
"Kenapa kau membeli susu banyak sekali?" tanya Alana.
"Tidak apa-apa, biar anak kita juga banyak."
"Apa hubungannya?" tertawa kesal membuat Ken begitu gemas saat melihatnya.
Alana memperhatikan satu persatu kemasan kaleng susu itu. "Kenapa semuanya rasa coklat?"
"Ada saja yang ditanyakan." Ken mendengus kecil, merasa istrinya begitu cerewet sekali.
"Kau suka coklat bukan? jadi maka dari itu aku membelikan yang rasa coklat,"
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka susu coklat, aku lebih suka yang vanilla. Tapi--"
"Tapi apa? mau menyuruhku mengembalikannya?" tukasnya dengan nada yang sedikit kesal.
"Tidak, siapa yang menyuruhmu mengambalikannya. Tidak apa-apa, aku akan meminumnya." Alana mengembalikan susu-susu tersebut ke dalam kantung plastik dan memberikannya kepada Ken.
"Baiklah, tunggulah di sini, aku akan membuatkan susu untukmu, lalu kita berangkat untuk makan kue coklat." Alana menarik tangan Ken yang kini beranjak berdiri.
"Tidak usah, aku bisa membuat susu sendiri, kau pikir aku sakit, hingga semua harus kau layani?"
"Susah sekali berbicara dengannya," gerutu Ken.
"Aku bukan membuatkan susu untukmu, tapi untuk anakku. Sudahlah diamlah di sini!" perintah Ken. Alana terdiam dan mengiyakan perintah suaminya.
Dua kantung plastik berisi susu yang sempat Ken beli tadi dibawanya ke dalam dapur
Ia menyuruh Bi Ester untuk menyimpan susu-susu tersebut ke tempat semestinya. Ken sibuk membuatkan Alana susu dan menyeduhnya dengan air panas yang baru saja ia tuang dari dalam thermos, mengaduknya lalu membawanya kembali menemui Alana yang masih menunggunya di tempat yang sama.
"Ayo minumlah." Ken menyodorkan susu itu kepada Alana. Dengan cepat, Alana meneguknya hingga habis tak tersisa dari dalam wadahnya.
"Habis..." Alana menunjukan gelasnya kepada Ken.
"Ya sudah, memangnya mau di apakan kalau habis?"
"Enak sekali, apa boleh meminta lagi?" tanya Alana, memelas dengan penuh harap.
"Tidak boleh! Nanti malam lagi!" Ken menyaut gelas kosong itu dari tangan Alana dan meletakan sembarangan di atas meja.
***
Ken mengajak Alana untuk pergi ke toko kue sesuai janjinya pagi tadi. Namun setibanya di toko kue tersebut, Alana begitu enggan bergerak dan turun dari mobil.
"Ayo, turun!" perintah Ken.
"Sayang, aku sudah tidak berselera untuk makan kue coklat, aku kenyang," ujar Alana.
"Kenapa tidak bilang daritadi?" seru Ken.
"Entahlah, aku tiba-tiba kenyang. Take away saja."
Ken mendengus dan mengiyakannya. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam toko itu, menyuruh Alana menunggunya di dalam mobil. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa satu box berisi kue coklat kesukaan istrinya tersebut dan masuk ke dalam mobil.
"Kau yakin tidak mau memakannya? Ini enak sekali." Ken membuka tutup box kue itu dengan sengaja agar Alana tergoda. Namun, tetap saja tak membuat Alana mau memakan kue itu, yang ada ia malah ingin sekali mual.
"Oh iya, Ken. Apa kau ingat restaurant India yang pernah kita kunjungi saat awal pernikahan kita?"
"Tentu saja ingat, kenapa?" tanya Ken.
"Aku ingin sekali berkunjung ke sana." Mendengar permintaan Alana, tanpa banyak bicara Ken segera membawa istrinya itu untuk pergi ke restaurant India, di mana pertama kali dirinya makan di sana bersama Alana.
Tulsi Indian Cuisine
Alana dan Ken memilih salah satu tempat duduk yang ada di ujung sana, Alana memperhatikan nuansa resto tersebut, mengingat saat masa-masa bersama Ayahnya jika berkunjung di restautant itu, Ia sangat merindukan Ayahnya, rasanya ia bersedih, namun ia menyembunyikan kesedihannya agar tidak terlihat oleh suaminya.
seorang pelayan menghampirinya dengan membawa beberapa buku menu ke mejanya. Tangan Alana menyaut dan menyebutkan makanan apa saja yang ingin ia pesan, dan ia request semua makanan yang ia pesan tidak mencampurkan merica ataupun cabai sedikitpun di dalamnya.
Alana Seakan kalap, ia memesan begitu banyak makanan.
membuat Ken menggeleng kepalanya.
"Awas saja sampai tidak memakannya..." Ken berkali-kali mengumpat dari dalam hati.
Setelah memesan makanan, tak lama kemudian Pelayan datang bergantian, mengantar dan meletakan beberapa macam makanan di atas meja Ken dan Alana.
"Lihatlah makanan yang kau pesan banyak sekali, awas saja sampai kau tidak menghabiskannya!" ancam Ken.
"Awas saja sampai kau tidak menghabiskannya!" Alana menirukan gaya Ken berbicara, membuatnya kesal namun tak jarang menahan tawa karenannya.
"Heh! Kenapa aku perhatikan daritadi hanya aku yang memakan makanannya?"
"Aku kan tadi bilang sudah kenyang." Dengan santainya Alana hendak mendaratkan kembali suapan makanan ke mulut Ken, namun Ken yang kesal malah menolaknya.
"Alana... kau sudah memesan banyak makanan dan sekarang kau bilang kenyang! Lalu kenapa kau tadi meminta makan di sini?" seru Ken.
"Aku kan hanya bilang ingin berkunjung saja di sini, bukan ingin makan. Aku rindu kemari bersama Daddy makanya aku mengajakmu kemari."
"Aku tadi kan sudah bilang kalau aku kenyang!" bantah Alana.
"Kalau kau kenyang kenapa kau memesan begitu banyak makanan, mana mungkin aku menghabiskannya? aku tidak mau tau, kau harus menghabiskan semua makanan yang kau pesan!" perintah Ken.
"Tapi aku kenyang!"
"Aku tidak mau tau!"
"Ya sudah, aku akan memakannya, kalau kau menyuapiku!"
"Aku tidak bisa makan menggunakan tangan!" Alana hanya diam seakan tak mau mendengar apapun alasan suaminya.
Ken mendengus kecil. "Baiklah, aku akan mencuci tanganku!" suaranya terdengar begitu terpaksa, Ia beranjak berdiri dan pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya.
Setelah itu, Ken kembali ke tempat duduknya. Memperhatikan semua makanan yang masih tersisa banyak sekali di sana. Ia benar-benar tidak bisa menyentuh makanan dengan menggunakan tangan secara langsung. Namun bagaimana lagi, ia tak punya piihan lain, daripada harus menghabiskan makanan iu sendirian, ia terpaksa menyuapi Alana dengan menggunakan tangannya.
Ken mengambil sejumput makanan, itu pun ia harus menahan rasa geli.
"Ayo..." Mendekatkan suapan pertamannya di mulut Alana.
"Kurang banyak!" protes Alana seraya menyapu makanan itu dari tangan suaminya.
"Cerewet!" seruan Ken tak membuat Alana takut, malah membuatnya terkekeh.
Alana begitu lahap memakan makanan itu dari suapan tangan Ken, kata kenyang seakan hilang begitu saja, rasanya ia benar-benar lapar hingga menghabiskan semua makanan yang sudah ia pesan tanpa sisa sedikitpun.
"Aku kenyang..."
"Bagaimana tidak kenyang, kau menghabiskan begitu banyak makanan!"
Ken yang hanya bertugas menyuapinya saja juga merasa kenyang, bahkan membuat perutnya merasa mual.
"Aku yang hamil kenapa kau yang mual?" tegur Alana.
"Aku sungguh geli dengan makanannya!" Ken beranjak berdiri dan membersihkan tangannya di bawah aliran air wastafel.
***
Keesokan malamnya, setelah makan malam. Ken dan Alana kembali ke kamar.
aktivitas seperti biasa yang mereka lakukan, Ken duduk memangku komputer dan memeriksa pekerjaannya sedangkan Alana membaca buku seputar kehamilan yang telah dibelikan oleh Mama Merry untuknya siang tadi.
Kedua mata Alana teralihkan saat melihat Ken mengalihkan komputer lipat yang ia pangku ke atas meja. Ken yang beranjak berdiri dari tempat duduknya, membuat Alana segera melontarkan pertanyaan.
"Kau mau ke mana?" tanyanya.
"Mau membuatkanmu susu." Tubuh tegap Ken mengajaknya berlalu pergi dari sana, sebenarnya Alana memaksa bahwa dirinya bisa membuat susu untuk dirinya sendiri dan tidak mau merepotkan suaminya tersebut, namun Ken melarangnya dan lebih memilih untuk membuatkannya sendiri.
Ken berada di dapur, mengambil gelas dan kaleng susu yang kemasannya sudah terbuka. Air panas di thermos terlihat hanya jatuh beberapa tetes saja saat ia menuangnya, membuat dirinya berdecak dan harus memasak air panas terlebih dahulu,
menunggu beberapa menit.
Setelah air yang ia masak sudah mendidih. Ia segera menyeduh susu coklat untuk istrinya itu.
Mengaduk perlahan sambil memperhatikannya. "Apa seenak itu? kenapa Alana begitu menyukai susu ini?" Ken memperhatikan gelas yang di dalamnya sudah tergenangi susu coklat tersebut. Rasa penasarannya, membuat Ia ingin sekali mencicipi susu itu. Ia mencoba meminumnya sedikit.
"Enak sekali... pantas saja Alana menyukainya," Ken meneguk kembali susu itu. Hingga kini susu yang seharusnya ia buatkan untuk Alana, hanya tersisa setengah gelas saja.
Ken hendak meneguk kembali sisa susu itu bermaksud akan membuatkan susu yang baru, namun Alana yang tiba-tiba menongol di dapur, membuatnya begitu terkejut.
"Ken, kau meminum susuku?" Alana yang kesal berjalan mendekat ke arahnya, membuat suaminya itu mengurungkan niatnya untuk menghabiskan susu tersebut.
"Kenapa dia kemari?"
"Ehm, tidak, aku hanya mencicipinya sedikit saja," bantah Ken.
"Kau meminumnya bukan mencicipinya, lihatlah susunya tinggal sedikit! Pantas saja kau lama sekali di dapur! " Seakan tak rela berbagi, Alana menyaut gelas yang masih menampakan sisa susu coklat dari setengah gelas itu.