My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Penuh sandiwara



Ken turun dari mobil. ia mengikuti Alana yang sedang berjalan mendahuluinya untuk masuk ke rumah sakit. sesekali Alana melirik ke belakang tepat ke arah suaminya tersebut.


"Aku sungguh tidak nyaman sekali," gumam Alana dalam hati. ia mempercepat langkah kakinya.


"Kenapa dia berjalan cepat sekali?" gumam Ken. ia juga ikut mempercepat langkah kakinya untuk mengikuti Alana, bahkan, terdengar sangat jelas suara gesekan dan benturan sepatu mereka seakan beradu di lantai rumah sakit itu. dan saat Alana mendengar suara sepatu Ken yang ikut  mempercepat langkah kakinya. Alana semakin mempercepat pula langkah kakinya.


"Sepertinya dia memang sengaja," gumam Ken dalam hati sembari mengernyitan dahinya.


"Kenapa kau tidak lari sekalian?" seru Ken dengan kesal. Alana langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Ken dengan menggigit bibir bawahnya.


"Ehm, apa kau berbicara denganku?" tanya Alana berpura - pura bodoh.


"Tidak! aku sedang bicara dengan tembok rumah sakit ini!" seru Ken. ia berjalan mendahului Alana dengan memasukan kedua tangannya di saku celanannya.


"Apa karna menikah denganku dia jadi gila seperti itu?" gerutu Alana dengan berjalan mengikuti Ken.


Alana dan Ken masuk ke dalam ruangan Holmes. di sana Holmes terlihat sedang menatap dinding - dinding langit ruangan itu dengan pandangan kosong. seolah laki - laki paru baya itu sedang memikirkan sesuatu.


"Daddy," suara Alana membuyarkan lamunan Holmes. ia pun menoleh ke asal suara itu.


"Alana, Ken." Holmes tersenyum. ia beranjak duduk dan Ken mencoba membantu mertuanya tersebut.


"Kenapa kalian ke mari?" tanya Holmes dengan bergantian memandang Ken dan juga Alana.


"Kami ke mari karna ingin menemui Daddy," jawab Alana dengan merapikan rambut Ayahnya yang sedikit berantakan.


"Maksud Daddy. kalian kan hari ini menikah, lalu, kenapa kalian bisa ke mari?" tanya Holmes dengan sedikit bingung.


"Kita sudah menikah tadi pagi, Paman. sekaligus melakukan resepsi. jadi acaranya selesai baru saja," timpal Ken.


"Jadi, kalian sudah resmi menikah?" tanya Holmes. Alana dan Ken mengiyakannya. kedua mata Holmes menatap Alana. ia membelai lembut pipi putrinya tersebut.


"Maafkan, Daddy, Nak." suara Holmes terdengar begitu berat.


"Minta Maaf untuk apa Daddy?" tanya Alana dengan kebingungan.


"Maafkan Daddy karna tidak bisa menyaksikan pernikahanmu, Daddy tidak bisa menikahkan anak perempuan  Daddy sendiri. rasanya Daddy sudah gagal menjadi Ayah. bahkan karna Daddy, kau tidak bisa melanjutkan pendidikanmu dan menderita seperti ini," ucap Holmes. kedua sudut matanya terlihat membasah.


"Daddy ini bicara apa? Daddy sama sekali tidak pernah gagal menjadi Ayah. justru Alana harusnya yang minta maaf karna belum bisa membalas jasa Daddy. Alana sangat berterimakasih karna Daddy, sudah membesarkan Alana sampai saat ini. setidaknya, dengan kehidupan kita yang sekarang ini, Alana bisa tau bagaimana kerasnya hidup, Alana jadi bisa merasakan bagaimana Daddy bersusah payah mencarikan uang untuk membahagiakan Alana." Alana  menahan keras air matanya agar tidak terjatuh di depan Ayahnya.


"Daddy sangat menyayangimu, Nak." Holmes memeluk Alana seraya mencium kedua pipinya secara bergantian.


"Alana juga sangat menyayangi Daddy," balas Alana dengan tersenyum dan mata yang berkaca - kaca.


"Nak Ken," panggil Holmes.


"Iya, Paman?" saut Ken. Holmes menatap Ken. lalu, ia kembali menatap Alana. ia menatap wajah putrinya itu dengan tatapan yang begitu dalam.


"Ken, apa kau tau, Nak? kebahagiaan seorang Ayah hanya ada pada putrinya. seorang anak perempuan  bagi Ayahnya adalah segala - galanya," tutur Holmes. Air mata yang sempat Alana tahan, tiba - tiba mengalir begitu saja saat mendengar kata - kata itu.


"Paman berusaha  mati - matian ingin memberikan Alana kebahagian, Paman tidak pernah membiarkannya terluka sedikitpun. sekarang, Paman sudah tidak bisa memberi Alana kebahagiaan lagi seperti dulu. waktu Alana masih kecil,  Paman selalu memiliki ketakutan sendiri di dalam hati Paman. Paman takut , ketika Alana sudah beranjak dewasa. Paman harus menyerahkan Alana kepada orang asing. dan ketakutan itu sekarang menjadi kenyataan, Paman takut jika Alana tidak mendapatkan cinta seperti Paman memberikan cinta kepadanya," Holmes menyeka air matanya yang membasahi wajahnya.


"Paman harap, kamu bisa menjaga putri Paman, memberi cinta yang tulus tanpa melukainya. karna seumur hidup Paman, Paman tidak pernah membuatnya terluka sedikitpun. Paman sangat mencintainya melebihi apapun, Nak. jika kau tidak bisa memberinya cinta seperti yang Paman berikan kepada Alana. tidak masalah. tapi, Paman mohon jangan pernah membuatnya terluka, jangan prnah menyakitinya," imbuh Holmes. ia menyeka kembali airmatanya yang semakin tak kuasa ia tahan.


"Daddy." Alana menangis dan menggeleng - gelengkan kepalanya. rasanya hati Alana begitu sesak saat ia mendengar setiap kata - kata yang terucap dari mulut Ayahnya. Ken pun memperhatikan Alana dengan begitu seksama. ia melihat air mata itu jatuh mengalir dengan sangat  deras membasahi ujung dagu istrinya tersebut.


"Paman tidak usah khawatir. Ken akan menjaga Alana, dia sudah mejadi tanggung jawab Ken sekarang," tutur Ken seraya menatap ke arah Alana. Alana pun membalas tatapan mata itu. hingga  membuat mereka berdua sejenak beradu pandang.


"Terimakasih banyak Nak." Holmes tersenyum begitu lega saat mendengarnya.


"Permisi," Dokter dan perawat terlihat masuk ke dalam ruangan Holmes.


"Nona Alana, apa bisa menunggu di luar saja? saya mau memeriksa Tuan Holmes," kata Dokter.


"Iya, Dok." Alana mengusap sisa - sisa air mata yang membasahi wajahnya. lalu, ia mengajak Ken untuk keluar dari ruangan itu.


Ken dan Alana duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu. Alana masih bersedih akan mengingat kata - kata Ayahnya tadi. bahkan air matanya masih menetes dengan jarang.


"Apa kau ada tissue?" tanya Alana tanpa melihat Ken.


"Mana ada? tissue di mobil," jawab Ken.


"Pakailah sweaterku ini," Ken melepas sweater yang ia kenakan dan memberikannya kepada Alana.


"Tidak apa - apa aku pakai?" tanya Alana. Ken mengiyakannya.


Alana mengusap air matanya dengan sweater yang di berikan oleh Ken tersebut. lalu, ia menutup rapat - rapat  hidungnya dengan sweater itu dan mengeluarkan ingusnya yang dari tadi naik turun dari tempatnya. Ken pun terkejut saat melihatnya.


"Heyyyyy, kenapa sweaterku kau buat untuk membuang ingusmu?" teriak Ken.


"Katanya tadi tidak apa - apa aku pakai," ucap Alana dengan wajah polosnya.


"Iya kau boleh memakainya tapi hanya untuk mengeringkan air matamu saja. tidak untuk membuang ingusmu!" seru Ken dengan kesal.


"Ya sudah, kalau aku tidak boleh memakainya, untuk apa kau tadi memberikannya kepadaku. ini ambilah, ambilah!" kata Alana dengan menyodorkan sweater itu kepada Ken.


"No ... Itu sudah kena ingusmu! kau sungguh jorok sekali. bawa sweater itu, dan nanti cuci sampai bersih!" seru Ken dengan menjauhkan tubuhnya dari Alana. Alana yang sempat bersedih kini malah menahan tawanya melihat tingkah suaminya yang ia rasa cukup konyol.


"Kenapa kau tertawa?" seru Ken.


"Siapa yang tertawa," bantah Alana.


 


***


Kedua mata Ken memperhatikan sekitar seakan sedang mencari sesuatu.


"Apa di sini tidak ada air minum?" tanya Ken dengan menelan ludahnya yang mengering di tenggorokan.


"Tidak ada, apa kau haus?" tanya Alana.


"Tunggulah di sini, aku akan membelikanmu minum untukmu," kata Alana.


"Tidak usah. biar aku saja yang membelinya. kau saja yang tunggu di sini," perintah Ken.


"Biar aku saja!" Alana langsung beranjak berdiri dan cepat - cepat pergi meninggalkan Ken.


"Dia itu sungguh aneh," gumam Ken dalam hati seraya memperhatikan Alana yang berjalan semakin menjauh.


Alana berjalan keluar menuju ke kantin rumah sakit. ia membeli dua air mineral kemasan botol. kemudian, ia pergi dari kantin itu, hendak kembali lagi ke ruangan Ayahnya.


"Alana ..." Suara seseorang tiba - tiba menghentikan langkah kaki Alana. Alana seketika menoleh ke asal suara tersebut. ia melihat dua orang wanita yang tak asing di kedua matanya sedang berjalan menghampirinya.


kedua wanita itu tak lain ialah Lecya dan juga Ibu Darrel yang bernama Hellena. iya Hellena. teman Merry waktu SMA dulu. wanita yang pernah menyukai Gio.


"Alana, kau sedang apa di sini?" tanya Lecya dengan senyuman manisnya. bahkan ia hendak memeluk Alana. namun Alana langsung mendorong tubuh Lecya.


"Alana, kenapa kau mendorongku?" tanya Lecya seakan teraniaya.


"Alana, Mama sudah lama tidak bertemu denganmu, tapi kenapa kau semakin liar begini? bahkan kau sampai mendorong sahabatmu sendiri," seru Hellena. dulu Hellena dan Alana sangatlah dekat. jadi tak heran, ia membiasakan Alana agar memanggilnya dengan sebutan Mama seperti Darrel.


"Sahabat? siapa yang anda maksud?" Alana tertawa mentah.


"Lecya, Nyonya Hellena. mohon maaf sekali, aku tidak punya banyak waktu untuk bermain drama dengan kalian," celetuk Alana seraya hendak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat yang ia pijak saat itu.


"Alana tunggu!" Hellena menarik tangan Alana.


"Ada apa lagi, Nyonya?" tanya Hellena.


"Minggu depan, Darrel dan Lecya akan menikah. Mama harap kamu bisa mengikhlaskan dan melupakan Darrel," tutur Hellena sembari menyentuh lembut pipi Alana.


"Dan Mama minta. kamu jangan pernah mengganggu kehidupan mereka berdua, ya, sayang," imbuh Hellena. Alana sejenak mencerna kata - kata Hellena. lalu, ia pun tersenyum kepada wanita itu.


"Untuk apa melupakan seseorang yang sudah lama aku hilangkan dari ingatanku, Nyonya Hellena?


 dulu, ketika aku masih kecil. jika barang - barang kesayanganku di rusak atau di rebut oleh temanku. aku selalu membuangnya dengan sangat ikhlas. karna, Daddy selalu mengajarkanku akan hal itu." ujar Alana


"Kata anda  tadi aku tidak boleh mengganggu? berarti, aku boleh merusak?" tanya Alana dengan tersenyum sinis.


"Alana!" teriak Hellena.


"Nyonya Hellena yang terhormat! kau sedang berteriak di depan putri Holmes Louis. orang yang pernah membantu perusahaan suamimu yang sudah bangkrut! apa kau lupa itu?"


"Bukan hal yang mengejutkan, kau memang sudah tua jadi pantas saja jika kau sudah lupa," celetuk Alana. ia pun berlalu pergi meninggalkan Lecya dan juga Hellena. Hellena geram akan kata - kata Alana. rasanya ia ingin sekali memaki - maki perempuan itu. namun Lecya menahan calon mertuanya tersebut.


Alana berjalan kembali ke ruangan Ayahnya untuk menemui Ken. tubuhnya pun gemetaran. ia sebenarnya tidak berani mengatakan hal seperti itu. namun, entah angin apa yang merasukinya. hingga membuat dirinya berani berkata kurang ajar dan tidak sopan  di depan orang tua.


"Ya Tuhan, apa karna aku menikah dengan Ken, aku jadi ikut - ikutan jahat seperti ini?" gumam Alana dalam hati dengan tubuh yang masih menggigil gemetar.


***


Ken terlihat masih duduk di posisi semula. ia menatap tajam Alana yang sedang berjalan menghampirinya.


"Beli minum saja lama!" tegur Ken.


"Cerewet sekali. ini minumlah," Alana menyodorkan air mineral yang baru saja ia buka segel tutup botolnya kepada Ken. Ken sejenak memperhatikan minuman itu.


"Apa kau mencampurkan sesuatu di dalam minuman ini?" tanya Ken dengan menatap curiga kepada Alana.


"Hanya sedikit racun," saut Alana. Ken langsung melototkan kedua matanya.


"Jelas - jelas kau lihat sendiri aku membuka segel penutup botolnya. jadi mana mungkin aku mencampurkan sesuatu di dalamnya!" ketus Alana dengan kesal. seketika itu, Ken pun langsung meneguk minuman itu hingga habis.


 


 


 


.


.


.


.


.


.


.


.


 


 


 


 


 


jangan lupa dukungan like dan votenya ya sayangkuh wkwkwk. maaf gak bisa balas komentar kalian satu persatu. Xoxo