
"Tertawalah yang kencang, sepulang dari sini akan kuhabisi kalian!" seru Ken sambil melototkan mata kepada kedua sahabatnya itu. Ashley dan David seketika terdiam, namun wajahnya masih memerah terlihat menahan tawa.
"Perutku sakit." Ashley memegangi perutnya, kedua sudut matanya terlihat berair.
"Kau tertawa lagi, aku akan benar-benar akan menghabisimu!" seru Ken.
"Cepat katakan, ada perlu apa kalian kemari?" tanya Ken.
"Kami ada perlu denganmu," jawab David.
"Di luar juga ada Valerie..."
"Valerie? kenapa kau mengajaknya kemari?" tanya Ken.
"Tadi pagi aku bertemu dia, aku juga mengajak dia mampir ke apartement, dia ingin bertemu dengan Alana, itu sebabnya aku sekalian mengajak dia kemari," jawab David.
"Oh, baiklah, tunggulah di luar..."
David dan Ashley mengiyakannya dan segera berlalu meninggalkan kamar sahabatnya tersebut. Ken mendekati Alana dan menyuruh untuk melepaskan kunciran di rambutnya tersebut.
"Senang melihat suamimu ditertawakan?" seru Ken. Alana hanya terkekeh dan membantu melepaskan ikatan itu. Lalu, Alana merapikan rambut suaminya tersebut menggunakan jari-jari tangannya.
"Sudah..." kata Alana sambil tersenyum. Namun kedua mata Ken tak lepas menatap Alana, membuat wanita itu menciut takut.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? kau marah denganku?" tanya Alana.
"Bagaimana mungkin aku bisa marah denganmu?" Ken mencubit hidung Alana dengan gemasnya, hingga terlihat membekas merah di sana.
"Di luar ada Valerie, ayo kita keluar," ajak Ken. Alana mengiyakannya. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tamu. David dan Ashley seketika beranjak berdiri saat melihat Ken menghampirinya.
"Alana, temani Valerie. Aku sedang ada perlu bersama David dan Ashley," perintah Ken. Alana dengan senang hati mengiyakannya.
Ken mengajak kedua sahabatnya itu untuk naik ke balkon atas membicarakan sesuatu yang ia rasa cukup penting. Sementara Alana, ia mendekati Valerie yang menyapanya dengan senyuman. Saling memeluk satu sama lain, lalu mengobrol bersama. Mereka juga saling bertukar nomer ponsel, untuk menanyakan kabar.
"Valerie, bagaimana kalau hari ini kita makan malam bersama di rumahku?" usul Alana.
"Kalau David dan Ashley mau, aku tentu mau."
"Mereka berdua pasti mau. Aku akan ke dapur dan bilang kepada Bi Ester unuk menambah porsi makan malamnya." Alana beranjak berdiri. Valerie pun mengikuti perempuan itu ke dapur untuk menemui Bi Ester.
Bi Ester terlihat sedang memasak dan memunggungi Alana. "Bibi..." Suara Alana membuat wanita parubaya itu sedikit terkejut. Lalu menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Nona?" tanya Bi Ester sembari menepiskan senyumnya.
"Bibi, tolong tambah tiga porsi untuk menu makan malam nanti ya, Bi. Karna teman-teman Ken akan makan malam bersama kami," pinta Alana.
"Baiklah, Nona." Bi Ester melanjutkan kembali memasaknya. Valerie dan Alana menawarkan diri mereka untuk membantu Bi Ester. Wanita itu sebenarnya menolak akan bantuan mereka berdua, namun, karna Valerie dan Alana memaksa, Bi Ester pun mengizinkannya.
***
Tak terasa, hari sudah terlihat petang, Alana tak menghiraukan urusan antar laki-laki yang sedaritadi berdiskusi di atas balkon rumahnya itu. Ia sibuk membantu Bi Ester memasak makan malam, hingga saat dirasa makan malam sudah matang. Alana segera menyajikan makanan tersebut di atas meja, tak jarang, dirinya dan Valerie mengobrol hingga terlihat begitu akrab, bahkan Alana sedaritadi tak henti membuat Valerie tertawa akan setiap perkataannya yang Valerie rasa begitu kocak.
"Alana, kau orangnya sangat menyenangkan," Valerie berucap hingga lesung pipinya yang semula terlihat nampak, kini semakin lama semakin menghilang.
"Kau tau? aku sudah hampir lupa kapan terakhir kali aku tertawa lepas sepeti ini," imbuhnya sambil tersenyum.
"Kau juga sangat baik." Memegang lengan Alana dan mengusapnya.
"Kau juga sangat menyenangkan dan baik. Aku dulu sempat mengira kalau kau jahat, tapi ternyata kau sangat baik sekali..." puji Alana. Valerie hanya tersenyum akan pujian itu.
Percakapan mereka terhenti, tatkala David terlihat masuk ke dalam dapur itu. Sejenak membuat Valerie menatapnya, tatapan balik ia dapatkan dari David.
Alana pun memperhatikan mereka berdua secara bergantian dan penuh menyelidik.
"Ada apa, David?" tanya Alana.
"Apa kau ada plester?" tanya David sambil memegangi sikunya.
"David, sikumu berdarah..." Valerie segera berjalan mendekati David dan diikuti oleh Alana.
"Kenapa sikumu?" tanya Alana.
"Gara-gara Ashley yang tidak sengaja mendorongku, sikuku jadi tergores kaca meja."
Alana segera meminta tolong kepada Bi Ester untuk mengambilkan kotak obat P3K, Alana menyuruh David untuk duduk. Saat Bi Ester kembali dengan membawa kotak obat itu. Valerie segera mengambil kotak obat itu dari tangan Bi Ester dan membantu David untuk mengobati lukanya. David sama sekali tak menolak bantuan wanita itu.
Alana berdiri di tempat yang sama memperhatikan Valerie yang sebegitu perhatiannya kepada David.
"Sudah..." Valerie beranjak berdiri dan melangkah mundur.
Tak lama kemudian, terlihat Ken dan Ashley menghampiri mereka di dapur. Ashley mendekati David dan berulang kali meminta maaf atas kecerobohannya.
"David, maafkan aku, aku tidak sengaja mendorongmu," ucap Ashley dengan memelas, berharap sahabatnya itu mau memaafkannya.
"Kau mau ku maafkan?" tanya David.
"Tentu saja..."
"Kalau begitu aku akan mendorongmu dari atas balkon rumah ini!" seru David.
"Kau yang benar saja, bisa mati diriku!" seru Ashley.
"Aku hanya bercanda..." David terkekeh dan beranjak berdiri melingkarkan tangannya di bahu sahabatnya itu. "Aku tau kau tidak sengaja, jadi lupakan..." imbuhnya.
***
Alana mengajak suami dan juga kedua sahabat suaminya itu untuk makan malam bersama, tidak ada penolakan, justru mereka berdua menerima ajakan makan malam itu, terlebih lagi Ashley, laki-laki itu terlihat begitu bersemangat mengiyakan ajakan Alana.
Mereka berlima segera mendudukan tubuh mereka masing-masing di kursi meja makan yang tersedia di sana dan segera menyantap hidangan makan malam yang telah disajikan oleh bi Ester dengan bantuan Alana dan juga Valerie.
Alana tak sengaja melihat David sedang memperhatikan Valerie sambil mengunyah makanannya. Sedangkan Valerie, wanita itu tak mengiraukan sekitar, ia sibuk menikmati makan malam miliknya.
Saat Alana masih memandangi David yang tak henti memperhatikan Valerie, ia pun kepergok oleh David yang tiba-tiba menoleh ke arahnya. Membuat wanita itu seketika menunduk dan melanjutkan kembali memakan makananan miliknya.
Seusai makan malam, Ashley, David dan Valerie pun berpamitan pulang. Alana dan Ken mengentarkan mereka hingga halaman rumah, dan saat mobil yang mereka bertiga tumpangi tak terlihat dari jangkauan mata. Ken segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
***
Sebelum kembali ke apartement, David terlebih dulu mengantarkan Valerie ke rumahnya, setibanya di rumah Valerie. Ia ikut turun dari mobil dan mengantarkan wanita itu hingga ke depan pintu. Sementara Ashley, ia menunggu di dalam mobil dan sibuk bermain game di ponselnya.
Valerie mencari kunci rumah di dalam tas jinjing miliknya, saat kunci berukuran kecil itu sudah ia dapatkan, ia dengan segera membuka pintu yang masih tekunci itu.
Pintu terbuka, Valerie menyuruh David untuk masuk terlebih dahulu, namun David menolaknya dengan alasan sudah malam.
"Terimakasih kau sudah mau menemaniku," ucap David.
"Sama-sama... terimakasih juga kau sudah mengantarkanku pulang," ucap Valerie sambil tersenyum hingga menampakan cekungan di kedua pipinya. Jari tangan David tiba-tiba menyentuh tanda yang membuat cekungan kecil pipi wanita itu. Valerie pun tak menghindarinya.
"Kenapa?" tanya Valerie, jantungnya berdegup tak karuan saat tangan laki-laki itu mendarat dengan tiba-tiba di pipinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya suka melihat lesung pipimu," ucap David sambil tersenyum menjauhkan tangannya dari pipi wanita itu. Valerie hanya menunduk dan tersipu.
"Hey... kalian sedang bergosip apa? kenapa lama sekali?" Ashley yang menonjolkan kepalanya keluar dari jendela mobil sambil berteriak, membuat mereka berdua menoleh ke arahnya.
"Sebentar!" saut David.
"Valerie, aku pamit pulang dulu."
"Iya, hati-hati..." jawab Valerie. Valerie menatap David yang memunggunginya dan berjalan menjauh darinya menuju ke arah mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, David masih sempat melihat ke arah wanita itu, membuat mereka saling beradu pandang dari kejauhana. David segera masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan senyuman dari wanita yang masih berdiri di depan pintu rumah itu. David melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Saat dirasa mobil yang ditumpangi oleh David sudah tak terlihat dari jangkauan matanya, Valerie segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Ia memegang pipi bekas sentuhan tangan David. Raut wajahnya bersemu merah, senyuman terlihat memekar di wajah wanita yang nampak kasmaran itu.
"David sangat baik..." senyuman tak henti menghiasi raut wajah Valerie.
***
Alana dan Ken sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur, mereka berdua terlihat sedang memegang buku di masing-masing tangannya. Pikiran Alana masih disibukan akan kedekatan Valerie dan David yang ia lihat tadi.
"Ken..." Alana menutup buku miliknya. Menggeser tubuhnya hingga bersentuhan dengan suaminya itu.
"Hem?" Ken masih fokus membaca buku miliknya, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Valerie sekarang dekat sekali ya dengan David," ujar Alana, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ken.
"Iya, karna Valerie sekarang bekerja di kantor David," jawab Ken.
"Benarkah?" Alana mengangkat kepalanya, menegasakan wajahnya menghadap ke arah suaminya itu. Seakan tak percaya, Alana mengulang pertanyaannya kembali, dan Ken membenarkannya.
"Wah, jadi lebih mudah..." heboh Alana.
"Apa maksudmu?" tanya Ken, mengangkat wajahnya dan mengernyit bingung akan perkataan istrinya.
"Sayang, bagaimana kalau kita menjodohkan David dengan Valerie? kulihat mereka sangat cocok sekali," usul Alana.
"Jangan melantur kalau berbicara, David sudah memiliki calon istri dan akan segera menikah!" saut Ken.
Kedua mata Alana membulat tak percaya.
"David sudah memiliki calon istri? siapa?"
"Entahlah, aku tidak tau siapa calon istrinya, lusa dia akan melakukan pertunangan dan wanita itu adalah pilihan ibunya."
"Dia dijodohkan?" tanya Alana. Ken menganggukan kepalanya, membenarkan perkataan istrinya.
"Yah, aku mengira David belum memiliki pasangan dan menyukai Valerie." Raut wajah Alana terlihat begitu kecewa. Karna entah kenapa, hatinya seakan begitu tergerak ingin sekali mendekatkan Valerie dan juga David, namun karna sudah mendengar bahwa David akan segera menikah, niatnya menjadi sirna seketika.
"Bicara apa kau ini? ayo kita tidur." Ken menutup buku miliknya, meletakan buku itu di atas meja. Ia menarik paksa tangan Alana dan mengajaknya tidur.
Ken sejenak mengajak Alana mengobrol sambil mengusap-usap perut istrinya itu. "Kalau nanti anakku lahir dia harus mirip denganku..." ucapnya.
"Mana bisa?"
"Tentu saja bisa, aku kan ayahnya!"
"Kalau mirip denganku bagaimana?"
"Kan aku sudah bilang, harus mirip denganku, supaya semua orang mengenalinya bahwa dia anak Kendrick Moen."
"Sudah tidurlah banyak bicara kau ini!" Ken mengusap kedua kelopak mata Alana secara paksa.
"Menyebalkan, padahal dia sendiri yang mengajakku berbicara," gumam Alana.
Alana tak mau memejamkan kedua matanya, sudah hampir setengah jam lamanya ia masih tetap terjaga, menatap dinding langit-langit kamar. Pikirannya masih berperang dan bertanya-tanya tentang David dan juga Valerie, ia sangat menyayangkan karna David terlebih dulu menemukan calon istri.
"Padahal David sangat serasi sekali dengan Valerie, aku kasihan dengannya," gumam Alana.
Alana menelan salivanya, ia iba-tiba merasa ingin sekali memakan sesuatu.
Kedua matanya melirik ke arah Ken yang hendak memejamkan kedua matanya. Alana beranjak duduk, hingga membuat suaminya itu mengurungkan niatnya untuk tidur.
"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Ken.
"Tidak apa-apa, aku mau meregangkan pinggangku." Alana berpura-pura meregangkan pinggangnya. Kedua matanya kembali melirik ke arah Ken.
"Ken..." Tangan Alana menyentuh bahu kekar suaminya itu dan memberi pijatan di sana.
Ken melirik curiga. "Pasti ada maunya."
"Tidak usah memijatku, aku tidak lelah. Cepat tidurlah!" Ken menjauhkan tangan Alana, namun tak membuat tangan wanita itu berpindah.
"Tidak apa-apa, aku aku akan memijatmu..."
"Tidak usah!"
"Tidak apa-apa..." Alana melanjutkan kembali memijat bahu suaminya itu. Ken pun seketika membiarkannya.
Sunyi
sunyi
Alana memperhatikan Ken yang hendak memejamkan kedua matanya.
"Ken..." panggilannya membuat kedua kelopak mata laki-laki itu terbuka.
"Ada apa?" tanya Ken.
"Aku ingin sekali makan salad buah," rengek Alana.
"Ini sudah malam mau cari di mana? kasihan jika kita membangunkan Bi Ester hanya untuk meminta dibuatkan salad buah," ujar Ken.
Alana mendengus kecil. "Ya sudah, kalau begitu aku akan membuatnya sendiri saja." Alana menghentikan aktivitasnya, ia hendak turun dari tempat tidur, namun Ken menarik tangannya.
"Tunggulah di sini saja, biar aku yang akan membuatkannya untukmu." Senyuman Alana mengembang, lalu ia mengiyakannya, Ken beranjak turun dari tempat tidur dan segera pergi ke dapur membuatkan salad buah untuk istrinya tersebut.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Ken terlihat kembali ke kamar dengan kanan memegang mangkuk berisi salad buah buatannya dan tangan kiri terlihat gelas yang berisi air putih.
"Tidak ada keju. Kejunya sudah kau habiskan tadi siang. Jadi jangan cerewet, jangan protes! Cepat makan dan habiskan salad ini lalu tidur!" Ken menyodorkan salad tersebut kepada Alana.
"Cerewet sekali..." gerutu Alana mengambil mangkuk itu dari tangan suaminya.
Ken pun menemani Alana untuk memakan salad tersebut sampai Alana menghabiskannya hingga tak tersisa.
"Sudah habis..." Ken mengambil mangkuk kosong itu dari tangan Alana, dan mengambilkan segelas air putih yang sudah tersedia di meja samping tempat tidurnya.
Alana meneguk habis air tersebut dan meminta tolong Ken untuk mengembalikan gelas itu ke tempatnya semula.
"Apa kau sudah kenyang?" tanya Ken.
"Ehem, sangat kenyang sekali. Ayo kita tidur!" ajak Alana. Ia merebahkan tubuhnya dan hendak menarik selimut. Namun Ken menarik selimut itu.
"Setelah makan lalu tidur, enak sekali!" sindirnya sambil tersenyum dengan penuh maksud.
"Iya, enak sekali..." saut Alana menyengir membalas senyuman itu, ia masih belum mengartikan akan senyuman yang tersirat di wajah suaminya.
Ken tiba-tiba menarik baju Alana, memindahkan posisinya hingga kini berada di atas tubuh istrinya itu, tersenyum penuh arti.
"Aku daritadi pagi sudah melayanimu." Ken membuka satu persatu kancing piyama wanita yang tengah menahan napasnya itu.
"Sekarang giliranmu..."
"Kennnnn...." suara manja itu lolos dari bibir Alana yang sudah basah saat Ken menyerangnya tanpa aba-aba, Alana melingkarkan kedua tangan di leher suaminya. Saling melampiaskan apa yang seharusnya ingin segera mereka lampiaskan.
.
.
.
.
.
.
kalau update banyak selalu lupan likenya.
jangan lupa like dan Votenya eaaa..