
Ken masih terkesiap mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Jesslyn. ia kembali mengingat waktu di rumah sakit. bukankah, nama ayahnya Alana dengan pemilik celouis company yang sempat di katakan oleh Papanya, itu sama? Holmes? iya ... itu yang ada di pikiran Ken saat ini.
"Kau tau dari mana?" tanya Ken.
"Aku menanyakannya sendiri kepada Alana, Kak. dan Alana membenarkannya. tapi--"
"Tapi, apa?" tanya Ken.
"Perusahaan keluarganya Alana, masih terlilit hutang, Kak. kalau dalam jangka waktu bulan ini Ayahnya tidak melunasi sisa hutangnya. Perusahaan itu akan di sita selamanya dan di wewenangkan kepada negara," tutur Jesslyn. Ken terdiam sejenak.
"Uang Kakak kan banyak. bagaimana kalau Kakak membantu melunasi sisa hutang Daddy-nya Alana, dan--"
"Dan, apa?" tanya Ken dengan curiga.
"Kakak menikahi Alana." Jesslyn tersenyum dengan penuh harap.
"Saranmu itu sungguh konyol! kakak akan melunasi hutang keluarganya jika ayahnya mau di ajak bekerja sama dengan perusahaan Papa. perusahaan Papa hanya membutuhkan mesin canggih saja untuk mengelola produksinya, tapi Kakak tidak akan mau jika harus menikahi temanmu itu!" seru Ken dengan penuh penekanan, bahkan ia memalingkan pandangannya dengan kesal.
"Kakak ... kalau Kakak, melunasi hutang Daddynya Alana. mungkin perusahaannya bisa beroperasi kembali. tapi, siapa yang akan menjalankan perusahaan itu? Kakak kan tau kalau Daddynya Alana sekarang sedang sakit. jadi tidak mungkin kan Daddynya Alana menjalankan perusahaan tersebut. dan kalau Kakak menikah dengan Alana, Kakak bisa menggantikan Daddynya sementara waktu untuk mengelola perusahaan itu, dan perusahaan Papa akan terselamatkan," tutur Jesslyn dengan penuh hasut. Ken terdiam dan mencerna perkataan Jesslyn.
"Kakak kan tau, bagaimana Papa. Papa tidak akan mau lagi menjalin kerja sama dengan Paman Afford. karna terlanjur sakit hati. ini bukan hanya permainan bisnis, Kak. Paman Afford memang sengaja memutuskan kerja sama, karna dia tau. kalau di Irlandia hanya perusahaannya saja yang memiliki mesin tercanggih. dan dia pasti berpikir dengan memutuskan kerja sama ini, Papa kita akan menyetujuhi permintaan Paman Afford agar menikahkan Kakak dengan Caleey. sekarang coba Kakak pikir! memangnya Kakak mau menjalin hubungan dengan keluarga licik seperti mereka? Terlebih lagi, jika Papa masih menjalin kerja sama dengan Paman Afford, jika suatu saat nanti ada masalah lagi. tidak mungkin kan, kalau Paman Afford tidak mengulangi hal yang sama? dia pasti akan mempermainkan Papa seperti ini lagi, Kak."
Ken semakin kacau dengan perkataan - perkataan Jesslyn yang ia dengar. dalam hati dan pikirannya, ia membenarkan apa yang adiknya ucapkan tersebut.
"Kakak tidak mau kan, kalau sampai perusahaan Papa terkena masalah?" sambung Jesslyn. ia melirik Kakaknya yang sedang berpikir keras seraya menahan senyuman akan hasutannya itu.
"Kembalilah ke kamarmu dan tidur sana ... Kakak sungguh pusing mendengarkan celotehanmu," perintah Ken.
"Baiklah, Jesslyn akan kembali ke kamar," ucap Jesslyn. ia beranjak berdiri. dan baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya. tiba - tiba, ia menghentikan langkah kakinya tersebut dan menoleh ke arah Kakaknya.
"Ada apa lagi?" tanya Ken.
"Pikirkan baik - baik, Kak. hanya Kakak yang bisa membantu Papa," ujar Jesslyn dengan penuh keyakinan. Ken hanya terdiam menatap adiknya itu. Jesslyn pun berlalu meninggalkan kamar Kakaknya tersebut.
Jesslyn masuk ke dalam kamar miliknya. lalu, perempuan itu mendudukan tubuhnya di samping Kimy yang sedang memegang sebuah boneka dan juga buku di tangannya.
"Bagaimana Jesslyn? apa kau sudah berbicara dengan Paman?" tanya Kimy.
"Aku belum memberi tau Papaku. aku hanya memberi tau Kakakku saja," jawab Jesslyn.
"Kenapa kau tidak memberitau Paman Gio?" tanya Kimy dengan heran.
"Aku akan memberitaunya nanti. setelah mendapat keputusan dari Kakak. aku akan membuat Alana menikah dengan Kakakku," ujar Jesslyn.
"What? apa aku tidak salah dengar?" tanya Kimy.
"Tidak!" jawab Jesslyn.
"Lalu, kalau Kak Ken setuju menikah dengan Alana untuk menyelamatkan perusahaan Paman. apa Alana juga mau menikah dengan Kak Ken?" tanya Kimy.
"Tentu saja, semuanya akan berjalan seperti yang aku inginkan. Jika satu burung jantan masuk ke dalam sangkar, tidak akan susah memasukan burung betina ke dalam sangkar yang sama," saut Jesslyn. ia merebahkan tubuhnya dengan tersenyum dengan penuh keyakinan.
"Jesslyn, kenapa rasanya kau ingin sekali menikahkan Kak Ken dengan Alana?" tanya Kimy dengan penasaran.
"Karna Alana perempuan baik. daripada harus melihat Kakakku menikah dengan Caleey, atau perempuan lain yang belum tentu tau baik atau tidaknya. lebih baik Kakakku menikah dengan Alana. yang sudah ku pastikan bahwa dia orang baik," seru Jesslyn.
"Aku juga baik kan Jesslyn? apa kau akan mendukungku juga dengan Jasson? apa kau akan membantuku menikah juga dengannya?" tanya Kimy dengan penuh harap. Jesslyn melirik tajam kepada Kimy.
"Hoamm, aku mengantuk." Jesslyn dengan menutup mulutnya yang terbuka lebar karna menguap.
"Jesslyn, kau belum menjawab pertanyaanku? ayo jawablah dulu!" ucap Kimy seraya menggoyang - goyangkan bahu Jesslyn.
"Apa kau bisa diam! aku sungguh mengantuk, jika kau berisik. ku pastikan kau akan tidur di luar," seru Jesslyn dengan melototkan kedua matanya. Kimy pun membungkam seketika.
"Baiklah, kau sungguh menyebalkan," Kimy menggerutu, ia meletakan buku yang ia pegang. lalu, ia menarik selimutnya dan tidur dengan memeluk boneka miliknya itu. Jesslyn pun menahan tawa melihat temannya tersebut.
***
Keesokan paginya, keluarga Gio sedang berkumpul menikmati sarapan pagi bersama. sementara Ken memperhatikan Papa Gio yang sedari tadi tak berbicara dan terlihat nampak begitu memikirkan sesuatu. Ken mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya seakan tak berselera. karna Ken tau betul bagaimana kebingungan yang Papanya hadapi saat ini.
Lalu, Gio terlihat mengambil beberapa lembar tissue dan mengelap mulutnya yang terkena sisa makanan. kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang, kenapa makanannya tidak di habiskan?" tanya Merry sembari melirik ke piring suaminya yang masih tersisa banyak makanan di sana.
"Aku sudah kenyang. aku berangkat dulu," pamit Gio seraya berlalu pergi dari sana. Merry pun menghela napas dengan perasaan yang bingung akan sikap suaminya tersebut. begitu juga ketiga anaknya. karna tidak seperti biasanya, Papanya bersikap seperti itu.
"Mama, Jasson pamit untuk latihan basket," pamit Jasson, Merry pun mengiyakannya. Jasson meneguk air putih dan berlalu meninggalkan meja makan tersebut. Kimy pun memperhatikan Jasson yang berjalan menjauh dari meja makan itu.
"Ada apa dengan orang - orang yang ada di rumah ini?" gumam Kimy dalam hati.
Lalu, saat Jesslyn selesai menghabiskan sarapannya. ia pamit kepada Merry untuk mengajak Kimy kembali ke kamar mengakhiri sarapannya. Merry pun mengiyakannya. dan kini hanya tersisa Merry dan Ken saja di meja makan tersebut. Ken pun juga ikut pamit kepada Merry untuk meninggalkan meja makan itu. Ken berlalu dari sana, dan saat Ken melihat Jesslyn hendak masuk ke dalam kamar. ia tak segan langsung memanggilnya.
"Jesslyn," panggil Ken. Jesslyn seketika itu menghentikan langkah kakinya. dan ia terlebih dulu menyuruh Kimy masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Jesslyn.
"Antar Kakak menemui Alana," pinta Ken.
.
.
.
.
.
.
Hallo semuanya, aku membuat halaman facebook bagi para pembaca setia semua karyaku. nanti kalau ada info tentang semua novelku aku akan infoin di sana, barangkali ada yang mau tanya - tanya bisa bebas tanyain di sana. kalian bisa cari di pencarian facebook dengan keyword.
"My Sweet Reader My Introvert Husband"
dan silahkan di ikuti :)
bagi kalian yang belum join grup whatsapp. kalian bisa klik link grup whatsapp di sana, jadi nanti bisa langsung terhubung.
saya ingatkan, namanya grup pasti sangat ramai. jadi kalau tidak mau terganggu, aku sarankan lebih baik tidak usah join ^_^