
"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Alana.
Ken mengangguk dan menyingkirkan tangan Alana yang berusaha ingin menutupi tubuhnya.
"Sudah! Pekerjaan kantor sudah ku selesaikan, tinggal pekerjaan rumah yang belum..."
Ken tersenyum dan kembali melanjutkan membuka kancing piyama Alana, hingga kancing paling akhir terlucuti menampakan seluruh lekuk tubuh istrinya tersebut.
"Katanya tadi kau lelah?" Alana menahan tangan Ken yang hendak menyentuh bagian sensitif tubuhnya.
"Aku kan hanya bilang lelah karna pekerjaan kantor, kalau di rumah tidak akan lelah!" bantahnya sambil menenggelamkan wajahnya di leher istrinya itu.
"Bisa saja menjawabnya!" gerutu Alana.
"Ayo sebentar saja..." pinta Ken.
"Kau tidak bosan setiap hari hampir melakukannya?"
Ken menjauhkan tubuhnya. "Kenapa memangnya kau bosan? kau tidak suka? kau tidak mau?" tanyanya dengan ketusnya, membuat Alana menciut takut.
"Ti-tidak, memangnya siapa yang bilang bosan. Aku tidak bosan, aku suka, aku mau... mau sekali," jawab Alana dengan nada memaksa.
Ken tersenyum dan segera meninndih tubuh istrinya tersebut.
"Menyebalkan!"
***
Keesokannya, pagi-pagi sekali, Ken meninggalkan rumah untuk pergi pekerjaan kantor yang harus segera ia selesaikan. Sementara Alana, wanita itu lebih memilih berada di rumah daripada pergi mengunjungi toko kuenye setelah rasa lelah dan malas menyerang dirinya.
suara ketukan pintu yang terdengar berulang-kali tak membuat Alana yang sedang duduk bersantai sambil berselonjor menonton televisi itu beranjak dari tempatnya, karna Bi Ester terlebih dulu membukakan pintu itu.
"Nona, Alana. Ada Nona Jesslyn dan Nona Kimmy," kata Bi Ester yang berjalan mendekati Alana, ia seketika beranjak menyempurnakan duduknya.
"Di mana mereka, Bi?" tanya Alana, menengok ke arah pintu namun tidak ada siapapun.
"Di halaman rumah Nona..." Alana segera beranjak berdiri dan menghampiri mereka berdua, di halaman rumah, ia melihat Kimmy dan juga Jesslyn sedang sibuk menurunkan barang belanjaan dari bagasi taxi yang mereka tumpangi.
"Alana?" Kimmy melambaikan tangan ke arahnya. Mereka berdua kini berjalan mendekati Alana sambil membawa kantung plastik besar.
"Apa yang kalian bawa?" tanya Alana memperhatikan kantung plastik putih yang tengah dibawa oleh Jesslyn.
"Kita masuk dulu," Jesslyn dan Kimmy menggeret tangan Alana masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk di atas sofa terlebih dahulu, membuatnya tak sabar akan rasa penasarannya. Karna, sebelumnya Jesslyn dan Kimmy tak memberitau kedatangannya di sana.
"Alana, tengah malam nanti, kita harus membuat kejutan untuk Kakak," ujar Jesslyn dan Kimmy dengan begitu hebohnya.
"Kejutan? kejutan untuk apa?" tanya Alana dengan bingung.
"Ya untuk Kakak. Kakak besok ulang tahun, kau ini bagaimana?" seru Jesslyn.
"Ken ulang tahun?" tanyanya terkejut, karna ia sama sekali tidak tau bahwa suaminya itu akan ber-ulang tahun.
"Astaga, Alana. Kau ini bagaiamana? kau ini istrinya Kakak Ken tapi kenapa tidak tau kalau Kakak Ken besok ulang tahun? Apa perlu aku menggantikan posisimu?" saut Kimmy. Jesslyn dan Alana seketika melototkan kedua matanya ke arahnya.
"Kenapa kalian melototiku seperti itu?" tanya Kimmy.
"Apa kau mau kujadikan udang rebus?" tatapan Alana yang begitu menakutkan tak membuat Kimmy takut sama sekali.
"Tidak mau, aku maunya kepiting rebus, pasti enak sekali. Apalagi menggunakan saus tauco, ehm... nikmatnya..." Kimmy memegang dengan gemas kedua pipi Alana membayangkan makanan yang ia ucapkan. Alana semakin melototkan kedua matanya hingga membuat Kimmy takut dan segera menjauhkan tangannya tersebut.
"Maaf... aku hanya bercanda." Kimmy terkekeh dengan takut.
Alana melupakan perkataan Kimmy dan memulai membahas kejutan yang dimaksud oleh adik iparnya.
"Kita akan membuat kejutan apa? maaf, aku benar-benar tidak tau tanggal berapa Ken berulang tahun," ujar Alana.
"Kau tidak marah kan Jesslyn?" imbuhnya.
"Tidak, untuk apa aku marah? aku bisa memakluminya." Jesslyn menjawabnya dengan tersenyum.
"Kalau begitu, sekarang kita persiapkan membuat kejutan untuk Kakak. Kau kan sangat ahli dalam membuat kue, jadi tugasmu memasak kue yang sangat lezat lalu menghiasnya secantik mungkin, aku sudah membelikan bahan-bahan kuenya." Jesslyn menyodorkan kantung plastik yang ia pegang, di dalamnya sudah terdapat bahan-bahan kue yang sebelumnya sudah dibeli terlebih dahulu olehnya dan juga Kimmy.
"Baiklah, lalu tugas kalian apa?" tanya Alana.
Kimmy dan Jesslyn saling menatap satu sama lain. "Menilai dan mencicipi kue buatanmu!" mereka berdua menjawab begitu kompak dengan penuh semangat.
Raut wajah Alana seketika mendatar, tidak ada senyuman maupun sautan suara dari mulutnya. "Menyebalkan!" umpatnya.
"Baiklah, aku akan membuatkan kue terlezat untuk Ken." Alana beranjak berdiri dengan penuh semangat ia meneteng kantung itu dan membawanya pergi ke dapur dan diikuti oleh Kimmy dan Jesslyn.
Alana menyiapkan beberapa peralatan untuk membuat kue. tiba-tiba di pikirannya terlintas akan kue coklat yang ia makan semalam.
"Aku akan memasak kue coklat seperti kue yang aku makan semalam, sepertinya sangat lezat." Alana membayangkan kue coklat yang semalam ia makan seraya menelan ludahnya berkali-kali.
Ia dengan penuh semangat berperang di dapur untuk membuat kue tersebut, sesekali Bi Ester menawarkan bantuan kepadanya namun Alana selalu saja menolaknya.
Alana menyuruh Jesslyn dan Kimmy duduk di meja makan, menunggunya memasak kue sambil bernyanyi seperti anak kecil, pikir Alana. Tak mempedulikan kepalanya yang hampir saja pecah karna suara cempreng mereka. Alana memang sengaja tak membiarkan mereka berdua membantunya, karna ia takut nanti yang ada mereka malah merecoki pekerjaanya.
***
Setelah 45 menit Alana memasukan dua loyang kue yang ia baking ke dalam oven, kini ia mengeluarkan kue-kue itu dari alat pemanggang tersebut.
Alana mencium dalam-dalam aroma kue yang baru saja ia angkat dari dalam oven itu, begitu menggoda. "Baunya lezat sekali." Rasanya ia ingin sekali segera memakan kue tersebut. Begitu pula dengan Kimmy dan Jesslyn yang ikut mencium aroma kue yang sangat menggoda di indera penciumannya, mereak berdua segera beranjak berdiri menghampiri Alana.
"Baunya lezat sekali."
"Alana, kau membuat dua kue?" tanya Jesslyn.
"Iya, satu untuk Ken, dan satunya untuk kita makan bersama," Alana begitu bersemangat. Ia meletakan dua loyang kue yang ia pegang itu di atas meja. Saat dirasa kue itu sudah dingin, ia mengeluarkannya dari dalam loyang dan memindahkannya di cooling rak. Coklat padat yang baru saja Alana lelehkan segera ia tuangkan merata di kedua kue itu secara bergantian. Kimmy yang sedari tak sabar ingi sekali memakan kue itu, bahkan tangannya tak mau diam mencolek sisa-sisa coklat di sekitar kue itu dan menjilatnya.
"Alana, apa kuenya sudah bisa dimakan?" tanya Kimmy.
"Belum bisa! Aku harus menghias terlebih dulu kue untuk Ken, baru kita memakan kue milik kita yang ini," katanya sambil menunjuk salah satu kue yang ia sisihkan untuk nanti. Kimmy dan Jesslyn mengiyakannya dengan tidak sabar.
Hampir 15 menit Alana menghias salah satu kue tersebut dengan menggunakan buttercream dan juga buah cherry di atasnya, menambahkan coklat padat yang sudah hias sesuai selera. "Kuenya sudah selesai..." Alana begitu semangat memandangi kue buatannya.
"Wah, cantik sekali!" puji Jesslyn.
"Iya, cantik sekali. Seperti kue yang biasa dibeli di toko kue," Kimmy dan Jesslyn hendak mencolek kue yang menggoda di kedua mata mereka tersebut. Namun tangan Alana segera menjauhkannya.
"Jangan coba-coba kalian merusak kuenya!" Alana melototkan kedua matanya hingga membuat Kimmy dan Jesslyn takut. Alana menjauhkan kue itu dan memasukannya ke dalam lemari pendingin agar ketahanannya lebih terjaga.
"Ayo, sekarang, kita makan kue kita." Alana bersemangat mengambil kue yang hanya dilapisi coklat saja tanpa ada hiasan di atasnya. Tidak ada hiasan buttercream maupun Cherry seperti kue yang akan diberrikan kepada Ken hingga membuat Kimmy dan Jesslyn sedikit kecewa saat melihatnya.
"Kenapa kuenya botak seperti itu? apa tidak sebaiknya dihias terlebih dulu?" protes Jesslyn.
"Ini kan langsung kita makan jadi untuk apa dihias?" Alana memotong sebagian kue itu dengan menggunakan pisau yang baru saja ia ambil dan memindahkannya di piring kecil.
"Kalau tidak dihias mana enak!" seru Kimmy.
"Kalau tidak enak tidak usah dimakan! Kalian bisa menghiasnya sendiri, aku sangat lelah, aku mau pergi ke kamar." Alana meninggalkan sahabat dan juga adik iparnya tersebut, ia membawa potongan kue yang sudah ia ambil untuk ia nikmati di dalam kamar.
Setelah mendapat izin dari Alana untuk menghias kue itu, Jesslyn dan Kimmy dengan penuh semangat menghiasnya dengan menggunakan sisa buttercream yang sudah dipakai oleh Alana.
***
Alana mendudukan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam kamarnya, namun ia terlebih dulu menutup sebagian tirai jendela akan sinar matahari yang begitu menyilaukan matanya.
Alana dengan tidak sabar melahap kue coklat buatannya yang ia rasa begitu menggoda, sekilas mungkin tampak sama seperti kue coklat yang semalam ia makan, namun kenyataannya sangatlah berbeda.
Alana mengunyah satu suapan kue yang baru saja mendarat di dalam mulutnya. Lidahnya menyesuaikan akan kue buatannya tersebut.
"Kenapa tidak seenak kue coklat yang aku makan semalam?" seketika itu Alana kehilangan selera untuk melanjutkan memakan kue tersebut dan memilih meninggalkan kue itu di atas meja. Ia beranjak berdiri dan keluar dari kamar menemui Bi Ester yang kala itu berada di belakang sedang sibuk mencuci pakaian.
"Bibi..." suara Alana menghentikan aktivitas wanita parubaya itu.
"Iya, Nona?" Bi Ester meletakan pakaian kotor yang ia pegang dan fokus kepada majikannya tersebut.
"Bibi, apa Bibi tau kue coklat yang semalam sisa tiga potong di dalam lemari es?" tanya Alana.
"Jelas tau, Nona. Kan Bibi yang membeli kue itu." Mendengar jawaban Bi Ester yang diselingi dengan senyuman, membuat Alana senangnya bukan main.
"Bibi membeli kue itu di mana?" tanya Alana dengan tidak sabar, memegang kedua lengan Bi Ester bergarap segera menjawab pertanyaannya.
"Bibi beli di Chocooking, di dekat rumah sakit Tuan Holmes sempat dirawat dulu, Nona," jawab Bi Ester.
"Baiklah, Bi. Terimakasih."
"Nona mau ke mana?" pertanyaan Bi Ester sejenak menghentikan langkah kaki Alana yang hendak meninggalkannya.
"Mau membeli kue," jawabnya.
"Biar Bibi yang membelikannya untuk Nona, Nona di rumah saja!" perintah Bi Ester.
"Tidak usah, Bi. Biar Alana saja yang membelinya, Alana sekalian ingin jalan-jalan." Penolakan Alana membuat Bi Ester terpaksa menurutinya.
Alana kembali ke kamar dan mengambil tas miliknya. Sebelum berangkat, ia terlebih dulu menemui Jesslyn dan Kimmy yang saat itu masih berada di dapur. Mulut mereka yang dipenuhi buttercream dan coklat membuat Alana menggeleng kepalanya. "Astaga..."
"Alana, ayo kemarilah. Kue buatanmu sangat lezaaaat sekali... ayo kita makan bersama," ajak Jesslyn.
"Tidak, aku sudah memakan kuenya tadi," tolak Alana.
"Jesslyn, Kimmy, aku pergi dulu, ya..." pamit Alana.
"Kau mau ke mana?" tanya Kimmy.
"Aku mau keluar sebentar, bye..." Alana melambaikan tangannya dan segera meninggalkan mereka berdua.
Seorang penjaga merangkap sebagai seorang sopir yang bernama Tuan Lux yang bekerja di rumah Ken selama beberapa bulan terakhir ini, segera mengantarkan Alana ke tempat yang kini menjadi tempat tujuannya tersebut.
***
Chocooking Cake and Dessert
Setibanya di toko kue,
"Paman Lux, Alana turun di sini saja..." perintah Alana. Tuan Lux mengiyakannya dan menghentikan mobil yang ia kemudikan tepat di depan toko itu.
"Saya akan menunggu Nona di sini," ucap Tuan Lux yang memutar kepalanya ke belakang, menghadap ke arah Alana yang masih duduk di kursi belakang kemudi.
"Oh, tidak usah. Paman pulang saja, Alana sepertinya akan lama. Nanti jika Alana pulang, Alana akan menelpon, Paman," ujar Alana.
"Tidak masalah jika Nona akan lama, lebih baik saya tunggu saja. Saya takut Tuan Ken akan marah jika saya meninggalkan Nona sendirian," ujar Tuan Lux memasang wajah cemas.
"Kenapa hanya takut kepada Ken? Paman tidak takut kepadaku?" seru Alana dengan kesal.
"Ehm..." Lux menggeleng kepalanya dengan bingung.
"Tolong Paman pulang saja, Alana baik-baik saja di sini, Ken tidak akan marah dan Alana tidak akan pergi ke mana-mana, nanti jika Alana sudah membeli kue, Alana akan menelpon Paman lagi." Alana yang berkali-kali memaksa membuat Lux menjalankan perintahnya untuk meninggalkan majikannya itu sendirian di sana. Alana segera turun dari mobilnya tersebut.
"Semenjak Ken memperketat penjagaan rumah, aku jadi semakin tidak bebas pergi ke mana-mana, aku sangat tidak menyukai ini semua!" Alana menggerutu sambil masuk ke dalam toko kue incarannya itu.
Wajahnya yang semula ditekuk kesal tiba-tiba merekah dengan sempurna, saat melihat begitu banyak kue yang menggoda berjajar di depan matanya. Alana serasa berada di surga saat melihat kue-kue yang di display di toko tersebut. Padahal, dirinya sudah terbiasa melihat kue semacam itu, namun rasanya kali ini berbeda.
Alana mengambil salah satu nampan yang tertumpuk di dekatnya, dan ia begitu kalap mengambil semua kue yang ia rasa begitu menggoda, bahkan ia juga sudah memakan salah satu kue yang baru saja ia ambil.
"Lezat sekali ..." Alana mengunyah sambil memejamkan kedua matanya, menikmati setiap gigitan kue yang begitu lembut menyentuh lidahnya.
"Nona Alana?" Alana yang sibuk memakan kue itu dan hendak berjalan menghampiri meja kasir, segera mengurungkan niatnya saat melihat wanita yang tak asing menyapanya di tempat yang sama. Alana segera menelan kue yang sudah ia makan dan meletakan sisa gigitan kue yang belum termakan di atas nampan yang ia bawa.
"Nona Valerie?" raut wajah Alana seketika berubah menjadi datar seakan tak suka akan pertemuannya dengan wanita itu.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Valerie tersenyum, ia melirik ke arah nampan yang dibawa oleh Alana, yang menampakan begitu banyak kue di atasnya.
"Kau membeli kue banyak sekali? pasti untuk persiapan ulang tahun Ken?" tanya Valerie. Alana hanya diam, menatapnya dengan penuh selidik.
"Kau ingat ulang tahun Ken?" Alana bertanya dengan sedikit berat.
"Dulu aku dan Ken berteman sudah lama, jadi aku ingat, maaf Nona Alana... aku tidak bermaksud apa-apa," ujar Valerie mencoba meluruskan perkataannya agar tidak membuat Alana salah paham terhadapnya. Alana hanya mengangguk paksa.
"Kau juga sedang membeli kue?" tanya Alana. Valerie mengiyakannya.
"Di mana Tuan Billy? kenapa kau hanya sendiri?" pertanyaan Alana membuat Valerie terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa.
"Pernikahanmu satu bulan yang lalu, bukan? kau tidak mengundangku dan juga Ken?" tanya Alana.
"Ehm, aku dan Billy tidak jadi menikah." mengucap nama Billy rasanya ia begitu enggan dan tidak ingin membahasnya.
Mendengar pernyataan Valerie, Alana begitu terkesiap saat mendengarnya. "Kenapa?"
"Aku memiliki masalah dengannya."
"Masalah apa?" tanya Alana dengan penasaram.
"Ehm, kalau kau tidak keberatan, Ayo kita duduk dulu, aku akan menceritakan semuanya kepadamu..." ajak Valerie.
"Baiklah, sebentar. Aku akan membayar kueku," ucap Alana. Valerie mengiyakannya dan berlalu meninggalkan Alana untuk mencari salah satu tempat duduk yang sudah disediakan oleh toko itu.
Alana berdiri di depan meja kasir membayar kue-kue yang sudah ia ambil sembari melirik ke arah Valerie dengan tatapan was-was.
"Kenapa dia tidak jadi menikah? apa dia masih mengharapkan Ken?" pertanyaan yang terlontar di kepalanya membuat Alana mengeluarkan keringat dingin, hingga wajahnya terlihat memucat, seakan ada ketakutan sendiri di dalam dirinya.
.;
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo, Nona lebih update di instagram ya, jadi kalau kalian mau tanya-tanya atau mau tau info update, bisa follow instagramku @Novianalancaster yang tanya via DM pasti bakal Nona jawab kok meskipun balasnya lama.
untuk kisah Kimmy juga sudah Nona infokan di sana ya.