My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Andai waktu bisa diputar



Ken mengajak Alana kembali ke kamar, ia menyuruhnya duduk di atas tempat tidur, sedangkan Ken sendiri menemui Tuan Kin untuk meminta Baby oil dan air hangat. Ia kembali menghampiri Alana dan segera membersihkan wajah istrinya yang terkena coretan spidol itu menggunakan kain basah.


"Makanya, jangan bermain menggunakan spidol, seperti anak kecil saja!" tutur Ken sembari sibuk membersihkan wajah Alana.


"Aku tidak bermain, aku tadi tidur, dan ketika bangun wajahku sudah penuh coretan seperti ini," ucap Alana dengan nada memelas.


"Apa tidak bisa hilang?" tanya Alana.


"Aku masih mencobanya," saut Ken.


Hampir setengah jam lamanya Ken membersihkan wajah Alana dengan begitu susah payah, meskipun coretan itu memudar, namun bekasnya masih terlihat di sana.


"Sudah..." ujar Ken.


Alana beranjak turun dari tempat tidur dan segera bercermin. Masih jelas sekali coretan spidol itu membekas di wajah Alana, meskipun hanya  terlihat samar.


"Masih membekas, aku tidak mau..." gerutu Alana. Ken menghampiri Alana mengajaknya ke kemar mandi untuk membantu mencuci wajah istrinya tersebut. Setidaknya, ini lebih membaik daripada tadi.


"Sudah sedikit menghilang," Ken mengambil handuk dan mengeringkan wajah istrinya tersebut.


"Tunggulah di sini, aku akan mencari Kimmy dan Jesslyn."


"Sayang, jangan memarahinya!" tutur Alana. Ken hanya diam dan berlalu keluar dari sana.


 


***


Kimmy dan Jesslyn sedari tadi bersembunyi di dalam lemari yang ada di dalam kamar, lemari itu memliki ukuran yang cukup besar, terlebih lagi tidak ada pakaian sama sekali di dalamnya, membuat mereka berdua lebih leluasa bersembunyi di dalam sana. Mereka membuka sedikit pintu lemari itu dan memberi cela, memudahkan mereka agar bisa meraup osksigen dari luar.


"Jangan banyak bergerak, aku tidak bisa bernapas!" protes Jesslyn.


"Sampai kapan kita di sini? aku tidak kuat, sangat pengap," ujar Kimmy.


"Ini salahmu, Kalau kau tidak memberi usul untuk mencoret-coret wajah Alana, kita tidak akan bersembunyi seperti ini!" seru Jesslyn.


"Kenapa jadi salahku? jelas-jelas ini salahmu, salah siapa kau tidak melihat kalau spidol yang kau ambil itu permanent marker!" Kimmy menyangkalnya.


"Kau berani menyalahkanku?" Jesslyn melotot kepada Kimmy, membuatnya sedikit takut.


"Ya sudah, ini salah kita berdua..." gerutu Kimmy.


"Enak sekali, ini salahmu bukan salahku!" seru Jesslyn. Kimmy hendak keluar dari dalam lemari itu, namun Jesslyn menahannya.


"Kau mau ke mana?" tanya Jesslyn.


"Aku mau pergi menemui Alana, aku akan minta maaf," jawab Jesslyn.


"Nanti saja kalau amarah Alana sudah meredam, kalau kau minta maaf sekarang, pasti dia akan sangat marah besar! kau tidak lihat bagaiamana dia tadi berteriak-teriak mencari kita?" tutur Jesslyn.


"Biarkan saja, ini memang kesalahan kita," saut Kimmy.


"Ini kesalahanmu bukan keslahan kita!" seru Jesslyn.


"Tapi kau juga ikut mencoret wajah Alana!" saut Kimmy.


"Jesslyn... Kimmy..." Suara teriakan Ken yang memanggil-manggil nama mereka, membuat mereka berdua membulatkan kedua matanya dengan takut.


"Kimmy ada Kakak... diamlah." Jesslyn membungkam mulut Kimmy dengan telapak tangannya. Sekuat tenaga mereka berdua tidak bergerak sedikitpun,


Saat dirasa suara teriakan Ken tidak terdengar lagi, Jesslyn melepas bekapan tangannya dari mult Kimmy. Mereka berdua saling berebut mencari oksigen.


"Sepertinya Kakak sudah tidak ada," Jesslyn dan Kimmy bernapas dengan begitu lega.


"Siapa yang tidak ada?" suara Ken tiba-tiba menyaut. Pintu lemari itu seketika terbuka lebar, menampakan wajah garang Ken dengan jelas di depan mereka.


"Ka-kakak..."


"Hallo, Kakak Ken." Kimmy melambai dan tersenyum pelik, mereka benar-benar terkejut saat melihat Ken yang ternyata masih ada di sana, menatap mereka dengan  kedua alis yang menaut tajam, membuat Kimmy dan Jesslyn menjadi takut hinga menundudukan pandangannya.


"Keluar! Kenapa kalian begitu nakal..." Ken dengan kesal menyuruh Jesslyn dan Kimmy keluar dari dalam lemari dan menggiringnya untuk menemui Alana di kamarnya.


Di dalam kamar, Alana masih berusaha membersihkan bekas coretan spidol di wajahnya dengan menggunakan tissue basah. Alana segera menoleh, saat melihat suaminya kembali menemuinya bersama Jesslyn dan juga Kimmy. Dengan nada membentak, Ken segera menyuruh adiknya dan juga Kimmy untuk segera meminta maaf kepada istrinya tersebut.


Alana mengerucutkan bibirnya, memasang wajah penuh kekesalan kepada Jesslyn dan juga Kimmy.


"Alana, maafkan kami, percayalah  ini semua salah Kimmy..." ucap Jesslyn.


"Kenapa kau jadi menyalahkanku?" bantah Kimmy.


"Memang ini salahmu! Kau yang punya usul untuk mencoret wajah Alana!" seru Jesslyn.


"Tapi kau yang paling banyak mencoret wajah Alana!" saut Kimmy.


"Kalau kau tidak mengusulkan ide konyol, mana mungkin aku mencoret wajah Alana!"


"Diam! Kenapa kalian jadi bertengkar?" tukas Alana.


"Maafkan kami, Alana. Kami sudah mencoret-coret wajahmu, Kami benar-benar tidak tau kalau spidolnya ternyata pemanent marker," ujar Kimmy dengan perasaan yang bersalah.


"Iya, Alana, tolong maafkan kami!" timpal Jesslyn.


"Berhubung coretan spidolnya sudah hilang, jadi aku sudah memaafkan kalian," ujar Alana.


"Kau memaafkan kami Alana?" tanya Jesslyn. Alana menganggukan kepalanya  tanpa bersuara.


"Terimakasih banyak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kimmy dan juga Jesslyn seketika memeluk Alana.


Namun tetap saja, sekalipun Alana memaafkan mereka, tetapi tak mengelakan bahwa mereka berdua harus menahan rasa panas di telinganya akibat omelan dan juga amarah Ken. Jesslyn dan Kimmy hanya menunduk dan mengiyakan setiap apa yang terlontar dari mulut Kakaknya tersebut.


 


 


***


 


 


Malam harinya,


Semua orang sedang berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama yang sudah disiapkan oleh Alea dengan bantuan Alana. namun tidak dengan Alana yang hanya berdiam diri dan berkali-kali menuang dan meneguk air putih hingga kenyang.


Wanita itu sebenarnya sangat  lapar sekali, bahkan perutnya berulangkali berbunyi, namun, ia sekuat tenaga menahannya. Melihat cermin membuat dirinya takut menjadi gemuk.


"Sayang, aku ke kamar ya..." pamit Alana kepada Ken yang kala itu baru memakan beberapa suap makanan dari piringnya.


"Kenapa kau tidak makan?" tegur Ken.


"Aku sudah makan, jadi kenyang..." jawab  Alana. Ia terburu-buru berlalu begitu saja meninggalkan meja makan tersebut.


"Daritadi berada di kamar, bagaimana dia bilang sudah makan?" gumam Ken. Ia mengambil piring kosong dan mengisinya dengan beberapa makanan.


"Kakak mengambilkan makanan untuk siapa?" tanya Jesslyn.


"Untuk Alana, Kakak tau dia belum makan..." jawabnya.


"Aku permisi ke kamar," pamit Ken.


"Ken, makananmu belum kau habiskan. Habiskan dulu!" perintah David.


"Istriku belum makan, bagaimana aku bisa menghabisan makananku  dengan tenang!" Ken berlalu pergi meninggalkan meja makan dengan membawa makanan tersebut ke kamar.


Sementara Valerie, ia  memperhatikan gerak tubuh Ken yang sudah tak terjangkau dari pandangan matanya. Ia memejamkan matanya dengan perasaan yang begitu kalut.


"Sebegitu perhatiannya, Ken kepada Alana. Tidak ada yang istimewa dari wanita itu, apalagi manja seperti anak kecil," gumam Valerie.


"Kau kenapa Valerie?" suara Jesslyn tiba-tiba menegurnya.


"Tidak apa-apa." Valerie tersenyum. Mereka semua kembali melanjutkan makan malamnya tanpa Alana dan juga Ken.


 


 


 


 


 


 


 


 


****


 


 


 


 


 


 


Ken pergi ke kamar, menghampiri Alana yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Sayang..." Ken mendudukan tubuhnya di sampinnya.


"Kau kenapa kemari? kan makan malammu belum selesai?" tanya Alana, kedua matanya melirik ke arah makanan yang dibawa oleh Ken.


"Ayo makanlah! Aku tau kau belum makan."


"Aku sudah makan, Ken. Aku kenyang, lihatlah perutku saja besar karna kebanyakan makan."  Alana menunjukan perutnya tersebut kepada Ken. Ken tersenyum sambil menggeleng kepalanya.


"Aku tidak suka kau melewatkan makan malan, ayo makanlah aku tidak mau kau sakit, biar ku suapi!" Ken menyodorkan satu sendok makanan mendekat ke mulut Alana.


"Aku kenyang Ken..." Alana seketika menutup mulutnya. Namun kedua matanya berkata lain, ia melirik ke arah makanan tersebut sambil menelan salivanya.


"Kau tidak lihat daging ini sangat lezat?" goda Ken. Alana melirik sambil membenaarkannya dalam hati.


"Aku kenyang, aku kenyang..." Alana mengalihkan pandangannya dari godaan makanan tersebut.


"Kau takut gemuk?" tanya Ken.


"Tidak..." Alana menggeleng kepalanya.


"Kalau aku makan malam, aku nanti gemuk, aku tidak terlihat cantik lalu kau akan meninggalkanku," Alana mengerucutkan bibirnya.


"Kau ini berbicara apa? aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau dari tadi belum makan, ayo makan, kalau kau sakit aku yang bingung," ujar Ken.


"Ini tidak akan membuatmu gemuk..." bujuk Ken.


"Benarkah? Ken mengangguk. Alana tersenyum dan segera melahap suapan makanan  tersebut. Alana dan Ken berbagi makanan itu hingga habis tak tersisa, bahkan, Alana sempat meminta Ken untuk menambah makanannya karna ia benar-benar merasa seperti orang kelaparan yang tak ingin berhenti mengunyah makan. Hingga membuat Ken begitu heran dibuatnya, karna tidak seperti biasanya Alana begitu.


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Seusai makan malam, semuanya meninggalkan dapur, kecuali Jesslyn dan Valerie yang membereskan piring kotor di dapur. Sementara Kimmy, ia berpamitan pergi ke kamar mandi untuk Pup.


"Kau jadi pulang malam ini Valerie?" tanya Jesslyn seraya menumpuk beberapa piring kotor di tangannya.


"Iya, sopirku sudah perjalanan kemari, mungkin satu jam lagi akan tiba," jawab Valerie.


"Oh..."


"Jesslyn apa aku boleh bertanya?"


"Tentu saja, apa yang kau ingin tanyakan?" Jesslyn menyambut pertanyaan Valerie dengan senang hati.


"Ehm, apa kau tau kapan Ken mengenal Alana?" pertanyaan Valerie membuat Jesslyn terdiam dengan penuh pertanyaan.


"Maksudku, dulu waktu aku berteman baik dengan Ken, aku sama sekali tidak pernah mengenal Alana, jadi maka dari itu aku bertanya," imbuhnya.


"Oh... Kakak mengenal Alana baru beberapa bulan, lalu memutuskan menikah," jawab Jesslyn.


"Secepat itu?" Valerie mengernyit heran.


"Kenapa memangnya?" tanya Jesslyn.


"Tidak! Aku hanya heran saja, setauku Ken bukanlah tipe orang yang mudah menerima orang lain dalam hidupnya apalagi yang bertentangan dengan urusan perasaan, aku sangat tau Ken, apa ada alasan tertentu Ken mau menikahi Alana?" Valerie memang sengaja memancing pertanyaan itu kepada Jesslyn.


"Tidak ada alasan terterntu! Kakak memang baru mengenal Alana, mereka tidak berpacaran, namun Kakak sangat mencintainya begitu juga dengan Alana," ucap Jesslyn.


"Biasanya, hubungan yang diikat secara tergesa-gesa pasti tidak akan bertahan lama begitu juga dengan perasaan." Jesslyn tiba-tiba menautkan kedua alisnya seakan tak suka akan perkataan Valerie, yang seolah mengutuk pernikahan Kakaknya.


"Tapi Kakak benar-benar mencintai Alana!" ketus Jesslyn.


"Bisa jadi hanya sementara, cinta bisa saja hilang kapanpun, Jesslyn. Apalagi pernikahan Ken dan Alana terbilang sangatlah muda." saut Valerie.


"Memang benar yang kau katakan, jika cinta Kakakku kepada Alana hanya bualan semata! Tapi kenyataanya, Kakak benar-benar sangat mencintai Alana. Kau tidak lihat bagaimana kemarin Kakak begitu mengkhawatirkan Alana saat dia pergi dari Villa? bahkan tadi, apa kau tidak melihatnya? tanpa sadar, sikap Kakakku yang berlebihan menunjukan bahwa dia sangat mencintai Alana!"


"Aku tau itu Jesslyn! Aku--"


"Kau tidak tau!" Jesslyn menukas perkataan Valerie dengan nada yang begitu nyolot.


"Aku yang sangat tau dan mengenal Kakakku dari kecil. Kalau Alana bukan orang yang berarti buat Kakakku, tidak mungkin Kakakku memperlakukan Alana dengan baik seperti meperlakukanku dan Mama!" seru Jesslyn.


"Bahkan, jika Kakakku menyakiti Alana, aku orang pertama yang akan memarahinya! Dan aku tidak akan membiarkan siapapun berani merusak rumah tangga Kakakku!" penuturnan Jesslyn penuh dengan penekanan seakan ia benar-benar serius akan perkataannya.


"Maaf, Valerie. Sepertinya kau terlalu banyak bertanya tentang pernikahan Kakakku, aku permisi  kembali ke kamar." Jesslyn meletakan piring kotor itu ke tempat cucian dan berlalu pergi meninggalkan dapur dengan raut wajah yang begitu kesal. Terlebih lagi hormon akan haid membuat Jesslyn begitu emosi menanggapi pertanyaan Valerie yang dirasa sudah terlalu ikut campur.


Valerie, masih berada di dapur, mematung di tempat yang sama dan  termenung mencerna apa yang Jesslyn katakan.


"Ken benar-benar mencintai Alana... Kenapa aku begitu bodoh masih berharap dengan laki-laki yang sudah beristri?" Valerie memejamkan kedua matanya,  bahkan tak sedikit cairan bening ikut  tersapu di sana.


"Tapi aku benar-benar sangat mencintai Ken!" dada Valerie begitu sesak mengingat rasa sakitnya. Kenyataan akan menikah dengan Billy, lebih menyakitkan daripada rasa sakit hati itu sendiri.


 


 


***


 


Satu jam berlalu, sopir pribadi Billy baru saja tiba di villa, Ia dan Valerie segera bersiap-siap untuk kembali. Namun, Valerie terlebih dulu meminta izin kepada Billy untuk menemui Ken, Billy mengizinkanya.


Valerie, mengetuk pintu kamar Ken, Ken yang kala itu sedang menemani Alana tidur, seketika turun dari tempat tidur dan membukakan pintu kamar tersebut. Ia hilang minat, saat melihat Valerie berdiri di hadapannya saat ini.


"Ada apa?" tanya Ken dengan suara malasnya.


"Aku mau berpamitan pulang," ujar Valerie. Ken hanya mengangguk tanpa bersuara. Namun Valerie masih berdiam diri di sana.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?" tanya Ken.


"Bisakah kita bicara sebentar di balkon Ken?" pinta Valerie.


"Aku tidak bisa..." tolak Ken.


"Sebentar saja, aku mohon..." pintanya kembali sembari mengatupkan kedua tangannya. Ken melirik ke dalam kamar, ia melihat Alana sudah tertidur pulas.


"Sebentar saja..." Ken menutup pintu kamar itu dan berjalan mendahului Valerie menuju ke balkon villa, yang tidak ada siapapun di sana.


Setibanya di balkon,


"Ada apa? cepat bicaralah!" perintah Ken tanpa melihat Valerie.


"Ken, kau kan tau aku akan segera menikah, seperti yang ku katakan di pesta Adam, demi melupakanmu, aku terpaksa menerima permintaan Nenekku untuk menikah dengan Billy." Valerie tiba-tiba mengisak karna tak sanggup menyimpan kesedihannya. Ken hanya diam dan sejenak meliriknya.


"Tapi sampai sekarang aku belum bisa melupakanmu, Ken.


Daridulu aku menahan perasaanku kepadamu. Apa  kau ingat? kau dulu selalu bertanya, kenapa aku selalu menolak pria yang selalu mendekatiku? tapi aku tidak pernah menjawabnya."


"Aku selalu menolak pria hanya agar bisa dekat dengan dirimu, itu alasanku Ken. Aku tidak tau setelah hari itu kau memiliki perasaan kepadaku, andai saja waktu bisa di ulang," ucapnya dengan sedikit terisak.


"Tapi sayangnya tidak bisa, dan kalaupun bisa, itu tidak akan pernah terjadi!


Aku sudah memiliki kehidupan, aku sangat mencintai istriku, begitu juga dengan dirimu. Kau sudah memilih apa yang akan menjadi pilihanmu!" tutur Ken.


"Tapi aku tidak menginginkan ini semua, Ken!" Valerie menggeleng kepalanya dengan wajah yang penuh dengan air mata.


"Valerie, apa yang kau tangisi tidak akan mengubah segalanya. Tolong lupakan semuanya, termasuk aku!" perintah Ken.


"Kau tenang saja! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, setelah hari ini aku akan melupakanmu dan memulai hidup baruku. Aku bersumpah akan hal itu, Aku kemari hanya ingin menyampaikan perasaanku saja, tidak lebih dari itu," jawab Valerie. Ken manatap kedua bola mata Valerie dengan tatapan yang dalam.


"Setidaknya hatiku lega bisa menyampaikan semua ini..." imbuhnya sambil tersenyum.


"Apa kita masih bisa menjadi teman seperti dulu?" tanya Valerie seraya mengusap air matanya.


"Kita bisa berteman, tapi tidak bisa seperti dulu lagi. Karna situasinya berbeda, aku tidak ingin memiliki teman wanita selain Alana!" tutur Ken.


"Baiklah, aku bisa mengerti itu..."


"Apa aku boleh memelukmu, Ken?" pinta Valerie.


"Maaf, Valerie. Aku tidak bisa!".


"Sekali saja, untuk terakhir kalinya," pintanya pelan namun memaksa.


"Jangan menganggap diriku sebagai wanita yang pernah menaruh rasa terhadapmu, tapi anggaplah aku sebagai Valerie temanmu yang dulu," imbuhnya.  Ken terdiam sejenak, mencerna permintaan wanita yang kini ada di hadapannya.


Kemudian, ia menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Valerie seketika melingkarkan tangannya dan memeluk erat tubuh Ken seraya menuangkan air matanya di sana. Ken hanya diam ta membalas pelukan itu. Tak lama kemudan, Valerie melepas pelukannya dan cepat-cepat mengusap wajahnya yang basah.


"Terimakasih banyak, semoga kau selalu bahagia dengan Nona Alana, maafkan aku, jika kehadiranku membuatmu dan Nona Alana tergangu," ucap Valerie.


"Aku pulang." Valerie mengusap lengan tangan Ken, dari dulu hal itu sering sekali dilakukan oleh Valerie kepada Ken  jika dirinya akan berpisah pulang. Ken menganggukan kepalanya, Valerie segera pergi dari balkon itu. Ken masih tak lepas mengawasi Valerie yang gerak tubuhnya berjalan menjauh darinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.