
"Maaf sudah mengganggu." Valerie segera pergi meninggalkan kamar itu dan kembali ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Alana, saat dirasa Valerie sudah pergi dari sana. Ia segera menutup pintu dan menguncinya. Lalu, ia kembali menemui Ken yang masih setia menunggunya di atas tempat tidur.
Alana mendekati Ken dan mendudukan tubhnya di tempat semula, di mana dirinya duduk sebelum Valerie bertamu di kamarnya.
"Siapa sayang?" tanya Ken.
"Nona Valerie." Alana tersenyum dan menggeser tubuhnya lebih mendekat dengan Ken.
"Valerie?" Ken mengernyitkan dahinya.
"Iya, dia mengembalikan jasmu," kata Alana menyodorkan jas yang saat itu ia pegang kepada Ken.
"Oh, aku sudah tidak membutuhkan jas ini lagi, lebih baik buang saja!" Ken melempar jas itu ke sembarang tempat.
"Kenapa kau malah membuangnya, Ken?" Alana hendak beranjak mengambil jas tersebut. Namun, tangan Ken dengan cepat menahannya, membuat tubuh Alana tak bergeming akan posisinya.
"Aku sudah bosan dengan jas itu. Lagipula, jas itu juga sudah tidak muat denganku," ujar Ken.
"Tapi jas itu sangat pantas jika kau kenakan, dan aku rasa masih muat di tubuhmu," ucap Alana.
"Yang memakai jas itu aku atau kau?" tanya Ken.
"Kau..."
"Ya sudah!" saut Ken.
"Tapi, aku melihat kau sangat pantas sekali jika mengenakan jas itu, Sayang."
"Kau bisa melihat tapi tidak bisa merasakan, yang merasakan aku!" seru Ken.
"Sudahlah, lupakan masalah jas!" Ken tiba-tiba tersenyum membuat Alana mengernyit dan bertanya-tanya arti senyuman suaminya itu.
"Ayo..." Ken kembali menarik tubuh Alana dan mendekapnya.
"Ayo apa?" Alana masih mengernyitkan dahinya.
Ken berdecak kesal saat Alana tidak peka dengan apa yang sedang ia inginkan. "Melanjutkan yang tadi," ujarnya dengan suara terpaksa. Alana hanya mendengus dan menggeleng-geleng kepalanya saat Ken memulai kembali melampiaskan keinginannya yang sempat tertunda tadi.
***
Valerie duduk di tepi tempat tidurnya sembari mengingat-ingat perkataan Alana yang begitu menyakiti hatinya.
"Suamiku?" gumam Valerie yang masih mesih terngiang akan bahasa Alana yang menjuluki Ken dengan kata suamiku.
"Menggelikan!"
"Apa Ken bilang kepada istrinya kalau ia meminjamkan jasnya kepadaku?"
"Mana mungkin!"
"Tapi, Nona Alana tadi tau kalau aku akan mengembalikan jas milik Ken." Pikiran Valerie dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatinya merasa jengkel.
"Aku benar-benar tidak bisa melupakan Ken, aku harus bagaimana?" Valerie memejamkan kedua matanya.
Sunyi
"Maafkan aku ya Tuhan," gumamnya, bahkan tak sedikit airmata yang ikut tersapu di sana.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka, membuat Valerie cepat-cepat mengahapus air matanya. Langkah kaki Billy mendekat membuyarkan lamunan Valerie waktu itu.
Billy mendudukan tubuhnya di samping Valerie. "Kau kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa," jawab Valerie dengan nada datarnya.
Billy sejenak memperhatikan Valerie, ia mengangkat dagu runcing wanita itu dan mencium lembut bibirnya yang masih menutup rapat, membuat Valerie ingin memberontak namun tidak bisa.
"Ayo bersiaplah, fotografer sudah menunggu kita," ujar Billy.
"Apa bisa sesi fotonya ditunda? Aku merasa tidak enak badan," jawab Valerie.
"Kau pikir aku percaya dengan alasanmu kali ini? cepat bersiaplah!" seru Billy seraya beranjak berdiri dan merapikan bajunya yang tak berantakan.
Valerie hanya memejamkan matanya dan segera mengiyakan perintah calon suaminya itu, ia seolah tak berani membantah Billy.
"Lebih cepatlah! Aku menunggumu di luar." Suara Billy terdengar menghilang bersama langkah kakinya yang membawa tubuhnya untuk keluar dari sana. Valerie hanya memperhatikan sekitar kamar itu dengan tatapan kosong, hatinya terasa tersiksa. Ingin berteriak namun sesuatu seakan menyendat di tenggorokannya. Ia hanya bisa menarik napasnya dengan terputus-putus.
"Aku benar-benar lelah harus hidup seperti ini, aku benar-benar lelah harus menuruti kemauan semua orang." Valerie mengusap pipinya yang kembali basah.
Ia mendekati lemari dan mengambil sebuah kotak yang berisi gaun berwarna putih, yang akan ia kenakan untuk melakukan sesi foto preweddingnya bersama Billy. Ia merias wajahnya sendiri, menyamarkan wajah pucatnya dengan polesan makeup tipis.
Valerie terlihat begitu anggun dengan balutan gaun yang ia kenakan saat itu. Kecantikannya semakin bertamabah. Ia segera berlalu keluar dari kamar hendak menemui Billy yang sedang menunggunya. Saat Valerie keluar dari kamar, bersamaan itu pula David keluar dari kamarnya juga, kebungkaman di antara mereka diselingi dengan saling tatap, David mengakhiri tatapannya itu dan melewati Valerie tanpa memberi sapaan atau teguran kepadanya. Valerie segera pergi ke depan menemui Billy yang sudah menunggunya di dalam mobil bersama seorang fotografer.
***
Kimmy dan Jesslyn keluar dari kamar hendak pergi ke kamar Alana untuk menjemputnya dan mengajaknya pergi ke pantai menikmati sunset yang akan segera tiba.
"Jesslyn, Kimmy," Suara Ashley menghentikan Jesslyn dan Kimmy yang hendak mengetuk pintu kamar Ken dan Alana yang masih tertutup rapat itu, hingga membuat mereka berdua menoleh secara bersamaan.
"Ada apa Kak Ashley?" tanya Jesslyn dan Kimmy.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Ashley.
"Kita mau memanggil Alana," jawab Jesslyn.
"Iya, kita mau mengajak Alana pergi ke pantai, melihat sunset," imbuh Kimmy.
"Jangan mengganggu! Kakakmu sedang beristirahat," ujar Ashley.
"Aku tidak mengganggu Kakak, aku hanya mau memanggil Alana," bantah Jesslyn.
"Sama saja, tadi Ken berpesan, jangan mengganggunya dan juga Alana, mereka sedang beristirahat!" ujar Ashley.
"Ya sudah aku akan menelpon Alana saja, biar tidak mengganggu istirahat Kakak. Aku akan berbicara dengannya dengan pelan!" Jesslyn meraih ponselnya yang terselip di saku celana pendek yang ia kenakan saat itu.
"Jangan..." Ashley menyaut ponsel itu dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Jesslyn dengan kesal.
"Kan sudah ku bilang. jangan mengganggu Alana dan Kakakmu!" seru Ashley.
"Aku tidak mengganggu Kakak, aku hanya ingin mengajak Alana saja! kemarikan ponsel milikku!" pinta Jesslyn.
"Ya sudah, ambilah ini! Terserah jika kau ingin dimarahi oleh Ken." Ashley mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Jesslyn, benar kata Kak Ashley, nanti Kakak Ken marah, lebih baik kita pergi ke pantai sendiri saja," tutur Kimmy.
"Aku ingin ke pantai bersama Alana." Jesslyn mengerucutkan bibirnya,
"Kimmy, ayo kita ke depan saja!" Jesslyn menarik paksa tangan Kimmy dan berlalu meninggalkan Ashley, ia melirik laki-laki itu dengan tatapan kesal.
Jesslyn mengajak Kimmy untuk duduk di sofa yang ada di ruang depan villa. "Kita tunggu di sini, aku akan mengirimkan pesan singkat kepada Alan," ujar Jesslyn. Kimmy mengiyakan dan menuruti perkataan teman kecilnya itu.
***
Di dalam kamar, saat Ken dan Alana sedang mengistirahatkan tubuhnya, suara dering yang berasal dari ponsel milik Alana berbunyi. Alana segera mejulurkan tangannya meraih ponsel yang kala itu tergeletak di atas meja. Terlihat ada satu pesan masuk dari Jesslyn yang tertera dari layar itu.
"Siapa?" tanya Ken.
"Ehm, Jesslyn," ucap Alana. Ia segera membuka pesan singkat dari adik iparnya itu.
Alana, kau dan Kakak sedang apa berada di kamar? ayo kita pergi ke pantai menikmati sunset. ~ Jesslyn.
Alana seketika, melirik ke arah Ken yang sedang mengawasinya. Ia ingin sekali menikmati sunset di pantai, namun, ia bingung harus berbicara bagaimana kepada Ken.
"Ehmmm--"
"Apa?" tanya Ken.
"Ehm, Ken. Apa aku boleh keluar ke pantai bersama Jesslyn dan Kimmy?" Alana menggigit bibir bawahnya dengan sedikit takut.
"Tidak usah keluar, kita habiskan waktu berdua di dalam kamar saja!" perintah Ken.
"Kalau kita hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, untuk apa kita jauh-jauh kemari? di kamar rumah kita saja kan bisa!" seru Alana yang sudah memasang wajah kesalnya.
"Oh, jadi kau tidak mau menghabiskan waktu di sini bersamaku?" tanya Ken.
"Tidak!" Ken dengan cepat menjawab pertanyaannya sendiri.
"Ya sudah, keluarlah sana! Tidak usah kembali kemari!" imbuh Ken.
"Kenapa kau menjawab pertanyaanmu sendiri? Aku kan belum menjawabnya!" seru Alana.
"Aku sudah tau jawabanmu, jadi tidak usah dijawab lagi! Keluarlah dan bermainlah sana sepuasnya!" perintah Ken.
"Tidak mau! Aku mau di sini." Alana melingkarkan tangannya di tubuh Ken yang terlihat masih telanjang dada.
"Sana..." Ken mencoba menjauhkan tangan Alana dari tubuhnya.
"Tidak mau!" Alana kembali memeluknya bahkan mengeratkan tangannya supaya tidak terlepas.
"Keluar sana!" perintahnya kembali, Ken memang sengaja ingin menggoda istrinya tersebut.
"Tidak mau! Aku tidak mau, jangan memaksaku!" Alana mengeraskan suaranya sambil melototkan kedua matanya kepada Ken.
"Kau berani berteriak di depanku. Bahkan, kau sering melotot seperti itu kepadaku?" Ken menautkan kedua alisnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Alana melunakan suaranya dan menatap sayu Ken.
"Makanya, kau jangan menyebalkan! Aku tidak mau pergi, aku akan menemanimu di sini," ucap Alana. Ia mengeratkan kembali pelukannya. Ken terkekeh melihat istrinya tersebut.
Dering ponsel milik Alana kembali berbunyi, Alana kembali meraih ponselnya, terlihat satu pesan singkat masuk dari pengirim yang sama.
"Siapa?" tanya Ken.
"Jesslyn lagi," ujar Alana.
"Kemarikan!" Ken menyaut dengan cepat ponsel yang masih digenggam oleh tangan istrinya itu dan segera melihat isi pesan dari adiknya tersebut.
Alana, ayo ~ Jesslyn.
Ken melirik ke arah Alana, kemudian jari-jari tangannya mulai menyentuh huruf alphabet yang tertera di layar ponsel itu untuk membalas pesan Jesslyn.
Aku sedang beristirahat, kita pergi ke pantai besok pagi saja ~ Alana.
Tidak mau, aku maunya sekarang. ~ Jesslyn.
Tidak bisa! Ajaklah Jasson dan Kimmy saja. ~ Alana.
Sebentar saja, Alana. Aku ingin pergi ke pantai bersamamu! ~ Jesslyn.
Jangan memaksa! Apa kau tidak mau ku buatkan keponakan yang lucu? ~ Alana.
Keponakan? ~ Jesslyn.
Iya, keponakan. Apa kau tidak mau? ~ Alana,
Mau sekali... buatkan aku keponakan yang lucu. ~ Jesslyn.
Ya sudah, pergilah ke pantai bersama yang lain saja, ajaklah Jasson sana. ~ Alana.
Baiklah, kau tidak usah keluar kamar! Di dalam kamar saja bersama Kakak membuatkanku keponakan yang lucu. ~ Jesslyn.
Ajaklah Jasson, agar dia menemanimu! ~ Alana.
Baiklah, Bye, Alana. ~ Jesslyn.
"Letakan kembali ponselmu." Ken menyodorkan ponsel itu ke pemiliknya.
"Jesslyn pasti marah denganku." Alana mengerucutkan bibirnya.
"Tidak akan marah, aku sudah membujuknya!" saut Ken.
"Benarkah dia tidak marah? memangnya, kau menuliskan pesan apa kepada Jesslyn?" tanya Alana.
"Gunanya mata untuk apa?" tanya Ken.
"Melihat," jawab Alana.
"Ya sudah, kau bisa melihat dan membaca pesan singkat yang ku kirimkan kepada Jesslyn, jadi bacalah!" perintah Ken sambil memejamkan kedua matanya. Alana segera membuka pesan singkat dari Jesslyn dan membaca history percakapan antara Jesslyn dan Ken baru saja.
"Keponakan?" Alana mengeraskan suaranya.
"Tidak sulit kan membujuk Jesslyn." Ken membuka kedua matanya sambil terkekeh.
"Kau ini sungguh menyebalkan." Alana menggeleng-gelengkan kepalanya sembari meletakan ponselnya ke tempat semula.
Ken menarik kembali tubuh Alana, dan menuntun tangan Alana melingkar di atas dadanya. "Sudah! tidurlah sana, katanya kau lelah!" seru Alana.
"Aku hanya lelah bukan mengantuk!" bantah Ken.
"Sama saja! Kalau lelah tidurlah! Apa perlu ku berikan obat tidur?" tanya Alana. Ken hanya diam dan menatapnya dengan dingin membuat Alana tersenyum takut.
"Aku hanya bercanda, hehe."
"Sudah, ayo tidurlah!" Alana mengusap kasar kedua kelopak mata Ken dengan telapak tangannya agar terpejam.
"Ayo, tidurlah anak manis!" ucap Alana seraya mengusap-usap pipi Ken layaknya sedang menidurkan anak kecil. Bahkan tingkah laku Alana membuat Ken sekuat tenaga harus menyembunyikan tawanya.
"Kau pikir aku anak kecil!" Ken mengubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Alana.
"Jangan meninggalkanku!" Ken menyandarkan kepalanya di dada Alana dan melingkarkan tangannya dengan sempurna di tubuh wanita itu.
"Tidak! Aku akan menemanimu di sini, ayo tidurlah!" perintah Alana yang saat ini merengkuh kepala Ken. Ken memejamkan kedua matanya mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang ia rasa begitu lelah akibat berjam-jam melakukan perjalanan panjang.
"Sudah tidur?" gumam Alana yang memperhatikan wajah Ken. Ia tersenyum dan mengusap dahi suaminya itu.
"Coba saja aku tidak mencintainya, sudah ku cekik dia hidup-hidup, dan akan ku jadikan sebagai makanan buaya!" gerutu Alana dengan suaranya yang tidak jelas.
"Kau berbicara apa barusan?" suara Ken yang menggelegar mengejutkan Alana. Bahkan, ia bertanya dengan keadaan mata yang masih terpejam.
"Kau belum tidur?" tanya Alana.
"Bicara apa kau?" mata Ken masih terpejam.
"Tidak! Aku tidak berbicara apa-apa," bantah Alana.
"Kau pikir pendengaranku tidak berfungsi? jelas-jelas kau mengatakan sesuatu," ucap Ken seraya membuka kedua matanya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa, sudah ayo tidurlah lagi." Ken pun hanya diam dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Awas saja sampai kau berani turun dari tempat tidur, dan meninggalkan kamar ini sebelum aku bangun!" ancaman Ken membuat Alana mendengus kecil dan segera mengiyakannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.