My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Tak sadarkan diri



Ken melangkahkan kakinya semakin mendekati Alana, hingga kini tubuh Alana terhimpit di lemari rak buku.


"Tu-tuan Ken, ka-u mau apa?" tanya Alana dengan ketakutan.


"Sebenarnya, apa tujuanmu datang di keluargaku?" tanya Ken.


"Aku? aku tidak memiliki tujuan apapun, Tuan." Alana mengiggit bibir bawahnya dengan takut. wajahnya tiba - tiba terlihat begitu memucat.


"Kau pasti ingin merencanakan sesuatu hal buruk kepada keluargaku iya, kan?" seru Ken.


"Tidak, Tuan Ken. aku sama sekali tidak merencanakan hal buruk apapun kepada keluargamu," bantah Alana.


"Kalau kau memang tidak memiliki rencana buruk, mulai sekarang jauhi adikku dan jangan pernah mendekatinya lagi," seru Ken dengan penuh penekanan. Alana langsung bersedih mendengar perkataan Ken.


"Aku sungguh tidak tau, kenapa kau begitu membenciku?" tanya Alana dengan tatapan sendunya.


"Karna dirimu, adik - adikku jadi melawanku," ucap Ken ia begitu geram saat berada di hadapan Alana.


"Baiklah, kalau itu memang maumu, setelah ini aku akan pergi menjauh dari keluargamu. tapi, perlu kau tau, aku sama sekali tidak ada niat buruk kepada Jesslyn. aku hanya ingin berteman dengannya saja," tutur Alana. Ken pun hanya diam saja, ia berbalik badan dan kembali ke kursi tempat di mana dirinya membaca buku tadi.


"Tuan Ken, lalu, bagaimana kita bisa keluar dari sini?" tanya Alana dengan memelas. namun, Ken hanya diam saja.


Semakin lama, Alana semakin kehausan. bahkan sudah hampir 2 jam lamanya Ken dan Alana berada di dalam sana, berulangkali Alana mendekati pintu dan mencoba membuka pintu tersebut, namun hasilnya juga sama. berteriak pun juga percuma.karna, ruangan itu jauh dari kamar siapapun, dan terlebih lagi ruangan itu juga sedikit kedap suara, jadi tak heran jika berteriak di dalam ruangan itu, tidak akan ada yang mendengarnya.


Kini, Alana terlihat masih mematung akan posisinya, ia menelan ludahnya karna rasa haus begitu melanda tenggorokannya. bahkan peluhnya berjatuhan di dahinya. wajahnya terlihat sangat memucat. saat itu ia benar - benar merasakan dehidrasi yang luar biasa.


"Ya Tuhan, aku sungguh tidak kuat, aku sangat haus sekali," gumam Alana, ia menelan ludahnya yang sudah mengering. bahkan napas yang ia buang terasa begitu panas. Alana hendak berpindah posisi untuk mencari tempat  duduk. namun, saat ia hendak melangkahkan kakinya, tiba - tiba kepalanya terasa begitu berat. dan matanya berkunang - kunang. hingga membuatnya harus berpegangan rak buku.


"Tuan Ken," panggil Alana dengan mengatur napasnya. Ken menoleh ke arah Alana dan menatap tajam wanita itu.


"Tuan--"


Brukk


tiba - tiba tubuh Alana tergeletak di lantai dan seketika itu, ia  langsung  tak sadarkan diri. bahkan, beberapa buku yang sangat tebal menimpa kepalanya hingga membuat bekas merah di dahi wanita itu. Ken, pun begitu terkesiap saat melihat Alana tersungkur di lantai. dirinya langsung menutup buku yang sedang ia baca. lalu, beranjak berdiri dan berjalan cepat menghampiri Alana.


"Kau kenapa? apa kau sedang berpura - pura?" tanya Ken dengan berdiri di samping tubuh Alana yang tergeletak di lantai. Ken yang tak mendapat respon dari Alana, ia pun duduk berjongkok dan mendekati wanita itu.


"Bangunlah, kau kenapa?" tanya Ken, lalu, ia menepuk - nepuk pipi Alana, ia pun memandangi raut wajah Alana yang begitu pucat. bahkan, terlihat sangat jelas sekali, bibir Alana memudar dari warna seharusnya.


"Dia benar - benar tidak sadarkan diri," gumam Ken dengan panik.


"Alana, bangunlah." ia menggoyang - goyangkan bahu Alana berharap wanita itu segera sadar, namun rasanya percuma.


Ken beranjak berdiri  dan mendekati pintu ruangan tersebut. ia menggedor kembali pintu dengan sangat keras berharap ada seseorang membukakannya dari luar.


"Shit, aku harus bagaimana ini?"  gumam Ken sembari memperhatikan Alana yang masih tak sadarkan diri. ia kembali mendekati Alana.


"Alana, tolong bangunlah," panggil Ken ia tak henti - hentinya menepuk - nepuk pipi wanita itu.


Ceklek,


tak lama kemudian, tiba - tiba pintu itu terbuka. seseorang terlihat berdiri di depan pintu itu.


"Kakak." Ken seketika langsung menoleh ke arah pintu. orang yang membuka pintu itu tak lain ialah Jasson.


"Jasson," Ken beranjak berdiri.


"Kau sedang apa, Kak.di sini? dan Alana?" tanya Jasson, ia begitu terkejut saat melihat Alana yang tergeletak di lantai dengan tidak sadarkan diri. ia menghampiri Alana dan juga kakaknya. Jasson melihat memar di dahi wanita tersebut.


"Kakak, kau apakan Alana? apa kakak habis menganiayanya?" tanya Jasson.


"Apa kau sudah gila? aku tidak melakukan apa - apa kepadanya. aku dan dia daritadi terkunci dari luar, dan dia tiba - tiba tidak sadarkan diri seperti ini," bantah Ken.


"Kalau begitu, ayo kita bawa Alana keluar," kata Jasson, ia hendak mengangkat tubuh Alana. namun, Ken menghentikannya.


"Biar Kakak saja," pinta Ken. Jasson pun menganggukan kepalanya. Ken mengangkat tubuh Alana keluar dari ruangan itu dan hendak menuju ke kamar Jesslyn. Jasson pun mengikuti langkah kakinya dari belakang.


"Jasson, bukakan pintu kamar Jesslyn," perintah Ken, ia begitu berat membawa tubuh Alana. Ken tak henti memperhatikan wajah wanita yang saat ini ada di rengkuhannya. sedangkan, Jasson  mencoba membuka pintu kamar saudari kembarnya tersebut. namun, pintu itu terkunci dari dalam.


"Kakak, pintunya di kunci," kata Jasson.


"Jesslyn, buka pintunya," Jasson mengetuk pintu kamar itu dan memanggil nama Jesslyn berkali - kali. namun, tidak ada sautan sama sekali dari dalam sana.


"Kakak, Jesslyn sepertinya sudah tidur," ujar Jasson. Ken berdecak kesal. tanpa berkata, Ken, berlalu dan membawa Alana ke kamarnya. Jasson pun mengikuti langkah kaki kakaknya tersebut.


Setibanya di kamar,


Ken tak segan meletakan tubuh Alana di atas tempat tidur miliknya. dan Jasson mendekati mereka berdua. kedua mata Jasson tak henti menatap Alana yang masih tak sadarkan diri.


"Kakak, kau benar - benar tidak menganiayanya, kan, Kak." Jasson menyipitkan kedua matanya dan menatap curiga Kakaknya tersebut.


"Kau jangan gila menuduh Kakak menyiksa seorang wanita! untuk apa aku menganiayanya?" bantah Ken dengan kesal.


"Ya, barangkali saja. karna, yang ku lihat. Kakak kan tidak menyukai Alana," seru Jasson.


"Kakak bersumpah, Kakak sama sekali tidak menganiayanya!" bantah Ken.


"Lalu, kenapa dahinya bisa memar seperti ini?" tanya Jasson.


"Tadi beberapa buku menjatuhi kepalanya, mungkin karna itu dahinya memar!" saut Ken.


"Kenapa Kakak dan Alana bisa terkunci di dalam ruang perpustakaan?" tanya Jasson.


"Kakak tidak tau!" Ken setengah berteriak karna kesal akan pertanyaan Jasson yang tidak ada habisnya.


"Aku ha-us," bibir Alana tiba - tiba berucap pelan. namun, kedua matanya masih terlihat  terpejam.


.


.


.


.


.


.


Astaga,


Episode ini aku update dari sore loh, tapi reviewnya lama banget. karna aku kasih foto.  sebenernya di episode ini aku ngasih foto castnya Alana. ini fotonya terpaksa aku hapus biar segera di review sama editor  :(