My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Ayo bangunlah



Keesokan siangnya, Alana, Daven menemani Holmes di rumah sakit. Begitu juga dengan Ken, ia menyempatkan waktu di sela sibuknya pekerjaan untuk menengok mertuanya tersebut. Mereka bertiga berbincang dan menyelipi sebuah candaan bersama Holmes.


Siang itu, wajah Holmes terlihat begitu berseri dan bahagia sekali. Bagaimana tidak, kedua anaknya dan juga menantunya kini berkumpul bersamanya. Tidak ada pemandangan yang lebih membahagiakan selain melihat keluarganya berkumpul, meskipun tak bisa dipungkiri. Bahwa Holmes sangat merindukan Brianna, wanita yang telah melahirkan kedua anaknya.


"Daddy, senang melihat kalian semua berkumpul," ucap Holmes. Senyumannya merekah sempurna. Ia seolah memaksa untuk berbicara hingga suaranya terdengar sangat berat sekali. Terlebih lagi, ia di bantu oleh alat bantu pernapasan.


"Daddy jangan banyak berbicara dan bergerak, lebih baik istirahat saja," tutur Daven.


"Iya, Nak."


"Daddy, Ken memiliki kabar baik tentang Celouis Company," ujar Ken.


"Apa itu, Ken?" tanya Holmes.


"Apa Daddy mengenal Tuan Sanichi?"  tanya Ken.


"Tuan Sanichi?" Holmes mengernyit mengingat-ingat nama yang tak asing di pendengarannya tersebut. "Apa Tuan Sanichi yang kau maksud adalah orang jepang yang memiliki perusahaan di berbagai negara?" tanyanya.


"Iya benar sekali. Apa Daddy tau? Tuan Sanichi sekarang telah bekerja sama dengan Perusahaan milik Daddy," ujar Ken.


"Bekerja sama?" Holmes mengernyit bingung.


"Iya, Tuan Sanichi kini menjadi rekan bisnis kita di Celouis Company," ujar Ken.


"Kau sedang bercanda, Ken?"  Holmes menatap Ken seolah tak percaya. "Tuan Sanichi adalah pembisnis besar. Mana mungkin beliau mau bekerja sama dengan Celouis?" imbuhnya.


"Tapi buktinya, Tuan Sanichi memang mau bekerja sama dengan perusahaan Daddy, kemarin Ken telah menandatangani kontrak kerja sama dengan beliau," tutur Ken.  Ken mengambil berkas yang tartata rapi di dalam tas kerjanya, lalu memberikan bukti kerja sama itu kepada Holmes. Demi apapun, Holmes benar-benar tak percaya melihat kertas lembaran putih yang tercoret tinta dengan begitu rapi. Tanda tangan yang mengatasnamakan Tuan Sanichi dan Kendrick juga tertera di atas sana.


"Ini benar, Nak? kau tidak bercanda?" tanya Holmes.


"Seperti yang Daddy lihat. Mana mungkin Kendrick bercanda dengan hal penting semacam ini," jawab Ken. Kedua mata Holmes menatap Ken dengan berkaca haru, perusahaan yang sudah dibangun mulai dari nol dan sudah bangkrut dan tidak beroprasional, kini bisa bangkit lagi berkat menantunya, bahkan, Holmes masih tidak percaya,  bahwa Ken bisa mengembalikan lagi kepercayaan Celouis Company.


"Terimakasih banyak, Nak.  Berkat dirimu Celouis sudah bisa dipercaya kembali, terimakasih," ucapan itu tak henti terlontar dari mulut Holmes.


"Perusahaan Daddy memang  berhak mendapatkan ini semua," ujar Ken.


"Perusahaan kita, Celouis Company perusahaan milik keluarga kita, dan kelak akan menjadi perusahaanmu," tutur Holmes dengan tersenyum.


"Tidak, Daddy. Itu perusahaan milik Daddy, Ken di sini hanya membantu Daddy untuk menjalankannya," jawab Ken.


"Tidak Nak, kelak Celouis juga membutuhkan pemimpin seperti dirimu. Daddy mempercayakannya kepadamu," ujar Holmes. Ken tersenyum dan terpaksa mengiyakannya, padahal ia sama sekali tidak menginginkan pengakuan apapun di perusahaan mertuanya tersebut.


"Daddy jangan terlalu banyak bicara..." Alana mengusap dahi ayahnya dengan begitu lembut.


Alana melirik  ke arah Ken yang saat ini ada di sampingnya. "Di mana Valerie dan Billy? katanya mereka mau kemari?" tanyanya.


"Entahlah, Billy tidak memberiku kabar. Biarkan saja," jawab Ken.


"Kakak, aku sangat lapar. Apa kalian tidak mau makan siang?" tanya Daven.


"Iya, Kakak juga lapar, Kak Ken juga belum makan."


"Kalian pergi saja untuk makan siang bersama, biar Daddy istirahat sendiri di sini!" perintah Holmes.


"Tidak, Daddy. Biar Daven dan Ken saja yang makan siang dulu, kita bergantian nanti," ujar Alana.


"Tidak apa-apa, kalian bertiga pergi saja makan siang, Daddy ingin beristirahat sendiri. Daddy baik-baik saja," ujar Holmes.


"Baiklah, kami tinggal sebentar, ya, Daddy. Kami akan secepatnya kembali," kata Alana sembari mengusap wajah Holmes dan memberikan ciuman di sana.  Daven dan Alana keluar dari ruangan itu dan hendak disusul oleh Ken, Namun tangan Holmes tiba-tiba menarik tangan Ken hingga menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa Daddy?" tanya Ken.


"Daddy titip Alana, tolong jangan menyakiti putriku, Daddy sangat mencintainya," tutur Holmes dengan penuh harap. Matanya memerah seakan menahan air mata.


"Daddy jangan khawatir, Ken juga sangat mencintai Alana, Ken tidak akan pernah menyakitinya."  Holmes begitu lega mendengar penuturan menantunya tersebut. Ken pun berpamitan kepada Holmes  dan segera menyusul istri dan juga adik iparnya yang sudah tak terlihat dari jangkauan matanya.


 


***


Selang setengah jam,


Ken dan Alana meninggalkan ruangan Holmes untuk makan siang di restaurant yang ada di sekitar rumah sakit tersebut.


Holmes terlihat masih berbaring di atas pembaringannya dengan kedua mata terpejam, napas yang ia buang terdengar begitu berisik seakan ada yang menekan dadanya hingga ia kesulitan mengatur napasnya. Namun alat bantu pernapasan yang melekat di hidung dan mulutnya, memudahkan ia untuk meraup oxygen.


Sebuah suara yang berasal dari pintu ruangan itu membuat Holmes terganggu akan istirahatnya, kedua matanya mengerjap dan terbuka. Ia melihat  pintu ruangan itu terbuka lebar dan diiringi oleh langkah kaki seorang wanita yang kini sedang berjalan menghampirinya,  namun, wanita itu bukanlah perawat ataupun dokter yang biasa memeriksanya.


"Brianna..."  Holmes tak percaya, apakah ini mimpi? pikirnya seperti itu. Namun rasanya tidak. Tubuhnya yang masih lemah mengajaknya bersusah payah untuk  beranjak bangun namun sia-sia, ia pun terpaksa berada akan posisinya.


"Brianna..." sapanya kembali. Senyuman yang begitu ikhlas  tak tertinggal di raut wajahnya. Holmes  begitu senang melihat wanita yang telah melahirkan anak-anaknya tesebut datang untuk  menemuinya.


"Kau? kau kemari?" tanya Holmes. Brianna menghentikan langkah kakinya dan meninggalkan jarak dua langkah dari pembaringan laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Brianna dengan tatapan tak ramah.


"Aku baik... Bagaimana denganmu? ke mana kau selama ini?" Holmes melontarkan pertanyaan balik.


"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik, bahkan jauh lebih baik daripada keadaanmu yang begitu menyedihkan ini!" saut Brianna.


"Di mana Alana?" tanya Brianna.


"Sedang makan siang bersama Daven dan juga suaminya." Holmes  berbicara dengan napas ngos-ngosan seakan tak kuat untuk berbicara.


"Daven?" Brianna berucap lirih. Namun, ia dibuat kesal ketika mendengar nama suami Alana, dahinya mengernyit seakan tak suka.


"Kau sepertinya senang sekali melihat Alana menikah dengan suaminya," sindir Brianna.


"Orang tua mana yang tidak senang melihat putrinya menikah dengan laki-laki pilihannya?" jawab Holmes.


"Kau bisa berbicara seperti itu, jika memang benar itu adalah lelaki pilihan Alana. Tapi nyatanya?"


"Apa kau tau, Holmes. Hidup keluarga kita menjadi kacau gara-gara dirimu. Anak-anakku menderita gara-gara dirimu!" seru Brianna.


"Aku minta maaf, aku memang telah gagal dan tidak bisa membahagiakan anak-anak kita," ujar Holmes dengan penuh penyesalan.


"Dengan kau minta maaf tidak akan mengembalikan semuanya! Kau tau, Alana putriku harus menderita. Dia rela menukar kebahagiannya hanya karna dirimu!" seru Brianna.


"Apa yang kau katakan, Brianna? aku benar-benar tidak mengerti!" tanya Holmes.


"Jangan berpura-pura tidak tau! Demi bisa melunasi hutangmu dan menebus sertifikat  perusahaanmu, Alana rela menukar statusnya untuk menikah dengan suaminya yang hanya mengincar perusahaanmu saja! Kau benar-benar telah membuat putriku menderita!" seru Brianna.


"Tidak!" Holmes menggeleng kepalanya tak mempercayai perkataan Brianna.


"Jangan terlewat bodoh! Apa kau lupa, dulu orang tua Darrel meminta Alana untuk menikahi putranya? tapi Alana menolak karna Alana dari dulu berkeinginan menikah di usia 27 tahun. Apa kau lupa itu Holmes? daridulu putrimu tidak ingin menikah muda, tapi kau lihat, di usia berapa sekarang Alana menikah?  Alana terpaksa menikah dengan suaminya hanya karena dirimu! Hanya karna Ayahnya yang sama sekali tidak berguna!" Brianna semakin mengeraskan suaranya, amarahnya seakan meluap-luap.


"Putriku menderita hanya karna ingin melunasi hutang-hutangmu!" imbuhnya.


"Alana..." Kedua mata Holmes membulat seakan tak percaya, ia hendak berbicara. Namun dadanya tiba-tiba sesak, jantungnya seakan diremmas dan merasakan sakit yang begitu hebat hingga suaranya tertahan dan tak bisa lolos dari rongga mulutnya. Brianna mengernyit, wajahnya yang dipenuhi amarah berubah menjadi datar seketika.


"Holmes?"


"Holmes, kau kenapa?" Brianna begitu panik saat melihat Holmes tiba-tiba anfal.


"Holmes, jangan membuatku takut. Kau kenapa..." Brianna berjalan lebih mendekat. Ia berkali-kali menekan tombol darurat menunggu dokter segera menghampirinya. Ia masih panik melihat laki-laki yang masih menjadi suaminya itu sudah tak bergerak lagi.


Brianna masih tak berhenti berteriak memanggil-manggil nama Holmes, hingga tak lama kemudian, dua orang perawat dan satu dokter menghampiri dan masukke dalam ruangan tersebut. Mereka segera melakukan tindakan darurat kepada Holmes. Sementara, Brianna, wanita itu disuruh oleh salah satu perawat untuk menunggu di luar ruangan.


Brianna terlihat mondar-mandir dengan raut wajah yang begitu panik. "Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja." bibir Brianna berucap dengan gemetar. Ia tidak mau di salahkan atas apa yang terjadi dengan Holmes baru saja.


Beberapa langkah kaki terdengar menggema di lorong rumah sakit itu, membuat kedua mata Brianna segera teralihkan ke arah sana. Pemilik suara langkah kaki itu tak lain berasal dari langkah kaki kedua anak dan juga menantunya.


"Alana... Daven..." Brianna berucap tanpa mengeluarkan suara. Ia begitu terkejut. Begitu juga dengan Daven dan Alana yang begitu terkejut melihat Ibunya di sana. Mereka mempercepat langkah kakinya menghampiri Ibunya tersebut.


 


"Mami?" sapa Daven dengan mengernyit heran.


"Mami, sedang apa Mami di sini?" tanya Alana.


"A-Alana, Daddymu--"


"Kenapa Daddy?" tanya Alana.


"Daddy, kenapa? katakan kepada Alana!"


Brianna begitu kesulian berbicara. Suaranya seakan tertahan di tenggorokannya.


"Mami, katakan kenapa Daddy?" pertanyaan yang sama di lontarkan oleh mulut Daven.


"Daddy kalian tiba-tiba Anfal," ucap Brianna. Alana dan Daven begitu terkesiap, hingga kedua matanya membulat dengan sangat sempurna.


"Daddy..." Alana berteriak dan  hendak masuk ke dalam ruangan, namun Ken menarik tangannya.


"Alana, tunggu Dokter keluar, biar Daddy ditangani oleh mereka," tutur Ken.


"Tidak... aku tidak mau, aku mau masuk." Alana menepis tangan Ken dan segera masuk ke dalam ruangan. Alana melihat Dokter sedang menangani ayahnya dengan alat pacu detak jantung hingga  membuat air matanya jatuh membasahi wajahnya, Alana begitu ketakutan. Namun, Perawat menyuruh paksa Alana untuk keluar dari ruangan itu.


"Tolong Nona  tunggu diluar!" Perawat menutup kembali pintu ruangan tersebut.


"Mami, kenapa Daddy bisa anfal?" tanya Daven yang tak kalah takutnya seperti Alana. Namun, Brianna hanya diam saja.


"Kenapa Mami diam? apa yang Mami lakukan hingga membuat Daddy anfal?" tanya Alana, air matanya terlihat turun secara bergantian.


"Alana, tenanglah! Daddy akan baik-baik saja," tutur Ken seraya memegang punggung istrinya.


"Mami tadi hanya berbicara dengan Daddymu, tiba-tiba dia kesulitan bernapas, Mami secepatnya memanggil dokter." Air mata Brianna juga mengiringi pernyataannya tersebut.


"Apa yang Mami bicarakan dengan Daddy? katakan, apa yang Mami bicarakan?" Alana mengeraskan suaranya. Namun, tubuh Brianna gemetar dan tak bisa mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Hingga dokter keluar dari ruangan menemui mereka semua.


Alana dengan cepat menghampri Dokter tersebut. "Dokter, apa Daddyku baik-baik saja?" tanya Alana dengan air mata yang tak henti menderas. Namun dokter hanya diam, ia menghela napas dan menatap Alana dengan tatapan penuh arti.


"Dokter..." Alana yang  tak mendapat jawaban langsung menyelonong masuk begitu saja. Ia melihat dua orang perawat  melepas selang infus dan alat bantu oxygen yang melekat pada tubuh Holmes yang terbujur kaku di atas pembarungannya.


"Kenapa kalian melepas ini semua?" tanya Alana.


"Nona--"


"Jangan dilepas! Kalian mau menyakiti Daddyku?  Daddyku masih kesulitan untuk bernapas, dia belum sembuh. Pasang kembali semua alat ini!" teriak Alana. Namun, perawat itu hanya saling pandang.


"Kenapa kalian hanya diam? pasang kembali alat-alat ini!" Alana meraih alat bantu pernapasan tersebut dan memberikannya secara paksa kepada perawat itu.


"Nona Alana, tolong tenanglah! Kami minta maaf, Tuan Holmes tidak bisa kami selamatkan," ujar Dokter.


Daven, Ken dan Brianna yang kala itu ikut masuk ke dalam ruangan begitu terkesiap mendengar pernyataan Dokter. Ken dan Daven mengusap kasar wajah mereka sendiri.


"Daddy..." tubuh Daven melemas seakan semua tenaganya dicabut begitu saja saat mendengar pernyataan itu.


"Tidak..." Alana menggeleng kepalanya seakan tak percaya akan apa yang ia dengar baru saja.


"Nona Alana, tolong bersabarlah!" tutur Dokter.


"Kau berbohong. Kau jangan membohongiku! Daddyku tidak meninggal. Apa dokter tau. Tadi Daddy berbicara denganku! Dia berbicara denganku dan adikku! Bertanyalah kepada suamiku! Kami tadi sempat bercanda."


"Alana..." Ken seketika  memeluk istrinya untuk menenangkannya.


"Lepaskan aku!"


"Alana, Daddy sudah tidak ada," ucap Ken lirih,


"Tidak Ken, Mereka berbohong... tadi Daddy masih berbicara denganku, mereka berbohong, kau tadi melihatnya kan. Kau tadi sempat berbicara dengan Daddy tentang perusahaan. Kau tadi juga berbicara dengan Daddy. Katakan kepada mereka!" isakan tangis Alana semakin menjadi-jadi membuat Ken tak kuasa melihatnya.


"Daddy bangunlah..." Alana mendekati Holmes dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun tak ada gerakan dan respon sama sekali di sana.


"Daddy, ayo bangunlah! Tolong bangunlah, biar mereka percaya!" Alana masih tak menyerah, ia semakin keras menggerak-gerakan tubuh ayahnya tersebut.


"Daddy kenapa diam? tadi Daddy hanya bilang beristirahat bukan? ayo bangunlah. Biar mereka percaya kalau Daddy hanya tidur..." rasanya begitu sia-sia, tetap saja Alana tak mendapat respon apapun dari ayahnya.


"Ayo bangunlah!"


Tak sedikit Air mata yang  sudah membasahi wajahnya, Alana menatap wajah Holmes dengan begitu seksama dan mendekatakan wajahnya. Ia tak merasakan ada napas yang terbuang dari hidung ayahnya.


"Daddy..."  Alana seketika memeluk Holmes dan menangis sekencang mungkin hingga air mata ikut membasahi wajah Ayahnya tersebut.