My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Penyakit kambuh



Dering ponsel milik Alana tiba-tiba  terdengar begitu nyaring. Alana mengambil ponsel miliknya di dalam tas. terlihat satu panggilan masuk dari Ken. Alana terdiam sejenak mengingat perkataan Caleey yang mengatakan bahwa Ken menemui Brianna. pikirannya yang baru saja tenang. kini mulai bertanya-tanya.


Alana segera menyentuh ikon berwarna hijau yang tertera di layar ponselnya. ia kemudian, mendekatkan ponsel itu ke daun telingannya.


"Di mana?" suara Ken terdengar sangat jelas dari balik ponsel itu.


"Di toko," jawab Alana dengan singkat.


"Aku akan ke sana 10 menit lagi, tunggulah jangan ke mana-mana!" perintah Ken.


"Baiklah, hati-hati..." Alana dan Ken saling mengakhiri panggilan tersebut. Alana meletakan kembali ponselnya ke dalam tas. kemudian, ia menyuruh Nona Felly untuk membuatkan teh dan menyuguhkan beberapa potong kue untuk Jesslyn dan Kimmy.


Mereka berdua layaknya anak kecil yang berebut makanan di selingi dengan adu mulut. tak jarang Jesslyn dan Kimmy saling melotot satu sama lain. membuat Alana menggeleng-geleng  kepalanya dengan tersenyum.


Dia begitu senang, ketika melihat Kimmy dan Jesslyn. rasanya dari dulu ia ingin sekali memiliki seorang adik perempuan yang bisa di ajak untuk berbagi.  dulu Alana dengan adik laki-lakinya juga sangat akrab, namun, seiringnya berjalan waktu semakin adiknya bertambah dewasa sikapnya semakin berubah terhadap Alana dansemakin  tidak banyak bicara dan begitu tertup. tidak hanya kepada Alana saja.


"Daven... aku sangat merindukannya," gumam Alana dalam hati. Alana menghela napas. ia merasakan kekacauan kembali di dalam hatinya.


"Kau kenapa Alana?" tegur Kimmy yang sedang mengunyah kue coklat di dalam mulutnya. tak sedikit kue coklat itu membuatnya belepotan.


"Tidak apa-apa lanjutkan makan kalian, aku mau ke dalam." Alana tersenyum dan beranjak berdiri. Jesslyn dan Kimmy mengiyakannya. Alana meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam ruangannya. ia menyalakan Ac dan mendudukan tubuhnya di atas kursi panjang yang ada di dalam sana. ia kembali mengingat kembali perkataan Caleey.


"Jika Ken menemui Mami, kenapa dia tidak memberitauku?" gumam Alana. ia menyandarkan punggungnya sembari memejamkan kedua matanya.


***


Hampir 20 menit, terlihat sebuah mobil mewah yang tak lain milik Ken berhenti tepat di depan toko milik Alana. dengan langkah cepat dan mata yang masih di balut dengan kaca mata hitam Ken segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam toko.


"Kakak..." suara Jesslyn dan Kimmy begitu heboh saat melihat Ken datang di sana. Jesslyn beranjak dari duduknya dan segeramemeluk Kakaknya tersebut.


"Kalian juga di sini?" tanya Ken.


"Iya, Kak."


"Di mana, Alana?" tanya Ken.


"Dia ada di dalam..." saut Jesslyn. Jesslyn melepas pelukannya, Ken berpamitan kepada Jesslyn dan juga Kimmy untuk menemui Alana di dalam.


Di dalam, Alana terlihat  sedang duduk sembari memejamkan kedua matanya. rasanya ia begitu lelah hari itu. Ken mendudukan tubuhnya di samping istrinya itu. ia melepaskan kacamatanya dan mengusap kepala Alana.


"Kau lelah?" suara Ken membuat kedua mata Alana terbuka.


"Ken, sejak kapan kau kemari?" tanya Alana sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk.


"Baru saja..." Ken menjauhkan tangannya dari Alana.


"Tunggulah di sini, Aku akan memesankan makanan untukmu." Alana beranjak berdiri namun Ken menarik tangannya.


"Tidak usah, aku tidak lapar. nanti saja," tolak Ken memmbuat Alana kembali duduk di tempatnya semula.


"Baiklah..." saut Alana. ia memandangi Ken. ia ingin sekali bertanya masalah Mami Brianna namun ia  takut.


"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Ken.


"Tidak... tidak apa-apa." Alana memalingkan pandangannya.


Sunyi menyelimuti mereka berdua. membuat Ken mengernyit heran akan istrinya tersebut. Ken merasa ponsel miliknya bergetar. ia segera mengambil ponsel miliknya yang masih terselip di dalam saku celana.


terlihat ada satu pesan masuk di layar ponselnya.


Nak, bisakah hari ini kamu dan Alana tidur di rumah, menemani Jesslyn? Papa dan Mama ada urusan mendadak ke luar kota, takutnya nanti Jesslyn sendirian di rumah. kamu kan tau sendiri bagaimana adikmu Jasson.~ Papa Gio.


"Alana, jika malam ini kita tidur di rumah Papa. apa kau keberatan?" tanya Ken.


"Tidak! tumben sekali?" tanya Alana.


"Iya, Papa dan Mama mau ke luar kota, Papa takut jika Jasson tidak pulang ke rumah dan Jesslyn sendirian," ujar Ken.


"Baiklah," saut Alana sambil tersenyum.


Bisa, Pa. nanti Ken dan Alana akan menemani Jesslyn tidur di rumah. ~ Kendrick.


Baiklah, Nak. terimakasih. Papa dan Mama pergi dulu, tolong beri tau Jesslyn. ~ Papa Gio.


Iya, Pa. ~ Ken.


"Ken..." panggil Alana.


"Hem?" Ken menyautinya tanpa memandang ke arah istrinya tersebut. karna Ken hendak mengirimkan pesan singkat kepada adik laki-lakinya.


"Ken, bolehkah aku bertanya?" tanya Alana.


"Apa?" Ken masih tak mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel miliknya.


"Apa benar kau tadi menemui Mami?" tanya Alana dengan sedikit takut. seketika itu, Ken menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Alana.  ia terdiam sejenak dan menatap kedua mata istrinya.


"Tadi Caleey kemari..." sambung Alana kembali..


"Apa yang dia bicarakan?" tanya Ken.


"Katanya, kau menemui Mami," ucap Alana. Ken kembali terdiam memandang bingung Alana.


"Iya, aku memang menemui Mamimu!  Mamimu tadi mengirim pesan singkat  ke ponselmu. Mami mengajakmu untuk bertemu sendirian. dan aku sangat penasaran apa yang ingin dia bicarakan denganmu, jadi terpaksa aku menemuinya di cafe yang kapan hari dirimu dan Mami bertemu. dan Mami datang tidak sendiri. tapi,  bersama Caleey," ujar Ken.


"Lalu, kenapa kau tidak memberitauku?" tanya Alana. Ken kembali membungkam mulutnya.


"Maafkan aku!" hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Ken. karna dirinya tau jika dirinya bersalah karna tidak memberitau Alana.


"Apa yang kau katakan kepada Mami, Ken?" tanya Alana.


"Apa? aku tidak mengatakan apapun! " bantah Ken.


"Kau merendahakan Mami di depan umum?" tanya Alana. Ken mengernyitkan dahinya.


"Siapa yang merendahkan Mami di depan umum? aku hanya mengingatkan Mamimu saja agar tidak mempengaruhi hal buruk kepadamu! dan itu pun aku berbicara tanpa di ketahui orang lain kecuali Caleey!" bantah Ken.


"Tapi kata Caleey--"


"Caleey bilang aku merendahkan Mami di depan umum?" Alana menganggukan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Dan kau percaya?" tanya Ken. Alana sejenak diam kemudian menggeleng kepalanya dengan pelan.


"Aku sama sekali tidak percaya..." Alana seketika memeluk Ken.


"Aku tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Caleey. tapi seharusnya kau memberitauku jika kau menemui Mami, Ken."


"Maafkan, Aku," ujar Ken.


"Alana, aku tidak mau berbicara buruk tentang Mamimu. tapi, dari yang aku rasakan. Mamimu mencoba menjauhkanmu dariku!" Alana seketika melepas pelukannya dan menatap kedua mata Ken secara bergantian.


"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Alana dengan nada terendahnya.


"Aku berbicara karna aku bisa merasakan! setelah dirimu bertemu dengan Mami satu minggu yang lalu, sikapmu berubah kepadaku. terlebih lagi kau bertanya tentang perasaanku!" ucap Ken. Alana terdiam sejenak.


"Apa waktu itu Mami pernah menyuruhmu untuk meninggalkanku?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya.


"Mami memang pernah menyuruhku untuk meninggalkanmu," ucap Alana dengan raut wajah polosnya.


"Kau mau meninggalkanku?" tanya Ken.


"Tidak, aku tidak mau. aku sangat mencintaimu." Alana kembali memeluk Ken dengan erat. Ken tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Alana..." Ken melepas pelukan Alana dan menatap dalam-dalam kedua matanya.


"Kau sudah dewasa, kau bisa menyaring mana yang baik dan buruknya seseorang. jika kau tidak bisa menggunakan otakmu untuk berpikir. maka, gunakanlah  hatimu untuk merasakan," tutur Ken. Alana mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh Ken. kemudian, ia mengangguk saat sudah mengerti apa yang di maksud dari perkataan itu.


"Anak pintar..." Ken mengacak-acak rambut Alana.


"Ken..." seru Alana dengan kesal seraya merapikan rambutnya. Ken tersenyum dan memeluknya.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu." Ken bergumam dalam hati dengan rasa geram saat mengingat akan Caleey. rasanya ia benar-benar tidak sudi untuk melihat wanita itu. jangankan melihat, menyebut namanya saja ia sudah enggan.


"Ayo kita pulang," ajak Ken. Alana menganggukan kepalanya. mereka bersiap-siap menemui Jesslyn dan Kimmy yang kala itu bersenda gurau di depan.


"Jesslyn, ayo kita pulang, Kakak dan Alana akan tidur di rumah malam ini," ujar Ken.


"Kakak dan Alana akan tidur di rumah?" tanya Jesslyn memastikan.


"Iya, karna Papa dan Mam pergi ke luar kota ada urusan dadakan," ujar Ken.


"Ke luar kota lagi..." Jesslyn mengerucutkan bibirnya.


"Aku akan minta izin Papaku untuk tidur di rumahmu, ya, Jesslyn?" pinta Kimmy.


"Kau mau tidur di rumah?" tanya Jesslyn. Kimmy menganggukan cepat kepalanya.


"Yeay, baiklah... aku punya banyak teman malam ini." Jesslyn begitu girang. Ken segera mengajak Alana, Jesslyn dan juga Kimmy untuk pulang.


***


Malam harinya, David dan Ashley mengunjungi rumah Papa Gio untuk menemui Ken di sana. sebelumnya, David terlebih dulu menghubungi Ken untuk menanyakan keberadaanya, dan Ken memberitau kalau dirinya dan Alana sedang menginap di rumah orang tuanya. seketika itu David dan Ashley berkunjung ke sana.


David dan Ashley terlihat membawa beberapa kantung makanan di masing-masing tangannya. bahkan terlihat banyak sekali. mereka segera masuk ke dalam rumah orang tua sahabatnya tersebut dan mereka berdua di sambut oleh Ken yang baru saja membukakan pintu.


"Kalian membawa apa?" tanya Ken yang saat ini bergantian memandang bungkusan yang di bawa oleh David dan juga Ashley.


"Makanan, ayo kita makan malam bersama!" ajak Ashley dengan penuh semangat.


"Kebetulan sekali. aku baru saja mau mengajak yang lainnya untuk makan di luar karna Bi Molley sedang sakit jadi tidak bisa memasak. pergilah ke dapur, aku akan memanggilkan Alana, Kimmy dan Jesslyn."


"Ada Kimmy?" tanya David. Ken mengiyakan dan segera pergi ke kamar Jesslyn. di sana ia melihat Alana sedang tertawa cekikikan bersama adiknya dan juga Kimmy. bahkan suara mereka bertiga terdengar sangat bising di telinga Ken.


"Alana, ajak mereka ke dapur untuk makan malam!" perintah Ken.


"Bukannya Bi Molley tidak memasak?" tanya Alana.


"David dan Ashley kemari membawa makanan," jawab Ken.


"Baiklah..." saut Alana. Ken segera pergi menemui kedua sahabatnya di dapur. kemudian di susul oleh Jesslyn, Alana dan juga Kimmy. saat melihat David, Jesslyn dengan penuh semangat menyapanya dan David membalas sapaan tersebut.


"Ayo, duduklah. aku dan David membawakan makanan khas India," ujar Ashley.


"Makanan India? wah, aku suka sekali." saut Alana. sambil mendudukan tubuhnya.


"Alana, kau juga menyukai makanan India?"  tanya David.


"Iya, aku sangat suka sekali." Alana mengambil piring dan mengganti makanan itu ke piring miliknya.


"Berarti kita sama... ayo kita mulai makan, yang ini untuk Ken. aku membelikan Chinnese food untuk Ken. karna Ken tidak bisa makan makanan pedas." David menyodorkan satu makanan dengan bungkus yang berbeda kepada Ken. Alana pun membantu memindahkan makanan itu ke dalam piring dan memberikannya kepada Ken.


"Sayang sekali tidak ada Jasson," ujar Kimmy.


"Memangnya Jasson ke mana, Ken?" tanya Ashley.


"Dia tidur di rumah Harry," saut Ken.


"Padahal di sini ada aku, malah tidur di rumah Harry," gerutu Kimmy.


"Makan dan  jangan banyak bicara! lama-lama makananmu ku buang ke dalam mulutku!" seru Jesslyn. Kimmy seketika membungkam mulutnya.


"Oh, Iya, Jesslyn. ini kan waktunya menonton tayangan drama korea," ujar Kimmy dengan makanan yang masih penuh di dalam mulutnya.


"Oh iya," saut Jesslyn.


"Kakak, apa aku boleh makan di kamar? aku mau menonton drama korea kesukaanku," pinta Jesslyn.


"Iya, terserah kalian saja," jawab Ken.


"Alana..." panggil Jesslyn.


"Jangan mengajak Alana!" seru Ken.


"Ya sudah!" Jesslyn melirik kesal ke arah Kakaknya.


"Ayo Kimmy." Jesslyn dan Kimmy membawa makananya masing - masing untuk kembali ke kamar. Alana melirik ke arah Ken.


"Apa?" seru Ken sambil menajamkan kedua matanya.


"Tidak apa-apa." Alana menggeleng kepalanya dengan takut kemudian melanjutkan kembali makannya. begitu juga dengan Ken.


"Alana, kau sejak kapan mulai menyukai  makanan khas India?" tanya David sambil menikmati makananya.


"Dari kecil. dulu Daddyku sering sekali mengajakku ke restaurant India," saut Alana.


"Aku juga dari kecil menyukai makanan India..." kata David sambil tersenyum.


"Wah benarkah? kalau begitu, kapan - kapan kita bisa berburu makanan India bersama," ucap Alana dengan penuh semangat. Ken melirik ke arah Alana dan David.


"Tentu saja..." saut David.


"Eherm..." Ken tiba-tiba berdehem karna  tersedak.


"Hati-hati, Ken. minumlah..." Alana menyodorkan minuman kepada Ken. Ken segera meneguknya. lalu, Alana melanjutkan kembali perbincangannya dengan David.


"Biasanya, aku berburu makanan India dengan Daddy. tapi sekarang Daddy sakit jadi tidak ada yang bisa ku ajak berburu. karna jarang sekali ada orang yang menyukai makanan India," ujar Alana.


"Iya, memang. tidak banyak orang yang menyukai makanan khas India," saut David. ia dan Alana sedari tadi sibuk membicarakan tentang makanan kesukaan mereka membuat Ken begitu kesal saat mendengarnya.


"Cepat habiskan makanan kalian. kalau tidak kalian cepat makan. aku akan memakannya!" saut Ashley yang begitu lahap memakan makanan miliknya bahkan makanan tersebut hampir habis dari wadahnya.


"Alana, aku ingin mencoba makananmu. suapi aku!" perintah Ken.


"Ini pedas sekali Ken. kau tidak bisa makan ini!" ujar Alana.


"Tidak apa-apa sedikit saja." Ken sudah membuka sedikit mulutnya.


"Tidak! kau alergi makanan yang mengandung cabai. lebih baik kau makan makananmu saja! kemarikan biar aku suapi!" pinta Alana.


"Aku ingin makan makananmu! aku juga menyukai makanan India," ucap Ken.


"Sejak kapan? dulu saja kau ku ajak makan makanan India harus aku paksa."


"Tapi sekarang aku suka. ayo suapi aku, tidak masalah jika hanya makan makanan pedas sedikit saja!" paksa Ken.


"Ken... ini benar-benar pedas. sudahlah makanlah punyamu saja!" perintah Alana.


"Iya Ken, kau jangan mencari masalah!  jangan memaksa! ingatlah jika kau punya alergi!" tutur David.


"Iya, Ken. kau jangan macam-macam!" Ashley ikut menimpalinya. rasanya Ken begitu kesal. tanpa menyautinya. ia kembali memakan makanannya.


"Ayo aku suapi!" kata Alana hendak mengambil alih sendok yang sedang Ken pegang.


"Tidak usah!" seru Ken.


***


Sunyi


Tak butuh waktu lama, mereka berempat sudah menghabiskan makanannya masing-masing.


"Ken, aku dan Ashley  langsung kembali saja, ya." David pamit.


"Hem." Ken mengiyakan dengan berdehem. ia  beranjak berdiri dan meninggalkan mereka bertiga begitu saja.


"David, Ken kenapa? tidak biasanya dia seperti itu?" bisik Ashley kepada David.


"Mungkin dia sedang ada masalah," jawab David.


"Ayo kita pulang," ajak David. Ashley mengiyakannya.


"Aku akan mengantarkan kalian ke depan," ucap Alana. ia segera mengantarkan kedua sahabat suaminya tesebut untuk ke depan. David dan Ashley berpamitan kepada Alana. saat mobil David sudah tidak di jangkau oleh pandangan matanya. Alana segera masuk kembali ke dalam rumah. ia membereskan sisa makanan dan piring kotor yang masih  berserakan di atas meja makan.


Seusai itu, ia kembali ke dalam kamar. namun, ia tak mendapati Ken di sana.


"Di mana Ken?"  gumam Alana. ia keluar dari kamar dan mencoba mencarinya. saat di rasa Alana tak menemukan Ken. ia langsung pergi ke kamar Jesslyn.


"Jesslyn, apa kau melihat Kakakmu?" tanya Alana.


"Tidak! tadi kan dia makan bersamamu," saut Jesslyn. perempuan itu masih sibuk dengan makananya yang belum habis sembari menonton drama korea favoritnya.


"Iya, tadi setelah makan dia pergi begitu saja. aku mencarinya di kamar dan di mana - mana tapi tidak ada," ujar Alana dengan bingung.


"Apa kau sudah mencari Kakak di perpustakaan?" tanya Jesslyn.


"Belum..." Alana menggeleng kepalanya.


"Coba carilah di sana. biasanya Kakak di perpustakaan!" perintah Jesslyn.


"Baiklah, terimakasih. aku akan mencarinya di sana."  Jesslyn menganggukan kepalanya. Alana bergegas menuju ke perpustakaan yang ada di rumah mertuanya tersebut.


Pintu perpustakaan terlihat tertutup rapat. kedua tangan Alana mencoba menggerakan gagang pintu. namun, pintu itu terkunci.


"Apa Ken ada di dalam?" gumam Alana.


Tok


Tok


Tok


"Ken..." Alana memanggil nama Ken sambil mengetuk pintu itu.


"Ken, apa kau ada di dalam?" tanya Alana. namun, tidak ada sautan sama sekali dari dalam.


"Sayang, apa kau di dalam?" panggilnya kembali.


"Sepertinya tidak ada. lalu  ke mana Ken?" gumam Alana. rasanya ia kelelahan mencari suaminya itu. ia hendak pergi dari sana. namun, tiba-tiba pintu perpustakaan itu terbuka. terlihat Ken baru saja membuka pintu itu dan kembali masuk ke dalam sana.


"Ken... aku mencarimu..." Alana mengikuti Ken yang saat ini mendudukan tubuhnya di atas kursi yang di depannya terdapat meja yang khusus untu membaca buku.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Tidak ada apa-apa... aku hanya mencarimu saja, aku kira kau ke mana," jawab Alana. namun Ken hanya diam saja dan melanjutkan kembali membaca buku miliknya.


"Kau tidak istirahat?" tanya Alana sembari melingkarkan tangannya di lengan Ken. namun Ken hanya diam saja.


"Kau membaca buku apa?" tanya Alana. namun, Ken tetap saja diam tak menjawab pertanyaan istrinya. hal itu semakin membuat Alana kesal.


"Sial, penyakitnya kambuh lagi," Alana bersungut kesal.


"Ken..."


"Kau tidak melihat aku sedang membaca?" seru Ken.


"Maaf..." Alana menjauhkan tangannya sambil mengerucutkan bibirnya.  ia menyandarkan sebagian punggungnya di sandaran kursi sembari memperhatikan Ken yang masih sibuk membaca buku.


"Aku sungguh tidak tau dengan dia. kalau galak seperti ini, rasanya ingin sekali ku lempar buku," gerutu Alana dalam hati.


"Awas saja kalau nanti  mengajakku berbicara atau bahkan merayuku!" Alana tak henti-hentinya bersungut sambil menatap kesal suaminya yang sampai saat ini masih sibuk membaca bukunya.