My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Gara - Gara Kopi



Alana menemui Jesslyn yang sedang membaca buku di dalam kamarnya. Ia pun mendudukan tubuhnya di samping sahabat sekaligus adik iparnya tersebut.


"Kau sedang membaca buku apa?" tanya Alana.


"Love Story, " saut Jesslyn dengan tersenyum.


"Apa kau sedang jatuh cinta dengan seseorang?" tanya Alana.


"Tidak. Aku akhir - akhir ini hanya ingin membaca buku kisah cinta saja," ucap Jesslyn.


"Oh." Alana mengangguk - anggukan kepalanya dan tersenyum.


"Alana," panggil Jesslyn.


"Iya, Jesslyn?" saut Alana.


"Apa kau masih mencintai mantan kekasihmu?" tanya Jesslyn.


"Jelas tidak, Jesslyn. aku sudah lama melupakannya," ucap Alana. Jesslyn menutup buku yang ia pegang dan meletakannya ke sembarang tempat.


"Alana, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Jesslyn.


"Tentu saja, apa?" tanya Alana.


"Alana, tolong belajarlah mencintai Kakakku," pinta Jesslyn. kata - kata Jesslyn membuat Alana terkesiap saat mendengarnya.


"Kakakku orang yang baik, Alana. dia memang kasar tapi hati dia baik, percayalah. " Jesslyn mencoba meyakinkan Alana. Alana menghela napas dan menggenggam erat kedua tangan Jesslyn.


"Aku tau, Jesslyn. Kakakmu adalah orang yang baik. jika dia tidak baik, dia tidak akan mungkin menolong orang asing sepertiku berkali - kali," jawab Alana dengan tersenyum. kata - kata Jesslyn mengingatkan Alana akan pertemuan pertama kalinya dengan Ken. di mana laki - laki yang kini sudah menjadi suaminya telah menolongnya berkali - kali.


"Tapi, maafkan aku. aku tidak bisa memaksa kepada siapa hatiku harus jatuh cinta!


Karna, cinta bukanlah suatu hal yang bisa di paksa. Jika memang cinta itu ada. Dia pasti akan hadir dengan sendirinya. meskipun tanpa di minta," imbuh Alana.


"Aku tau itu, Alana. tapi, aku berharap sekali kau dan Kakakku bisa saling membuka hati." Jesslyn sedikit kecewa akan jawaban Alana. dan seketika itu Alana langsung memeluk Jesslyn. Alana hanya bisa mengiyakannya. Karna, setidaknya, kata - kata itu sedikit melegakan hati Jesslyn.


"Tidak semudah itu, Jesslyn." Alana bergumam dalam hati seraya memejamkan matanya. ia semakin mengeratkan pelukannya kepada adik iparnya tersebut.


Jesslyn dan Alana saling melepas pelukannya. Mereka berdua bercerita dan bermain tebak - tebakan. sesekali mereka berdua menyelipkan candaan dalam percakapannya tersebut.


Namun, tiba - tiba, Ken masuk begitu saja ke dalam kamar Jesslyn tanpa mengetuk pintu kamarnya. Ia melihat adiknya sedang bercanda bersama istrinya. Bahkan,  gelak tawa di antara mereka berdua terdengar begitu memecah di dalam kamar itu.


"Alana,  tolong buatkan aku kopi." seketika itu, perintah Ken menghentikan tawa Jesslyn dan juga  Alana.


"Sebentar," saut Alana.


"Kakak mengganggu saja!  Kan, bisa minta tolong Bi Molley untuk membuatkan kopi!" timpal Jesslyn dengan kesal.


"Untuk apa menyuruh Bi Molley? Lalu, apa gunanya Kakak menikahi temanmu itu!" Ken berseru dan langsung berlalu pergi meninggalkan kamar adiknya tersebut.


"Alana, jangan di masukan hati, ya." Jesslyn mencoba membuat Alana mengerti akan sikap Kakaknya tersebut.


"Tidak, Jesslyn. aku permisi dulu ke dapur, ya." Alana pun berlalu meninggalkan kamar Jesslyn. ia berjalan menuju ke dapur dengan bibir yang tak henti menggerutu kesal.


"Tidak akan ku masukan hati. tapi ku masukan ingatanku. jadi, aku selalu mengingat kata - kata menyebalkan apa yang sering dia lontarkan," umpat Alana dalam hati. ia memulai  membuat kopi untuk suaminya tersebut. seusai kopi yang ia buat sudah sesuai takaran. Alana langsung pergi ke kamar untuk mengantarkan kopi itu kepada suaminya.


Di kamar, Ken terlihat sedang duduk bersantai di sofa sembari membaca buku dan menikmati sepotong kue coklat di atas meja yang sempat di sajikan oleh Bi Molley tadi.


"Suamiku, ini kopinya." Alana meletakan kopi itu di atas meja yang ada di depan suaminya tersebut.


"Kemasukan apa dia bicara semanis itu, apa dia mencoba menggodaku?" gumam Ken dalam hati seraya menatap tajam Alana dengan penuh keheranan.


"Lihatlah matanya itu, dia selalu menatapku seperti itu. rasanya ingin sekali ku cabut kedua mata itu dari tempatnya." Alana mengumpat dalam hati. Namun, ia mencoba tersenyum di depan Ken.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau tidak mencampurkan sesuatu kan di dalam kopi ini?" tanya Ken dengan curiga.


"Sesuatu apa? aku hanya mencampurkan bubuk kopi dan gula saja!" seru Alana dengan kesal. Ken pun meraih cangkir kopi itu dan sedikit meminumnya.


"Apa kau sudah gila? kenapa membuat kopi semanis ini? apa kau mau perlahan - lahan membunuhku?" seru Ken.


"Iya," saut Alana dengan tidar sadarnya.


"Astaga, bicara apa aku?" Alana menutup mulutnya seketika.


"Ma-maksudku mana mungkin aku mau membunuhmu. Aku membuat kopi itu sesuai takaran. Jadi mana mungkin kopinya kemanisan?" tanya Alana dengan gugupnya.


"Coba saja kalau tidak percaya! aku tidak suka kopi yang terlalu manis. buatkan lagi dan kurangi takaran gulanya!" perintah Ken. ia meletakan gelas cangkir itu di atas meja dan melanjutkan kembali membaca bukunya. Alana menghela napas mencoba menahan rasa kesalnya.


"Baiklah!" Alana mengambil cangkir kopi itu dan kembali ke dapur dan membuatkan kopi baru untuk suaminya tersebut. ia mengurangi satu takaran sendok gulanya. Setelah itu, ia kembali ke kamar untuk menyuguhkan kopi itu ke pada Ken.


"Ini minumlah!" Alana menyodorkan kopi itu kepada Ken. dan Ken pun dengan segera meminumnya.


"Kopi ini terlalu pahit. sebenarnya kau bisa atau tidak membuat kopi?" seru Ken.


"Kau maunya yang seperti apa? aku sudah mengurangi takaran gulanya sesuai yang kau mau!" seru Alana.


"2 sendok teh kopi dan 2 sendok teh gula! itu takaran yang benar!" tutur Ken.


"Tadi kopi pertama sesuai takaran! tapi kau malah bilang kemanisan!" seru Alana.


"Tadi memang terlalu manis dan aku tidak suka! buatkan sesuai takaran yang aku katakan!" perintah Ken. Alana menghela napas.


"Sabar Alana, sabar." Alana terpaksa mengiyakannya dan kembali lagi ke dapur untuk membuat kopi baru. ia dengan teliti menuang kopi dan gula itu sesuai takaran yang Ken minta.


"Padahal tadi benar sesuai takaran. Jika dia bilang kemanisan lagi. Aku ku tuang kopi ini ke wajahnya," mulut Alana tak henti menggerutu kesal seraya mengaduk kopi itu. Ia kembali membawa kopi yang baru saja ia buat ke dalam kamar Ken.


"Ini minumlah!" Alana menyodorkan kembali kopi itu. Ken meletakan bukunya dan segera mencoba kopi itu


"Ini baru pas! membuat kopi saja tidak bisa," gerutu Ken.


"Tidak bisa apanya? ini sesuai takaran kopi pertama yang ku buatkan untukmu tadi! apa kau mau mengajak bergelut denganku?" seru Alana dengan meletakan kedua tangannya di pinggang. rasanya ia benar - benar kesal kepada suaminya tersebut.


"Benarkah? Tapi tadi kopi pertama benar - benar manis." kedua mata Ken langsung melirik ke arah kue coklat yang tinggal setengah karna sudah ia makan.


"Astaga, mungkin karna aku makan kue coklat ini jadi rasa kopinya tadi kemanisan." imbuh Ken dengan wajah seolah tak bersalah.


"Kau..." Alana dengan geram menggerakan tangannya. rasanya sekarang ia ingin sekali meletakan kedua tangannya di leher Ken. Dan mencekik leher suaminya tersebut.


"Kenapa tanganmu seperti itu? apa kau mau mencekikku?" seru Ken.


"Ti-tidak, siapa yang mau mencekikmu. mana berani aku mencekikmu? aku hanya senam jari saja. lihatlah," bantah Alana seraya menggerak - gerakan jarinya karna takut.


"Ya sudah aku tinggal ke kamar Jesslyn dulu." Alana hendak berlalu meninggalkan Ken dari kamarnya.


"Tunggu!" panggil Ken. Alana seketika menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa lagi?" tanya Alana. Ken beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Alana.


"Kau tadi bilang apa? mau mengajakku bergelut?" tanya Ken.


"Dengan senang hati. Nanti malam aku akan menunggumu," bisik Ken dengan tersenyum sinis kepada Alana. hingga membuat Alana sedikit takut.


"Ti-tidak. aku hanya bercanda tadi, aku benar - benar bercanda," Alana seketika langsung lari meninggalkan suaminya tersebut.


"Dasar gadis bodoh," Ken kembali duduk ke sofa dan menikmati kopinya kembali.


.


.


.


.


.


Thor kenapa kalau weekend lama updatenya?


Kalau weekend aku libur kerja. Dan waktuku buat keluarga, jadi gak melulu pegang hape sama ngadep laptop hehe.


Jadi maaf ya sayang - sayangkuh harap di maklumi kalau updatenya lama. 😘😘😘