My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Penolakan



Seketika itu, Jesslyn keluar dari kamar mandi, ia pun melihat Mamanya sedang berdiri berhadap - hadapan dengan Alana.


"Mama," panggil Jesslyn. Merry pun menoleh ke arah Jesslyn. Jesslyn pun menghampiri Alana dan juga Mamanya.


"Sayang, apa dia teman kamu?" tanya Merry.


"Iya, Ma. dia Alana, teman Jesslyn yang sering Jesslyn ceritakan kepada, Mama. dan Alana, kenalkan ini Mamaku," ucap Jesslyn.


"Oh, kamu yang bernama Alana?" tanya Merry seraya menyentuh pipi Alana.


"I-iya, Bi." Alana masih menunduk dengan sungkan.


"Ya sudah, Jesslyn. ayo kita  sarapan  ajaklah Alana dan juga Kimy," perintah Merry. Jesslyn pun mengiyakannya. dan saat Merry hendak pergi meninggalkan kamar anaknya, ia tidak sengaja melihat kaki Jesslyn yang penuh dengan luka.


"Sayang, kakimu kenapa? kenapa luka - luka seperti ini?" tanya Merry dengan begitu khawatir.


"Tidak apa - apa, Ma. kemarin Jesslyn hanya jatuh di tangga saja. tapi ini sudah kering kok, Ma." Jesslyn berbohong.


"Tidak apa - apa bagaimana? duduklah kemari," Merry menyuruh Jesslyn untuk duduk di tepi tempat tidur dan ia memeriksa kaki anak perempuannya tersebut, melihat Merry begitu khawatirnya dengan Jesslyn, membuat Alana iri.


"Kenapa Mami tidak sebaik Mamanya Jesslyn, yang sebegitu mengkhawatirkan anaknya?" gumam Alana dalam hati.


 


 


 


***


 


 


Saat di meja makan.semuanya pun berkumpul di sana. Papa Gio menyuruh Jesslyn untuk menceritakan semuanya apa yang terjadi semalam antara Ken dan juga Alana. Jesslyn pun menceritakan semuanya kepada Papa dan juga Mamanya, apa alasan dirinya sampai mengunci Ken dan juga Alana di dalam perpustakaan. mendengar pernyataan Jesslyn. membuat Ken semakin kesal mendengarnya. bahkan, Merry dan Gio hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak perempuannya tersebut.


Seusai makan, Jesslyn meminta Jasson untuk mengantarkannya pergi ke rumah sakit bersama Alana dan juga Kimy. rasanya Jasson begitu enggan mengantarkan mereka bertiga. tetapi, karna ia takut di marahi oleh Papanya. ia terpaksa mengiyakan permintaan saudari kembarnya tersebut.


 


***


Saat Ken hendak pamit untuk pergi menemui Client Papanya, Gio pun menghentikannya, karna ia ingin mangajaknya berbicara.


"Ken, papa mau berbicara denganmu, nak." Gio merangkul bahu anaknya dan mengajaknya untuk duduk di atas sofa. di ikuti juga dengan Mama Merry.


"Sepertinya serius. katakan, Pa. Papa mau berbicara apa?" tanya Ken dengan penuh pertanyaan di pikirannya, karna, jarang sekali Papanya serius seperti ini. Gio dan Merry sejenak beradu pandang, hingga membuat Ken bergantian menatap kedua orang tuanya itu.


"Papa, Mama. sebenarnya ada apa? apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Ken dengan begitu penasaran.


"Begini, Nak. apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Gio. Ken menyipitkan kedua matanya dengan begitu heran. akan pertanyaan Papanya.


"Belum. kenapa, Papa menanyakan itu?" tanya Ken, Gio diam sejenak dan memandang ke arah istrinya kemballi.


"Begini, sayang. Tuan Afford ingin sekali menjodohkan putrinya denganmu. apa kamu mau menikah dengan Caleey?" Merry menimpalinya. Ken begitu terkesiap saat mendengar pernyataan yang baru saja ia dengar dari Mamanya.


"Apa Mama sedang bercanda?" tanya Ken.


"Tidak, Ken. Mama dan Papa tidak bercanda," timpal Gio.


"Paman Afford ingin menjodohkan Caleey dengan Ken. lalu, Papa dan Mama mengiyakannya begitu? sungguh konyol! Ken tidak mau di jodohkan, seperti Ken tidak laku saja," seru Ken dengan kesal.


"Ken, kalau berbicara di hadapan orang tua yang sopan!" seru Gio.


"Maafkan, Ken, Pa. Ken terbawa emosi. tapi,  Ken benar - benar  tidak mau di jodohkan, Pa. apalagi dengan Caleey!" Seru Ken.


"Apa kau tidak menyukai Caleey sama sekali, sayang? bukannya kau dan Caleey pernah dekat?" tanya Merry.


"Ken sama sekali tidak pernah menyukai Caleey, Ma. Ken hanya menganggap Caleey sebagai adik Ken, sama seperti Jesslyn." Ken membantah.


"Baiklah, Papa tidak akan memaksa. Papa akan mebicarakannya baik - baik dengan Tuan Afford, nanti." Gio menepuk bahu Ken.


"Maafkan Ken, Pa, Ma. kalau begitu Ken, pamit pergi  ke kantor dulu," pamit Ken.. Gio dan Merry mengiyakannya. Ken pun berlalu meninggalkan rumah tersebut.


"Aku sudah yakin dari awal, kalau Ken pasti akan menolak," ucap Gio


"Lalu, bagaimana kau membicarakan ini semua dengan Tuan Afford , sayang?" tanya Merry seraya mengusap punggung suaminya itu.


"Entahlah, nanti sore aku akan menemui Afford dan bicara pelan - pelan dengannya," jawab Gio.


 


 


****


Di rumah sakit,


Jasson menurunkan Jesslyn , Alana dan juga Kimy, di depan rumah sakit. lalu, Jasson melajukan mobilnya kembali untuk pergi dari rumah sakit itu. karna memang, Jasson sudah memiliki janji untuk latihan basket bersama teman - temannya.


Alana mengajak Jesslyn dan Kimy untuk masuk ke dalam rumah sakit, menuju ke ruang rawat Ayahnya. karna, kebetulan waktu itu Ayah Alana sudah di pindahkan di ruang rawat sebelumnya.


namun, saat Alana tiba di ruang rawat ayahnya. ia melihat 3 orang laki - laki duduk di depan ruangan itu. laki - laki yang sama saat menemui Alana di rumah kontrakannya.


"Alana, orang itu siapa?" tanya Jesslyn dengan berbisik.


"Ehm, itu orang bank," jawab Alana. Alana mendekati 3 orang laki - laki itu. Kimy dan Jesslyn mengikuti Alana dari belakang.


"Kami kemari ingin menanyakan, apa Nona sudah membicarakan masalah semalam dengan Tuan Holmes?" tanya salah seorang laki - laki itu.


"Daddy saya baru saja melakukan operasi dan kemungkinan belum sadarkan diri, tolong! kalian bisa sedikit mengertikan keadaan kami! bukankah, kata kalian jangka waktunya satu bulan? lalu kenapa kalian datang hari ini? kalau nanti Daddy saya sudah sadar, saya pasti akan segera berbicara dengannya," seru Alana dengan penuh penekanan. rasanya ia begitu kesal kepada orang itu. laki - laki itu sejenak berada pandang dengan kedua temannya.


"Baiklah, Nona. Maaf,  kami hanya menjalankan tugas kami saja, maaf sudah mengganggu kenyamanan, Nona. kalau begitu kami akan permisi," pamit orang itu. namun, Alana hanya diam saja tanpa mengiyakannya. setelah ke tiga orang itu pergi, Alana mendudukan tubuhnya dengan lemas di tempat duduk yang ada di depan ruangan ayahnya tersebut. kedua mata Alana terlihat berkaca - kaca. rasanya ia benar - benar tidak sanggup menjalani ini semua.


"Alana, sebenarnya ada apa?" tanya Jesslyn dan Kimy sembari duduk di samping Alana.


"Hutang Daddyku masih belum lunas sepenuhnya, dan kalau Daddyku tidak segera melunasi hutangnya dalam jangka waktu bulan ini perusahannya akan di sita selamanya dan akan di wewenangkan kepada negara," tutur Alana seraya memejamkan matanya. sangat jelas sekali guratan raut wajah wanita itu seakan begitu menyimpan beban berat.


"Kau yang sabar ya, Alana." Jesslyn mengusap usap punggung Alana mencoba menenangkan wanita itu.


"Alana, memangnya apa nama perusahaan Daddymu?" tanya Kimy.


"Celouis Company," jawab Alana seakan tak bertenaga.


"Sepertinya perusahaan besar," ucap Kimy. namun Alana hanya diam saja. pikirannya saat itu, benar - benar  lari kemana - mana.


Alana, menyuruh Jesslyn dan juga Kimy untuk pulang. tapi, Jesslyn tidak mau dan memaksa ingin tinggal di sana menemani Alana sampai beberapa jam ke depan. karna Jesslyn yang begitu memaksa. Alana pun terpaksa mengiyakannya.


Sore harinya, seusai dari rumah sakit, Alana pergi ke toko kue dan toko bunga miliknya. karna, semenjak ayahnya sadar. Alana, jarang sekali pergi ke  toko dan ia memasrahkan semua usahanya tersebut kepada pegawainya. sementara satu jam yang lalu. Jesslyn dan Kimy sudah pulang di jemput oleh Jasson,


 


***


 


Sementara Gio, sore itu ia sedang melakukan pertemuan dengan Afford di salah satu Coffe shop milik Ken. ia memilih mengajak Afford bertemu  di luar. karna, yang akan ia bahas ialah  masalah pribadi bukan masalah pekerjaan. jadi, Gio ingin membicarakannya di luar kantor.


"Bagaimana, Tuan Gio? apa kau sudah membicarakannya dengan Ken?" tanya Afford. seraya menyeruput kopi hitam yang baru saja di sajikan oleh pelayan coffe shop itu.


"Maaf, Tuan Afford. Ken tidak mau di jodohkan, dia masih belum siap menikah," tutur Gio. Afford menghentikan aktivitasnya dan meletakan cangkir kopi itu kembali.


"Oh, kenapa? bukannya usia dia sudah matang untuk menikah? lagi pula, kalau kita menikahkan anak - anak kita, kita bisa mempererat hubungan silahturahmi dan juga bisnis kita, bukan?" ujar Afford.


"Iya, aku tau itu tapi mau bagaimana lagi," ujar Gio.


"Tuan Gio, coba bicaralag lagi  baik - baik dengan Ken, barangkali dia berubah pikiran dan mau menikah dengan Caleey, mungkin dengan sedikit paksaan, bukankah Ken anak yang penurut?" kata Afford dengan sedikit  memaksa.


"Maaf, Tuan Afford. memang dia sangat menurut. tapi, saya tidak bisa memaksanya. karna, saya sangat tau sekali Ken," tutur Gio dengan penekanan. saat mendengar pernyataan Gio, Afford merasa sedikit kesal.


"Oh, baiklah. tidak apa - apa. kalau begitu saya permisi pamit dulu, karna saya sudah memiliki janji dengan orang," pamit Afford seraya melihat jam tangan  yang melingkar di pergelangan tangannya. ia pun beranjak berdiri dari duduknya.


"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf, Tuan Afford." Gio ikut beranjak dari duduknya dan merasa tidak enak.


"Tidak  apa - apa," kata Afford sembari menepuk bahu Gio dan berlalu meninggalkan Coffee shop tersebut.


 


***


Malam harinya, Gio terlihat sibuk bekerja di ruang kerja miliknya. namun, saat di tengah kesibukannya, ia menerima sebuah email dan membuka email tersebut dari komputer miliknya. dan saat membuka email itu, tiba - tiba raut wajah Gio terlihat begitu marah,  bahkan sangking murkanya. ia tiba - tiba membanting barang dan juga kertas - kertas yang tertumpuk di meja kerjanya tersebut.


lalu, pintu ruangan kerjanya yang semula tertutup kini terbuka. terlihat Merry sedang berjalan menghampirinya dengan membawakan secangkir kopi untuk suaminya tersebut.


"Sayang, kau kenapa? kenapa ruangannya berantakan seperti ini?" tanya Merry dengan kebingungan. ia meletakan cangkir kopi itu di atas meja. dan mendekati Gio.


"Apa kau tau? hanya karna masalah perjodohan. Afford, tiba - tiba menghentikan kerja samanya dengan perusahaan milik keluarga kita." Gio mengepalkan tangannya dengan begitu geram.


"Astaga, lalu kita harus  bagaimana, Gio?" tanya Merry.


"Apa perusahaan Tuan Afford sangat berpengaruh? dan apa tidak ada perusahaan lain yang bisa di ajak bekerja sama?" imbuh Merry.


"Sangat berpengaruh! karna di Irlandia, hanya ada dua perusahaan yang memiliki pabrik dengan mesin produksi tercanggih. milik Afford dan juga Tuan Holmes Louis, kakak iparnya Afford." tutur Gio.


"Kalau begitu, Kenapa kau tidak mencoba bekerja sama saja dengan Kakak iparnya Tuan Afford?" tanya Merry.


"Perusahaannya sudah bangkrut dan tidak beroprasional selama 2 tahun belakangan ini. entah, apa perusahaan itu masih milik Tuan Holmes atau sudah di pindah tangankan kepada orang lain, aku juga tidak tau. karna, aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan Tuan Holmes."


"Arghh ... aku bisa gila memikirkan ini semua, apalagi aku sudah menerima banyak tender dari rekan bisnisku." Gio menahan rasa geramnya.


"Papa." Ken tiba - tiba masuk ke dalam ruang kerja Gio. ia terlihat masih mengenakan pakaian lengkap kerja miliknya. rupanya, ia baru saja pulang.


"Pa, Apa Papa tau? Paman Afford menghentikan kerja samanya dengan perusahaan kita?" tanya Ken dengan panik.


"Iya, Papa sudah tau, Nak. mungkin, karna Papa menolak tawaran perjodohan itu, makanya dia menghentikan kerjasama yang sudah di bangun 20 tahun lamanya, sungguh licik," geram gio, rasanya ia ingin sekali membanting semua barang - barang yang ada di dalam ruang kerjanya tersebut.


"Lalu bagaimana, Pa? Perusahaan kita sudah menerima banyak tender. kalau produksi berhenti begitu saja, perusahaan kita bisa terkena masalah, Pa. bukannya selain perusahaan milik Paman Afford. tidak ada perusahaan lagi yang memiliki mesin canggih untuk membantu perusahaan kita, Pa." Ken sangat kebingungan. Gio pun beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Diamlah dulu Ken, jangan membuat Papa semakin bingung," Gio setengah berteriak dan beranjak dari duduknya. ia mondar - mandir memikirkan cara untuk mencari jalan keluarnya. Ken merasa, kekacauan yang terjadi di perusahaan milik keluarganya saat  ini, tak lain,  semua karna dirinya. Ken berjalan menghampiri Papanya tersebut.


"Pa, maaf, ini semua karna, Ken. Ken akan menerima perjodohan dengan Caleey. agar Paman Afford tidak menghentikan kerjasamanya dengan perusahaan kita," ucap Ken.


 


.


.


.


.


.