My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Extra Part (Elga bersama Ken)



Hari ini adalah resepsi pernikahan David dan juga Valerie. Semua orang disibukan akan pernikahan mereka yang akan dirayakan secara meriah dan mewah.


Banyak yang bebahagia atas pernikahan David dan juga Valerie, namun tidak dengan Laurrent dan teman-temannya. Mereka yang tak terima, tak henti  mengutuki dan mengharapkan pernikahan itu tak terjadi. Namun, doa buruk itu tak berlaku jika Tuhan sudah menghendaki apa yang sudah di gariskan kepada setiap manusia, karna Valerie dan David sudah dinyatakan resmi menjadi suami istri sejak pagi tadi.


Seperti siang  itu, Alana  tengah di sibukan menggendong Baby Elga di ruang tengah. Wanita yang baru memiliki satu  orang anak itu begitu dihebohkan oleh Kimmy dan Jesslyn yang bingung dengan  gaun pesta yang akan digunakan nanti malam untuk menghadiri pesta pernikahan David dan juga Valerie.


“Alana, ayo...” ajak Jesslyn.


“Bagaimana dengan El?” tanya Alana.


“Titipkan saja kepada, Kakak. Kita kan pergi hanya sebentar,” ucap Jesslyn.


“Iya, Alana. Lagipula ada Jasson dan juga Daven di sini,” timpal Kimmy.


“Apa hubungannya? Mereka laki-laki mana bisa mengurus bayi!” seru Alana.


“Bisa saja! Mengurus Jesslyn yang rumitnya sepuluh kali lipat dari bayi saja bisa,” seru Kimmy sambil tertawa.


“Apa yang kau bilang?” seru Jesslyn sambil melototkan kedua matanya kepada sahabat kecilnya itu.


“Aku hanya bercanda!” Kimmy terkekeh dengan takut.


"Ayo, Alana. Cepat meminta izinlah kepada Kakak, El juga kebetulan juga sudah tidur," perintah Jesslyn.


"Baiklah, aku akan mencobanya!"


Alana berlalu meningalkan Kimmy dan juga Jesslyn.


Ia kembali masuk ke dalam kamar dan meletakan Babby Elga yang kala itu sudah tertidur  di box bayi, memastikan bahwa anaknya itu tak terbangun. Lalu, ia  berjalan dengan langkah perlahan mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa dan  sibuk membaca koran  di dalam kamarnya tersebut.


“Ken...” Alana mendudukan tubuhnya di samping Ken dan memijat lengan suaminya tersebut . Ken hanya melirik, sudah bisa menebak jika Alana ada maunya.


“Sudah katakan...  jangan berpura-pura memijatku untuk merayu,” ujar Ken.


“Tidak... aku hanya ingin memijatmu saja.” Ken terdiam dan melanjutkan kembali membaca koran miliknya.


“Ken...” panggilnya dengan penuh maksud.


“Kau daritadi memanggilku, ada apa? Apa kau menginginkannya?”


“Pikiranmu selalu saja!” seru Alana sambil mencubit lengan kekar suaminya itu namun tak berasa sakit sedikitpun.


Ken melipat koran yang masih ia baca dan meletakannya di atas meja. Mengalihkan posisinya, menghadap penuh kepada Alana. Menyibakan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik  istrinya itu.


“Katakan apa yang kau inginkan? Apa kau ingin menambah anak lagi?” ledek Ken.


“Aku tidak bercanda, sayang!” seru Alana sambil mengerucutkan bibirnya, Ken terkekeh dan menggigit gemas pipi istrinya itu.


“Lihatlah, sudah memiliki anak masih saja terlihat menggemaskan seperti ini,” pujinya sambil mencium pipi Alana.


“Ken, kau ini bisa saja...” raut wajah Alana seketika bersemu merah.


“Bicaralah, ada apa?” tanya Ken.


“Aku ingin menamani Jesslyn dan Kimmy membeli gaun untuk menghadiri acara pesta pernikahan David nanti malam. Apa aku boleh meninggalkan El sebentar kepadamu?” tanya Alana sembari menggigit bibirnya dengan takut.


Ken terdiam, Alana menerka dan sudah menyiapkan diri menunggu jawaban bahwa suaminya tak akan mengizinkannya.


“Boleh, aku akan menjaga, El.  Kau juga belilah gaun sekalian.” Jawaban itu seketika membuat Alana kegirangan.


“Aku boleh pergi membeli gaun?” tanya Alana seolah tak percaya.


“Iya..." Ken mengusap lembut wajah istrinya itu dengan kedua ibu jari tangannya.


“Tapi kalian pergi harus di antarkan oleh Paman Lux, tidak boleh pergi  lebih dari dua jam! Karna kau baru saja sakit! Kau mengerti?” tutur Ken.


“Siap... Terimakasih banyak, sayang. Kalau begitu aku akan menemui Jesslyn dan Kimmy.” Alana mencium pipi Ken. Ken tersenyum akan tingkah istrinya itu. Alana pun segera berlalu pergi meninggalkan kamarnya untuk menemui Jesslyn dan juga Kimmy yang sudah menunggunya di luar.


“Bagaimana Alana? Apa Kakak mengizinkannya?” tanya Kimmy dan


Jesslyn yang tak sabar mendengar jawaban perempuan itu.


“Ken mengizinkanku.” Mendengar perkataan itu, Jesslyn dan Kimmy bersorak dengan penuh semangat.


“Tapi hanya dua jam saja,” ujar Alana.


“Tidak masalah, ayo kita bersiap!” ajak Jesslyn


***


Kimmy, Alana dan Jesslyn sudah bersiap. Mereka terlebih dulu


berpamitan kepada Ken dan juga Babby Elga yang masih tertidur di baby boxnya.


“El, Bibi pergi dulu, ya, nanti akan Bibi belikan Pizza. Kau


baik-baik di rumah dengan Daddy dan juga Paman Jasson dan Paman Daven.” Jesslyn


dan Kimmy hendak mencium keponakannya yang masih berusia tujuh bulan itu, namun


Alana tiba-tiba menarik kera baju mereka.


“Jangan menciumnya, nanti El terbangun!” seru Alana.


“Pelit sekali...” gerutu mereka berdua.


Alana bergantian mendekati Elga, “Mami tinggal dulu, ya, sayang. Anak cantik.” Alana mencium


kedua pipi anaknya yang masih tertidur pulas itu.


“Kau curang sekali, kenapa kau boleh menciumnya?” seru Kimmy seakan tak terima.


“Tentu saja boleh, aku kan ibunya!” saut Alana.


“Ayo kita berangkat,” ajak Alana, Mereka bertiga pun berpamitan kepada Ken dan segera berlalu pergi meninggalkan kamar itu. Namun saat ia keluar rumah dan hendak masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Paman Lux, mobil Ashley tiba-tiba terlihat datang di sana. Mengurungkan niat mereka bertiga dan memilih menyapa laki-laki itu.


"Ashley, kau kemari?" tanya Alana.


“Iya, aku kesepian di apartement. Makanya aku kemari,  apa Ken ada?” tanya Ashley.


“Ada, dia di dalam sedang menjaga Elga.”


“El... aku sangat merindukannya,” ujar Ashley dengan penuh semangat.


“Jangan mengganggunya, dia sedang tidur!” tutur Alana dengan penuh ancaman.


“Iya... Kalian mau ke mana?” tanya Ashley yang bergantian menatap Alana, Jesslyn dan juga Kimmy.


“Mau membeli gaun untuk nanti malam, kami pergi dulu ya,” pamit Alana yang segera mengajak Jesslyn dan Kimmy untuk masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Paman Lux, dan Paman Lux segera melajukan mobil itu menuju ke boutique yang telah menjadi tujuan Alana.


***


Dengan penuh semangat Ashley masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar, tak sabar melihat putri sahabatnya yang cantik dan menggemaskan itu. Bagi  siapapun yang melihatnya,  rasanya ingin sekali menggigit pipinya yang bulat itu.


"El..." teriakan Ashley memecah di dalam kamar, membuat Ken yang membaca koran seketika melototkan kedua matanya itu kepada sahabatnya.


"Keluar!" Ken beranjak berdiri dan mengusir sahabatnya itu.


"Aku hanya ingin melihat Elga saja," ujar Ashley.


"El baru saja tidur jangan mengganggunya! Nanti saja jika dia bangun kau boleh melihatnya!" seru Ken.


"Sebentar saja... kau ini pelit sekali, tidak kasihan denganku?" seru Ashley.


"Tidak! Makanya cepatlah menikah dan buatlah anak  sendiri!" seru Ken.


"Ashley, kau kemari?" tegur Daven dan Jasson yang kala itu  terlihat melintas di depan kamar Kakaknya.


"Iya, aku ingin melihat Elga karna merindukannya, tapi diusir oleh Kakakmu!" seru Ashley.


"El masih tidur, ayo kita ke depan saja." Jasson dan Daven melingkarkan tangannya di bahu Ashley dan mengajak sahabat kakaknya itu pergi ke ruang tengah. Ken kembali masuk ke dalam kamar dan melanjutkan aktivitasnya.


***


Sau jam kemudiann.


Saat Ken tengah  beralih aktivitas untuk membaca buku, Elga tiba-tiba  terbangun dan menangis sangat kencang sekali, Ken segera meletakan bukunya dan  beralih untuk menggendong putrinya itu.  Ia  memberinya ASI  yang sudah disiapkan olehAlana sebelum dirinya berangkat tadi.


Tangisan bayi yang sangat keras itu, mengalihkan perhatian Daven, Jasson dan juga Ashley yang kala itu sedang berada di ruang tengah. Mereka bertiga segera menghampiri asal suara tangisan itu di dalam kamar Ken.


“El kenapa, Kak?” tanya Daven.


“Entahlah dia terbangun dan menangis.” Ken masih menenangkan putrinya yang masih menangis  dan tidak mau menghabiskan minumnya itu.


“Ayo, sayang. Biar Paman Jasson gendong,” Jasson mengambil


alih keponakannya itu. Namun tetap saja tak membuatnya berhenti menangis. Hingga


keempat lelaki itu mengajaknya bermain boneka. Sesekali Elga terdiam namun tak


jarang membuat dirinya menangis. Entah apa yang sedang ia inginkan.


"El, lihatlah ini ada Paman tampan..." ujar Ashley mengambil alih Elga dari tangan Jasson. Namun Elga semakin mengeraskan tangisannya dan tidak mau digendong oleh Ashley.


"Kenapa El masih menangis? biasanya jika wanita dipeluk laki-laki tampan mereka pasti akan diam,"


"Elga masih bayi, mana tau laki-laki tampan. kau ini bodoh sekali!" seru Jasson.


"Kalian ini bodoh semua, menenangkan anak bayi saja tidak bisa!" seru Ken. Ia mengambil kembali anaknya tersebut.


“Kenapa kau menangis terus, Nak? Cup...cup...cup anak manis.”  Elga masih saja tak berhenti menangis,


membuat Ken, Jasson, Ashley  dan Daven begitu kewalahan untuk menenangkannya.


Sementara Bi Ester kala itu sedang pergi ke supermarket dan belum juga kembali, jadi tidak ada wanita lagi yang bisa mereka andalkan, memanggil Mama Merry pun tidak mungkin.


Ken mengambil ponselnya dan berulangkali menelpon istrinya itu, namun ponselnya tidak berada dalam jangkauan. “Ke mana Alana? Kenapa nomernya sulit sekali dihubungi, tidak tau anaknya dari tadi menangis, Hanya Alana yang bisa menenangkannya.”


“Ken, sepertinya El merindukan Alana,  bagaimana kalau  kau berpura-pura saja menjadi Alana saja?” usul  Ashley.


“Berpura-pura bagaimana?” tanya Ken.


“Berpura-pura jadi Alana, pakailah baju Alana. El pasti merindukan bau ibunya,” tutur Ashley.


“Kau sudah gila!” seru Ken sambil melototkan kedua matanya.


“Kak, ide Ashley ada benarnya juga,” timpal Jasson.


"Benar apanya? menyesatkan!" seru Ken yang masih merasa tak terima akan ide konyol itu.


“Iya, Kak. Pasti El merindukan  bau Kak Alana, lebih baik Kakak coba saja apa yang dikatakan oleh Kak Ashley," saut Daven.


Ken terdiam, ia begitu enggan. Namun tak tega melihat anaknya yang masih saja menangis.


“Harus aku?” tanya Ken dengan begitu enggan.


“Ya jelas dirimu, kau kan Ayahnya!” seru Ashley.


“Menyusahkan saja idemu itu! Bawa anakku!” Ken mengalihkan Elga yang masih menangis kepada Ashley, ia mendekati lemari dan mengambil baju milik Alana di dalam sana. Memilih baju yang sekiranya muat untuk ia pakai, namun tiga baju yang ia pilih sama sekali tak muat di tubuhnya yang dua kali lipat lebih besar dari Alana.


“Tidak ada yang muat!” seru Ken dengan kesal. Jasson dan Daven seketika menghampiri Kakaknya tersebut dan mencoba mencarikan baju yang sekiranya muat untuk Kakaknya itu.


“Coba ini, Kak.” Daven mengambil baju mini dress berwarna coklat susu dan memberikannya kepada Ken.


“Iya Kak. Ini kainnya terlihat sangat melar,” timpal Jasson yang menarik-narik kain baju itu.


“Kalian yang benar saja! Menjijikan sekali menggunakan baju ini! Aku tidak mau!” tolak Ken.


Suara tangisan Elga semakin memecah isi ruangan itu, bahkan suaranya terdengar hampir habis.


“Ken, ayo cepatlah, Elga semakin menangis!” teriak Ashley. Tak punya pilihan lain, Ken mendengus kesal, ia terpaksa masuk ke dalam kamar mandi dan memakai baju mini dress milik istrinya itu. Jasson, Daven dan Ashley masih mencoba menenangkan kembali keponakannya itu, namun usahanya sia-sia.


Tak lama kemudian, setelah Ken mengenakan baju milik Alana, ia pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri yang lainnya.


“Kemarikan, El.” Ken mengambil alih Elga yang masih saja menangis dari tangan Ashley.


Perhatian Daven, Jasson dan juga Ashley teralihkan akan baju yang dikenakan oleh Ken,  baju dress yang biasanya dipakai oleh Alana hingga lulut, kini hanya terlihat dipakai oleh Ken hanya hingga ujung pangkal pahanya saja.


“Diam, ya, El. Diam, ya sayang.” Ken mencoba menangkan Elga yang masih menangis, namun usahanya ternyata tak membuat putrinya itu berhenti menangis.


“Ashley, Jasson, Daven... Kenapa El masih menangis juga?” tanya Ken yang masih bingung.


Bukannya menjawab, Ashley, Daven, dan Jasson malah  tertawa terpingkal-pingkal melihat baju yang melekat di  tubuh Ken.  Bahkan Jasson yang jarang sekali tertawa, kini dibuat tertawa oleh tubuh kekar Kakaknya yang hanya dibalut  dengan kain yang minim dan sexy itu.


“Apa yang kalian tertawakan?” seru Ken mengeraskan suaranya.


"Kakak kau sungguh menggelikan."


"Perutku sakit..." Jasson dan Daven masih tertawa hingga bergulung di bawah lantai, begitu pula dengan Ashley.


“Ken, Elga..." tiba-tiba Alana yang baru saja pulang terlihat segera masuk ke dalam kamar dan mengambil alih  putrinya yang sedang menangis dari tangan suaminya itu. Namun, seketika itu Elga pun terdiam di pelukan Alana sambil sesenggukan.


"Anak cantik kenapa menangis..." Alana mencium Elga dan mengusap wajahnya yang basah, menjauhkan tangan anaknya yang masuk ke dalam mulut.


"Kau ini lama sekali, kau tidak tau anakmu daritadi menangis!" seru Ken.


"Maaf, Ken. Itu sebabnya aku terburu-buru pulang tadi," jawab Alana. Kemudian, Alana memperhatikan suaminya dari atas hingga bawah.


"Sayang kenapa kau memakai bajuku?" Alana yang baru disadarkan itu segera melontarkan pertanyaan tersebut, merasa heran dan geli saat melihat suaminya memakai baju itu.


“Kakak Ken mau menari ular?” tiba-tiba  ledekan itu terlontar sangat keras dari mulut Kimmy.


Kimmy dan Jesslyn yang baru saja masuk ke dalam kamar  dan disuguhkan akan pemandangan itu, seketika tawanya langsung memecah begitu hebohnya, hingga membuat keduanya juga tertawa  terpingkal-pingkal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


..


..


Nona hanya ngasih beberapa extra part ya. Untuk kisah Jasson nanti akan Nona umumkan kapan akan siap terbitnya.