My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Tertidur di rumahku



Setelah membayar kue-kue tersebut. Alana meninggalkan meja kasir dan segera menghampiri Valerie yang sedang menunggunya di ujung sana.


"Duduklah..." perintah Valerie. Alana mengangguk dan segera mendudukan tubuhnya di kursi kosong yang ada di depan Valerie.


"Nona Alana, kenapa wajahmu tiba-tiba pucat sekali?" tanya Valerie saat memperhatikan wajah Alana yang berbeda seperti sebelumnya.


"Tidak... tidak apa-apa," bantah Alana.


"Ceritalah, kenapa kau dan Tuan Billy tidak jadi menikah?" Alana yang begitu penasaran akan hubungan Valerie dan Billy, ia segera mempertanyakannya. Valerie sebenarnya enggan membahas permasalahannya dengan laki-laki itu, namun ia terpaksa menceritakan semuanya kepada Alana, tentang Neneknya yang mengusirnya beberapa minggu yang lalu, termasuk bagaimana dirinya bersembunyi untuk sementara waktu di apartement David


"Berarti, sebelumnya kau tinggal di apartement David?" tanya Alana sekan tak percaya. Valerie pun membenarkannya.


"Ken pasti mengetahui ini semua, kenapa dia tidak memberitahuku?" gumam Alana dalam hati. Melihat Alana yang terdiam membuat Valerie tau apa yang sedang wanita itu pikirkan.


"Ken tidak mengetaui ini, Nona Alana. Aku menyuruuh David dan Ashley untuk tidak memberitau siapapun termasuk suamimu," ujar Valerie.


"Aku sudah melupakan Ken, jadi kau tidak perlu takut. Memang kuakui, aku sempat masih mengharapkan suamimu, tapi aku tidak tau kenapa waktu itu perasaan dan pikiranku bisa buta seperti itu. Tapi, aku bukan wanita yang tega merusak rumah tangga orang lain, Ken sangat mencintaimu, aku sangat tau Ken, dia tidak akan pernah berpaling darimu, jadi percayalah kepadanya."


Setelah mendengar penuturan Valerie, rasa was-was di hati Alana tiba-tiba menghilang begitu saja. Seakan ada kelegaan sendiri di dalam diri wanita itu. Dirinya memang sudah sepenuhnya percaya kepada Ken meskipun tak bisa dipungkiri ketakutan seringkali melanda hatinya.


"Sejak kapan kau tinggal di apartement David?" tanya Alana.


"Tepat saat Ayahmu pergi, tapi sekarang aku sudah tidak tinggal di apartement David lagi."


"Oh, iya, Nona Alana. Aku turut berduka cita atas kepergian ayahmu waktu itu, sebenarnya aku ingin sekali ikut melayat bersama David, tapi aku takut di sana akan merusak suasana," ujar Valerie.


"Terimakasih..." jawab Alana.


"Ehm, jadi Nenekmu sekarang tidak mau menerimamu?" tanya Alana. Valerie mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa kau tidak menceritakan semua  kelakuan Billy kepada Nenekmu?"


"Percuma, Nona. Lagipula aku sudah menerima konsekuensinya,  Nenekku tidak percaya dengan apa yang aku katakan tentang Billy. Karna Billy terlebih dulu memfitnahku selingkuh." Valerie mencoba  menahan air matanya yang ingin sekali meledak, namun ia menahannya sekuat tenaga.


"Aku tidak menyangka Billy seperti itu, aku kira dia orang baik..." ujar Alana.


"Kau yang sabar, ya Nona Valerie. Pasti kau bisa menemukan sosok laki-laki yang jauh lebih baik daripada Billy." Alana mengusap bahu Valerie mencoba menenangkan wanita itu.


"Iya, terimakasih." Valerie membalasanya dengan senyuman.


"Nona Alana, aku membeli rumah di sekitar sini, kalau kau tidak keberatan, mampirlah sebentar." Valerie berharap wanita yang ada di hadapannya saat ini menerima tawarannya tersebut.


"Ehm..." Alana melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 13.00


"Masih lama," gumamnya.


"Baiklah, aku akan mampir sebentar ke rumahmu." Valerie begitu senang mendengar Alana mau mampir ke rumahnya.


"Tunggulag di sini sebentar, aku akan membeli kue." Alana mengiyakannya, Valerie meninggalkan Alana, tak lama kemudian, ia kembali dan terlihat membawa 10 kantung kue di tangannya. Membuat Alana mengernyit heran, mau dibuat apa kue-kue tersebut, pikirnya seperti itu.


"Banyak sekali kau membeli kue, untuk apa?" tanya Alana.


"Untuk dibagikan. Ayo, Nona Alana." Valerie segera mangajak Alana pergi meninggalkan toko kue  itu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke rumah Valerie sambil mengobrol. Valerie tiba-tiba menghentikan langkah kakinya membuat Alana juga mengikutinya.


"Nona Alana, tunggulah di sini, aku mau membagikan kue-kue  ini." Alana mengiyakannya. Ia melihat Valerie berjalan menjauh darinya, tiba-tiba anak jalanan yang  begitu banyak saat melihat Valerie langsung  berlarian ke arahnya.


Valerie membagikan kue yang sempat ia beli tadi kepada anak-anak  jalanan tersebut, membuat Alana begitu terkejut saat melihatnya. Valerie terlihat nampak sangat akrab sekali dengan anak-anak jalanan itu.


Tak lama kemudian, setelah membagikan kue itu, Valerie berjalan menghampiri Alana. "Ayo Nona Alana," ajaknya berjalan kembali.


"Kau terlihat sangat akrab sekali dengan anak-anak itu?" tanya Alana.


"Iya, setiap dua hari sekali aku menemui mereka untuk membagikan makanan," jawabnya sambil mengajak Alana untuk berjalan menuju ke rumah miliknya yang letaknya  tak jauh dari sana.


"Pantas saja, waktu di rumah singgah, banyak sekali orang yang memuji Valerie. Selain dia cantik dia sebenarnya juga baik." Alana bergumam dalam hati, sedari tadi ia tak henti memperhatikan  Valerie, yang ia rasa begitu menakjubkan.


 


 


***


 


 


Setibanya di rumah Valerie, wanita itu segera mempersilahkan Alana untuk masuk ke dalam rumah minimalis yang begitu cantik dengan lapisan cat berwarna merah muda. Valerie mengajak Alana masuk ke dalam kamar dan kini mereka berdua duduk di atas tempat tidur.


Alana memperhatikan sekitar rumah itu. "Kau tinggal sendiri?" tanyanya.  Valerie mengiyakannya.


"Lalu di mana orang tuamu?" tanya Alana kembali.


"Kedua orang tuaku sudah meninggal."


"Maaf... aku tidak tau."


"Tidak apa-apa, Nona Alana."


"Panggil Alana saja," tutur Alana.


"Baiklah, kau juga harus memenggilku Valerie," sautnya sambil tersenyum.


"Baiklah," saut Alana.


"Valerie, aku sangat lapar sekali. Apa aku boleh makan kue yang tadi aku beli  di sini?"


"Tentu saja, makanlah..." setelah mendapat izin dari Valerie, Alana segera membuka kotak kue yang menampakan enam potong kue yang ia sempat beli tadi di dalam kotak itu.  Alana dengan tidak sabar ingin sekali segera memakannya.


Valerie mengernyit keheranan saat melihatnya. "Alana, apa kau yakin ingin menghabiskan kue-kue  ini?" tanyanya.


"Mana mungkin aku menghabiskannya? aku hanya akan makan satu potong kue, sisanya akan aku bawa pulang, ayo kita makan bersama." Alana mengambilkan satu potong kue untuk Valerie. Valerie sebenarnya enggan menerimanya, karna ia begitu kenyang, namun ia menghargai Alana untuk menemaninya memakan kue tersebut.


Alana memakan kue itu dengan begitu lahap, seakan tak memberi ampun akan  rasa keinginannya yang ia tahan sejak tadi. Satu potong kue yang diberikan oleh Alana masih Valerie makan sebagian, sementara Alana sudah memakan empat potong kue hingga membuat Valerie menggelengkan kepalanya.


"Katanya kau hanya memakan satu potong kue saja, tapi kau menghabiskan empat potong kue," ledek Valerie.


"Tidak bisa jika hanya memakan satu kue, kuenya terlalu nikmat sekali." Alana mengunyah dengan cepat kue yang masih ada di dalam mulutnya. Terkesan rakus, namun tidak.


Valerie mencoba menikmati dengan seksama kue miliknya. "Aku rasa semua  kue sama saja..." gumamnya dengan heran melihat Alana.


"Valerie, aku sungguh kenyang sekali," kata Alana sambil menjauhkan kotak yang tersisa satu kue di dalamnya.


"Bagaimana tidak kenyang, kau menghabiskan empat kue sekaligus. Minumlah dulu..." Valerie menyodorkan segelas  air putih.


"Terimakasih..." Alana meneguk habis air tersebut hingga tak tersisa dari salam wadahnya,


Merasa setelah kekenyangan akibat memakan kue itu, Alana menguap berkali-kali saat rasa mengantuk tiba-tiba melanda dirinya.


"Kenapa jadi mengantuk?" gumam Alana yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya, ia melirik ke arah bantal yang ada di sampingnya. Rasanya ingin sekali merebahkan tubuh dan memejamkan kedua matanya di sana.


"Kalau kau mengantuk tidurlah dulu di sini, pulang nanti sore saja," tutur Valerie. Alana kembali melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 13.45


"Memangnya apa boleh aku beristirahat sebentar di sini?" tanya Alana.


 


 


 


 


***


 


 


Ken siang itu terlihat berada di kantor David. Karna ada urusan  pekerjaan yang harus ia selesaikan bersama  sahabatnya tersebut. Saat menyudahi pembicaraannya tentang pekerjaan, ponsel milik Ken yang kala itu berada di dalam saku celananya tiba-tiba bergetar, membuat tangannya segera meraih ponsel tersebut.


Ada satu panggilan masuk dari Paman Lux. Ken segera menerima panggilan masuk itu.


"Hallo, ada apa Paman?" tanya Ken.


"Tuan, Nona Alana satu jam yang lalu pergi ke toko kue chocooking yang letaknya berdekatan dengan rumah sakit, Nona Alana tadi memaksa saya dan menyuruh saya pulang, jadi saya terpaksa meninggalkan Nona Alana sendiri di sana, Tuan." Lux berbicara dengan nada takut.


"Kenapa harus meninggalkannya, kan Paman bisa menunggunya di kejauhan! Dan kenapa baru memberitauku sekarang?" seru Ken.


"Maaf, Tuan. Daritadi saya kesulitan menelpon, Tuan. Ini saya sedang dalam perjalanan untuk menjemput Nona, Tuan."


"Tidak usah! Biar Ken saja yang menjemputnya! Lebih baik Paman kembali ke rumah!" perintah  Ken seraya mengakhiri  panggilan itu.


David yang melihat waut wajah Ken begitu kesal, ia segera menegurnya. "Ada apa, Ken?" tanyanya.


"Alana pergi keluar rumah  sendirian,"


"Sebentar, aku mau menelponnya ..."  Ken beralih memanggil nomer ponsel Alana untuk menanyakan keberadaannya saat ini.


Nada menyambungkan berkali-kali terdengar, namun tidak ada sautan dari ponsel istrinya itu membuat Ken semakin cemas mempertanyakan keberadaan istrinya. Hingga ketiga kalinya panggilan itu  terhubungkan.


"Hallo..." suara seorang wanita yang bukan suara Alana terdengar dari balik ponsel yang saat ini ia genggam


"Hallo, ini siapa?"


"Hallo, Ken. Ini aku Valerie." Mendengar nama itu, guratan di dahi Ken terlihat dengan sangat jelas.


"Kenapa ponsel Alana bisa ada padamu? kau melakukan apa kepada istriku?" bentak Ken.


"Ken, aku tidak melakukan apa-apa kepada Alana, aku tadi  tidak sengaja bertemu dengan istrimu, dia sekarang ada di rumahku. Sedang beristirahat."


"Di mana alamat rumahmu?" pertanyaan Ken yang terlontar dengan suara membentaknya membuat Valerie segera menyebutkan alamat rumahnya.


"Aku akan segera ke sana!"


"Tunggu!" suara Ken mengurungkan niat Valerie yang hendak mematikan ponsel milik Alana.


"Ada apa, Ken?" tanyanya.


"Dengar aku baik-baik! Kalau sampai kau berbuat macam-macam atau melukai istriku sedikit saja, aku bersumpah tidak akan mengampinimu." Belum mendengar jawaban dari Valerie, Ken segera mengakhiri panggilan itu. Ia beranjak hendak meninggalkan ruangan David, namun David sejenak menghentikannya.


"Ken, kau mau ke mana?" tanya David.


"Ke tempat Valerie, Alana ada di sana," jawab Ken, ia melanjutkan kembali langkah kakinya dengan  tergesa-gesa, David pun mengikutinya dari belakang.


"Bagaimana bisa Alana di tempat Valerie?" tanya David.


"Entahlah... kau ini banyak bertanya!" bentak Ken.


"Aku ikut denganmu!" pinta David. Ken pun mengiyakannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.