My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kelicikan



Caleey mengernyit kebingungan. ia masih bertanya - tanya dalam hati. akan kehadiran Ken di rumah sepupunya tersebut.


"Kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Ken kepada Caleey.


"A-aku sedang menemui Alana juga, Kak." Caleey menjawab dengan begitu bingungnya.


"Ternyata kalian saling mengenal?" Ken berpura - pura seolah tidak tau. seraya memandang Caleey dan Alana secara bergantian. Caleey mendekati Ken dan menyentuh lengannya.


"Kak Ken kenapa keluarga kalian berhubungan dengan wanita seperti dia?" tanya Caleey dengan nada suaranya terdengar begitu lembut di telinga Ken.


"Kenapa memangnya?" tanya Ken seraya menyipitkan kedua matanya.


"Kak Ken. apa kau tau, Alana ini seorang pencuri? dia pernah tertangkap basah mencuri di rumahku," ucap Caleey. Ken mengalihkan pandangannya kepada Alana. seketika itu Alana langsung menundukan kepalanya.


"Benarkah?" tanya Ken kepada Caleey. kedua matanya tak bergemming memperhatikan Alana yang masih menunduk.


"Iya, Kak. kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan kepada Daddyku dan semua teman - temanku. karna dia tertangkap hendak mencuri saat ada pesta kecil di rumahku," ucap Caleey dengan menggelayuti tangan Ken.


"Untuk apa aku bertanya kepada mereka? dan, bagaimana bisa rumah dengan penjagaan ketat seperti rumahmu, ada seorang pencuri masuk kecuali keluarganya sendiri? dan bagaimana bisa anggota keluarga sampai mencuri di rumah keluarganya sendiri?" tanya Ken dengan menatap Alana. Caleey terdiam sejenak seraya mengernyitkan dahinya, ia begitu kebingungan mencerna apa yang di katakan oleh Ken baru saja.


"Maksud Kak Ken apa?" tanya Caleey.


"Lupakan saja."


"Aku harus pergi. karna, aku masih ada kepentingan dengan Alana. Alana, ayo." Ken mengajak Alana pergi dari sana. Alana pun mengiyakannya. ia menutup dan mengunci pintu rumahnya terlebih dulu dan meninggalkan Caleey sendirian di sana. Alana mengikuti Ken yang baru saja naik ke dalam mobil. Caleey memanggil - manggil nama Ken. namun, Ken tak menghiraukan teriakan wanita itu. Alana pun duduk di depan tepatnya di samping Ken.


"Apa seat belt nya akan macet lagi?" tanya Alana.


"Tidak, aku sudah memperbaikinya," jawab Ken. Alana pun langsung melilitkan seat belt itu ke tubuhnya.


Alana, menundukan pandangannya. pikirannya pagi itu begitu kacau karna kedatangan Caleey di rumahnya.


"Sedang apa dia di rumahmu sepagi ini?" tanya Ken.


"Apa yang kau maksud Kak Caleey?" tanya Alana. Ken mengangguk.


"Kak Caleey dan Paman Afford tau, kalau perusahaan milik Daddy akan disita selamanya oleh pihak bank. jadi, dia datang mau menawarkan bantuan untuk melunasi sisa hutang Daddyku. tapi, kau sudah terlebih dulu membantuku," ujar Alana.


"Dia sepupumu, kan?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya tanpa bersuara.


"Keluarga mereka, sungguh licik sekali," gumam Ken pelan. namun, Alana mendengarnya.


"Tidak! kau salah. mereka semua baik," saut Alana,  Ken melirik tajam ke arah Alana. bagaimana bisa  Alana menutup - nutupinya? iya, bukankah seorang keluarga harus menutupi keburukan anggota keluarga lainnya? itu yang hanya ada di pikiran Alana. jadi tak heran, jika Alana berbicara seperti itu.


"Kalau memang mereka baik dan  berniat membantumu. kenapa mereka membiarkan perusahaan Ayahmu bangkrut? dan kenapa mereka tidak membantu menebus sertifikat perusahaan Ayahmu di jauh hari sebelumnya? bahkan, mereka membiarkanmu dan Ayahmu menderita. kau sampai memiliki hutang banyak, dan tinggal di rumah kecil seperti itu, apa itu yang di namakan baik? bahkan kau sampai mencuri di rumah mereka," ujar Ken dengan penuh penekanan.


"Aku tidak pernah mencuri!" seru Alana dengan penuh penekanan seraya menatap Ken.


"Lalu?" tanya Ken. rasanya, Ken berbicara seperti itu. karna ia memang sengaja memancing Alana.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku! aku tidak pernah mencuri, Daddyku tidak pernah mengajarkan itu kepadaku." kedua mata Alana berkaca - kaca. bahkanm, ia  menarik nafasnya dengan sesenggukan.


"Sama saja! tidak ada bedanya mengambil dan mencuri!" ujar Ken. ia semakin memancing Alana.


"Jelas beda! aku, hanya mengambil sertifikat rumah yang telah di wariskan oleh nenekku kepadaku. tapi, Paman Afford tidak memberikannya. jadi, aku terpaksa mengambilnya secara diam - diam. aku terpaksa mengambilnya untuk membayar rumah sakit Daddy. tapi mereka mengetahuinya dan malah mempermalukanku di depan semua orang." jawab Alana, air mata yang semula ia tahan. kini tak bisa lagi, ia bendungkan. Ken pun terkejut mendengarnya. ia melirik ke arah Alana yang sedang menunduk dan mengusap air matanya. Ken menarik beberapa lembar tissue dan memberikannya kepada Alana. Alana meraih tissue itu. dan mengahapus air matanya seketika.


terlihat jelas sekali di kedua mata Ken. bahwa banyak sekali kesedihan di guratan wajah wanita yang kini duduk di sampingnya.


"Hari ini sudah menjelaskan siapa keluarga Paman Afford sebenarnya. mereka tidak sebaik yang ku kira selama ini. begitu juga dengan Caleey. bahkan sepertinya mereka sengaja mau membantu Alana untuk menebus sertifikat perusahaan itu, biar Celouis Company bisa mereka ambil alih. dan Papa tidak punya cela selain bekerja sama dengan Paman Afford," gumam Ken dalam hati. ia tak henti memperhatikan Alana yang masih sibuk mengeringkan air matanya dengan tissue.


 


***


 


Kini, Alana dan juga Ken pergi ke rumah sakit. untuk menemui Tuan Holmes di sana, Alana memberikan sebuah dokumen kepada Ayahnya tersebut. agar Ayahnya menandatangani dokumen yang di dalamnya tertulis sebuah persetujuan dan memberikan wewenang yang bersifat sementara kepada Ken untuk mengelola Celouis Company.


 


Setelah itu, Alana dan juga Ken pamit kepada Holmes meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke Celouis Company. dan setibanya di sana. Alana menunujukan pabrik tempat untuk produksi yang letaknya tepat di samping kantor Celouis Company.


Di dalam pabrik itu terdapat banyak sekali mesin - mesin besar yang di tutupi oleh kain putih yang terlihat sudah berdebu. karna begitu jelas, sudah hampir 2 tahun lamanya pabrik itu tak beroprasional dan tempat itu tidak di bersihkan sama sekali.


Ken menyuruh beberapa orang kepercayaannya datang ke sana untuk membantu membersihkan pabrik dan menguji coba semua mesin yang ada di dalam pabrik itu. dan Ken mempercayakan semuanya kepada Tuan Leon seseorang yang sudah lama menjadi kaki tangan Papanya. Ken mengajak Tuan Leon keluar dari pabrik untuk mengajaknya berbicara.


"Paman Leon, Ken mempercayakan Paman untuk mengatur  pabrik ini. Ken harap, dalam waktu minggu ini, perusahaan Celouis Company sudah bisa beroprasional kembali." tutur Ken.


"Baiklah, Ken. Paman akan mengatur semuanya. tetapi, sepertinya, ini akan menghabiskan dana yang sangat banyak, Ken. terlebih lagi. kita juga harus mencari pegawai baru," kata Tuan Leon.


"Untuk masalah dana, Ken tidak ada masalah, Paman atur saja semuanya. dan untuk masalah pegawai, kita bisa mengambil dari sebagian pegawai dari perusahaan Papa untuk kita rolling kemari. yang penting, secepatnya perusahaan ini harus bisa berjalan kembali," ujar Ken dengan penuh penekanan. Tuan Leon pun mengiyakannya dan ia pamit masuk kembali ke dalam pabrik untuk mengatur anak buahnya.


"Paman Afford, lihat saja. kau sudah salah bermain - main dengan Papaku. mungkin Papa akan diam saja, tapi tidak denganku! aku tidak akan membiarkannya begitu saja. aku akan membuat perusahaan ini bangkit dan mengungguli perusahaanmu. kau jangan mentang - mentang merasa di butuhkan. lalu, berbuat seenaknya saja." Ken mengepalkan kedua tangannya dengan geram. lalu, kedua matanya tiba - tiba teralih ke arah Alana yang tengah duduk sendiri melamun di bawah panas teriknya matahari. ia sejenak memperhatikan Alana dari kejauhan.


"Kau sedang apa di sini? ayo cepat ikutlah denganku!" ajak Ken dengan menajamkan kedua matanya kepada Alana.


"Kita mau ke mana?" tanya Alana dengan suara yang memalas.


"Jangan banyak bicara," saut Ken. ia berjalan mendahului Alana. namun, Alana tak bergeming dari duduknya karna ia malas sekali meninggalkan tempat itu. ia sudah nyaman dengan posisi duduknya saat ini. lalu, tiba - tiba Ken menoleh ke arah Alana.


"Kenapa kau masih diam di situ? apa perlu aku ambilkan tali tampar untuk menggeretmu kemari?" seru Ken.


"Ambilkan saja, kalau berani," gerutu Alana.


"Apa kau bilang?" teriak Ken.


"Tidak bilang apa - apa, aku hanya bilang sebentar, kenapa kau tidak bisa bersabar!" celetuk Alana. ia beranjak berdiri dan berjalan dengan cepat menghampiri Ken. Ken dan Alana pun berjalan dengan cepat menuju ke arah parkiran mobil.  bibir mungil Alana menggerutu kesal akan Ken. Mereka berdua menumpangi mobil. dan Ken, mulai melajukan mobil miliknya meninggalkan Celouis Company.


"Kita mau ke mana?" tanya Alana. namun Ken hanya diam saja.


"Tuan Ken .... kita mau ke mana? kenapa kau diam saja?" Alana setengah berteriak. hingga membuat telinga Ken sakit saat mendengarnya.


"Apa kau bisa diam! kalau kau masih  banyak bertanya, aku tidak segan akan menurunkanmu di jalan raya!" bentak Ken. Alana pun terdiam seketika.


"Aku hanya bertanya, apa salahku sampai dia membentakku seperi itu," gumam Alana dalam hati. ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar  jendela mobil.


"Aku sadar diri, dulu, saat aku masih memiliki segalanya. semua orang bertutur kata lembut kepadaku. bahkan aku tidak pernah tau bagaimana rasanya di bentak. tapi sekarang? rasanya kata - kata kasar sudah menjadi makanan sehari - hariku. bahkan nanti, setelah aku menikah dengannya," gumam Alana dalam hati. ia memejamkan kedua matanya. bahkan cairan bening itu, ikut tersapu di sana. ia menepisnya dengan begitu lembut.


tak lama kemudian Ken menghentikan mobilnya di halaman rumahnya. iya, Ken memang mengajak Alana ke rumahnya untuk menemui Papa dan juga Mamanya.


"Turunlah," perintah Ken. dan tanpa menjawab, Alana pun mendahului Ken turun dari mobil. Alana hendak berjalan masuk ke dalam rumah Ken. namun, Ken tiba - tiba menarik tangan wanita itu.


"Tunggu sebentar, jangan asal menyelonong saja!" seru Ken dengan kesalnya.


"Maaf." Alana menundukan kepalanya. tanpa melihat Ken.


"Bersikaplah manis di depan orang tuaku!" tutur Ken. namun Alana diam saja.


"Kenapa kau diam saja? apa kau mengerti?" seru Ken.


"Iya, aku mengerti." Alana mengiyakan seraya mengangkat wajahnya. Lalu, kedua mata Ken memperhatikan wajah Alana yang masih sedikit basah karna air mata masih melekat di wajahnya.


"Kau menangis?" tanya Ken dengan mengangkat dagu Alana.


"Ti-tidak," Alana langsung menepis tangan Ken dan memalingkan wajahnya dari hadapan laki - laki itu


"Apa kita bisa masuk sekarang?" tanya Alana.


"Hem." Ken mengiyakannya. Alana pun berjalan mendahului Ken. dan Ken mengikuti Alana dari belakang dan memperhatikan wanita itu.


"Kenapa dia menangis?" gumam Ken dalam hati.


.


.


.


.


.


.


 


 


hayo jangan lupa  like dan votenyaaa, terimakasih ^_^