My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Menerima Tawaran



Caleey meletakan bunga aster yang ia pegang di kursi kosong yang ada di samping Jesslyn, kemudian,  Caleey berjalan cepat keluar rumah dan ia melihat Alana hendak  keluar dari halaman rumah itu. seketika itu Caleey menarik tangan Alana  dengan begitu  kasar.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Caleey dengan menatap tajam Alana. ia mencengkram erat tangan Alana hingga ia merasa kesakitan.


"Lepaskan, tanganku sakit." Alana meronta.


"Kak Caleey, tolong lepaskan tanganku," pinta Alana. Caleey pun melepaskan tangan Alana dan menghempaskannya dengan kasar.


"Kau sedang apa di rumah ini?" tanya Caleey,


"Bukan urusanmu," saut Alana, ia hendak meninggalkan Caleey. namun, wanita itu menariknya.


"Apa maumu?" teriak Alana, dengan menyingkirkan kasar tangan Caleey,


"Aku sedang bertanya kenapa kau di rumah paman Gio? ada hubungan apa kau dengan anaknya?" tanya Caleey seraya menajamkan kedua matanya kepada Alana.


"Kau pasti mau menggoda anak laki - laki yang ada di rumah ini, kan. agar kau bisa menjadi kaya lagi seperti dulu, iya kan? sungguh tidak tau malu," seru Caleey. Alana tertawa kecut mendengar ucapan Caleey.


"Caleey, pikiranmu sama kotornya dengan pikiran orang tuamu, sayangnya aku bukan wanita penggoda, dan aku juga tidak gila harta," saut Alana dengan tertawa sinis.


"Tutup mulutmu, jangan membawa - bawa orang tuaku. kau sungguh tidak tau sopan santun kepada saudara yang lebih tua." Caleey setengah berteriak. Alana semakin tertawa.


"Saudara? aku tidak salah dengar?"


"Cih, aku sudah tidak pernah menganggapmu dan keluargamu saudara sejak hari itu," seru Alana dengan penuh penekanan.  Alana pun pergi meninggalkan Caleey. Caleey hendak menahannya. namun rasanya ia enggan, karna niatnya di sini hanya ingin bertemu dengan Ken.


"Aku harus mencari tau, kenapa Alana bisa di sini," gumam Caleey,  ia pun masuk kembali ke dalam rumah Ken, Caleey pergi ke dapur dan melihat Ken berserta Jasson bersiap - siap hendak pergi dari sana.


"Kak Ken, apa kau mau pergi ke kantor?" tanya Caleey. Ken mangangguk tanpa bersuara.


"Dasimu berantakan, kemarilah, biar aku rapikan," pinta Caleey dengan memegang dasi yang melekat di kera kemeja Ken. namun, Ken menepisnya.


"Aku bisa sendiri," ujar Ken dengan menepiskan tangan Caleey.


"Kakak aku berangkat dulu," pamit Jasson.


"Kenapa kau terburu - buru? apa kau tidak berangkat bersama Kakak saja?" tanya Ken.


"Tidak, Kak. aku terlambat, dan nanti sepulang kuliah aku ada perlu soalnya," ujar Jasson. dengan mengenakan jaket miliknya. Ken pun mengiyakannya.


"Jesslyn, istirahatlah, jangan pergi kemana - mana," tutur Jasson.


"Iya ... cerewet sekali," saut Jesslyn sembari memainkan kukunya.


"Kalian  tenang saja, aku akan menemani Jesslyn di sini, kebetulan aku tidak ada kelas hari ini," ujar Caleey.


"Tidak perlu, aku lebih nyaman di rumah sendiri," saut Jesslyn.


"Jesslyn, jaga sikap bicaramu," tutur Ken.


"Aku hanya bercanda," saut Jesslyn melebarkan senyumnya.


"Jesslyn, Kakak, aku berangkat dulu, Bye." Jasson melangkahkan kakinya dengan cepat untuk meninggalkan rumah. Ken juga berpamitan kepada Jesslyn dan juga Caleey, untuk pergi bekerja, Jesslyn dan Caleey pun mengiyakannya. Ken pergi ke halaman rumah untuk mengambil mobil miliknya. namun, dirinya sangat terheran - heran saat melihat Jasson yang begitu terburu - buru.


"Iya, Kak." Jasson menyaut dan memulai melajukan mobilnya mendahului kakaknya tersebut, Ken menggeleng - gelengkan kepalanya sembari membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


 


***


 


Aku belajar dari sebuah Pengkhianatan


Teman yang paling banyak tersenyum dan yang paling sering memuji kita


ialah musuh yang sebenarnya


 


Alana menghentikan langkah kakinya, ia terlihat berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu taxi, cuaca yang semula panas kini menjadi teduh karna matahari tertutupi oleh awan hitam. cuaca yang sangat di sukai Alana. namun, tiba - tiba  sebuah mobil yang tak asing baginya berhenti di depannya. seseorang turun dari mobil tersebut menghampiri Alana. orang itu tak lain ialah Jasson.


"Jasson."


"Alana, ikutlah bersamaku, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit," ajak Jasson serayamelepas kacamata hitam yang melekat di kedua matanya.


"Tidak usah, Jasson. terimakasih banyak, aku bisa naik taxi sendiri. kau berangkatlah kuliah, kau pasti terlambat," tutur Alana.


"Tidak, aku hari ini tidak ada kelas. naiklah ke mobilku, biar aku mengantarkanmu." Jasson memaksa Alana. Alana  terdiam sejenak untuk memikirkan tawaran Jasson. ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. kalau, ia masih menunggu taxi. ia bisa lama sampai ke rumah sakit. sementara, setengah jam lagi Ayahnya akan mulai di operasi. Alana pun terpaksa mengiyakan tawaran Jasson. mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Jasson, sesegera mungkin melajukan mobilnya tersebut.


Dan tepat, jarak 10 meter dari belakang mobil Jasson, ternyata, terlihat mobil Ken juga  berhenti di sana.  kebetulan, saat Ken juga berangkat bekerja. ia tak sengaja melihat mobil adik laki - lakinya berhenti disana. dan saat itu juga, ia melihat Jasson sedang berdiri berbicara dengan Alana.


"Ini alasannya kenapa Jasson begitu terburu - buru, apa dia memiliki hubungan dengan wanita itu?" ujar Ken. dengan memperhatikan mobil adiknya yang melaju meninggalkan tempat itu. Ken memakai kembali kacamata yang sempat ia lepas, dan melajukan kembali mobilnya untuk pergi ke arah kantor.


 


 


.


.


.


.


 


Nunggu yah? wkwkwk


ini novel khusus bagi para pembaca yang sabar menanti.


Kalian itu maunya apa coba?


Nunggu doi sampek bertahun - tahun  aja bisa. masa nunggu update novel  sehari aja gak bisa wkwkwk