My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Sebuah takdir



Alana memembuka kembali pintu rumahnya dan menyuruh David untuk masuk ke dalam rumah. lalu, ia mempersilahkan laki - laki itu untuk duduk dan Alana pun ikut duduk dengan jarak yang cukup  jauh dari David.


"Ada apa kau kemari?" tanya Alana.


"Alana, aku mau bertanya sesuatu kepadamu," kata David dengan tatapan yang begitu serius.


"Ehm, bertanya apa?" tanya Alana dengan penasaran.


"Alana, apa kau menyukai, Ken?" tanya David.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Alana menatap tidak suka ke arah David.


"Alana, aku sudah tau semuanya, semua tentang pernikahan bisnismu dengan Ken. Alana, apa kau benar - benar ingin menerima tawaran Ken untuk menikah dengannya?" tanya David hingga membuat Alana mengernyit keheranan. Alana terdiam sejenak,  lalu, wanita itu mengiyakannya.


"Alana, kau coba pikirkan baik - baik lagi. Ini menyangkut masa depanmu. Jika ini hanya masalah hutang Ayahmu, aku bisa membantumu untuk melunasinya, kalau kau memberitauku terlebih dulu. Aku pasti akan membantumu tanpa memberi syarat apapun,  seperti Ken memberikan syarat kepadamu untuk menikah dengannya!" seru David.


"Aku sudah memikirkannya baik - baik. Tidak mungkin aku menerima tawaran Tuan Ken tanpa memikirkannya matang - matang terlebih dahulu."


"David, maaf.jika kau kemari hanya untuk menanyakan masalah ini, lebih baik kau pulanglah. Aku masih banyak urusan," ujar Alana sembari berdiri dari tempat duduknya. rasanya ia kesal terhadap  David yang terlalu lancang ikut campur masalahnya. David pun juga ikut berdiri dan mendekati Alana.


"Alana, tolong, sebentar saja! Apa kau lupa?  Ken pernah merendahkanmu. bahkan dia tidak pernah bersikap baik terhadapmu. Ken sama sekali tidak pernah mencintaimu dan aku sangat mengenal Ken. sampai kapanpun dia tidak akan pernah menerimamu di hatinya."  David tak gentar meyakinkan Alana. Bahkan,  ia berani memegang kedua bahu Alana. namun,  Alana menepis tangan itu dari bahunya.


"Aku tau itu! dan aku tidak peduli! aku tidak mempedulikan cinta, perasaan, masa depan atau apapun itu. aku sama sekali sudah tidak peduli! yang aku pedulikan hanya Daddyku. aku menikah dengan Tuan Ken hanya karna sebuah kesepakatan bisnis, tidak lebih dari itu. Aku juga sudah banyak berhutang budi dengan dia!"


"David, tolong! aku selalu menganggapmu orang baik. jadi, tolong jangan ikut campur masalah pribadiku!" seru Alana dengan penuh penekanan seraya mengatupkan kedua tangannya di hadapan laki - laki itu. David seketika terdiam.


"Baiklah, maaf jika aku terlalu ikut campur masalah pribadimu. seharusnya aku tidak lancang seperti ini, Jika memang itu keputusanmu. aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu," David pun berpamitan pulang kepada Alana. Dan dia berlalu pergi dari sana. saat David sudah pergi mengendarai mobilnya. Alana langsung menjatuhkan kembali tubunya dengan lemas di atas sofa. ia memijat keningnya yang tiba - tiba pusing memikirkan hidupnya yang ia rasa begitu rumit.


"Entah ini awal dari sebuah kebahagiaan atau kesialan. aku tidak peduli, aku sungguh tidak peduli!" gumam Alana dalam hati. ia kembali beranjak berdiri dan melanjutkan niatnya yang semula.


***


David masih sibuk mengemudikan mobilnya menuju ke kantor miliknya, pikirannya benar - benar begitu kacau saat itu. tak bisa di pungkiri, David memang hampir memiliki karater yang sama dengan Ken. ia sangatlah sulit jatuh hati kepada wanita. namun, bedanya. Ken sama sekali tidak pernah memberi kesempatan wanita manapun untuk mengisi hatinya. sedangkan David, ia masih memberi kesempatan wanita manapun untuk mencoba mengisi hatinya, meskipun, kadang ia sulit untuk menerima hal itu.


Tapi Alana? sejak pertemuannya dengan Alana pertama kali di bar. David memiliki ketertarikan sendiri kepada wanita itu. tapi sekarang? dia harus berlapang dada menerima kenyataan, bahwa, wanita yang ia suka akan menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Jika mereka berdua menikah karna memiliki perasaan yang sama, mungkin, aku masih bisa menerimanya. tapi, mereka menikah hanya karna untuk kesepakatan bisnis. aku sungguh tidak habis pikir terhadap Ken. aku kasihan saja terhadap Alana,"gumam David dalam hati.


Tak lama kemudian, David menghentikan mobilnya di depan kantor. ia memarkirkan mobil itu. lalu, masuk ke dalam kantor. ia berjalan menaiki anak tangga menuju  ke ruangannya yang ada di lantai atas.


saat ia masuk ke dalam ruangannya ia tekejut melihat Ken sedang duduk menunggunya di sana.


"Kau dari mana saja? tumben sekali, kau datang siang?" tanya Ken sembari berjalan menghampiri David.


"Iya, aku sedang ada urusan. ada apa kau pagi - pagi kemari?" tanya David. Ken sejenak memperhatikan raut wajah David yang sedikit berbeda dan tak seperti biasanya.


"Aku kemari ingin meminta bantuanmu. kau kenapa? apa kau sedang ada masalah?" tanya Ken balik.


"Tidak. ayo duduklah," perintah David. Ken pun mengiyakannya. David  meletakan tas miliknya di atas meja. lalu, ia ikut  mendudukan tubuhnya di atas sofa itu tepat di samping Ken.


"David, aku sangat mengenalmu. ayo bicaralah, kau ada masalah apa?" tanya Ken dengan menepuk bahu sahabatnya itu. David terdiam sejenak dan memperhatikan Ken.


"Hanya karna seorang wanita, aku tidak mau persahabatanku dan Ken yang terjalin sudah lama, retak begitu saja. aku akan merelakan Alana. mungkin Tuhan tidak menakdirkan dia untukku," gumam David dalam hati.


"Hey, kenapa kau diam saja?" Ken menegur David.


"Tidak, Ken. aku tidak punya masalah apapun," jawab David dengan tersenyum dan menepuk bahu Ken.


"Benarkah?" tanya Ken seakan tak percaya. David pun mengiyakannya.


"Oh iya, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Alana?" tanya David.


"Ya, seperti itulah. semuanya kan serba mendadak. jadi, aku mempercayakan semuanya kepada EO," kata Ken seolah begitu malas membahas pernikahannya dengan Alana.


Mereka berdua pun berbincang - bincang dan bersenda gurau seperti biasanya. David, mencoba membuat semuanya baik - baik saja. meskipun tak bisa di pungkir ia masih merasa sedikit terluka akan kenyataan yang ia terima. bahwa wanita yang ia suka akan menikah dengan sahabatnya. namun bagaimana lagi? hanya karna menuruti nafsu hatinya, David tidak ingin kehilangan sahabat baik seperti Ken. persahabatan yang sudah mereka jalin sejak mereka duduk di bangku sekolah.


***


Sore harinya, saat Alana selesai pulang dari toko. ia kembali lagi ke rumah sakit menemi Ayahnya. di sana, Ayahnya terlihat sedang beristirahat. namun, Ayah Alana tiba - tiba terbangun, saat mendengar pintu ruangan yang baru saja di buka oleh Alana.


"Daddy, Alana kira Daddy sedang tidur," kata Alana tersenyum. seraya berjalan mendekat ke arah Ayahnya tersebut.


"Alana, di mana, Ken? kenapa kamu sendirian, Nak?" tanya Holmes.


"Ehm, Ken sedang sibuk, Daddy. besok, kan, acara pernikahan Alana dengan Ken. jadi, Ken sedang sibuk mempersiapkan semuanya," ujar Alana dengan asal. bahkan dia sendiri saja tidak tau Ken sedang apa. karna seharian dirinya sama sekali tidak bertemu atau bertukar kabar dengan calon suaminya tersebut.


"Maafkan, Daddy, ya, Nak. di saat hari pentingmu, Daddy justru tidak bisa menikahkanmu," ujar Holmes dengan menahan air matanya.


"Tidak apa-apa, Daddy. yang Alana butuhkan hanya doa Daddy saja," ucap Alana seraya menggenggam erat jemari tangan Ayahnya tersebut. Alana begitu sesak merasakan ini semua.


Tiba - tiba, pintu ruangan itu sedikit terbuka. Alana dan Holmes bersamaan menoleh ke arah sana. Alana terkejut saat melihat Ken berdiri di depan pintu ruangan itu. lalu, Alana beranjak berdiri dan menghampiri Ken. namun, ternyata Ken tidak sendiri, ia datang bersama dengan Merry dan juga Gio.


"Bibi, Paman," sapa Alana. ia pun tersenyum senang saat melihat calon mertuanya itu.


"Hallo sayang," Merry memeluk Alana dengan begitu bahagianya.


"Apa - apaan? yang dia lihat pertama kali aku. tapi, yang di sapa hanya Mama dan juga Papa!" umpat Ken dalam hati. ia pun menatap tajam kedua mata Alana. namun, Alana memutar kedua bola matanya. dan masih saja tak mau  menyapa Ken.


"Berani sekali dia," gumam Ken dalam hati.


"Bibi, Paman, kenapa tidak bilang kalau mau datang kemari? maaf, jadi merepotkan kalian," kata Alana.


"Memangnya, Ken tidak memberitaumu, Nak. kalau Paman dan Bibi akan kemari menjenguk Ayahmu?" tanya Gio dengan heran.


"Tidak, Paman." Alana menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Sudah, Pa. tapi dia saja yang lupa," saut Ken. Alana pun menoleh ke arah Ken. Ken menatap tajam kedua mata Alana berharap mengiyakan perkataannya.


"Iya,  Paman. sepertinya Tuan Ken yang lupa memberitau Alana. karna dia memiliki banyak sekali pekerjaan hari ini," kata Alana. Ken semakin melotot kepada Alana. namun Alana malah menarik ujung bibirnya seakan mengejek.


"Tuan Ken?" ucap Merry. Merry dan Gio saling beradu pandang. mereka mengernyit kebingungan akan panggilan Alana terhadap Ken.


"Sayang, kenapa kamu memanggil Tuan? kalian akan segera menikah bukan? tidak enak sekali jika di dengar oleh orang lain," tutur Merry.


"Astaga, bodoh sekali aku. aduh, aku bingung harus memanggilnya apa," gumam Alana dalam hati. ia melirik ke arah Ken yang sedang melotot ke arahnya.


"Ma-maksud, Alana, Kakak Ken, Bibi." Alana tertawa pelik.


"Iya, kan, Kakak Ken?" Alana menyengir kepada Ken.


"Wanita ini semakin lama semakin terlihat bodoh saja!" umpat Ken dalam hati.


"Aneh sekali jika memanggilnya Kakak. serasa bocah SMP yang sedang memanggil kakak kelasnya," gerutu Alana dalam hati.


"Ehm, Bibi, Paman. ayo silahkan masuk," ajak Alana. Merry dan Gio pun mengiyakan, mereka berdua terlebih dulu masuk. namun saat giliran Ken hendak masuk. Alana dengan sengaja langsung menutup pintunya.


"Heyyyyy!" Ken berteriak kesal. Alana langsung membuka pintunya kembali.


"Ya Tuhan ... astaga, calon suamiku, maaf. aku lupa jika ada dirimu," kata Alana dengan memasang wajah seolah tak bersalah.


"Kau sengaja, kan?" Ken melototkan kedua matanya kepada Alana.


"Kau berani mencoba mengulanginya lagi, akan ku cekik lehermu!" seru Ken.


"Cekik saja kalau berani, kau pikir aku takut dengan dirimu!" Alana tersenyum sinis. dan berlalu menghampiri Ayah dan juga calon mertuanya tersebut. Ken pun berdecak kesal.


.


.


.


.


.


.