My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Berdamai dengan jiwa



Ken berpindah posisi tidur dengan memeluk Alana. sementara Alana sendiri sudah tertidur dengan pulasnya, seakan sudah tak mempedulikan apapun di sana.


"Cepat sekali dia tidur?" Ken memperhatikan wajah Alana dan mengusap dahinya, lalu, ia menggeleng kepala dan tersenyum di buatnya.


"lucu juga gadis bodoh ini." Ken hendak menggigit pipi Alana. namun ia urungkan, ia mengeratkan pelukannya dan ikut tertidur.


***


Keesokan paginya, Ken terlebih dulu terbangun, kedua matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari setiap cela yang ada di kamar villa itu. Ia masih melihat Alana tertidur dengan posisi memeluknya.


"Belum bangun juga?" Ken memperhatikan tubuh polos Alana yang masih terbalut dengan selimut. Ia memandangi wajah Alana kemudian mencium keningnya, Ken memeluk Alana dan tersenyum seakan ada sesuatu yang menyiratkan kebahagian di kedua mata laki - laki itu.


Ken beranjak bangun dan meraih sebuah cermin kecil di atas meja.


Ia memperhatikan pantulan bibirnya yang terluka akibat gigitan Alana. kemudian, ia memperhatikan tubuhnya yang banyak sekali goresan merah akibat cakaran kuku Alana.


"Apa memang harus begini?" Ken menyentuh setiap luka itu.


"Dia sungguh benar - benar liar sekali." Ken mendesis pedih akan luka yang menggores di tubuhnya itu.


"Siapa yang liar?" tiba - tiba suara Alana menyaut hingga membuat laki - laki itu terkejut. Ken menoleh dan melihat istrinya itu melototkan kedua matanya seakan hendak menerkamnya hidup - hidup.


"Bukan siapa-siapa. Kenapa kau sudah bangun?" tanya Ken.


"Kenapa memangnya? Kau mau aku tidur selamanya?" seru Alana seraya beranjak dari tidurnya.


"Apa kau tidak bisa berbicara pelan sedikit? sakit telingaku!" ujar Ken.


"Siapa yang kau maksud liar? Aku?" tanya Alana seraya memegang erat selimut yang masih membaluti tubuhnya.


"Sudah tau masih bertanya!" seru Ken.


"Kenapa kau mengataiku liar? aku liar apanya?" tanya Alana.


"Lihatlah, tubuhku banyak sekali bekas cakaranmu. seperti macan saja," gerutu Ken. Alana terkekeh di buatnya.


"Tidak usah tertawa, tidak ada yang lucu!" seru Ken sembari mengusap kasar wajah Alana.


"Menyebalkan," gerutu Alana.


"Ken, aku lapar," ucap Alana dengan memelas. bahkan bunyi suara perutnya terdengar hingga ke telinga Ken.


"Bangun tidur lapar. mandilah dulu sana," perintah Ken.


"Baiklah." Alana melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya dan hendak beranjak turun dari tempat tidur. namun, ia mendesis akan rasa nyeri yang ia rasakan.


"Kenapa?" tanya Ken yang tak lepas memperhatikan Alana.


"Tidak apa - apa," jawab Alana dengan melebarkan senyumnya.


"Huh, sakit sekali," gumam Alana. Ia berlalu meninggalkan Ken dan perlahan - lahan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Ken mengenakan pakaiannya dan mandi di kamar mandi yang letaknya ada di dekat dapur Villa itu.


***


Alana dan Ken hendak sarapan di balkon atas villa itu. Alana berdiri di dekat pembatas balkon, kedua matanya menyapu keindahan pegunungan dari atas sana. demi apapun, suasana itu sangatlah di gemari oleh Alana. bau tanah akan aliran air dari pegunungan begitu menenangkannya dan seakan berdamai dengan jiwanya.


"Ken, pemandangannya sangat indah sekali." Alana menghirup dalam - dalam bau alam yang ia rasa layaknya surgawi itu.


"Katanya kau lapar, ayo cepat kemari dan makanlah." Ken menarik tangan Alana dan mengajaknya duduk di meja yang sudah di siapkan begitu banyak makanan di sana.


Alana duduk berhadapan dengan Ken, ia memperhatikan Ken yang sedang melingkis lengan bajunya. karna, saat itu, Ken mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam.


"Kenapa aku bisa senyaman ini ya dengan Ken? bahkan dengan Darrel saja aku tidak senyaman ini. padahal ucapan Ken sangat kasar berbeda sekali dengan Darrel. dan semalam? Aku tau Ken tidak menyukaiku, tapi?" Alana tak berkedip memperhatikan Ken. Ken sedari tadi pun tau kalau Alana sedang memperhatikannya.


"Ada apa kau melihatku seperti itu?" tegur Ken.


"Tidak, siapa juga yang melihatmu." Alana mengalihkan pandangannya. ia mulai mengambilkan makanan untuk Ken dan juga dirinya sendiri.


Alana dan Ken mulai menyantap sarapan mereka. angin pagi itu menari - nari di sana, hingga membuat rambut Alana yang tergerai panjang itu menjadi sedikit berantakan.


Ken mengunyah makanannya perlahan - lahan sembari memperhatikan Alana yang sedang makan dengan begitu lahapnya.


"Kau sudah berapa kali bepacaran?" tanya Ken.


"Hanya satu kali saja, " jawab alana yang masih asyik mengunyah makanannya.


"Berarti dia cinta pertamamu?" tanya Ken.


"Emm, entahlah, bisa jadi," saut Alana.


"Apa kau masih mencintai mantan kekasihmu itu?" pertanyaan Ken tiba - tiba terlontar begitu saja. bahkan ia sendiri tak sadar sedang bertanya seperti itu terhadap Alana.


Seketika itu, Alana menghentikan aktivitas makannya. ia meletakan sendok garpu dan menelan sisa - sisa makanannya yang masih menyangkut di dalam mulutnya.


"Mana mungkin aku mencintainya? aku tidak mencintainya," jawab Alana.


"Biasanya cinta pertama sangatlah sulit untuk di lupakan," ucap Ken.


"Tapi aku sudah benar - benar melupakannya. bahkan, saat dia memutuskan hubungan denganku. aku biasa - biasa saja," ucap Alana dengan santainya.


"Kenapa bisa begitu? dan bagaimana kau bisa memiliki hubungan dengan laki - laki tak bertulang itu?" tanya Ken.


"Paman Henry, Ayahnya Darrel itu rekan baik, Daddy. tapi itu dulu! dulu aaat ada jamuan makan malam, Daddy memperkenalkanku dengan Darrel. semenjak itu, Darrel selalu mendekatiku, dia berkunjung ke rumahku setiap hari bahkan menjemputku di sekolah dan di kampus. dia mengungkapkan perasaan kepadaku tapi aku menolaknya berkali - kali. karna aku tidak ingin menjalin hubungan dengan laiki - laki. aku senang dengan kehidupanku yang hanya di isi oleh sahabat - sahabatku. Karna aku berpikiran kalau aku memiliki kekasih pasti akan merusak persahabatanku nanti."


"Ternyata Darrel berbeda, dia bisa menerima diriku yang suka berpergian dan bersenang - senang dengan sahabat - sahabatku. aku merasa kasihan dengan nya, jadi terpaksa aku mau menjalin hubungan dengannya. Darrel sangat baik. dia selalu menjaga jarak denganku, kita seperti bukan seorang kekasih justru malah seperti seorang teman. bahkan Bibi Hellena menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. tapi itu dulu." Alana tersenyum dan melanjutkan kembali makannya.


"Lalu, dia dan sahabatmu mengkhianatimu?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya dan tersenyum seoalah ia baik - baik saja.


"Ayo, Ken lanjutkan makanmu!" perintah Alana.


"Hem." Ken mengiyakannya. Ia melanjutkan kembali sarapannya dan sesekali, ia tak henti memandangi Alana.


***


Seusai sarapan, Ken mengajak Alana jalan - jalan di sekitar villa itu. Ken memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak begitu bahagia.


"Dia benar - benar menyukai suasana seperti ini." Ken menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman di sana.


Ken dan Alana berjalan - jalan hingga sore hari. Mereka mengobrol, bercanda dan diakhiri dengan adu mulut dan terus seperti itu. rasanya hal itu sudah wajar dan menjadi perekat di antara hubungan mereka.


meskipun tidak seromantis pasangan suami istri lainnya, namun, rasanya begitu menggemaskan akan tingkah konyol mereka. seakan ada kesenangan sendiri saat melihat mereka berdua. Di sana mereka benar - benar menghabiskan waktu tanpa ada yang mengganggu mereka berdua.


Burung - burung hendak kembali ke sangkarnya. menandakan bahwa petang akan segera datang.


Kedua mata Ken melirik ke arah jarum jam yang melekat di pergelangan tangannya.


"Sudah sore, ayo kita kembali," ajak Ken seraya mengulurjan tangannya kepada Alana. Alana mengiyakannya. dan saat hendak kembali, Alana melihat sunset yang membentang di langit sana.


"Tunggu dulu, Ken. tolong fotokan aku, sunset nya mulai terlihat," pinta Alana.


"Mana ponselmu?" tanya Ken.


"Pakai ponselmu dulu." Alana memundurkan langkah kakinya untuk mencari view yang tepat. ia berdiri di samping pohon tua yang akarnya terlihat timbul hingga ke permukaan tanah.


"Hati - hati jangan terlalu ke belakang, karna di bawah itu jurang!" tutur Ken. Alana mengiyakannya. Ken mengambil ponsel miliknya yang terselip di saku celananya.


Lalu, ia memfokuskan ponsel tersebut untuk memotret Alana. bahkan berulang - ulang kali.


"Apa sudah, Ken?" tanya Alana.


"Sudah."


Alana dengan girangnya hendak menghampiri Ken, namun, kakinya tiba - tiba terlilit akar pohon hingga membuat dirinya hendak terjatuh.


"Alana." Ken berteriak dan dengan cepat menarik tubuh Alana.


"Aku bilang hati - hati! Kenapa kau begitu ceroboh sekali!" Ken berteriak dengan tidak sadarnya.


"Maaf, Ken. kakikku terlilit akar pohon ini," ucap Alana.


"Kenapa tidak bisa berhati - hati? Kalau kau jatuh ke bawah bagaimana?" teriak Ken. Alana hanya diam saja dan menatap Ken dengan heran.


"Maaf."


"Kenapa dia sebegitu marahnya?" Alana memperhatikan Ken yang sedang berjalan menggandengnya untuk kembali menuju ke villa.


***


Ken dan Alana kembali ke Villa. Mereka berdua membersihkan tubuhnya. Kemudian makan malam bersama. seusai makan malam, Ken kembali ke kamar dan di ikuti oleh Alana dari belakang.


Ken menyelonjorkan kakinya dan bersandar di atas tempat tidur. Alana pun ikut menghampirinya.


"Ken, mana ponselmu? aku mau melihat potretku bersama sunset tadi," pinta Alana. Ken memberikan ponselnya kepada Alana. Alana mulai menyentuh ponsel itu dan membuka gallery photo.


Ia melihat satu persatu potret dirinya saat bersama sunset tadi.


"Uhh cantiknya." Alana memuji potret dirinya sendiri.


"Dasar gila, bagaimana bisa ada orang yang memuji dirinya sendiri." Ken menggerutu dengan tidak jelas.


"Arghh... " Ken berteriak saat Alana tiba - tiba menggigit lengannya.


"Kenapa kau menggigitku?" seru Ken seraya memegangi lengannya yang terlihat bekas gigitan Alana di sana.


"Salah siapa kau mengataiku gila?" Alana meletakan kedua tangan di pinggangnya dengan kesal.


"Siapa yang mengataimu gila?" Ken menyangkal.


"Kau pikir pendengaranku sudah tidak berfungsi lagi? jelas - jelas kau mengataiku gila," seru Alana.


"Aku tidak mengataimu, sudah lanjutkan sana melihat fotomu. aku mau ke kamar mandi." Ken beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dan saat Alana melihat Ken masuk ke dalam kamar mandi, senyuman usil tiba - tiba menyeringai wajahnya.


Ia memilih salah satu potret dirinya dan menjadikannya sebagai wallpaper di beranda ponsel milik Ken. Alana terkekeh begitu usil. Ia melirik ke arah kamar mandi. Memastikan bahwa suaminya belum keluar dari sana.


"Sepertinya, Ken, masih lama." Alana tersenyum. ia mencoba membuka semua history pesan yang ada di ponsel milik suaminya tersebut.


"Kenapa history pesan singkatnya hanya laki - laki semua?" gumam Alana. Ia berpindah ke kontak telpon suaminya tersebut.


Ia mulai menggulir satu persatu nama yang ada di kontak itu. namun, yang ia temukan kebanyakan hanya kontak ponsel teman laki - lakinya saja.


"Bibi Carrol."


"Bibi Evelyn."


"Jesslyn."


"Mama Merry."


"Nomerku."


"Hanya ini saja kontak wanitanya?" gumam Alana. ia menggulir kembali hingga ke bawah dan guliran terakhir berhenti tepat di nama Valerie.


"Valerie?" Alana membaca nama itu dengan rasa yang sedikit was - was.


"Aku lupa menanyakan kepada Ken. siapa itu Valerie. aku benar - benar penasaran."


Tak lama kemudian, Ken terlihat keluar dari kamar mandi. Alana begitu panik dan mengembalikan ponsel itu ke tampilan beranda.


"Kau sedang apa?" tanya Ken curiga.


"Ti-tidak."


"Ini ponselmu." Alana mengembalikan ponsel itu kepada Ken. Dan Ken menyautnya. ia merebahkan tubuhnya di samping Alana dan seketika itu, Alana membelakangi Ken dan menahan tawanya.


Ken melihat ponsel miliknya. Kedua matanya di buat terkejut saat melihat wallpaper ponselnya berubah menjadi wallpaper foto Alana. Ken menahan senyumnya dan melirik ke arah Alana. Ken meletakan ponsel miliknya di atas meja. lalu, ia memeluk Alana dari belakang dan menyibakan rambut istrinya itu.


"Sepertinya kau memang sengaja ingin menggodaku," bisik Ken seraya mencium leher Alana hingga membuat Alana terkejut.


"Me-menggoda apa, Ken." Alana mencoba menjauhkan tubuhnya. Namun Ken menahannya.


"Kau mengganti wallpaper ponselku, untuk apa kalau tidak ingin menggodaku?" ucap Ken.


"Ti-tidak, aku hanya ganti wallpapernya saja. Dan aku tidak bermaksud menggodamu, Ken. percayalah." wajah Alana memucat di buatnya.


"Aku tidak percaya." Ken mengangkat dagu Alana dan melumat lembut bibir itu. Ia kembali menghabiskan malam yang begitu panjang bersama Alana.


***


Alana tidak tertidur bisa tidur. sementara Ken baru saja memejamkan kedua matanya karna kelelahan.


"Ken, apa kau sudah tidur?" tanya Alana. kedua mata Ken terbuka.


"Belum!" jawab Ken. bahkan suaranya masih berperang dengan napasnya yang masih naik turun.


"Tidurlah, kenapa kau tidak tidur?" tanya Ken.


"Aku tidak bisa tidur, Ken." Alana melingkarkan tangannya di dada Ken yang masih di lumuri keringat itu.


"Kenapa? Ayo tidurlah." Ken memeluk Alana dan memejamkan matanya. Alana memperhatikan Ken dengan jarak begitu dekat.


"Ken?" panggil Alana kembali.


"Ada apa lagi? Cepat tidur!" perintah Ken tanpa membuka matanya.


"Ken, siapa Valerie itu?" pertanyaan Alana membuat kedua mata Ken terbuka dengan cepat. Ia sejenak diam dan menatap kedua mata Alana.


"Bukan siapa - siapa. cepat tidurlah!" perintah Ken. Ia hendak mengeratkan pelukan Alana. namun, Alana menepisnya.


"Lepaskan aku, Ken! aku tidak mau tidur sebelum kau memberitahuku siapa Valerie itu? apa dia kekasihmu?" tanya Alana. rasanya dada Alana tiba - tiba sesak saat mendengar jawaban Ken yang membuatnya tak puas. Ken hanya diam.


"Bicaralah, apa kau masih memiliki hubungan dengan dia?" imbuh Alana.


"Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun kecuali dirimu! dia bukan siapa - siapaku! aku tidak pernah memiliki seorang kekasih. Kau mengerti!" seru Ken dengan penuh penekanan. Alana terdiam, entah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Jangan bertanya hal ini lagi, ayo cepat tidurlah!" suara Ken melunak. Ia menarik kembali tubuh Alana dan mendekapnya. Alana masih belum puas akan jawaban Ken. namun, ia mencoba menangkan dirinya dan memejamkan kedua matanya.


Ken menatap kosong ke sembarang arah sembari mengingat kembali pertanyaan Alana akan Valerie. ia mengeratkan pelukannya kepada Alana dan meciumnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nona turut berduka atas musibah bencana banjir yang melanda daerah jabodetabek dan sekitarnya.


semoga kakak-kakak yang tinggal di daerah jabodetabek maupun sekitarnya.


selalu di beri kesehatan dan keselamatan di manapun kalian berada. semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan...


.


.


.


.


.