie.


Sedikit mendorong bahu Alana dengan jari telunjuknya. "Kau menjelek-jelekkan Laurrent di depan Kak David dan kau juga menyuruhnya untuk membatalkan pertunangan hanya karna wanita ini memiliki perasaan kepada Kak David?"


"Astaga, Alana. Aku tidak habis pikir,  di mana otakmu?"


"Otakmu yang di mana!" saut Alana dengan suara yang penuh kekesalan.


"Memangnya kenapa jika aku berbicara seperti itu, kau ada masalah?" seru Alana.


"Tentu saja aku ada masalah, ini adalah acara pertunangan sahabatku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya. Termasuk dirimu!" Lecya menegaskan jari telunjuknya di hadapan Alana. Lalu ia melirik ke arah Valerie, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Alana.


"Dan katakan kepada temanmu ini, jangan terlalu banyak bermimpi mau mengacaukan acara pertunangan Kak David dengan Laurrent!" Lecya berlalu meninggalkan Alana dan Valerie dari sana. Mendengar perkataan Lecya, air mata Valerie kembali meleleh, namun ia segera mungkin mengusapnya.


"Valerie, jangan dimasukan hati, ya, apa kata Lecya," tutur Alana.


"Iya, Alana... lebih baik kita ke kembali menemui yang lainnya," ajak Valerie. Alana mengiyakannya. Ia menggandeng tangan Valerie dan mereka berdua berjalan beriringan untuk menuju ke tempat semula. Kedua mata Alana masih memperhatikan Valerie yang berjalan menunduk dan masih menyembunyikan rasa sakitnya.


"Maafkan aku, Valerie. Aku tidak bisa membantumu, aku sudah berjanji kepada Ken jika aku tidak akan membuat masalah lagi," gumam Alana dengan tatapan ibah.


 


 


***


 


Saat tau Alana dan Valerie kembali, Jesslyn segera menghampirinya. "Kalian darimana saja? aku daritadi mencari kalian," heboh Jesslyn dengan mulut yang penuh akan kue coklat. Kedua matanya teralih dan memperhatikan Valerie.


"Jesslyn, apa acaranya sudah dimulai?" tanya Alana.


"Ini mau dimulai, tadi kata Kakak acaranya mau diundur lagi, karna Ayahnya Laurrent belum juga datang, tapi karna Ibunya Kak David marah dan tidak mau acara tukar cincinnya diundur lagi, ya sudah acaranya akan segera dimulai."


"Oh..."


Dari kejauhan, Ashley tiba-tiba terlihat menghampiri mereka bertiga. "Jesslyn apa kau sudah mencicipi semua makanan?" tanya Ashley.


"Hanya sebagian saja," jawab Jesslyn.


"Ayo kita mencicipi semua makanan, semua makanannya enaaaak sekali," ajak Ashley.


"Tidak ada makanan yang tidak enak bagimu, Kak. Apalagi makanan gratis," gerutu Jesslyn. Ashley terkekeh, ia melingkarkan tangannya di leher Jesslyn dan mengajak adik sahabatnya itu untuk menjelajahi asemua makanan yang ada di sana, namun sebelumnya, Jesslyn berpamitan terlebih dulu kepada Kakak iparnya tersebut.


 


Kedua mata Alana masih tak lepas memperhatikan Valerie yang menatap kosong ke sembarang arah, ia mencoba menghiburnya dan mengajaknya untuk makan, namun Valerie menolaknya. Terlebih lagi, pemandangan yang tak menyenangkan kini ada di hadapan mereka.


Lecya, Clara dan Laurrent terlihat berdiri di depan mereka berdua.


"Alana..." sapa Clara, namun Alana tak membalasnya.


"Laurrent, cincin berlian ini limited edition, kau beruntung sekali Kak David bisa membelikan cincin berlian ini untuk pertunangan kalian," heboh Lecya sambil memegang cincin berlian milik sahabatnya itu, dirinya memang sengaja berbicara seperti itu di depan Valerie dan juga Alana.


"Tentu saja, apalagi nanti pesta pernikahanku juga akan digelar dengan sangat meriah dan mewah, bukan sembunyi-sembunyi," saut Laurrent sambil melirik ke arah Alana.


Alana paham betul perkataan itu ditujukan untuknya, namun ia mencoba  tak menghiraukan apa kata mereka.


"Valerie, ayo kita ke sana," ajak Alana. Valerie mengiyakannya. Saat Alana dan Valerie hendak pergi dari sana, seorang pelayan yang sedang terburu-buru tak sengaja menabrak Lecya.


"Cincinku!" teriakan Laurrent memecah saat cincin tunangannya tak sengaja dijatuhkan oleh Lecya ke dalam kolam renang, membuat langkah kaki Valerie dan Alana terhenti dan tertarik untuk menyaksikan drama tersebut.


"Kau tidak punya mata?" Lecya memaki-maki salah seorang pelayan yang tadi tidak sengaja  menabraknya.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja, saya  terburu-buru karna dipanggil oleh Nyonya besar, permisi!" Pelayan itu berlalu pergi  dari sana, meninggalkan kekesalan Lecya semakin bertambah.


"Yah, Lecya, kau ini bagaimana ceroboh sekali, lihatlah cincin sahabatmu terjatuh, kan..." ledek Alana.


"Diam kau!" teriak Lecya.


"Lecya, ini bagaimana?" tanya Laurrent yang seketika menjadi panik.


"Entahlah, aku juga bingung... Darrel juga sudah pulang." Lecya berdecak dan ikut bingung. Sementara, Ibu David  memanggil Laurrent dari kejauhan.


"Lecya, kenapa kau diam saja? cincin sahabatmu terjatuh di kolam renang, kau tidak mau membantu untuk mengambilkannya? Kau kan sangat pandai berenang, tadi katanya kau tidak akan membiarkan siapapun merusak acara pertunangan sahabatmu, tapi kenapa kau sendiri yang malah merusaknya," ujar Alana tersenyum meledek.


"Aku bilang diam!"


"Lecya, benar kata Alana, kau menjatuhkan  cincinku , jadi kau yang harus mengambilnya!" seru Laurrent dengan kesal.


"Berani sekali kau menyuruhku? Kau kan tadi lihat, pelayanku itu menabrakku, jadi jelas salah pelayan itu!"


"Hey, kenapa kalian jadi bertengkar!" Clara mencoba menjadi penengah di antar mereka berdua.


"Aku tidak mau tau, ambil cincinnya sekarang juga!" perintah Laurrent.


"Iya, Lecya. Hanya menyelam ke dasar kolam renang untuk mengambil cincin tidaklah susah bukan? cincinnya kan memang terjatuh ke dalam kolam renang, bukan sengaja disembunyinyan, jadi pasti ketemu," sindir Alana.


Mendengar perkataan Alana, kedua mata Lecya teralihkan ke arahnya, menatap wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu dengan penuh amarah.


"Kau dari tadi banyak bicara!" Lecya berjalan dengan penuh rasa kesal mendekati Alana, tangannya hendak meraih rambut Alana,   namun tiba-tiba Lecya berteriak tatkala Jesslyn datang dan terlebih dulu  menarik rambut wanita itu.


"Jangan berani macam-macam kau dengan Kakakku!" Jesslyn menarik kuat dan melilit rambut Lecya dengan tangannya hingga wanita itu meronta kesakitan.


"Jesslyn, jangan! Lepaskan dia!" perintah Alana. Namun Jesslyn tak menghiraukannya.


"Biarkan saja, Alana. Dia tadi mau menyakitimu!" seru Jesslyn.


"Jesslyn lepaskan!" bentakan Alana seketika mengubah niat Jesslyn.


"Tolong lepaskan... lepaskan! maafkan aku..." pinta Lecya.


"Kau mau kulepaskan?" tanya Jesslyn.


"I-iya,tolong  lepaskan..."


"Awas kau sampai berani lagi macam-macam dengan kakakku!" Jesslyn seketika melepaskan rambut Lecya dan mendorong ubuhnya dengan sangat keras. Membuat wanita itu hendak terjatuh, namun, Lecya berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.


Byurrrrr


"Shitttttt..." Lecya tak sanggup menjaga keseimbangan tubuhnya hingga membuat wanita itu terjatuh ke dalam kolam renang yang memiliki air dengan tingkat kedinginan luar biasa itu.


Suara deburan air di kolam renang menyita semua perhatian para tamu untuk melihatnya, termasuk Ken yang kala itu berada jauh dari jangkauan Alana. Mendengar suara deburan air, Ken seketika menghampirinya.


"Rasakan itu, rasakan!" seru Jesslyn sambil tertawa.


"Jesslyn!" Alana menarik tangan adik iparnya. "Jesslyn, kenapa kau mendorongnya?" seru Alana.


"Aku tidak mendorongnya, dia jatuh sendiri..." bantah Jesslyn.


"Alana!" teriakan suara khas Ken yang penuh amarah, membuat Alana menoleh ke arahnya. Ia melihat suaminya itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah dan menakutkan.


"Ken..."


 


 


 


 


.


.


.


.


.


.


..


.


.


.


.