
Di rumah David.
David terlihat termenung di dalam kamarnya, ia masih memikirkan apa yang tadi Alana katakan tentang Valerie, hatinya tiba-tiba tergerak untuk mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi nomer Valerie. Namun, nomer ponsel milik wanita itu tidaklah aktif hingga membuatnya berdecak kesal dan mengusap kasar wajahnya.
David mengembalikan ponsel miliknya ke tempat semula, suara ketukan pintu dari luar kamar membuat dirinya menyaut, mempersilahkan orang itu masuk. Terlihat Ibunya sedang membuka pintu kamar itu.
"Ibu ..." David yang kala itu sedang rebahan, seketika beranjak duduk saat melihat ibunya masuk ke dalam kamarnya dan mendudukan tubuhnya di atas tepi tempat tidur. Memperhatikan raut wajah David dan memberi belaian di wajah putra semata wayangnya itu.
"David, Ibu meminta maa atas yang terjadi hari ini," tuturnya sambil mengusap kepala putranya tersebut.
"Tidak perlu meminta maaf, Bu."
"Ibu... Ibu benar akan membatalkan pertunangan ini kan?" tanya David memastikan kembali. Wanita yang telah melahirkannya itu hanya diam.
"Ibu tidak tau, Nak. Ibu kecewa dengan Laurrent dan Bibi Nam, terlebih lagi saat tau Ayahnya sedang bermasalah dengan hukum. Tapi, di sisi lain, Ibu ingin sekali melihatmu menikah, Nak.
Ibu ingin kau mendapatkan perempuan baik yang bisa benar-benar mengertikanmu, Nak."
"Ibu, jika David memliki wanita pilihan David sendiri, apa Ibu masih tetap ingin menjodohkan David?" tanyanya sambil menggenggam tangan Ibunya tersebut.
"David, Ibu menjodohkanmu karna Ibu tau kau tidak pernah dekat dengan perempuan.
Nak, kau daridulu ke mana-mana selalu saja bersama Ashley dan juga Ken. Dan semenjak Ken menikah, kau jadi selalu pergi berdua bersama Ashley. Ibu sama sekali tidak pernah melihatmu memliki kekasih atau jalan bersama permpuan, yang Ibu lihat selalu saja Ashley, jadi ibu takut--"
"Astaga, Ibu... Ibu mengira David suka dengan sesama jenis?" tukas David, Ibunya pun menganggukan kepalanya.
David mengusap kasar wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. "Ibu, David masih normal. Ashley, Kendrick sudah menjadi sahabat sekaligus saudara bagi David, mereka dari dulu selalu menjadi tempat berbagi untukku. David tidak dekat dengan perempuan, karna David merasa belum bisa menemukan perempuan yang tepat saja, Bu. Tapi sekarang, David rasa sudah menemukannya,"
ujarnya sambil membayangkan wajah Valerie yang sedang tersenyum kepadanya hingga menampakan lesung pipitnya.
"Siapa dia, Nak?"
"David masih belum bisa memberitau Ibu, karna David harus memastikannya terlebih dulu."
Ibu David tiba-tiba menjauhkan tangannya dari putranya, ia beranjak berdiri, membuat David begitu terkejut saat melihatnya.
"Ibu..."
"Ajaklah dia menemui Ibu. Jika memang wanita itu baik untukmu, Ibu tidak akan menjodohkanmu lagi..." tuturnya sembari berlalu pergi dari sana. Antara senang dan bingung, di satu sisi David senang jika Ibunya benar-benar membatalkan perjodohannya, namun di sisi lain, ia masih bingung akan perasaan Valerie.
"Apa benar yang dikatakan Alana, kalau Valerie memiliki perasaan kepadaku?" gumamnya. "Besok aku akan menemui Valerie dan menanyakan semua kepadanya." David tersenyum dan merebahkan tubuhna kembali.
***
Keesokan paginya di kantor David,
David berangkat bekerja. Pagi itu suasana kantornya terlihat begitu memanas, bagaimana tidak, seluruh karyawan sedang menggunjingkan dirinya akan pertunangannya yang dibatalkan secara tiba-tiba.
Namun laki-laki itu tak mempedulikannya meskipun dirinya tau.
Meja kerja Valerie adalah tempat tujuan utama David. Namun, ia melihat meja kerja wanita itu masih kosong, ia memutuskan kembali untuk pergi dan masuk ke ruangan kerja miliknya, tidak ada semangat yang terpancar di raut wajah laki-laki itu. Sekretarisnya yang bernama Nona Yoshie seketika masuk ke dalam ruangan dengan membawa map berwarna coklat di tangannya.
"Tuan, Ini--"
"Yoshie, apa Valerie sudah datang?" belum selesai berbicara, David sudah menukas perkataan wanita itu.
"Kenapa? apa dia mengambil libur atau cuti? atau dia sakit?" tanya David.
"Tidak, Tuan. Nona Valerie kemari hanya menitipkan surat pengunduran diri." Yoshie menyodorkan map coklat yang kini membuat telinga dan kedua mata David begitu terkesiap. Ia segera meraih map tersebut dan membaca surat pengunduran diri dari wanita itu.
"Kenapa Valerie mengundurkan diri?" David beranjak berdiri dan tak mempercayainya. Karna, yang ia tau, Valerie sangat membutuhkan pekerjaan ini.
"Katanya, dia sudah menemukan pekerjaan baru, Tuan." Tak banyak bicara, David meletakan map itu di atas meja. Ia mengambil kunci mobilnya dan segera berlalu meninggalkan kantornya tersebut.
Mobil yang saat ini dikendarai oleh David, melaju ke arah rumah Valerie. Kecepatan yang ia pacu semaksimal mungkin, membuat dirinya tiba di rumah wanita itu hanya dalam hitungan menit saja.
David memarkirkan mobil miliknya di depan halaman rumah Valerie. Ia segera turun dan berkali-kali ia mengetuk pintu diiringi dengan mememanggil-manggil nama sang pemilik rumah itu, namun tidak ada jawaban dari sana.
Sudah hampir satu jam lamanya David berdiri di sana, namun ia rasa Valerie memang tidak berada di rumah. David saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu, namun aaat dirinya hendak masuk ke dalam mobil. ia melihat Valerie sedang berjalan dengan membawa barang belanjaan di tangannya. Niatnya terurungkan dan segera menghampiri wanita itu.
"Valerie, kau dari mana? aku dari tadi mencarimu."
"Kau sedang apa kemari?" tanya Valerie.
"Kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri?" tanya David.
"Aku--. Ehm, maaf David, aku mengundurkan diri karna aku sudah menemukan pekerjaan sebagai public relation, sesuai dengan bidangku," ucapnya dengan tersenyum.
"Kau keluar hanya menginginkan posisi itu? Valerie, Aku bisa memberikan posisi jabatan itu kepadamu, tolong jangan mengundurkan diri."
"Maaf, David. Temanku sendiri yang menawarkan pekerjaan ini dan aku terlanjur menerimanya, aku tidak enak jika harus menolaknya," ucap Valerie sambil menundukan pandangannya.
"Dan hanya karna menerima tawaran itu, kau jadi tidak sungkan dengan teman yang berdiri di hadapanmu saat ini? teman yang terlebih dulu memberikanmu pekerjaan?" seru David. Valerie hanya terdiam menatap kedua sepatunya yang setia memijak tanah.
"Maafkan aku jika mengecewakanmu, David. Terimakasih kau selama ini sudah berbaik hati mau membantu dan juga memberiku pekerjaan, tapi sekali lagi aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa bekerja di tempatmu lagi, aku permisi mau masuk ke rumah. Lebih baik pulanglah!" Valerie berlalu meninggalkan David dan hendak membuka pintu rumahnya yang tertutup.
"Aku kira kau benar-benar orang baik yang memiliki perasaan!" suara David menghentikan langkah kaki Valerie yang hendak masuk ke dalam rumah. David melangkahkan kakinya berjalan mendekati wanita yang kini berdiri memunggunginya dengan jarak 3 meter darinya.
"Kau benar-benar mengecewakanku!" David menarik tangan Valerie, hingga posisi wanita itu menghadap ke arahnya.
"Alana sudah bercerita dan memberitauku semuanya!"
Kedua mata Valerie membulat sempurna, ia begitu terlihat malu.
"Aku tidak tau apa yang sedang kau bicarakan, lebih baik pergi dan pulanglah!"
Valerie berucap seakan tak bertenaga dan segera menangkis tangan David, ia masuk ke dalam rumah dan hendak menutup pintu rumahnya itu.
"Valerie, jangan mencoba menghindar seperti kau menghindariku saat ini!" David menahan pintu yang hendak ditutup paksa oleh Valerie, membuatnya mampu meruntuhkan pertahanan wanita itu.
"Sebenarnya, apa maumu?" bentak Valerie dengan mata yang terlihat penuh. Mengangkat wajahnya, hingga David melihat dengan jelas wajah wanita yang kini berurai penuh dengan air mata itu.
"Apa kau suka memperlakukan semua wanita seperti ini?"
"Kau selalu berbuat baik kepadaku, memperlakukanku dengan baik, berusaha menyusup masuk ke dalam hatiku yang masih belum sembuh sepenuhnya?" Valerie mengatur napasnya sambil sesenggukan.
"David, setelah aku mengenalmu dan dekat denganmu, aku bisa benar-benar melupakan Ken, aku bisa melupakan rasa sakitku terhadap Billy. Tapi ternyata kau juga menyakitiku." Valerie menunduuk, barang belanjaan Valerie terlepas dari tangannya membiarkannya tergeletak di lantai begitu saja, Ia menunduk dan menangis sejadi-jadinya, bahkan air matanya itu sudah menyentuh lantai yang ia pijaki.
"Kalau kau tidak menyukai atau mengharapkan seseorang, jangan pernah memberikannya perhatian lebih. Demi Tuhan, itu sangatlah menyakitkan." Valerie berucap dengan suara berat, bahkan hampir tak terdengar.
David berjalan satu langkah lebih mendekat. "Maafkan aku, Valerie..." David menarik tubuh wanita yang sedang menangis di hadapannya saat ini. Membiarkannya menangis dalam dekapannya hingga air matanya membasahi bahu yang terlapisi oleh jas berwarna hitam itu, ia benar-benar tidak tau bahwa perlakuannya selama ini membuat Valerie begitu terluka.
"Valerie, aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu."
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut David baru saja, Valerie mencoba menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu.
"David, lepaskan aku... Tolong pergilah dari sini!" perintah Valerie.
"Valerie!"
"David, aku tidak mau semua orang mengira aku merusak hubungan orang lain, kumohon pergilah... pergilah dari sini." Valerie mengatupkan kedua tangannya, air mata yang mengalir dari dagu runcingnya kini terjatuh membasahi kedua tangannya yang mengatup itu.