My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Pindah rumah



Dan saat menjelang malam, Alana masih di rumah sakit. Ia duduk termenung di dalam ruangan Ayahnya. rasanya ia masih terganggu akan pertemuannya dengan Darrel tadi. sementara di sana Holmes terlihat sedang tidur dengan begitu pulasnya. Karna pengaruh obat yang di berikan oleh dokter.


"Aku sangat membenci mereka semua." Alana memejamkan kedua matanya.


"Siapa yang kau benci?" suara laki - laki mengejutkan Alana. laki - laki itu tak lain ialah Ken.


"Ken?" Alana beranjak berdiri dan mendekati suaminya itu.


"Siapa yang kau benci?" tanya Ken.


"Bukan siapa - siapa."


"Sedang apa kau di sini?" tanya Alana.


"Sedang jalan - jalan!" seru Ken. Ia kesal akan pertanyaan Alana yang ia rasa begitu konyol.


"Aku kemari ya karna mau menjemputmu, ayo pulang," ajak Ken dengan nada kesal. Alana tak percaya jika Ken menjemputnya. Alana mengiyakannya. dan mereka berdua pun pulang bersama.


***


Di rumah, setelah makan malam. semua anggota keluarga Gio kembali ke kamarnya masing - masing. Begitu juga Ken. ia masuk ke dalam kamarnya dan di ikuti oleh Alana.


Ken merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Alana berdiri dan mematung di pintu kamar itu. kedua matanya menyorot kamar itu dengan kebingungan.


"Aku tidur di mana?" gumam Alana dalam hati. ia melirik ke arah sofa yang ada di dalam kamar itu.


"Aku tidur di sofa saja." Alana berjalan mendekati tempat tidur. Lalu, ia pelan - pelan mengambil satu bantal yang ada di samping suaminya itu.


"Mau kau bawa ke mana bantal itu?" tanya Ken dengan menatap tajam Alana.


"Ke sofa, aku akan tidur di sofa," jawab Alana dengan begitu gugupnya.


"Kenapa tidak sekalian tidur di lantai saja?" seru Ken dengan kesalnya.


"Ya sudah aku akan tidur di lantai," ucap Alana dengan polosnya. ia mengambil bantal itu namun Ken dengan kasar menyaut bantal yang di pegang oleh Alana.


"Tidur di sini!" perintah Ken. Ia meletakan bantal itu kembali ke tempatnya


"Memangnya aku boleh tidur di sini?" tanya Alana.


"Banyak bicara, cepat tidurlah! besok pagi kita bersiap - siap untuk pindah!" seru Ken.


"Pindah? pindah ke mana?" tanya Alana.


"Pindah ke rumah yang akan kita tempati nanti!" seru Ken.


"Kenapa cepat sekali? Tunggu Daddyku pulang saja, ya, Ken?" Alana begitu takut jika harus tinggal berdua dengan Ken. takut jika setiap hari akan kena makiannya. sementara, jika ada orang lain. dia masih sedikit aman. karna Ken masih bisa bersikap sedikit manis di depan Alana.


Ken hanya terdiam dan menajamkan kedua matanya menatap Alana. Alana sudah hafal akan tatapan mata itu. tatapan mata agar tidak membantah perintahnya.


"Ba-baiklah, terserah kau saja. besok kita pindah," ujar Alana dengan sedikit takut. ia pun pelan - pelan merebahkan tubuhnya di samping Ken. Ken melirik ke arah Alana. tiba - tiba ia tersenyum usil.


"Aku mau menagih, kata - katamu pagi tadi." kata Ken.


"Menagih? menagih apa?" tanya Alana dengan kebingungan akan kata - kata Ken. Ken mendekati Alana dan kini wajahnya tepat di atas istrinya tersebut. ia memperhatikan wajah istrinya dengan begitu seksama


"Bukannya kau tadi mau mengajakku bergelut?" bisik Ken. Alana membulatkan kedua matanya dan menelan ludahnya dengan kasar.


"A-aku tadi hanya bercanda." Alana hendak turun dari tempat tidurnya. namun Ken manahan tubuh Alana.


"Mau kemana kau?" Ken semakin menggoda wanita itu.


"A-aku tadi hanya bercanda, Ken. aku benar - benar bercanda," ujar Alana. keringat dingin mengguyur deras dahinya. ia berkali - kali menelan ludahnya.


"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" tanya Ken dengan menahan tawanya.


"A-aku--"


Ken langsung menjauhkan tubuhnya dari Alana.


"Gadis ini benar - benar bodoh!" gumam Ken seraya tidur membelakangi Alana.


"Dia tidak melakukan apa-apa? aku kira tadi dia akan--"


"Ya Tuhan. jantungku hampir saja meledak." Alana mengelap keringatnya dan memegangi dadanya yang masih berdetak tak karuan.


"Kenapa aku ini," Alana masih memegangi dadanya seraya memperhatikan Ken dari belakang. ia menarik selimut dan kini mereka berdua tidur dengan posisi saling bersingkuran.


***


Keesokan paginya, seusai sarapan. Merry menghampiri suaminya di kamar dengan membawakan secangkir kopi hitam di tangannya. ia pun mendudukan tubuhnya di samping suaminya yang sedang sibuk membaca koran.


"Gio, minumlah kopimu," perintah Merry sembari mengambil pemotong kuku yang ada di dekatnya.


"Terimakasih," Gio mengambil cangkir yang berisi kopi dan meminum sedikit kppi tersebut. lalu, ia kembali meletakan cangkir kopi itu kembali ke tempatnya.


"Sayang?" panggil Gio.


"Iya, Gio. ada apa?" saut Merry.


"Sayang, putrinya Tuan Hilton (Ayahnya Lecya) hari jumat besok akan menikah  dan mereka mengundang keluarga kita," ujar Gio.


"Ya sudah, kita datang saja," saut Merry seraya sibuk memotong kukunya.


"Apa kau tau sayang? putrinya Tuan Hilton akan menikah dengan siapa?" tanya Gio. ia kembali meminum kopinya.


"Ya mana ku tau," saut Merry.


"Putrinya Tuan Hilton akan menikah dengan putranya Hellena," ucap Gio. Merry seketika menghentikan aktivitas memotong kukunya. ia meletekan pemotong kuku itu ke sembarang tempat.


"Yang kau maksud Hellena--"


"Iya, Hellena temanmu." Gio menukasnya.


"Aku tidak mau datang ke sana," seru Merry.


"Sayang, masalahya Tuan Hilton itu sudah lama menjadi  rekan bisnisku.  jadi tidak mungkin kalau kita tidak datang," ucap Gio.


"Sayang--"


"Kau sepertinya ingin sekali bertemu dengan Hellena?" tukas Merry. ia melirikan kedua matanya dengan begitu kesal.


"Astaga, bukan seperti itu sayang. masalahnya kan kita di undang satu keluarga, jadi kita harus datang. nanti kita akan mengajak Ken dan Alana. lupakan masalah Hellena," tutur Gio. Merry terdiam sejenak.


"Sayang?"


"Baiklah, kita akan datang," ucap Merry dengan terpaksa.


"Ma, Pa." Ken dan Alana terlihat masuk ke dalam kamar orang tuanya dengan membawa dua koper di tangan mereka masing - masing.


"Ken, Alana. kalian jadi pindah hari ini?" tanya Merry. ia beranjak berdiri dan menghampiri anak dan juga menantunya tersebut. begitu juga dengan Gio.


"Iya, Ma. Ken dan Alana mau pamit." Ken bergantian melihat Papa dan juga Mamanya.


"Kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi?" tanya Gio.


"Iya kenapa harus secepat ini. Sayang?" timpal Merry.


"Entahlah, Ma. Alana juga tidak tau," saut Alana dengan sedikit kesal akan suaminya. Ken melirikan kedua matanya dengan tajam kepada Alana. Alana langsung membungkam mulutnya seketika.


"Ken hanya mau mendidik Alana biar lebih cepat mandiri saja, Ma, Pa. biar dia tidak manja." Ken menimpalinya. Alana hendak menyautinya. namun, Ken terlebih dulu melototkan kedua matanya agar Alana tidak ikut berbicara.


"Sialan, manja apanya? memangnya kapan aku manja dengannya. ingin sekali ku remmas mulutnya itu." Alana menggerutu kesal dalam hati.


"Ya sudah terserah kalian saja," ujar Gio.


Merry menggandeng Alana untuk mengantarnya ke halaman rumah. saat Ken hendak menyusulnya tiba - tiba Gio memanggilnya.


"Ken? " panggil Gio.


"Iya, Pa?" saut Ken.


"Putrinya Tuan Hilton akan menikah hari jumat besok. keluarga kita diundang. jadi, ajaklah Alana. kita datang bersama - sama di pernikahan putrinya Tuan Hilton," ujar Gio.


"Baiklah, Pa."


Gio pun merangkul anak sulungnya tersebut untuk mengantarkan kepergiannya di halaman rumah.


Dan saat Alana dan juga Ken sibuk memasukan koper mereka ke dalam bagasi. tiba - tiba Jesslyn memeluk kakaknya dari belakang.


"Jesslyn?" Ken pun berbalik badan memeluk adiknya tersebut.


"Kakak dan Alana tidak boleh pergi dari rumah. tidak boleh," Jesslyn merengek dengan manjanya. Ken melepaskan pelukannya dan mengusap dahi adiknya yang tertutup rambut.


"Sayang, kan Kakak dan Alana tinggalnya di dekat sini, kita nanti bisa bertemu setiap hari," tutur Ken


"Apa Jesslyn boleh ikut dengan kalian?" tanya Jesslyn dengan penuh jarap. Kefua matanya menatap Ken dan Alana secara bergantian.


"Tidak boleh!" seru Ken.


"Kenapa, Kak?" tanya Jesslyn.


"Kau bisa menginap setiap weekend di rumah Kakak. tapi Kakak tidak akan mengizinkanmu meninggalkan Mama sendirian di rumah." Ken mencium kening adiknya dan memeluknya kembali.


"Alana?" panggil Jesslyn. Alana langsung memeluk tubuh Jesslyn.


"Kita bisa bertemu setiap hari, aku akan berkunjung kemari menemuimu dan Mama," bujuk Alana.


"Benarkah itu?" tanya Jesslyn. Alana menganggukan kepalanya. Merry pun terlihat begitu senang melihat kedua putrinya.


"Kedua anak perempuan Mama, kemarilah." Merry memeluk kedua putrinya tersebut. Pelukan hangat dari seorang Ibu, Alana rasakan kembali. ia merasa beruntung bisa memiliki mertua seperti Mama Merry.


Lalu, Ken dan Alana berpamitan kepada keluarganya tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Ken melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah keluarganya itu. Bahkan lambaian tangan Jesslym masih terlihat dari balik spion mobil tersebut.


Selama di perjalanan. Ken dan Alana hanya berdiam diri. Kedua mata Alana tak asing akan jalanan yang di lewatinya saat ini.


"Ken, memangnya rumah yang akan kita tempati lokasinya di mana?" tanya Alana. namun, Ken hanya diam saja dan memfokuskan kedua matanya untuk mengendarai mobilnya tersebut. Alana hanya menghela napasnya dengan kesal.


"Aku sangat merindukan jalanan ini, jalanan menuju ke rumah yang dulu," gumam Alana dalam hati. Kedua matanya tak henti memperhatikan setiap jengkal jalanan itu.


Tak lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah. Rumah itu tak asing di kedua mata Alana. Iya benar, yang saat ini ia pijaki tak lain ialah rumah lama milik keluarga Alana yang pernah Alana jual. Namun, yang membedakan rumah itu hanya lah warna cat barunya. Jadi rumah itu terlihat seperti rumah baru.


"Ken, rumah ini?" tanya Alana dengan menatap Ken.


"Cepat turunlah!" tukas Ken. Ia terlebih dulu turun dari mobil dan mendekati pintu rumah, dan ia membuka pintu itu dengan menggunakan kunci yang baru saja ia ambil dari saku celananya. Ia pun mengajak Alana masuk. Dan Alana berjalan masuk menghampiri suaminya tersebut. Kedua mata Alana memandangi setiap sudut rumah itu.


"Ken?" panggil Alana.


"Kita akan tinggal di sini," ujar Ken. Alana seakan tak percaya. Ia menatap Ken. Kedua matanya terlihat berkaca - kaca.


"Benarkah, Kita akan tinggal di sini?" tanya Alana.


"Hem," Ken mengiyakannya.


Alana tersenyum. Dan tiba - tiba langsung memeluk tubuh Ken dengan erat seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut. sangking begitu terharunya. Air mata Alana mengalir membasahi kaos yang digunakan oleh Ken.


"Terimakasih banyak, Ken." Alana semakin mengeratkan pelukannya.


"Berani sekali dia memeluk - melukku seperti ini?" gumam Ken dalam hati. Namun, heran nya ia masih tetap membiarkan Alana memeluknya.


.


.


.


.


.


.