
"Aku benar-benar tidak tau bagaimana kacaunya dirimu waktu itu, andai saja, Tuhan mempertemukanku denganmu lebih awal. Aku akan selalu memelukmu seperti ini dan tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu. Sekalipun orang itu hanya mematahkan sehelai ujung rambutmu," sambungnya sembari memberi begitu banyak ciuman di kepala Alana.
"Jangan membuatku semakin ingin menangis, Ken." Alana melepaskan pelukannya, lalu, ia menyeka air matanya yang terjun bebas membasahi wajahnya itu.
Ken melirik ke arah meja yang menampakan obat milik Alana di sana. "Alana, sepertinya kau harus meminum obatmu. Obatmu ku lihat tinggal sedikit, lebih baik kau habiskan sesuai anjuran dokter," tutur Ken. Karna sedari tadi, Ken memperhatikan Alana nampak sedikit gelisah semenjak bertemu dengan mantan kekasih dan temannya itu.
"Tidak, aku tidak mau minum obat itu." Alana menggelengkan kepalanya dan menjauhkan tangan Ken yang saat ini menyentuh sebagian pinggangnya.
"Aku tidak mau meminumnya lagi, Ken. Aku baik-baik saja, aku tidak mau meminumnya," sambungnya.
"Baiklah... aku tidak akan memaksamu." Ken menarik tangan Alana yang melangkah mundur menjauh darinya. Ken mengajak Alana untuk duduk di tepi tempat tidur, ia memandangi Alana seakan sedang menyusun sebuah pertanyaan di pikirannya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Ken.
"Kau mau bertanya apa?"
"Waktu di villa keluarga David, Jesslyn menemukan obat di dalam tasmu. Dan waktu kau melukai pergelangan tanganmu, Jesslyn juga menemukan obat yang sama di dalam kamar. Aku menanyakan obat itu kepada dokter, dan dokter mengatakan bahwa itu obat anti depresi, apa kau sudah lama mengkonsumsi obat itu?" tanya Ken. Alana terdiam sejanak dan menatapnya.
"Aku..." pandangan Alana kini menunduk ke bawah.
"Aku mengkonsumsi obat itu setelah Daddy kecelakaan. Waktu itu aku benar-benar bingung dan kacau, Ken.
Aku harus mencari biaya untuk pengobatan Daddy, aku tidak tau harus berbuat apa, tidak ada yang bisa aku ajak berbagi rasa sakit kecuali diriku sendiri, dulu aku juga sempat berpikiran mau mengakhiri hidupku, tapi aku teringat akan Daddy, tidak ada yang menemaninya kecuali aku, Daddy tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan Mami dan Daven pergi meninggalkan kami. Itu sebabnya aku bertahan demi Daddy," air mata yang mulanya mengering kini terlihat merembas kembali di wajah cantiknya.
"Ketika aku membuka toko kue aku mencoba berhenti mengkonsumsi obat itu, tapi sangat sulit, karna ketika aku sendirian aku merasa terpuruk kembali, aku merasa benar-benar sendiri dan kesepian. Aku tidak sekuat yang orang lain kira selama ini, Ken."
"Lalu aku bertemu dengan Jesslyn, sejak saat itu aku merasa hidupku berharga lagi, karna masih ada yang mau berteman denganku. Aku merasa tidak kesepian lagi." Alana tersenyum di sela rasa sakitnya saat mengingat bagaimana pertemuannya dengan Jesslyn yang sangat berkesan.
"Lalu aku bertemu dengan dirimu..." Alana semakin melebarkan senyumnya, Ken mengusap air mata istrinya yang masih mengiringi senyuman manisnya itu dan kini Alana sudah memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat.
"Hingga aku lupa, sejak kapan aku berhenti mengkonsumsi obat anti depresi itu," imbuhnya dengan perasaan lega.
"Kenapa kau tidak pernah bercerita semua ini kepadaku?" Ken bertutur dengan berat seraya mengeratkan pelukannya tersebut.
"Maafkan, aku. Dulu aku sering kasar kepadamu..."
"Iya kau sangat kasar!" Alana tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengerucutkan bibirnya. "Setiap kali kau berbicara, ingin sekali ku remmas mulutmu dan mencabik-cabiknya!" imbuhnya dengan ketus.
"Kalau sekarang?" tanya Ken.
"Mana berani..." Alana terkekeh hingga ingusnya terlihat naik turun dari hidungnya. Ia meraih baju Ken dan hendak membuang ingusnya tersebut.
"Alana kau jangan jorok..." Ken seketika menjauhkan tubuhnya.
"Kau cinta tidak?" tanya Alana.
"Tidak ada hubungannya dengan cinta!" jawab Ken.
"Ya sudah..." Alana hanya meliriknya.
"Mulai menyebalkan..." Ken beranjak berdiri dan menarik beberapa lembar tissue di dekat meja rias.
"Buang ingusmu menggunakan tissue." Ken menyodorkan tissue tersebut kepada Alana.
****
Saat Ken hendak mengajak Alana untuk makan malam, David menelponnya, Ken sejenak mengabaikan istrinya untuk bertukar suara melalui ponsel bersama sahabatnya tersebut.
"Sayang, aku tunggu di meja makan, ya."
Ken mengiyakannya, Alana segera keluar dari kamar dan pergi ke dapur berniat mengambil makanan untuk dirinya dan juga Ken. Namun, di sana, ia melihat Clara yang sedang menikmati makan malam sendirian.
"Alana..." Clara menghentikan makannya dengan tatapan sungkan.
"Lanjutkan saja makanmu," ujar Alana. Clara mengangguk dan melanjutkan kembali makannya.
Alana mengambil dua piring kosong dan memindahkan makanan itu ke dalamnya, ia juga menuang air ke dalam gelas untuk dirinya dan juga Ken. Lalu, Alana mendudukan tubuhnya di salah satu kursi meja makan yang tak berdekatan dengan Clara. Ia tak menyentuh makanannya sama sekali, karna dirinya menunggu Ken.
Dari pintu dapur, Alana melihat Darrel dan Lecya masuk ke dalam. Lecya menatapnya dengan tatapan tak suka. Alana seketika memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Darrel... kita makan di tempat lain saja," ajakan Lecya kepada Darrel terdengar jelas di telinga Alana.
"Mau makan di mana? kita di sini menumpang! Jangan berbuat semaumu!" seru Darrel seraya mendudukan tubuhnya di salah satu kursi meja makan.
"Aku tidak mau makan di sini!" Lecya menarik tangan Darrel dan melirik ke arah Alana.
"Kau jangan manja! Cepat duduk!" perintah Darrel.
"Bukan aku yang manja, tapi anakmu!" mendengar percakapan itu. Alana seketika melirik ke arah Lecya yang sedang mengelus-elus perutnya yang sudah hampir membuncit. Ia baru menyadari bahwa Lecya tengah hamil. Tiba-tiba Lecya pergi dari sana dan menatap Alana dengan tatapan sinis. Alana sama sekali tak menghiraukan wanita itu.
Raut wajah Alana kembali murung. Tangannya reflek memegang perutnya yang datar itu, perasaan bersalah muncul kembali dalam dirinya.
"Andai saja..." kata-kata itu terus bermunculan di pikirannya.
"Tidak... aku tidak boleh bersedih lagi." Alana mencoba menguatkan hatinya yang mulai melemah.
Alana masih berdiam diri di tempatnya. Berulang kali ia menengok ke arah pintu dapur, namun Ken tak kunjung juga menghampirinya.
"Lama sekali..." Alana berdecak kesal sembari menatap makanan yang sudah ia ambilkan untuk dirinya sendiri dan juga Ken.
"Alana, kenapa kau tidak makan?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Darrel.
"Aku sedang menunggu suamiku, tapi rasanya suamiku masih sibuk, lebih baik aku membawakan makananya ke kamar." Alana beranjak berdiri.
"Alana, biar ku bantu membawakan makananmu..." Clara hendak beranjak berdiri mencoba membantu Alana.
"Tidak perlu, terimakasih," jawab Alana. Ia mengambil dua piring yang berisi makanan tersebut dan hendak berlalu pergi dari sana. Namun, saat ia keluar dari pintu dapur. Bibi penjaga Villa yang berjalan terburu-buru tidak sengaja menabraknya, hingga membuat piring berisi makanan yang Alana bawa terjatuh di lantai. Namun piring yang terbuat dari keramik itu masih utuh meskipun terbentur keras dengan lantai tersebut.
"Nona... Maaf. Saya tidak sengaja." Penjaga villa itu berjongkok dan segera memunguti piring dan makanan yang bercecer di lantai dapur itu. Darrel dan Clara seketika menghampirinya.
"Nona Alana, tolong maafkan saya... maafkan saya," ujarnya berkali-kali.
"Tidak apa-apa, Bibi."
"Alana... apa kau baik-baik saja?" tanya Clara dan Darrel.
"Aku hanya menabrak orang, bukan mobil, jadi aku baik-baik saja!" jawab Alana dengan nada datar. Darrel terlihat mengambil beberapa lembar tissue. Ia meraih tangan Alana dan membantu membersihkan telapak dan lengan tangannya yang terkena tumpahan makanan itu. Tiba-tiba Ken datang dan menyaksikan pemandangan yang begitu menyakiti kedua matanya. Tanpa menegur, ia segera menarik tangan Alana dan menjauhkannya dari Darrel, Ken memasang wajah garangnya, kedua alisnya menaut tajam seakan hendak menerkam mangsanya.
"Ken... Aku menumpahkan makanannya," ucap Alana. Ken hanya diam dan menatap istrinya itu dengan tatapan dingin.
"Maaf, Tuan. Saya tadi tidak sengaja menabrak Nona..." ucap penjaga villa sambil menundudukan pandangannya.
"Bibi, lain kali tolong berhati-hati. Dan tolong ambilkan satu porsi makanan dan antar ke kamar." Penjaga villa itu mengiyakan perintah Ken.
Ken menarik tangan Alana dan segera mengajaknya pergi dari sana. Darrel pun memperhatikan mereka berdua yang sudah menghilang dari pandangan matanya.
^
"Ken..." Alana memanggil-manggil nama itu, namun Ken hanya diam saja. Laki-laki itu malah mengajak Alana masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Kemarikan tanganmu..." Ken menarik paksa tangan Alana dan mencucinya di bawah aliran air kran wastafel yang mengucur deras di atasnya. Ia menuangkan sabun cair sebanyak mungkin dan menggosokannya ke tangan Alana, lalu membilasnya dengan bersih.
"Apa yang dia sentuh selain tanganmu?" tanya Ken.
"BIBI!" seru Ken dengan kesal.
"Bibi sama sekali tidak menyentuh tanganku, dia hanya menyentuh piring yang jatuh di lantai," jawab Alana dengan polosnya.
"Astaga..." Ken menggeleng kepalanya dengan kesal. Ia menarik tangan Alana keluar dari kamar mandi.
"Jangan keluar kamar jika tanpa aku, kau mengerti!" tutur Ken.
"Kenapa?" tanya Alana.
"Aku tidak suka kau bertatap muka dengan mantan kekasihmu itu!" seru Ken.
"Dia kan sudah menikah dengan Lecya."
"Meskipun sudah menikah. Aku sangat tidak suka dia menatapmu seperti itu!" seru Ken.
"Kalau kau tidak suka, kenapa tidak kau marahi saja dia, kenapa kau malah memarahiku?" Alana meletakan kedua tangannya di atas pinggang dan berbicara dengan begitu ketusnya.
"Kau mau aku memarahinya?" tanya Ken dengan wajah serius.
"Iya, marahi saja jika kau berani dengan istrinya!" seru Alana
Wajah Ken berubah menjadi datar dan mengurungkan niatnya.
"Mendengar omelan istri sendiri saja pusing, apalagi mendengar omelan istri orang lain."
"Jadi memarahinya?" ledek Alana, kemudian ia terkekeh melihat diamnya Ken.
"Tidak ada yang lucu!" seru Ken.
"Kalau ada yang menatapmu, kau tidak boleh menatapnya balik, kau mengerti!" sambungnya.
"Kenapaaa?"
"Tidak boleh ya tidak boleh! Kalau kau masih berani menatapnya. Ku pastikan mata orang itu akan hilang!" seru Ken.
"Kenapa kau tidak hilangkan saja mataku."
Ketukan pintu menghentikan percakapan mereka, Ken segera membuka pintu kamarnya. Terlihat Bibi penjaga villa datang dan membawakan makanan untuknya. Ken segera menerima makanan tersebut dan Bibi itu segera pamit berlalu pergi dari sana.
"Ayo kita makan." Ken menarik tangan Alana untuk duduk di atas tepi tempat tidur.
"Kenapa hanya satu piring saja?" tanya Alana.
"Kau ini kenapa cerewet sekali? kita berbagi... Kau mau aku menyuapimu atau kau makan sendiri?" tanya Ken.
"Suapi..." Alana berucap dengan suara manjanya. Ken tersenyum pelit dengan penuh maksud.
Ia menyuapi Alana dan berbagi makanan tersebut menggunakan sendok yang sama secara bergantian.
***
Seusai makan malam,
"Biar aku kembalikan piringnya ke dapur," Alana meraih piring kosong yang baru saja Ken letakan di atas meja.
"Tidak usah, biar aku saja yang mengembalikannya di dapur. Jangan keluar kamar." Ken mengambil alih piring tersebut dari tangan Alana dan segera mengembalikan piring itu ke dapur.
Alana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menikmati kelembutan sprei yang baru saja diganti dengan yang baru. Ia memejakan kedua matanya. Namun dikejutkan oleh Ken yang tiba-tiba yang sudah merangkak di atas tubuhnya.
Kedua mata Alana terbuka sempurna. "Ken, kau mengejutkanku!" seru Alana.
Ken tersenyum dan hendak mencium bibir Alana.
"Kau mau apa?" Alana menahan bibir itu dengan telapak tangannya.
"Aku daritadi pagi sudah melayanimu, dan sekarang..." Ken menarik belahan atas baju Alana dan melemparkan senyuman rayunya.
"Aku kan sedang datang bulan!" Alana menutup kembali rapat-rapat belahan bajunya itu.
"Lalu?" tanya Ken yang sedang sibuk melepaskan kaos yang ia kenakan, hingga kini menampakan dadanya yang sudah telanjang.
"Kalau datang bulan, tidak boleh melakukannya!" penuturan Alana seketika menghentikan niat Ken.
"Kenapa memangnya?" tanya Ken dengan nada kecewa.
"Ya, memang tidak boleh..."
"Iya, kenapa tidak boleh? siapa yang melarangnya? Biar ku suruh dia mencabut larangan seperti itu," seru Ken.
"Kau ini! Kalau tidak boleh ya tidak boleh! Hanya satu minggu saja, jadi bersabarlah!" seru Alana.
"Lama sekali..." Ken mendengus kecil.
Ia kembali memakai baju miliknya yang sempat ia lepas, lalu merebahkan tubuhnya di samping Alana dengan kecewa berat akan hasratnya yang sudah berada di puncaknya. Kedua matanya melirik ke arah Alana.
"Ini benar tidak boleh?" tanyanya kembali.
"Tidak boleh. Sudah tidurlah!" Alana memejamkan paksa kedua mata Ken dengan telapak tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Oh iya, sebelumnya Nona mau ngucapin Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua selama ini. Yang udah setia baca karya receh Nona, kasih like dan vote juga. terimakasih banyak ya, sini cium jauh dulu😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘.
Nona juga mau kasih info.
Komik My Introvert Husband sudah publish ya. Kalian bisa baca di aplikasi MANGATOON Kakaknya NOVELTOON wkwkwkwk.
Dan tolong banget, meskipun gambar komiknya kurang memuaskan jangan di koment negative ya...
tolong sedikit hargai komikusnya yang sudah susah payah membuat gambar tersebut...
Terimakasih... Jangan lupa dukungan like dan votenya.
Mamah mau libur dulu yaaaa. Sampai ketemu bulan depan.
Eh salah, minggu depan wkwkwk.