
Sebelum meninggalkan gedung pesta pertunangan Adam. Ken sekali lagi mencari Alana di sana. namun, hasilnya tetap sama. ia tak menemukan Alana sama sekali. Ken mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. terlihat jelas kekhawatiran di raut wajahnya.
"Jika dia hanya di sekitar sini. aku sudah pasti menemukannya. tapi, aku sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada."
"Sebenarnya ke mana dia?" Ken masuk ke dalam mobil dan mencoba menghubungi kembali ponsel milik Alana.
"Nomernya juga masih tidak aktif!" gerutu Ken dengan kesal. ia melajukan mobilnya meningalkan tempat itu.
***
Seusai Alana dari toilet tadi, ia terpaksa keluar dari gedung. karna, ia merasa tidak tahan dengan keramaian yang ada di sana. musik yang berdentum di gedung itu, benar-benar membuat telinga dan kepala Alana terasa sakit. ia tidak terbiasa dengan pesta semacam itu. bahkan, semakin malam, bau alkohol semakin menyengat di indera penciumannya. jelas saja, keluarga Adam memang menyediakan minuman alkohol untuk semua tamunya. selain Alana merasa tak nyaman berada di sana. kehadiran Valerie yang begitu dekat dengan Ken ialah salah satu alasan dirinya meninggalkan gedung itu juga.
Alana berjalan dengan berterlanjang kaki. karna, sepatu heels yang ia kenakan membuat dirinya merasa sulit untuk berjalan dengan leluasa hingga ia terpaksa menenteng sepatu heels itu di tangannya. kedua matanya terlihat membengkak, tatapan matanya begitu kosong. hatinya masih terasa sakit dan kacau saat bayangan Ken yang sebegitu perhatiannya kepada Valerie terlintas di pikirannya. Sekali lagi, Alana benar-benar meragukan perasaan Ken terhadapnya.
Bruk
"Aww..." Alana berteriak saat kakinya tiba-tiba tersandung batu yang cukup besar hingga membuat dirinya terjatuh. bahkan kakinya terluka akan hal itu.
"Sakit..." Alana memegangi ibu jari kakinya yang terlihat berdarah dan juga tempurung lututnya yang tergores oleh aspal. Alana tak langsung beranjak berdiri. ia masih membiarkan tubuhnya berada di posisi yang sama sembari menatap kosong ke sembarang arah.
"Benar apa kata Mami."
"Bukannya, aku menikah dengan Ken demi kebahagian Daddy? aku rela merasa terluka. tapi aku tidak menyangka jika harus sesakit ini, kenapa rasanya sesakit ini?" Alana mengusap air matanya yang jatuh menderas secara bergantian.
"Selama ini, aku salah mengartikan kebaikan Ken kepadaku. Ken memang orang baik, aku hanya salah mengartikan perasaannya." Alana semakin tak bisa mengendalikan emosinya saat mengingat setiap kali Ken memperlakukannya dengan begitu istimewa, memperlakukan dirinya layaknya benar-benar seorang istri yang ia kasihi.
"Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, bahkan dengan Darrel sekalipun. aku benar-benar sudah mencintai, Ken. tapi Ken tidak pernah mencintaiku." Alana memejamkan kedua matanya, tak sedikit air mata yang ikut tersapu di sana.
"Ken mencintai Valerie. aku hanya penghalang di hubungan mereka. bukankah Ken menikahiku karna terpaksa untuk menyelamatkan perusahaan Papa? mungkin Ken terpaksa meninggalkan Valerie gara-gara menikahiku." Alana menerka-nerka hal itu, bahkan, membuat hatinya semakin sesak di buatnya. Alana menghapus air matanya dan memegangi Ibu jari dan tempurung lututnya yang terluka.
"Kakiku sakit..." Alana mencoba beranjak berdiri.
"Sakit."
Dengan kaki yang masih telanjang, Alana kembali melanjutkan langkah kakinya dengan tak tentu arah.
"Aku harus ke mana ini? Aku tidak tau daerah sini. aku tidak mau bertemu, Ken. dia pasti akan marah kepadaku." Alana menyoroti sekitar dengan kebingungan. tidak ada orang sama sekali di sana. jalanan terlihat semakin sepi. namun, Alana hanya masa bodoh dan tak mau memikirkan itu semua. ia tetap berjalan dengan tertatih dan mengikuti kakinya melangkah. bahkan, tak sedikit air mata yang masih berderai. setidaknya dengan seperti ini, Alana bisa begitu lega. tidak ada orang yang melihatnya menangis, tidak ada yang tau rasa sakit hatinya kecuali dirinya sendiri.
Alana sejenak berhenti melangkahkan kakinya, ia merogoh ponsel yang terselip di dalam tas miliknya. ia mencoba membuka ponsel itu, namun, ponsel itu ternyata mati karna kehabisan daya.
"Low batt." Alana menghela napasnya dengan kasar. ia kembali memasukan ponsel itu ke dalam tas. kemudian, ia kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, sebuah mobil putih tiba-tiba berhenti di depannya. Alana yang kala itu masih menangis, ia dengan segera cepat-cepat menghapus air matanya.
Seseorang turun dari mobil itu. Dan kini, ia berdiri tepat di hadapan Alana, "Alana?" sapa orang itu. orang itu tak lain ialah Jasson.
"Jasson?" Alana menunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih di rundung kesedihan.
"Sedang apa kau berjalan di sini sendirian malam-malam? Di mana Kakak?" tanya Jasson sambil melihat ke arah sekitar. namun, ia tak mendapati siapapun di sana kecuali Alana.
"Ehm, aku tersesat!" ucap Alana dengan suaranya yang sudah mulai habis.
"Bagaimana bisa tersesat?" tanya Jasson. namun, ia tak mendapat jawaban dari Alana. Jasson memperhatikan wajah Alana yang masih menunduk.
"Alana?" panggil Jasson. Alana sedikit mengangkat wajahnya.
"Kau habis menangis?" tanya Jasson sembari menyipitkan kedua matanya. ia memperhatikan kedua mata kakak iparnya yang sembab.
"Tidak!" bantah Alana sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak menangis, kenapa matamu sampai bengkak seperti itu?" Jasson melihat ke kaki Alana yang telanjang.
"Dan kakimu terluka." Jasson seketika berjongkok dan menyentuh kaki Alana.
"Aku baik-baik saja." Alana menjauhkan kakinya dari Jasson.
"Baik-baik saja bagaimana? jelas-jelas ini terluka. ayo duduklah kemari, aku akan mengobati kakimu," ajak Jasson yang mencoba berdiri dan menarik tangan Alana menuju ke kursi panjang yang ada di dekat mereka.
"Aku baik-baik saja, Jasson. tolong pergilah, tinggalkan aku sendiri!" seru Alana.
"Ini sudah malam! bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri! ayo akan ku antarkan kau ke Kakak!" seru Jasson.
"Tidak, aku tidak mau pulang, aku mau sendiri, tolong pergilah!" pinta Alana.
"Apa kau ada masalah dengan Kakak?" tanya Jasson.
"Tidak." Alana menggeleng kepalanya.
"Kalau begitu di mana Kakak?" tanya Jasson. Alana hanya diam dan menatapnya.
"Alana?" panggil Jasson.
"Dia masih di pesta pernikahan sahabatnya," ucap Alana pelan.
"Apa Kakak tau kalau kau di sini?" tanya Jasson. Alana menunduk dan menggeleng pelan kepalanya.
"Ayo, aku akan mengantarkanmu ke Kakak." Jasson menarik tangan Alana dan hendak mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak mau, nanti Ken akan memarahiku." Alana menarik balik tangannya.
"Alana, Kakak pasti mencarimu!" seru Jasson. tiba-tiba bayangan Ken yang sibuk akan Valerie, terlintas di benaknya.
"Dia, tidak akan mencariku!" ucap Alana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tau Kakakku! dia pasti mencarimu, ayo aku akan mengantarkanmu untuk menemuinya!" paksa Jasson.
"Aku tidak mau!" tolak Alana dengan mengeraskan suaranya. namun Jasson tak melepaskan tangan Alana.
"Aku tidak mau! dia nanti akan memarahiku. jangan memaksaku!" seru Alana.
"Jangan seperti anak kecil! Kakak tidak akan memarahimu. ini sudah malam! Kakak orang yang mudah sekali khawatir, jangan membuatnya bingung dan menyusahkannya hanya untuk mencarimu!" teriak Jasson dengan kesal. Alana terdiam karna takut saat Jasson berteriak seperti itu.
"Katakan di mana acara itu? aku akan mengantarkanmu?" tanya Jasson.
"Aku tidak mau kembali ke sana. aku mau pulang saja," ucap Alana dengan suara terendahnya,
"Baiklah, cepatlah masuk ke dalam mobil!" perintah Jasson. Alana mengiyakannya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Dia pasti memiliki masalah dengan Kakak," Jasson bertanya dalam hati sembari tak melepaskan pandangannya ke arah Alana yang saat ini duduk di samping kursi kemudinya. Jasson segera melajukan mobilnya tersebut dengan kecepatan rendah untuk mengantarkan Alana pulang ke rumah.
***
Sementara Ken. laki-laki itu masih sibuk menyusri jalanan untuk mencari istrinya. ia merasa takut jika hal buruk terjadi kepada Alana. Mengingat, dulu, Alana pernah di ganggu oleh preman saat berjalan tengah malam, ingatan itu membuat Ken semakin khawatir di buatnya. kedua mata Ken tak henti menyoroti setiap jalanan yang ia lintasi, berharap ia menemukan Alana. namun, ia sama sekali tak menemukannya.
"Sebenarnya ke mana dia, ini sudah malam sekali dan jalanan sepi?" Ken berdecak sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku takut dia--"
Drrt
Drrt
suara getar ponsel milik Ken yang kala itu tergeletak di laci mobilnya terdengar begitu jelas. terlihat satu pesan masuk di ponsel miliknya. Ken segera meraih ponsel itu. namun, kedua matanya tak lengah untuk mencari Alana.
"Jasson..." Ken berucap tanpa mengeluarkan suara. ia segera membuka pesan itu.
Kakak, apa kau sedang mencari Alana? ~ Jasson.
Iya, Kakak sedang mencari Alana, kenapa? ~ Ken.
Alana bersamaku, aku sedang di jalan. mau mengantarkannya pulang ~ Jasson.
Ken seketika langsung menghentikan mobilnya saat membaca pesan dari adiknya yang mengatakan bahwa Alana sedang bersamanya.
Kau sedang bersama Alana? di mana dia sekarang? ~ Ken.
Iya, dia bersamaku. kebetulan tadi sepulang dari perayaan pesta temanku. aku tidak sengaja bertemu dengannya sendirian, Kak. dan dia terlihat sedang menangis. ~ Jasson.
Menangis? baiklah, ceritakan nanti saja. terimakasih, kita bertemu di rumah Kakak ~ Ken.
Jika Alana pulang, jangan memarahinya, Kak. ~ Jasson.
Ken hanya membaca pesan terakhir Jasson tanpa membalasnya.
Demi apapun, Ken bernapas dengan begitu lega saat tau Alana sekarang bersama Jasson. ia meletakan kembali ponselnya ke dalam laci dan segera melajukan mobilnya menuju ke arah rumah dengan kecepatan maximal.
***
Ken terlebih dulu sampai di rumah, ia memarkirkan mobilnya di halaman dan segera masuk ke dalam untuk mencari Alana. namun, ia tak mendapati Alana di mana-mana termasuk di kamar mereka berdua.
"Tuan Muda sudah pulang?" suara Bi Ester membuat Ken menoleh ke arahnya.
"Alana di mana, Bi? apa dia sudah pulang?" tanya Ken.
"Nona Alana belum pulang, Tuan. kan tadi Nona pergi bersama, Tuan." Bi Ester mengernyit heran.
"Oh, ya sudah, Bi. mungkin dia masih dalam perjalanan," ucap Ken.
"Alana, ayo turun!" perintah Jasson.
"Aku takut Ken akan memarahiku," ucap Alana yang masih menunduk.
"Kakak tidak akan memarahimu!" bujuk Jasson mencoba menenangkan kakak iparnya itu. Jasson segera turun dan membukakan pintu mobil Alana. Alana turun dari mobil dengan tubuh yang gemetar. dirinya benar-benar takut dengan Ken yang saat ini berkacak pinggang dan tak henti menatapnya dengan tajam.
Alana dengan takut bersembunyi di belakang bahu Jasson dan menundukan pandangannya. Ken berjalan mendekati Alana dan menarik tangan istrinya tersebut.
"Kau dari mana saja? apa kau tau aku dari tadi mengkhawatirkanmu?" seru Ken dengan kesal.
"Maafkan aku, Ken." Alana berucap dengan bibir gemetar sambil menundukan pandangannya.
"Kak..." Jasson menyentuh lengan Ken, berharap Kakaknya tersebut tidak memarahi Alana. karna, Jasson sangat tau betul bagaimana Ken.
"Alana, masuklah!" perintah Jasson. Alana mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan adik dan kakak itu.
***
"Jangan memarahinya, Kak!" tutur Jasson.
"Kakak benar-benar kesal! apa kau tau Kakak mencarinya ke mana-mana, Kakak sangat mengkhawatirkannya, karna ini sudah malam. bagaimana jika hal buruk terjadi kepadanya?" seru Ken.
"Aku tau, Kak. tapi jangan memarahinya. dia sangat takut jikat Kakak memarahinya!" tutur Jasson.
"Bagaimana dia bisa bersamamu?" tanya Ken.
"Tadi, aku melintas di belakang jalan yang letaknya cukup jauh dari sekolahan kakak dulu. dan aku tidak sengaja melihat Alana sedang berjalan sendirian di sana. aku turun menghampirinya. dia terlihat habis menangis," ujar Jasson sambil mengingat kembali.
"Menangis kenapa?" tanya Ken.
"Entahlah, Kak. aku bertanya tapi dia tidak mengaku, apa Kakak ada masalah dengan Alana? karna, tadi dia sempat tidak mau aku antar pulang, karna takut Kakak akan memarahinya," ujar Jasson.
"Tidak! Kakak baik-baik saja dengannya. tadi, waktu acara pertunangan Adam, kata David dan Ashley dia pamit pergi ke toilet tapi tidak kembali. makanya aku khawatir saat melihat dia tidak ada di sana."
"Oh, yang Kakak hadiri itu pesta pertunangan Adam. pasti ada Valerie, iya, kan, Kak?" tanya Jasson. Ken terdiam sejenak.
"Iya, Valerie jelas datang, kau kan tau dari dulu dia dan Adam juga dekat," jawab Ken.
"Mungkin karna Valerie, Alana meninggalkan acara itu," ujar Jasson. namun, Ken membantah akan hal itu.
"Aku pulang dulu, Kak. jangan memarahinya," pinta Jasson.
"Terimakasih sudah mau mengantarkannya." Ken menepuk bahu Jasson dan membiarkan adiknya pergi dari sana. setelah mobil yang di kemudikan Jasson tak terlihat dari jangkauan mata. Ken segera masuk ke dalam rumah.
***
Ken masuk ke dalam kamar dan menutup rapat pintu kamar itu. ia melihat Alana yang saat ini duduk di tepi tempat tidur. Ken menatapnya dengan tatapan tajam seakan hendak memarahinya, hingga membuat Alana menundukan wajahnya dengan begitu takut. bahkan, wajah wanita itu terlihat sangat pucat. Alana meremmas kedua tangannya dan menelan ludahnya dengan susah payah. ia sama sekali tak berani melihat Ken. seketika itu, Ken menddudukan tubuhnya di samping Alana.
"Maafkan, Aku, Ken. aku menyusahkanmu. aku tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku. maafkan aku..." Alana berucap dengan di iringi air matanya. terlihat dengan begitu jelas bahwa dirinya benar-benar takut.
"Kenapa kau menangis?" Ken mengangkat wajah Alana yang menunduk. bahkan, saat ini. Ken melihat jelas wajah istrinya itu basah. ia segera meyeka air mata Alana.
"Aku selalu menyusahkanmu, maafkan aku," ucapnya.
"Aku tadi hanya mengkhawatirkanmu, apa kau tau aku tadi mencarimu ke mana-mana? kenapa kau pergi begitu saja?" tanya Ken. suaranya terdengar melunak.
"Maafkan, aku. tadi kepalaku pusing, jadi aku meninggalkan acara itu, maafkan aku, Ken." Alana mengusap sendiri air matanya.
"Tidak apa-apa, jangan melakukan ini lagi, kau mengerti? aku benar-benar khawatir," ucap Ken. ia sejenak memeluk Alana dan mencium puncak kepalanya. namun, Alana tiba-tiba menjauhkan tubuhnya hingga membuat Ken mengernyit heran.
"Ken, lebih baik mulai sekarang kita menjaga jarak." Alana beranjak berdiri dan memundurkan kakinya.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanya Ken dengan kesal. ia beranjak berdiri dan menghampiri Alana.
"Tolong, Ken. mulai sekarang perlakukan aku sebagai temanmu saja. jangan lebih dari itu," ucap Alana. ia sekuat tenaga mencoba menahan rasa sakitnya.
"Alana, kau ini bicara apa? kau sudah menikah denganku. dan kau adalah istriku. jadi aku harus memperlakukanmu dengan semestinya!" seru Ken.
"Bukankah kita menikah hanya karna ingin membantu orang tua kita saja? kita menikah hanya sebatas kesepakatan bisnis, Ken. apa kau lupa itu? jadi tolong perlakukan aku dengan semestinya. jangan memperlakukanku lebih dari itu," ujar Alana. bahkan, ia tidak bisa mengontrol emosinya hingga air matanya semakin menderas di wajah.
Ken berjalan dan kembali mengangkat kedua pipi Alana. ia melihat dengan jelas air mata Alana yang semakin memabasahi wajahnya.
"Katakan kepadaku! kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini?" tanya Ken.
"Apa karna Caleey? apa karna Mamimu? apa mereka berdua yang berbicara seperti itu kepadamu?" pertanyaan Ken ia lontarkan secara bersamaan.
"Lepaskan aku, Ken. ini tidak ada hubungannya dengan mereka," bantah Alana. Ken semakin bingung di buatnya.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini?" tanya Ken. ia semakin mengeraskan suaranya dengan begitu kesal.
"Apa ini semua karna Valerie?" tanya Ken. namun Alana hanya diam saja dan menatap senduh kedua mata Ken.
"Bicaralah! apa ini semua karna Valerie?" namun Alana masih membisu hingga membuat Ken membenarkan pertanyaannya sendiri.
"Alana, aku sudah bilang beberapa kali kepadamu! aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Valerie. kenapa kau tidak percaya?" seru Ken.
"Bahkan, jika aku orang lain. aku juga tidak akan mempercayainya, Ken." Alana berucap lirih. suaranya di iringi dengan isakan tangisnya.
"Aku bersumpah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Valerie!" bantah Ken.
"Tapi, kau memiliki perasaan dengannya, kan, Ken?" tanya Alana.
"Alana--"
"Ken, tolong! tolong jangan memperlakukanku seperti ini lagi. jangan membuatku mengharapkan hal yang tidak seharusnya aku harapkan!" Alana semakin menjauh dari jangkaun Ken, hatinya benar-benar mearasa sesak.
"Kau tidak percaya?" tanya Ken.
"Bagaimana aku bisa percaya? bahkan kau tidak pernah menceritakan tentang siapa Valerie kepadaku," imbuhnya.
"Kau ingin tau tentang Valerie? Aku akan menceritakan semuanya tentang dia kepadamu!"
"Valerie hanya temanku! dia temanku sejak SMP. dia satu-satunya teman perempuanku! selama 10 tahun aku berteman dengannya. tapi pertemanan kita retak karna Valerie tiba-tiba mengungkapkan perasaanya kepadaku. saat itu, aku tidak memiliki perasaan apapun dengannya--"
"Dan sekarang kau memiliki perasaan dengannya? kau mencintainya?" tukas Alana, ia menarik napasnya dengan sesenggukan.
"Jangan memotong pembicaraanku. Aku belum selesai berbicara!" seru Ken dengan kesal. bahkan saat ini ia mencengkram lengan tangan Alana.
"Aku memang pernah membuka hatiku untuk dia, tapi dia malah menghindariku, bahkan tidak pernah menghubungiku sama sekali!"
"Tapi Itu dulu, Alana. sekarang aku sudah menikah denganmu! aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Valerie, aku bersumpah untuk hal itu!" seru Ken.
"Kita menikah hanya karna bisnis, kau ingin membantu Papa dan aku juga ingin membantu Daddy, itu saja. kau masih memiliki perasaan kepadanya, aku bisa melihat itu, Ken." Alana berbicara dengan terisak-isak.
"Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Valerie. kenapa kau tidak bisa mengertikan itu?" tanya Ken.
"Aku masih punya mata, Ken. aku masih bisa melihatnya," suara Alana semakin memberat dan tak tertahankan.
"Melihat apa? katakan kau melihat apa?" seru Ken. namun, Alana hanya diam saja dan masih menatap Ken.
Ken merasa frustasi untuk meyakinkan Alana. ia menatap Alana yang masih menangis hingga membuat hatinya begitu kacau.
"Alana..." panggil Ken. namun Alana hanya diam saja. wanita itu kini terlihat menundukan pandangannya sambil menangis.
"Alana, aku sangat mencintaimu. kenapa kau tidak bisa merasakan itu?" Ken merendahkan suaranya dan mendekati Alana. seketika itu Alana mengangkat kepalanya.
"Kau tidak pernah mencintaiku." Alana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa aku pernah bilang jika aku tidak mencintaimu?" Ken mengeraskan suaranya dan menarik tangan Alana.
"Kau berbicara seperti itu karna kasihan kepadaku. aku tidak membutuhkan itu, Ken." suara Alana semakin memberat.
"Untuk apa aku mengasihanimu? Kalau aku tidak mencintaimu aku tidak akan sudi setiap hari harus berbagi ranjang denganmu! aku tidak akan sekhawatir ini kepadamu! dan aku tidak akan pernah mau tau tentang kehidupanmu. kenapa kau tidak bisa mengertikan itu?" seru Ken.
Alana hanya membungkam dan melebarkan kedua matanya yang sudah menyipit. ia benar-benar masih tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Ken. bisa saja itu hanya kata-kata penenang baginya.
"Aku sangat mencintaimu, tolong percayalah. aku sudah benar-benar membuka hatiku untukmu, apa kau tidak bisa merasakan itu?" suara Ken melunak. ia tak segan memeluk Alana.
"Jangan membohongiku, Ken." Alana mencoba melepaskan pelukannya, namun, Ken tidak mau melepaskannya.
"Aku tidak pernah berbohong untuk hal seperti ini, aku sangat mencintaimu. tolong percayalah." Ken semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa benar yang kau katakan itu?" tanya Alana seakan tak percaya.
"Aku sudah membuka hatiku untukmu. aku tidak tau entah kapan. aku benar-benar sudah mencintaimu, Alana." Ken kembali mengulang kata-katanya. ia melepas pelukannya dan menatap kedua mata Alana.
"Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Ken. ia bergantian menatap kedua bola mata Alana yang hampir tak terlihat.
"Aku juga sangat mencintaimu, Ken. maafkan aku jika sikapku berlebihan, aku hanya merasa sakit saat melihatmu dengan Valerie, tadi." Alana berucap dengan suara rendahnya. Ken tersenyum dan kembali memeluk Alana.
"Kau tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf. karna membuatmu jadi salah paham seperti ini." Ken semakin mengeratkan pelukannya seakan tak mau melepaskan Alana.