
Setibanya di villa, Ken dan Alana disambut oleh penjaga villa milik papanya tersebut. Ken membantu Alana untuk turun dari mobil. Sementara penjaga villa itu membantu untuk menurunkan koper dan barang-barang bawaan majikannya tersebut.
Kaki Alana baru saja menginjak tanah, udara segar yang belum tercemari menyambut ramah kedatangannya, membuat dirinya tak ingin berhenti menghirup udara di sekitar villa tersebut. "Ayo kita masuk..." ajak Ken. Alana mengangguk, Ken membantunya untuk berjalan masuk ke dalam villa. Namun Alana menolaknya.
"Aku bisa berjalan sendiri, jangan memperlakukanku seperti orang sakit," ucap Alana pelan.
"Baiklah, berjalanlah sendiri." Ken menjauhkan tangannya dari istrinya tersebut. Mereka berdua mengikuti penjaga villa menuju ke kamar yang telah mereka siapkan untuk kedua majikannya.
Saat pintu kamar terbuka, hal serupa terulang kembali. Banyak sekali kelopak bunga mawar yang bertaburan di sana. Alana sangat menyukainya, ia menghirup dalam-dalam aroma bunga mwar segar yang melingkupi kamar itu. Penjaga villa meletakan barang-barang yang ia bawa ke dalam kamar itu dan berpamitan untuk pergi dari sana.
Alana mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ia menyoroti sekitar kamar itu. Lalu ia tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong.
"Sayang kau kenapa?" tanya Ken yang ikut mendudukan tubuhnya di samping Alana. Alana hanya menggeleng kepalanya.
***
Malam harinya,
Ken menutup pintu jendela kamar agar udara malam yang dingin tidak menyusup masuk ke dalam.
Alana hanya berdiam diri sembari menatap suaminya dari atas tempat tidur.
Ken tersenyum, ia merangkak ke atas tempat tidur dan menghampirinya.
"Tidurlah, di sini." Ken menyelonjorkan kakinya. Menuntun kepala Alana supaya mau tidur di pangkuannya. Tangannya mengusap-usap kepala Alana menunggunya supaya terlelap tidur, namun kedua mata istrinya itu masih terjaga dengan tatapan kosong. Ken bisa menerjemahkan, bahwa banyak sekali kesedihan yang masih tersirat kedua bola mata itu.
Kesunyian malam itu, membuat Alana kembali mengingat masa-masa tersulit dalam hidupnya bagaimana dirinya sempat terluntang-lantung di jalan berusaha mencari uang untuk pengobatan ayahnya. Bagaimana dirinya rela dipermalukan oleh teman-teman maupun keluarga Pamannya sendiri. Bahkan dirinya sempat hampir saja dijual oleh orang yang ia anggap jahat, hanya demi berjuang mencari uang untuk kesembuhan ayahnya. Alana sama sekali tidak mendapat dukungan dari orang terdekat. selama ini Alana bertahan hanya karna ayahnya, ia selalu tersenyum dan menyembunyikan luka dari balik kata baik-baik saja hanya demi ayahnya. Air matanya tiba-tiba mengalir kembali.
Ken menghentikan aktivitasnya. "Sayang, kenapa?" ia mengusap air mata yang jatuh di pelupuk mata istrinya itu dengan kedua ibu jarinya.
Alana beranjak duduk menghadap Ken. Ia menatap suaminya dengan air mata yang masih mengalir bergantian membasahi pipinya. "Apa kau juga akan meninggalkanku? apa kau akan meninggalkanku seperti yang lainnya?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Kau ini bicara apa? mana mungkin aku meninggalkanmu!" jawab Ken. Ia kembali mengusap wajah istrinya tersebut mencoba mengeringkan air matanya namun tak mengering juga.
"Tapi semua orang meninggalkanku, mereka semua meninggalkanku, Daddy juga meninggalkanku, dan anak kita--" Alana berucap berat, air matanya semakin menderas tak terkendalikan. Yang ia ingat hal-hal yang menyakitkan yang pernah ia alami., hanya itu yang ada dipikirannya saat ini
"Alana cukup!"
Ken terbawa suasana, ia tak tega melihat istrinya seperti itu, ia memeluk erat tubuh Alana dan mencoba menenangkannya. "Tidak ada yang meninggalkanmu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan pernah..." tegasnya. Ken benar-benar bisa merasakan bagaimana menderitanya Alana selama ini.
***
Sudah hampir terhitung sepuluh hari ini Alana dan Ken tinggal di villa milik Papa Gio. Setiap hari mereka berdua tak lepas mengabari orang rumah, terutama Jesslyn yang setiap dua jam sekali melakukan panggilan video hanya ingin bertatap muka dengan Alana. Perempuan itu sangat menyayangi Kakak iparnya, hingga dirinya tak ingin melewatkan satu pun perkembangan akan kondisi kakak ipar sekaligus sahabatnya tersebut.
Setidaknya, dengan mengungsikan Alana di daerah pedesaan seperti ini, sedikit membuatnya lebih tenang dan membaik dari sebelumnya, karna di villa itu sangatlah jauh dari keramaian kota akan suara bising kendaraan yang berlalu lalang. Perhatian dan dukungan penuh yang Ken berikan kepada Alana, membuatnya merasa begitu berharga dan sedikit melupakan kesedihannya..
Ken begitu telaten merawat istrinya, seperti yang ia lakukan saat ini. mengobati luka di pergelangan tangan Alana yang sudah hampir mengering dan memberikan obat kepadanya secara rutin.
Ken terlihat mengambil sebuah sisir di dekat meja rias dan membantu menyisir rambut istrinya itu perlahan-lahan, karna ia tak mau melukainya. Alana hanya diam dan menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Ia begitu pasrah rambutnya di acak-acak oleh suaminya.
"Aku akan menguncir rambutmu..." Alana mengangguk mengiyakan apa kata suaminya.
Ken sedari tadi berpindah posisi ke kanan dan ke kiri membuat Alana begitu pusing saat melihatnya. ia ingin sekali menguncir rambut istrinya, namun ia begitu kesulitan. Rambut Alana yang semakin panjang dan lebat, membuatnya kelelahan mengikat dan melepas ikat rambut itu berkali-kali.
"Kau mau apakan rambutku?" tanya Alana.
"Aku ingin menguncirnya agar terlihat rapi, tapi kenapa sulit sekali." Ken mendesah frustasi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kemarikan ikat rambutnya..." Tangan Alana menadah kepada Ken. Ia segera memberikan ikat rambut itu kepada istrinya.
Alana merapikan rambutnya sendiri dengan kedua tangannya dan segera mengikatnya, kurang dari semenit, ia berhasil menguncir rambutnya dengan sangat rapi. Ken melongo dan mengernyit heran. Kenapa bisa secepat itu? pikirnya.
"Sudah..." jawab Alana.
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau bisa menguncir..." gerutu Ken.
Ken mengambil bedak dan hendak menaburkan bedak padat yang ia pegang itu di wajah Alana. "Aku tidak suka memakai bedak." tangan Alana menahan tangan Ken yang hendak mendaratkan bedak itu di wajahnya.
"Aku tidak mau memakai lipstik," tolak Alana.
"Sedikit saja..." bujuk Ken.
"Aku tidak mau, kau saja yang memakainya..." ucap Alana.
"Kau yang benar saja, mana mungkin aku memakai lipstik!" seru Ken. Bahkan membuat Alana tersenyum dibuatnya. Demi apapun, untuk pertama kalinya, Ken melihat kembali senyuman cantik di wajah istrinya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gimana konfliknya? banyak yang baper sampai ada yang berhenti baca, wkwkwkwk ...
sebelum aku menulis cerita, aku selalu menentukan terlebih dulu konflik apa yang akan aku buat untuk ceritaku, biar kek roller coaster gitcuuu wkwkwk.
Jadi aku terima resiko kalau ada yang ngebully, komentar kasar atau ada yang sampai nggak mau lanjut baca, meskipun kemarin sempet galaunya naudzubillah hahaha.
dibilang lebay dan lain sebagainya, I DONT CARE WHAT PEOPLE SAY. karna di sini aku ingin menuangkan apa yang ingin aku ceritakan. Mengajak kalian berimajinasi bersama.
Sebenernya sebelum menulis konflik ceritanya mau aku rombak sesuai keinginan kalian, yang adegannya bucen bucenan mulu, tapi apa daya. Di awal konfliknya uda berat, jadi aku mau menyelesaikan sesuai apa yang ingin aku tulis dan apa yang udah aku pikirkan saat di awal cerita.
Btw terimakasih banyak yang udah memberi tau kesalahan tulisan dan informasi, seperti dunia kedokteran dan lain sebagainya. terimakasih banyak, kalau ada penulisan dan informasi yang salah tolong ditegur ya wkwkwkwk.
Met wiken sampai ketemu hari senin.