My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Siapa yang kau tunggu



"Alana, kau benar tidak apa-apa?" tanya Ashley.


"Tidak usah bertanya dengannya! Pergilah!" perintah Ken. Alana masih menunduk, menggigit bibir bawahnya dengan takut.


"Kenapa kau menyuruhku pergi? Kau mau memarahi Alana?" seru Ashley.


"Jika iya memangnya kenapa? kau mau menggantikannya untuk kumarahi?" seru Ken.  "Cepat pergi sana!" perintahnya. Ashley pun terlihat takut saat melihat wajah sahabatnya yang penuh amarah dan tidak tersisa sedikitpun keramahan di sana.


Ashley hendak pergi, namun Alana menarik tangannya.


"Ashley, tolong jangan pergi, aku takut Ken memarahiku..." bisik Alana.


"Kau saja yang istrinya takut, apalagi aku..." balasnya sambil berbisik.


"Ashley tolong aku..." Alana memelas. Ashley melirik ke arah Ken yang semakin menajamkan kedua matanya. Membuat Ashley semakin takut saat menatapnya.


"Ma-maaf, Alana. Ka-kau jaga diri baik-baik, ya," tutur Ashley, ia  menjauhkan tangan Alana dari tangannya, dan segera berlalu pergi dari sana.


"Bagiamana ini, Ken benar-benar marah kepadaku." Alana berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menatap suaminya yang sedang marah, namun ia benar-benar tak berani, ia menundukan pandangannya sambil meremmas telapak tangannya masing-masing yang hampir basah akan keringatnya. Ken yang kala itu berdiri dengan jarak dua meter dari Alana, ia segera melangkahkan kakinya mendekati istrinya itu. Masih menatapnya dengan penuh amarah.


Kedua mata Alana menatap lekat sepatu fantovel milik suaminya yang saat ini  sudah persis berpijak di bawah pandangannya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan begitu takut.


Ken memegang kedua bahu Alana. "Aku kan sudah bilang! Jangan--"


"Maafkan aku, Ken. Maafkan aku..." Alana seketika memeluk tubuh Ken dengan erat, menghentikan teriakan amarah suaminya dan tak berhenti berucap kata-kata itu mengharap pengampunan akan dirinya yang telah membuat masalah.


"Alana!" Ken setengah berteriak, mencoba menjauhkan tubuh istrinya yang saat ini memeluknya namun Alana malah semakin mengeratkan pelukannya dan berulang kali meminta maaf.


Ken merasa tak tega, ia memejamkan kedua matanya dan berdecak. Emosi yang mulanya memuncak di kepala tiba-tiba mereda seketika.


"Alana..." suara Ken terdengar melunak, memudarkan ketakutakutan di wajah Alana, tangannya kini mampu melepaskan pelukan wanita itu.


Alana masih tak mau menatap wajah suaminya. "Maafkan aku, Ken..."


Ken mengangkat wajah Alana, hingga kedua matanya kini leluasa menatap wajah istrinya itu.


"Aku kan sudah bilang, jangan ikut campur, kenapa kau tidak mau mendengar perkataanku?" ucapnya lirih.


"Alana, aku tau kau tidak suka David bertunangan dengan mantan sahabatmu itu, tapi kau tidak berhak menentukan hubungan mereka. Kau tidak tau bagaimana posisi David saat ini, ini sudah menjadi keputusan baginya, siapapun tidak berhak mencampurinya, terlebih lagi kau tidak memiliki hubungan dengan David!"


"Kau tadi tidak melihat bagaimana wanita itu hampir saja mencelakaimu? Kalau tadi kau sampai terjatuh bagaimana?" seru Ken. Alana hanya terdiam menatapnya dengan penuh tatapan bersalah.


"Maafkan aku Ken. Aku tidak akan ikut campur lagi, aku hanya tidak ingin David mendapatkan wanita yang seharusnya tidak dia dapatkan. Karna dia menyukai Valerie..."


"Astaga..." Emosi Ken yang semula sudah mereda kini kembali memuncak saat mendengar perkataan Alana.


"Tau apa dirimu ini?" serunya dengan sedikit membentak.


"Aku tau Ken, dari cara David melihat Valerie sangatlah berbeda, dia menyukainya! Aku yakin itu"


"Alana, jangan membuatku marah lagi!" rahang Ken mengeras, menahan rasa geram terhadap istrinya namun ia mencoba menahannya.


"Maafkan aku, aku tidak akan ikut campur..." Alana menundukan wajahnya kembali.


Ken mengembuskan napasnya, seolah emosinya ikut terbuang di sana. Ia memegang kedua pipi Aana dan memberi usapan lembut di sana.


"Mungkin David tidak menginginkan pertunangan ini, tapi Ibunya sangat menginginkan dan menanti-nantikan hari ini! Alana di sini banyak tamu dan kerabat penting yang menghadiri acara ini, jadi aku mohon, jangan membuat masalah!"


"Jika kau sampai membuat masalah lagi, aku akan marah dan tidak akan mau berbicara denganmu lagi, kau mengerti?" ucapnya  dengan penuh ancaman.


Alana menganggukan kepalanya. "Iya, Ken. Aku mengerti, aku  berjanji tidak akan membuat masalah lagi," jawab Alana.


"Ya sudah, ayo kita keluar...:" Ken menggenggam tangan Alana dan mengajaknya pergi dari ruangan itu.


 


***


 


Acara pertunangan David dan Laurrent bertema outdoor, pool side party yang hanya dikhususan untuk teman-temannya, menggunakan taman dan juga kolam renang pribadi di dalam rumah mewah itu menjadi tempat acara tersebut. Sedangkan para kerabat dan tamu penting Ibunda David berada di dalam ruangan.


semua orang-orang penting terlihat berkumpul di sana, sudah hampir petang, namun acara pertunangan  itu lagi-lagi harus diundur kembali, karna ayah Laurrent juga belum kunjung tiba, bahkan nomer ponselnya sulit sekali untuk dihubungi. Ibu David merasa was-was dan sungkan dengan semua teman dan kerabat pentingnya yang sedaritadi sudah menghadiri undangannya tersebut. Namun tidak dengan David yang  terlihat begitu santainya.


"Laurrent, lebih baik kita mulai sekarang saja acaranya, semua orang sudah datang, ayahmu kan bisa menyusul nanti!" tutur Ibu David kepada Laurrent.


"Bibi, tunggu ayahku sebentar, aku tidak bisa melewatkan hari penting ini tanpa Ayah, lebih baik kita menyuruh para tamu undangan untuk menikmati hidangan terlebih dulu. Atau aku dan Kak David juga bisa mengisi dengan acara berdansa sambil menunggu ayah datang," tutur Laurrent yang masih sibuk mencoba menghubungi ayahnya.


Mendengar jawaban dari calon menantunya, Ibu David merasa begitu kesal.


"Acara belum dimulai, bagaimana bisa kita mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan?" seru Ibu David.


"Sis, tolong mengertilah, Laurrent sangat dekat dengan ayahnya jadi wajar dia ingin acara pertunangan ini  tak terlewatkan oleh ayahnya," timpal Ibu Laurrent.


"Nam, aku sungguh tidak mengerti dengan pikiran suamimu, putrinya hari ini akan bertunangan seharusanya dia lebih sedikit mengerti untuk mengambil cuti atau menunda pekerjaannya, bukan malah pergi ke luar kota dan mementingkan bisnisnya!" seru Ibu David dengan begitu kesalnya ia berlalu pergi dari sana.


David berjalan mendekati Laurrent dan juga Ibunya. "Hubungi terus ayahmu, pastikan dia datang!" tutur David seraya berlalu pergi dari sana.


"Aku harap Ayahmu  tidak akan datang dan acara ini dibatalkan!" gumam David sambil memasukan kedua tangannya di saku celana, kemudian, ia mengumumkan kepada semua para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan di sekitar kolam renang tersebut.


David berjalan menghampiri Ken dan Ashley yang berdiri sambil memegang gelas di tangannya masing-masing, namun kedua matanya tertuju menatap Valerie yang sedang berdiri di samping Alana dengan jarak yang tidak terlalu  jauh dengan Kedua sahabatnya itu. Kedua kakinya berhenti di hadapan Ken dan juga Ashley, namun matanya masih menatap orang yang sama.


"David kenapa acaranya diundur lagi?" tanya Ken. Namun David hanya diam saja, kedua matanya masih tak lepas menatap wajah wanita di pemilik lesung pipit itu, hingga membuat perhatian Ken teralihkan untuk mengikuti arah kedua mata David memandang.


"Kenapa David memandangi Valerie hingga sebegitunya?" gumamnya sambil mengernyit heran.


"David!" panggilan dan tepukan di bahunya membuat pandangan David membuyar seketika.


"Aku sedang bertanya, kenapa kau diam saja?" seru Ken.


"Ehm, maaf kau tanya apa?" tanya David.


"Astaga David, apa yang sedang  kau pikirkan hingga tidak fokus seperti ini?" timpal Ashley. "Ken bertanya, kenapa acaranya diundur lagi?" lanjunya.


"Oh, maaf... ehm, Laurrent tidak mau memulai acaranya sebelum ayahnya datang," jawab David.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Ken sambil mengernyit.


"Entahlah, biarkan saja..."


"Maaf aku terlambat, aku terlambat..." Jesslyn tiba-tiba menyelinap di antara Kakak sulung dan juga kedua sahabat kakaknya tersebut, diikuti Jasson dan juga Harry yang datang bersamanya. Alana yang tengah melihat adik iparnya sudah datang, ia segera mengajak Valerie untuk menghampirinya.


"Kak David, apa benar Kakak akan bertunangan dengan wanita barbar itu?"


"Jesslyn!" tegur Ken.


"Ma-maksudku si Laurrent, apa benar itu, Kak?" Jesslyn menarik-narik tangan David menunggu jawaban laki-laki itu. David sejenak diam, lalu membenarkannya. Kedua mata Jesslyn membulat.


"Kak, kenapa harus dengan wanita itu? apa tidak ada wanita lain selain dia?" seru Jesslyn. Belum sempat menjawab,  Ken menarik tangan Jesslyn dan menjauhkannya dari David.


"Kenapa kau begitu lancang? apa kakak mengajarimu berbicara tidak sopan seperti ini?" bentak Ken.


"Kak, aku..."


"Diam! Kakak tidak mau kau ikut campur urusan orang lain seperti Alana! Kau mengerti?" bentaknya kembali. Jesslyn seketika mengangguk dan menunduk takut akan bentakan Kakaknya tersebut. Ken pun berlalu pergi meninggalkan adiknya.


Jasson dan Harry terlihat menghampiri Jesslyn yang baru saja dimarahi oleh Kendrick.


"Baru saja sampai sudah membuat masalah saja!" seru Jasson.


"Kenapa memangnya jika aku membuat masalah? bicara lagi akan kudorong kau ke dalam kolam!" seru Jesslyn sambil melototkan kedua matanya kepada saudara kembarnya tersebut. Harry yang kala itu berdiri di samping Jasson,  menatap Jesslyn dengan tatapan heran.


"Apa kau melihatku seperti itu? Mau kudorong ke dalam kolam bersama Jasson?" suara Jesslyn yang ditujukan kepada Harry, hanya membuat laki-laki itu tersenyum.


"Memangnya siapa yang melihatmu!" saut Harry.


"Harry, sudahlah, jangan dihiraukan dan jangan dekat-dekat dengan si nenek tua ini!" Jasson segera mengajak Harry berlalu pergi meninggalkan Jesslyn yang tak henti mengumpatnya dengan kata-kata kesal.


Jasson dan Harry mengambil beberapa makanan, mereka menikmati makanan yang sudah mereka ambil sambil berdiri.


Jasson memperhatikan Harry yang tiba-tiba terdiam dan sama sekali tak mengajaknya berbicara seperti sebelumnya. "Kenapa kau tiba-tiba diam?" tegurnya.


"Tidak," jawab Harry.


"Jasson, sepertinya Jesslyn menyukai David," ucapan Harry yang terlontar secara tiba-tiba membuat Jasson mengunyah makanannya sambil terkekeh,


"Mana mungkin, kau ini ada-ada saja."


"Kau tadi tidak melihat bagaimana Jesslyn sangat tidak suka melihat David bertunangan dengan calonnya itu? bahkan, aku juga berulang kali memergoki Jesslyn memberi perhatian lebih kepada David."


"Benarkah?"


"Iya, aku rasa Jesslyn menyukai David," jawabnya.


Jasson terdiam sejenak. "Hey, kenapa kau jadi membahas Jesslyn? dia suka atau memberikan perhatian kepada siapa  bukan urusan kita!" ujar Jasson.


"Sudah nikmati saja makanannya.  Lihatlah, di sini banyak sekali wanita cantik, pasanglah wajah yang manis supaya kau bisa membawa salah satu di antara mereka untuk pulang dari sini," ledek Jasson.


Harry terkekeh dan reflek memukul kepala sahabat kecilnya itu. "Seharusnya aku yang berbicara seperti itu kepadamu! Pasanglah wajah yang manis dan jangan terlalu galak, supaya para wanita tidak takut denganmu!" balasnya meledek.


"Aku sungguh heran, apa yang kau tunggu? bahkan aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita manapun,"  imbuh Herry dengan begitu heran.


"Kau berbicara seolah-olah dirimu ini sudah mendapat pasangan, padahal aku sendiri juga tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita manapun," saut Jasson.


"Aku tidak dekat dengan wanita manapun karna ada yang sedang aku tunggu, sedangan dirimu?" tanya Harry sambil tersenyum.


Jasson mengernyit, mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. "Memangnya siapa sedang yang kau tunggu?" tanyanya.


"Ehm, i-itu, aku sedang menunggu usia..." jawab Harry dengan gelagapan.


"Usia?" Jasson semakin mengernyitkan dahinya.


"Iya, usia... aku menunggu usiaku benar-benar matang," jawab Harry.


"Jawabanmu sungguh konyol!" Jasson terkekeh dan mengajak Harry untuk melanjutkan makannya kembali.


Harry mengunyah perlahan makanan yang ada di dalam mulutnya  kedua matanya tak berkedip, mengawas penuh perempuan yang saa ini sedang berdiri di seberangnya bersama Valerie dan juga Alana.


.


.


.


.


.


.


 


Jangan lupa dukungan like dan votenya yaa