
Tak lama kemudian, Merry, Gio, Carrol, Andrew dan juga Jesslyn terlihat datang di rumah sakit. seperti apa yang Merry sempat katakan tadi. Ia mengajak saabatnya untuk menjenguk besannya tersebut.
Setelah cukup lama menjenguk Holmes. dan berbincang - bincang bersama. Alana dan yang lainnya pun berpamitan untuk pulang kepada Ayahnya.
“Jesslyn, ayo pulang denganku ikut mobil Kakakmu saja,” ajak Alana.
“Ayo.” Jesslyn bersemangat. Namun, ia sejenak melihat ke arah Alana dan Ken secara bergantian.
“Ehm, tidak jadi deh, Alana. Aku mau pulang bersama Mama saja.” Jesslyn
tiba – tiba menolak ajakan Alana. karna dirinya tidak ingin mengganggu Alana dan juga Kakaknya tersebut. Ken seketika melirik ke arah adiknya. pikirannya sudah menangkap, alasan Jesslyn yang secara tiba - tiba langsung menolak ajakan Alana.
"Ayolah Jesslyn, ku mohon pulang dengan kita saja," Alana memaksa. karna, ia benar - benar tidak nyaman jika pulang berdua dengan Ken.
“Tidak, Alana. Aku ingin pulang bersama Mama saja, ” ujar Jesslyn. Alana melirik ke arah Ken yang sedang merengut tak jelas.
“Baiklah kalau begitu.” Alana sedikit kecewa. Jesslyn pamit terlebih dahulu. dirinya masuk ke dalam mobil Mama dan juga Papanya. Sementara Carrol dan Andrew menumpani mibil milik mereka. Mereka pulang berpencar sendiri – sendiri. Begitu pula dengan Alana dan juga Ken.
"Kenapa kau masih di situ? cepat naiklah!" perintah Ken. Alana masuk ke dalam mobil namun, sebelum kembali ke rumah suaminya. Alana terlebih dulu mengajak Ken ke kontrakannya sebentar untuk mengambil beberapa baju miliknya.
Ken menghentikan mobilnya di depan rumah Alana. Ia pun turun dari mobil mengikuti istrinya tersebut untuk masuk ke dalam gubuk kecilnya itu.
“Tunggulah di depan!” perintah Alana. Namun, Ken tak menghiraukannya. Ia masih tetap mengikuti Alana untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Kenapa kau ikut masuk?” tanya Alana.
“Kenapa memangnya kalau aku ikut masuk?” tanya Ken dengan menatap tajam kedua mata istrinya Hingga membuat Alana sedikit takut.
“Ya, ti-tidak apa – apa. Cuman, kan, rumahku kecil takutnya kau alergi masuk ke dalam rumah kecil seperti ini,” ledek Alana. Ken hanya diam. dan ia semakin menatap Alana dengan tajam seraya menautkan kedua alisnya.
“Aku hanya bercanda, ayo masuklah.” Alana menarik tangan Ken dan mengajaknya masuk.
“Lepaskan, kau pikir aku sudah tua tidak bisa jalan sendiri!” Ken menepis tangan Alana.
“Hmm,” Alana memutar kedua matanya dan berdecak kesal. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Lalu Ken mengikutinya. Alana mengambil beberapa pakaian miliknya dari dalam lemari yang baru saja ia buka. Lalu, ia memasukan pakaian – pakaian itu ke dalam tas kanvas berwarna coklat yang berukuran cukup besar. Kedua mata Ken memperhatikan seluruh isi kamar Alana.
“Ini kamarmu?” tanya Ken seraya mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur yang ia rasa cukup keras. bahkan tempat tidur itu jauh dari kata layak. menurutnya.
“Ehem,” saut Alana dengan berdehem. Bahkan ia tak melihat ke arah suaminya. Karna ia sedang sibuk menata baju –baju miliknya tersebut.
“Bagaimana kau bisa tinggal di rumah kecil seperti ini?” tanya Ken. Namun Alana tak menghiraukannya.
"Kenapa kau tidak mencari rumah yang sedikit lebih besar?" tanyanya kembali.
"Waktu itu aku mana ada uang, ini saja David yang membantu mencarikan rumah untukku," jawab Alana.
"David?" Ken berucap pelan dan Alana menganggukan kepalanya.
"Oh, kau ternyata pernah dekat dengannya." Ken memancing Alana..
"Tidak. dia hanya sekedar membantuku saja, David orang baik. dia baik sekali, dia juga sering membantuku, tapi--"
"Tapi kau kecewa karna kau malah menikah denganku tidak menikah dengannya begitu?" tukas Ken.
"Ti-tidak, tidak seperti itu," bantah Alana seraya mengalihkan pandangannya kepada Ken.
"Dia suka memaksa, dan aku tidak suka." Alana menyambung perkataannya.
"Memaksa, memaksa seperti apa?" tanya Ken sembari menyipitkan kedua matanya.
"Bukan apa - apa, lupakan saja." Alana kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Apa David benar - benar menyukai Alana? kalau benar dia menyukai Alana, aku benar - benqar akan merasa bersalah." Ken merebahkan tubuhnya dengan sembarangan di atas tempat tidur itu. Ia meregangkan tubuhnya yang begitu lelah seharian ini. Kedua matanya masih menyapu setiap sudut yang ada di dalam kamar itu.
"Dia pernah jadi orang kaya, tapi bisa hidup sederhana di rumah seperti ini," gumam Ken dalm hati, karna Ken terlalu lama menunggu Alana. Ia sejenak memejamkan matanya yang ia rasa sangat berat.
“Ken, aku sudah,” kata Alana. Ia beranjak berdiri. Namun, ia malah melihat suaminya itu tertidur.
“Astaga, dia tertidur,” gumam Alana. Ia meletakan tas yang
berisi baju itu di atas meja. Ia mendekati Ken dan hendak membangunkannya. Namun
tiba – tiba ia mengurungkannya.
“Kalau aku bangunkan, nanti di marah.” Alana menggaruk - garuk kepalanya dengan bingung.
“Sudahlah, tunggu dia bangun saja.” Alana keluar dari kamarnya dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
3 jam berlalu, Alana sudah 2 kali menengok suaminya tersebut di dalam kamar. namun, tetap saja, ia masih mendapati suaminya tertidur dengan begitu pulasnya.
"Sudah jam segini, sepertinya dia tidak akan bangun," gumam Alana dengan mendengus. matanya yang sudah layu dan berair karna menguap berkali - kali membuat dirinya ingin segera mengistirahtkan tubuhnya juga. terlebih lagi, ia juga begitu lelah seharian ini.
Alana hendak keluar dari kamarnya bermaksud tidur di kursi yang ruang depan. namun, ia melihat kaki Ken yang masih menggantung di bawah lantai. ia mendekati Ken dan melepas sepatu suaminya tersebut. kemudian, ia menggeser kaki Ken lebih menengah ke tempat tidur. lalu, Alana mengambil selimut yang masih terlipat rapi dan membalutkan sebagian selimut itu di tubuh suaminya.
Alana keluar dari kamarnya meninggalkan Ken. dan ia tidur di atas kursi yang ada di ruang tamu dengan menggunakan lipatan jaket tebal sebagai alas kepalanya.
***
Keesokan paginya. Ken terbangun terlebih dahulu. kedua matanya mengerjap dan masih menyelaraskan dengan biasan sinar matahari yang masuk lewat dari sela - sela kamar itu.
"Astaga." Ken langsung bangun dan beranjak dari tidurnya. dengan kaki yang telanjang. ia keluar dari kamar itu untuk mencari Alana. dan langkah kakinya terhenti saat dirinya melihat Alana masih tertidur di ruang tamu.
ia mendekati Alana dan sejenak memperhatikan wajah wanita yang masih pulas akan tidurnya tersebut.
"Bangunlah ..." panggil Ken.
"Hey, bangunlah!" panggilnya kembali. namun Alana malah memindahkan posisi tidurnya.
"Alana bangunlah!" Ken menyentuh bahu Alana dan menggoyang - goyangkan berharap wanita itu segera bangun. Alana mengerjapkan kedua matanya. dan saat ia melihat wajah Ken tepat di atasnya. ia langsung beranjak bangun seketika.
"Ada apa?" tanya Alana sembari mengucek kedua matanya yang buram.
“Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Ken.
“Kau semalam tertidur nyenyak. Jadi, aku takut membangunkanmu,” ucap Alana.
“Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Ken.
"Kenapa terburu - buru? ini kan hari sabtu. kalau kau mau pulang ya pulang saja sendiri sana, nanti aku akan menyusul." Alana berucap dengan memejamkan matanya kembali yang masih terasa berat. Ken hanya diam dan menajamkan kedua matanya menatap Alana. Alana membuka satu matanya dan ia melihat suaminya yang menajamkan kedua matanya seolah hendak menerkamnya hidup - hidup.
"I-iya kita pulang. aku akan mandi dulu," Alana beranjak berdiri dengan takut dan segera lari masuk ke dalam kamar mandi. ia bergantian mandi dengan Ken. setelah itu, mereka berdua pun pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, Ken dan Alana masuk ke dalam. Ia melihat orang tua dan adik – adiknya sedang sarapan bersama di meja makan.
“Ken, Alana. Kalian sudah pulang? Semalam kalian ke mana?” tegur Merry.
“Pasti Kakak dan Alana honeymoon, iya, kan, Kak?” heboh Jesslyn dengan menyengirkan senyumannya.
“Tau apa kau anak kecil!” tegur Ken.
“Maaf, Ma, Pa. Semalam Ken ketiduran di tempat Alana. Alana tidak berani membangunkan, Ken. Jadi, kami terpaksa menginap di sana,” ujar Ken.
“Baiklah, ya sudah, ayo kita sarapan.” Gio menyuruh anak dan menantunya tersebut untuk duduk. namun, Alana terlebih dulu meletakan tas miliknya yang berisi baju ke dalam kamar Ken. setelah itu, ia kembali ke meja makan untuk sarapan bersama keluarga barunya. baru saja, Alana mendudukan tubuhnya di atas kursi. tiba - tiba Jasson beranjak berdiri dari duduknya.
“Ma, Pa. Jasson pergi dulu.” belum menghabiskan makanannya. Jasson berpamitan hendak pergi dari meja makan.
“Jasson, kau mau ke mana sepagi ini? Habiskan dulu makananmu,” perintah Merry.
“Sudah kenyang, Ma. Jasson mau ke pantai, dengan Harry, dan teman Jasson yang lainnya, Ma” kata Jasson.
“Pantai? Aku ingin sekali ke pantai,” timpal Jesslyn.
“Kau ingin ikut?” tanya Jasson. Jesslyn menganggukan kepalanya dengan penuh harap.
“Ikutlah, akan ku jadikan makanan hiu di sana,” ujar Jasson.
"Jassonnnnnn!" teriak Jesslyn dengan kesal. Jasson menahan tawanya dan cepat - cepat berlalu pergi dari sana.
“Kakak ...” Jesslyn mengadu kepada Ken bahkan ia memasang wajah memelas di depan Kakaknya itu.
“Biarkan saja, nanti pergilah sendiri bersama Mama dan Papa," tutur Ken.
"Mama, ayo kita ke pantai," ajak Jesslyn.
"Tidak bisa sayang, Mama sama Papa kan mau ke tempatnya Paman Louis hari ini, besok saja, ya ... " ucap Merry. Jesslyn hendak merengek. namun, ia melirik ke arah Kakaknya yang sedang menatapnya. Jesslyn sudah paham akan tatapan Kakaknya itu.
"Baiklah," saut Jesslyn dengan dengan sedikit kecewa.
"Oh iya, Ken. Mama dan Papa mau memberikan kalian hadiah pernikahan," ucap Merry.
"Hadiah? hadiah apa, Ma?" tanya Ken sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Tiket Honeymoon, terserah kalian mau Honeymoon ke mana," kata Merry. Alana langsung tersedak saat mendengarnya.
"Sayang hati - hati," tutur Merry, ia membantu mengambilkan air untuk menantunya itu. Alana langsung meneguk air tersebut.
"Alana terlalu senang, Ma. makanya sampai tersedak." timpal Jesslyn dengan melebarkan senyum girangnya.
"Apanya yang senang?" ingin sekali kata - kata itu di lontarkan Alana kepada Jesslyn. namun sayangnya Alana hanya bisa melontarkan di dalam hatinya.
"Tidak usah, Ma." Ken menolaknya.
"Iya, Ma. tidak usah. kita di sini saja sudah senang," timpal Alana dengan begitu lega mendengar jawaban Ken. Ken pun memperhatikan raut wajah Alana yang tampak begitu senang saat ia menolak tawaran Mamanya tersebut.
"Dia memang ingin sekali menolak tawaran Mama," gumam Ken dalam hati.
"Mama tidak mau tau, pokoknya kalian harus menerima hadiah dari Mama dan Papa," paksa Merry.
"Tapi, Ma. di sini juga sama saja, iya kan, Ken?" tanya Alana.
"Apanya yang sama saja?" tanya Ken dengan menatap tajam Alana.
"Kenapa dia malah menatapku seperti itu? dia pikir aku akan mau begitu? tidak! aku tidak akan mau, aku tidak mau." Hati Alana meronta seraya memalingkan pandangannya.
"Ya sudah, Ma. Ken dan Alana mau. iya kan, Alana?" ucap Ken hingga membuat kedua mata Alana melebar dengan sangat jelas. Ken pun masih tak bergeming menatap istrinya yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Alana tak bisa berkutik.
"Baiklah, sayang." Merry begitu senang saat mendengarnya.
"Tapi bulan depan saja ya, Ma. karna Ken. masih sibuk menyiapkan keperluan untuk perusahaan Paman Holmes," ucap Ken.
"Baiklah, kalian mau Honeymoon ke mana?" tanya Merry.
"Terserah Mama saja. ke mana pun itu tidak jadi masalah untuk Ken," jawab Ken.
"AKU YANG MASALAH. AKU!" rasanya ingin sekali Alana berteriak di depan Ken seperti itu. dengan sangat kesal Alana memasukan semua makanan ke dalam mulutnya hingga mulutnya penuh.
"Aku harus jauh - jauh hari menyiapkan bekal kesabaran untuk menghadapinya," gumamnya kembali. Alana mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan sangat kasar seraya melirik sinis ke arah Ken.
***
Mereka semua mengakhiri sarapan pagi itu. Merry dan Gio berpamitan kepada anak dan menantunya untuk pergi ke rumah Louis. Jesslyn kembali ke kamarnya. sementara Ken pergi ke perpustakaan. dan Alana mengikuti suaminya tersebut.
"Ken?" panggil Alana. ia berjalan mendekati suaminya yang baru saja mengambil satu buku dari tempatnya.
"Ken, kenapa kau malah menerima tawaran Mama?" tanya Alana dengan kesalnya. Ken menoleh ke arah Alana. ia menutup buku yang baru saja ia buka dan meletakan buku itu di atas meja.
"Kenapa memangnya? kau tidak mau?" tanya Ken dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Alana. hingga membuat Alana memundurkan langkahnya dengan takut.
"Bu-bukan seperti itu," ucap Alana.
"Bukan seperti itu apanya?" seru Ken.
"Aku mau, kok. aku mau," Alana menjawab dengan takut. karna ia ingat betul akan kata - kata Ken yang menyuruhnya untuk menuruti semua perintahnya. lalu, ia menerobos tubuh Ken dan hendak lari keluar dari perpustakaan itu.
"Tunggu!" mendengar suara Ken. Alana seketika langsung menghentikan langkah kakinya.
"A-ada apa?" tanya Alana.
"Lanjutkan kuliahmu lagi!" perintah Ken. Alana begitu terkesiap mendengar permintaan suaminya. Alana masih terdiam. sebenarnya, ia ingin sekali melanjutkan kuliahnya. tetapi, di sisi lain. kalau dia melanjutkan kuliahnya. dia tidak bisa mengurus Ayahnya, toko kue dan toko bunga miliknya. terlebih lagi dirinya sudah menikah. ia sudah memiliki tanggung jawab akan hal itu.
"Tidak usah, Ken. aku tidak mau melanjutkan kuliahku," tolak Alana.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Aku di rumah saja. mendidikmu biar jadi orang baik," hati Alana berbicara seperti itu.
"Tidak apa - apa, aku tidak mau melanjutkannya," jawab Alana. Ken berjalan mendekati Alana.
"Kau malu dengan teman - temanmu?" tanya Ken.
"Tidak. untuk apa malu? aku hanya tidak ingin saja melanjutkannya!" bantah Alana.
"Ya sudah terserah kau saja, pergilah dari sini. dan jangan menggangguku lagi!" Ken berbalik badan dan melanjutkan niatnya untuk membaca buku.