
Brianna mencoba menenangkan putrinya itu dengan mengusap-usap punggungnya. Alana tiba-tiba melepaskan pelukannya, ia memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kencang, kedua matanya mendelik menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya bahkan hingga menusuk hingga ke tulang punggungnya.
"Mama..." Alana mencoba menarik tangan mertuanya dan meremmasnya. Merry seketika panik.
"Alana, kau kenapa, Nak."
"Alana, sayang, kau kenapa?" Brianna membenarkan rambut wignya yang sempat terlepas.
"Mama, perut Alana sakit sekali..."
Daven, Brianna dan juga Merry semakin terlihat panik. Namun, di saat waktu yang bersamaan, Ken dan Papa Gio terlihat datang dan berjalan cepat menghampiri mereka.
"Alana..." Melihat istrinya yang merasa kesakitan, Ken segera berlari memanggilkan dokter. Dan tak lama kemudian, ia kembali dengan beberapa perawat yang sedang mendorong hospital bed, Ken mengangkat tubuh istrinya itu dan meletakannya di atas pembaringan. Dan para perawat itu segera membawa Alana masuk ke dalam salah satu ruangan, diikuti oleh Ken dan juga seorang dokter yang akan menangani Alana.
Dokter melakukan tensi darah kepada Alana. Namun, karna tekanan darah Alana mendadak sangat rendah, dokter terpaksa mengambil tindakan untuk melakukan operasi Caesar, dan sebelum itu, dokter meminta Ken untuk menandatangani surat persetujuan operasi caesar yang akan segera dilakukan kepada istrinya tersebut.
Alana seharusnya melakukan proses persalinan dengan normal, namun karna tekanan darahnya tidak memungkinkan, ia terpaksa melakukan persalinan melalui operasi caesar. Namun keputusan yang mendadak ini, membuat Alana harus menunggu berjam-jam menahan rasa sakit untuk menunggu dokter siap melakukan operasi tersebut.
"Ken..." Alana berucap lirih menahan rasa sakit. kedua matanya yang di penuhi air mata itu menatap lekat wajah suaminya yang saat ini berdiri di sampingnya. Menyiratkan betapa sakitnya apa yang istrinya itu rasakan saat ini, Alana meremas kuat lengan suaminya saat rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi, rasa sakit yang seakan mengaduk-aduk perutnya, mematahkan satu persatu tulang punggungnya, meremmas dan mencabik-cabik dinding dan otot rahimnya, saat anak yang ada di dalam perutnya itu sedang berusaha ingin mencoba mencari jalan keluar. Namun, Alana dengan sekuat tenaga menahannya agar tidak mengeluh akan rasa sakit yang ingin dirasakan oleh sebagian wanita yang ingin sekali merasakan bagaimana rasanya melahirkan dan memiliki anak.
Alana hanya merintih dan menangis, berusaha menahan rasa sakit itu, beda sekali dengan Mama Merry, dulu waktu melahirkan Kendrick Mama Mery begitu menggemparkan seisi rumah sakit karna teriakan akan tak kuat menahan rasa sakit saat hendak melahirkan anak sulungnya itu.
"Ken, sakit sekali... apa masih lama?" tanyanya sambil matanya terpejam. Ken mengusap air mata yang jatuh mengalir dari kedua sudut mata istrinya itu.
"Sebentar lagi, sayang, tahanlah... kalau kau merasa sakit gigit saja tanganku... " Ken menyodorkan tangannya itu kepada Alana. Namun Alana hanya merintih dan menggelang kepalanya, memilih tak bersuara saat rasa sakit itu menyerangnya kembali.
"Sakit, Ken." Hanya air mata dan perkataan itu yang terlontar dari mulut Alana.
Ken bisa melihat dengan jelas istrinya itu merasa kesakitan membuat tubuh tegapnya melemas gemetar tak karuan. Ia begitu tersiksa dan tak tega melihat wanita yang sangat ia cintai itu menderita akan rasa sakitnya. Namun Ken berusaha menenangkan dan memberi bisikan penyemangat, seraya mengusap-usap punggung istrinya tersebut.
***
Kini dokter sedang melakukan tindakan operasi kepada Alana. Sementara Ken, Ia menunggu di luar ruangan, karna entah sejak kapan, dokter tidak mengizinkan siapapun termasuk suaminya masuk ke dalam ruang operasi selama operasi berlangsung. Membuat Gio merasa kesal, karna dulu waktu Merry melakukan oeprasi caesar saat melahirkan Jesslyn dan Jasson, dokter boleh mengizinkannya untuk menemui Merry. Tapi sekarang? giliran menantunya melahirkan, anaknya justru tidak boleh mendampinginya.
Ken terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi itu, wajahnya yang garang terlihat cemas. Tak berhenti menatap pintu ruangan itu, rasanya ia ingin sekali mendobrak pintu itu, lalu masuk dan memeluk istrinya yang tengah berjuang di dalam sana.
"Kakak..." suara itu mengalihkan perhatian Ken. Terlihat Jesslyn dan Jasson berjalan cepat melewati lorong rumah sakit itu. Kedua adiknya terlihat baru saja pulang kuliah.
"Kakak bagaimana Alana?" tanya Jesslyn yang tak sabar. Ken hanya diam dan tak ingin berbicara apapun.
"Merry..." Gio memanggil istrinya itu. Seketika itu, Merry mengerti akan maksud suaminya.
Merry menghampiri Jesslyn, menarik tangan anak perempuannya tersebut. "Ayo, sayang, duduk. Alana sekarang sedang melakukan operasi di dalam." Jesslyn pun menurut. Ia mendudukan tubuhnya bersama Mama Merry dan juga Brianna di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu. Mulut mereka tak henti saling melontarkan doa untuk Alana.
Setengah jam berlalu, tak lama kemudian, lampu indikator operasi yang semula menyala kini tiba-tiba mati menandakan operasi itu telah selesai, disusul oleh suara tangisan bayi yang memecah dari dalam. Membuat siapapun mendengarnya begitu bersykur terutama Jesslyn.
"Mama suara keponakanku..." Jesslyn beranjak berdiri dengan penuh semangat. Ia berucap dengan begitu haru. Seakan suara tangisan bayi itu membuat bulu-bulu halus di sekitar tubuhnya itu berdiri saat mendengarnya.
pintu ruang operasi seketika terbuka. Seorang dokter yang masih mengenakan pakaian operasi lengkap berdiri di ambang pintu tersebut, membuat Ken dan yang lainnya segera menghampiri dokter itu.
"Tuan, selamat anak anda sudah lahir dan berjenis kelamin perempuan..." tutur dokter itu. Senyuman Ken mengembang, dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Tapi Nona Alana kehilangan kesadaran, karna tubuhnya kehilangan banyak darah, kita membutuhkan golongan darah rhesus A negative, stok di bank darah kami kehabisan dan hanya tersisa satu kantung darah saja. Sementara kami membutuhkan dua kantung darah rhesus A negative untuk melakukan tranfusi," ujar Dokter. Penuturan dokter itu seketika menghenyakan rasa bahagia Ken dan keluarganya, mereka seketika khawatir. Sebab golongan darah itu terbilang sangatlah langkah.
"Rhesus A negative?" dada Ken tiba-tiba sesak akan ketakutannya yang berlebihan.
"Iya, Tuan. Tolong barangkali teman atau saudara anda yang memliki golongan darah rhesus A negative, kamibutuh secepatnya."
"Golongan dara saya Rhesus A negative, Dok. Ambil darah saya saja." Brianna tiba-tiba menyaut menawarkan dirinya. Namun dokter memperhatikan kondisi wanita itu yang terlihat tak sehat.
"Dokter, Alana putri kandung saya. Darah saya Rhesus A negative... tolong ambil darah saya." Brianna berucap dengan penuh pemaksaan.
"Maaf, Nyonya. Apa anda sedang sakit atau memiliki riwayat penyakit?" tanya Dokter.
Brianna sejenak terdiam. "Sa-saya mengidap kanker rahim, Dok." Penuturan Brianna membuat Ken dan Gio yang belum mengetahui kebenarannya begitu terkesiap.
"Sekarang saya sedang melakukan pengobatan, tapi saya tidak apa-apa, tolong ambil darah saya saja, Dok. Saya tidak mau putri saya kenapa-kenapa," paksa Brianna sambil mengusap air matanya.
"Maaf Nyonya, kami hanya bisa menerima pendonor darah dari orang yang benar-benar sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit atau sedang sakit," tutur Dokter.
"Jesslyn... " suara seorang wanita yang tak lain ialah Kimmy, terdengar menggema dari lorong rumah sakit itu, dengan tas ransel di punggungnya, ia berjalan cepat menghampiri yang lainnya. Karna setelah mendapatkan kabar bahwa Alana akan melahirkan, wanita itu segera pergi ke rumah sakit.
"Jesslyn bagaiaman Alana?" memegang bahu Jesslyn sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Suasana hening membuat Kimmy semakin bertanya-tanya.
"Bibi, apa Alana sudah melahirkan?" tanya Kimmy kepada Merry.
"Kakak Ken, Jesslyn, ada apa ini, Alana baik-baik saja, kan?" tanya Kimmy dengan cemas.
"Kimmy, Alana kehilangan banyak darah, dokter membutuhkan golongan darah rhesus negative, golongan darah yang sama hanya darah Maminya Alana, tapi dokter tidak mengizinkan, karna Maminya Alana sedang sakit," jawab Jesslyn.
"Memangnya golongan darah Alana apa?" tanya Kimmy.
"Rhesus A negative," jawab Jesslyn.
"Rhesus A negative? golongan darahku juga rhesus A negative."
Kimmy segera mendekati dokter yang masih berdiri di depan pintu ruang operasi tersebut.
"Dokter, ambil darahku saja... golongan darahku rhesus A negative, ambil darahku saja..." Kimmy begitu heboh tak memikirkan apapun.
"Kimmy, kau benar mau mendonorkan darah untuk Alana?" Ken menarik bahu perempuan yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu,.
"Tentu saja, kenapa tidak, Kak. Golongan darahku sama seperti Alana," jawab Kimmy.
"Ayo dokter, jangan biarkan Alana menunggu!" ujar Kimmy dengan penuh semangat.
"Baiklah, Nona. silahkan masuk."
*
Beberapa menit kemudian, Kimmy keluar dari ruangan itu, dengan wajah yang ceria dan senyumannya yang mengembang. Ia berjalan menghampiri Jesslyn dan yang lainnya.
"Kimmy, apa kau sudah melakukan tranfusi darah?" tanya Jesslyn.
"Sudah..." jawabnya. Kimmy memegangi kain kasa yang terlihat ada sedikit bercak darah yang membaluti lengannya.
"Jesslyn, keponakanku di dalam lucu sekali... dia cantik seperti Alana, pipinya merah dan bulat ingin sekali kuberi selai coklat lalu mengigitnya." Kimmy berucap dengan begitu gemasnya sambil mencubit dan menggoyang-goyangkan kedua pipi Jesslyn.
"Ah, benarkah. Aku tidak sabar ingin melihatnya..." seru Jesslyn yang tak kalah semangatnya.
"Kimmy." Ken berjalan mendekati Kimmy, melebarkan kedua tangannya menyambut perempuan itu dalam pelukannya.
"Terimakasih banyak, kau sudah mau mendonorkan darah untuk Alana, kau memang adik Kakak yang paling baik..."
"Kakak Ken jangan berlebihan, Alana sudah seperti Kakakku sendiri, aku sangat menyayanginya, jadi selama aku bisa membantu Alana, aku pasti akan membantunya."
"Selamat, ya, Kakak Ken sudah menjadi Ayah," imbuh Kimmy membalas pelukan itu.
"Terimakasih..."
"Kakak tidak memelukku juga?" rengek Jesslyn yang seketika cemburu melihat pemandangan itu. Membat Gio dan Merry menggelengkan kepalanya saat melihat putrinya tersebut.
Ken tersenyum. "Kemarilah..." Ken melebarkan salah satu tangannya dan merengkuh tubuh adik perempuannya yang manja itu. "Dasar adik-adik Kakak yang nakal ini," Ken mengacak-acak rambut Kimmy dan Jesslyn secara bergantian. Ucapan serupa bergantian dilontarkan kepada Kimmy, oleh Gio, Merry dan juga Brianna. Begitu juga Daven
"Kimmy, terima kasih banyak sudah mau mendonorkan darah untuk Kakakku," Kimmy terkejut saat Daven tiba-tiba memeluknya.
"Iya, Daven, Sama-sama." Kimmy hendak membalas pelukan itu. Namun, ia melihat Jasson yang berdiri tepat di belakang Daven sedang menatapnya, membuat mereka saling beradu pandang. Namun Jasson mengakhiri tatapan itu dengan begitu acuh.
"Daven... lepaskan aku..." Kimmy segera melepaskan pelukannya itu. Ia melihat kembali ke arah Jasson, namun Jasson meliriknya dengan tatapan dingin.
Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruangan dan menyuruh Ken untuk masuk ke dalam sana.
Dengan langkah kaki gemetar, Ken pun mengikuti langkah kaki perawat itu mengarah.
Dari kejauhan, kedua mata Ken tertuju ke arah baby box yang menampakan seorang bayi perempuan mungil yang sedang mencoba bergerak membuka kedua matanya. Ken menatap lekat wajah bayi yang memiliki rupa cantik seperti istrinya, matanya berbinar bagaikan kilauan berlian. Kedua mata Ken terlihat berkaca-kaca. Perawat itu menggendong bayi tersebut dan memindahkannya di tangan Ken. Seakan tak mempercayainya, hari ini dirinya telah menjadi Ayah. Ken masih menatap bayi mungil itu, memberinya ciuman hingga tak terasa kedua sudut matanya basah, bayi itu tersenyum kepadanya.
Tangannya yang masih kaku berusaha untuk berhati-hati memindahkan bayinya itu ke tangan perawat tersebut agar diberikan kepada Alana. Ken kembali mengikuti perawat itu untuk menemui Alana yang terlihat masih berada di atas pembaringan dan baru saja sadarkan diri.
Kedua mata wanita itu masih menyesuaikan cahaya sekitar lampu ruangan. Perawat kembali mengalihkan bayi itu kepada ayahnya dan berpamitan pergi dari sana.
Alana masih terdiam memperhatikan suaminya yang sedang berdiri dan menggendong seorang bayi di tangannya sambil tersenyum kepadanya.
"Sayang..." Ken dengan hati-hati memperlihatkan bayi itu kepada istrinya.
"Ken, ini anak siapa cantik sekali?" tanya Alana yang berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengambil alih bayi mungil yang digendong oleh suaminya tersebut.
"Anakmu..." jawab Ken sambil tersenyum.
"Anakku? apa benar ini anakku?" tanya Alana seolah tak percaya.
"Ya iya, ini anakmu mana mungkin ini anaknya Bi Ester, kau ini ada-ada saja!" seru Ken. Tangan Alana seketika meraba perutnya yang datar, lalu terkekeh.
"Oh iya aku lupa jika sudah melahirkan..."
tawa itu seketika sirna akan tatapan haru Alana saat memandangi wajah cantik nan mungil putrinya tersebut. Kedua sudut matanya terlihat basah.
"Hai anaknya Kendrick..." sapanya sembari mencium pipi putrinya itu.
"Ken, dia sangat cantik ya sepertimu..." ucap Alana.
"Kau yang benar saja! Mana mungkin aku cantik!" seru Ken. Alana terkekeh.
"Maksudku, dia cantik sepertiku dan mirip sepertimu," jelas Alana.
Ken tersenyum. "Iya, dia sangat cantik sepertimu dan mirip denganku," ucap Ken. Bergantian mencium kening istri dan juga putrinya yang terlelap tidur itu.
"Kita memberi nama dia siapa?" tanya Alana.
"Elga Seana Moen, yang berarti perempuan terhormat, riang, suci dan Moen adalah marga Papa," tutur Ken.
"Elga... aku sangat meyukainya...." Alana dengan gemas mencium kedua pipi putrinya hingga tersenyum.
"Selalu tersenyumlah seperti Mommy, jangan seperti Daddymu, ya, sayang," bisikan Alana yang terdengar oleh Ken membuatnya terkekeh sambil mengacak-acak rambut istrinya tersebut. Ken memeluk Alana dan berulangkali menciumnya.
Raut kebahagian di wajah Alana kembali sirna tatkala dirinya mengingat ibunya yang sedang mengidap sakit keras. Alana meminta tolong kepada Ken agar mau membantu biaya pengobatan Ibunya tersebut, bahkan meskipun Alana tidak meminta tolong. Ken sudah pasti akan membantunya.
***
Merry, Gio dan Brianna bergantian masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat cucu pertama mereka. Senangnya bukan main, Merry tak menyangka bahwa secepat itu dirinya menjadi seorang nenek.
"Sayang, kita masih muda, sepertinya lucu sekali jika kita memiliki anak bayi lagi," goda Gio yang bergantian menggendong cucunya tersebut.
"Kau ini sudah tua tapi sungguh tidak tau malu!" celetukan Merry yang dilontarkan kepada Gio. Membuat Alana dan Ken seketika tertawa saat mendengarnya.
"Aku hanya bercanda..." jawab Gio sambil terkekeh.