My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Jangan mendiamkanku



Alana masih setia menemani Ken untuk membaca buku meskipun dirinya tak di hiraukan sama sekali oleh suaminya tersebut. Ken terlihat sibuk membolak-balikan setiap halaman yang ada di buku itu.


"Cepat sekali membacanya," gumam Alana sambil meliriknya.


Tak lama kemudian, Ken menutup bukunya dan beranjak berdiri. ia mengembalikan buku itu ke tempat asalnya. lalu, ia pergi meninggalkan perpustakaan itu tanpa mengajak Alana ataupun berbicara dengannya.


"Astaga, dia ini kenapa?" gumam Alana.


"Ken, tunggu ..." Alana segera mengikutinya dari belakang. Ken berjalan dengan  cepat untuk masuk ke dalam kamar dan sesegera mungkin, ia  merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang begitu empuk. rasanya ia merindukan sekali kamar miliknya itu. Ken memejamkan kedua matanya saat di rasa Alana hendak mendekatinya.


"Ken..." panggil Alana. namun, Ken hanya diam saja. Alana menghela napas dengan kasar. ia hendak naik ke atas ranjang ingin mendekati  Ken. namun ia urungkan karna teringat sesuatu.


"Oh, iya. aku harus membuatkan Jesslyn dan Kimmy susu coklat." gumam Alana.


"Ken, aku tinggal ke dapur ya untuk membuatkan Jesslyn susu coklat," pamit Alana. mulut Ken sama sekali tak bergeming untuk mengiyakan. hal itu membuat mulut Alana semakin menggerutu kesal. Ken membuka kedua matanya dan melirik ke arah Alana yang berjalan keluar meninggalkan kamar itu.


"Menyebalkan!" gerutu Ken.


Suara getar ponsel yang bersentuhan dengan meja terdengar dengan sangat jelas. Ken segera meraih ponsel miliknya tersebut. di layar ponsel itu tertera satu pesan singkat yang baru saja masuk dari David.


Ken, bagaimana rencana liburan kita? ~ David.


Terserah ~ Ken.


Jadwalkan segera! atau bagaimana jika kita pergi lusa? ~ David.


Terserah ~ Ken.


Jawabanmu sungguh menjengkelkan hati! ~ David.


Ayolah, Ken. ~  David.


Baiklah, lusa. ~ Ken.


Kita berangkat hari jum'at dan minggu kembali. ~ David.


Yes. ~ Ken.


Ken mengakhiri obrolan pesan singkat bersama sahabatnya tersebut. ia meletakan kembali ponsel itu ke tempatnya semula.


***


Di dapur,


Alana mengambil 2 gelas kosong dari dalam laci. ia menunggu susu coklat yang saat ini masih ia panaskan di dalam panci dengan kobaran api kecil yang menyala sempurna dari atas kompor.


"Kenapa dengan Ken? kenapa dia tiba-tiba mendiamkanku?" gumam Alana sambil memanyunkan wajahnya.


"Apa dia marah karna aku tidak memperbolehkannya untuk makan makanan tadi? tapi tidak mungkin jika dia marah karna hal itu." pertanyaan - pertanyaan itu membuat Alana semakin pusing.


"Ah, biarkan saja, aku akan mendiamkannya juga!" imbuhnya.


Sunyi ...


"Tapi, aku tidak bisa jika mendiamkan Ken..." Alana menggertak-gertakan kakinya di lantai yang ia pijaki saat ini.


"Rasanya aku ingin sekali mengacak-acak wajahnya. lalu ku gigit hidungnya hingga putus! menyebalkan! menyebalkan!" umpat Alana.


"Siapa yang menyebalkan?" suara Kimmy tiba-tiba mengejutkan Alana.


"Kimmy, kau selalu saja mengagetkanku!" Alana memegangi jantungnya yang ia rasa hendak terlepas dari tempatnya.


"Siapa yang menyebalkan? aku?" tanya Kimmy.


"Iya, kau menyebalkan!" saut Alana. tangannya kini di sibukan mengangkat panci yang berisi susu coklat panas itu dan memindahkan ke dalam dua gelas kosong yang sudah ia siapkan tadi.


"Di mana Jesslyn?" tanya Alana.


"Di kamar, dia mau tidur!" jawab Kimmy.


"Ini susu coklat untukmu dan Jesslyn." Alana menyodorkan dua gelas yang berisi susu coklat itu.


"Untukku?" tanya Kimmy. Alana mengiyakannya. Kimmy segera meneguk susu miliknya.


"Kimmy itu masih panas!" ujar Alana.


"Tidak masalah... air mendidih dari atas kompor saja aku minum!" saut Kimmy dengan mulut yang kepanasan. ia meniup dan meneguk susu itu perlahan-lahan hingga habis tak tersisa dari dalam wadahnya.


"Sudah habis..." Kimmy mengusap mulutnya yang masih basah layaknya anak kecil.


"Aku akan memberikan susu ini  untuk Jesslyn," ucap Kimmy.


"Iya, cepatlah sana!" perintah Alana. Kimmy pun segera pergi dari dapur dan pergi ke kamar Jesslyn untuk memberikan susu coklat hangat itu.


Sedangkan Alana, Ia masih berada di dapur. ia mendudukan tubuhnya di salah satu kursi meja makan. salah satu tangannya menumpu dagu runcingnya, " Malas sekali kembali ke kamar... Ken pasti masih mendiamkanku." bibir Alana menggerutu.


"Alana... kau masih di sini?" Kimmy terlihat masuk kembali ke dalam  dapur dengan membawa sebuah gelas kosong di tangannya.


"Iya, kenapa kau cepat sekali? jangan bilang, kau yang meminum susu coklatnya?" tanya Alana.


"Tidak, aku tidak meminumnya. Jesslyn yang meminumnya, lalu dia tidur. dia memarahiku, aku tidak boleh mengganggu tidurnya," jawab Kimmy sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dia selalu saja memarahiku. kalau aku yang memarahinya dia melototiku seperti ini!" gerutu Kimmy sambil meragakan apa yang sedang ia ucapkan. bahkan, Alana yang merasa  kesal akan sikap Ken, di buat tertawa oleh tingkahnya.


"Sudahlah, ayo duduklah kemari!" perintah Alana. Kimmy meletakan gelas kosong yang ia pegang di atas meja. lalu, mendudukan tubuhnya di samping Alana.


Kimmy memperhatikan raut wajah Alana yang terlihat tak bersemangat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kau kenapa? apa ada masalah?" tanya Kimmy. Alana mengganggukan kepalanya.


"Aku bingung... Ken tiba-tiba mendiamkanku," jawab Alana dengan suara melasnya.


"Kenapa bisa Kakak Ken mendiamkanmu?" tanya Kimmy sambil memiringkan kepalanya.


"Ya mana ku tau. kalau aku tau mana mungkin aku bingung seperti ini!" saut Alana.


"Kenapa tidak kau rayu saja?" tanya Kimmy.


"Bagaimana merayunya?" tanya Alana.


"Peluk saja yang erat... erat sekali seperti ini." Kimmy memeragakan apa yang saat ini ia tuturkan, "Hati seseorang akan luluh jika di peluk," kata Kimmy seakan penuh keyakinan.


"Benarkah? kata siapa?" tanya Alana.


"Kataku baru saja!" Kimmy melebarkan senyumnya.


"Memangnya, kau pernah mencobanya?" tanya Alana.


"Tidak pernah," Kimmy menggeleng-geleng  kepalanya.


"Lalu kenapa kau menyarankanku seperti itu!" seru Alana dengan kesal.


"Ya, kan aku hanya menyarankan saja. tidak ada salahnya kan kau mencobanya!" perintah Kimmy.


"Nanti kalau aku memeluk Ken, dia masih  marah bagaimana?" tanya Alana.


"Tidak akan, ayo cobalah! aku akan menunggumu di depan pintu kamar. jika Kak Ken memarahimu atau menyakitimu kau berteriak saja, aku pasti masuk dan akan menolongmu! lalu aku akan memarahi Kakak Ken habis-habisan." ujar Kimmy dengan begitu hebohnya.


"Memangnya kau berani memarahi Ken?" tanya Alana.


"Aku mana berani memarahinya," jawab Alana.


"Kau saja istrinya tidak berani. apalagi aku!" saut Kimmy.


"Lalu kenapa kau bilang mau memarahinya habis-habisan? dasar bodoh!" seru Alana.


"Kalau Kakak Ken benar-benar menyakitimu, aku pasti akan memarahinya. ayo cobalah! tidak baik jika suami istri tidak bertegur sapa lama-lama!" tutur Kimmy.


"Apa kau yakin?" tanya Alana dengan ragu. Kimmy menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Ayo, Alana cobalah!" Kimmy beranjak berdiri dan menarik - narik tangan Alana. Alana pun terpaksa mengiyakannya. ia mengikuti Kimmy yang masih menarik tangannya menuju ke kamar.


"Ayo cepat masuklah! aku akan menunggu di sini. kalau ada apa-apa berteriaklah!" perintah Kimmy.


"Baiklah..." Alana segera masuk ke dalam kamar. kemudian, menutup rapat pintu itu dan menguncinya.


Ken yang kala itu melihat Alana masuk ke dalam kamar. ia berpura-pura memejamkan kedua matanya kembali.


"Lihatlah, dia sengaja  berpura-pura tidur!" gumam Alana dengan kesal. ia mendekati Ken dan merebahkan buhnya di samping suaminya tersebut.


"Ken..." Alana mencoba melingkarkan tangannya di dada Ken dan menatap wajah tampannya itu.


"Aku tau kau berpura-pura tidur," ucap Alana ia mengusap lembut wajah Ken. namun Ken hanya diam saja.


"Bangunlah. kalau kau tidak bangun aku akan menarik semua bulu hidungmu!" seru Alana. namun Ken masih diam saja tak menghiraukan celotehannya. merasa frustasi, Alana semakin mengeratkan pelukannya.


"Ken.. jangan mendiamkanku seperti ini..." Alana mengeratkan pelukannya menuruti apa yang di katakan oleh Kimmy tadi. tangannya menggoyang-goyangkan tubuh Ken berharap suaminya itu segera membuka kedua matanya dan mau berbicara dengannya. salah satu mata Ken terbuka dan mengintip Alana.


"Sayang... ayo bangunlah!" ucap Alana.


"Kau ini sungguh berisik sekali!" Ken seketika membuka kedua matanya dan menatap dingin Alana.


"Kau kenapa mendiamkanku?  aku punya salah apa?" tanya Alana. ia berpindah posisi menindih sebagian tubuh Ken.


"Bicaralah!" pinta Alana. namun Ken masih diam dan menatapnya.


"Ya sudah, jika kau masih tidak mau berbicara." Alana menjauhkan tubuhnya dan hendak turun dari tempat tidur untuk keluar dari kamarnya.


Jeduk


"Awww..." Alana berteriak kesakitan saat tubuhnya terbentur lantai dengan sangat keras.


"Alana..." Ken segera beranjak bangun dan turun menghampiri istrinya tersebut.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ken dengan panik.


"Apanya yang baik? kau tidak melihat  aku terjatuh!" ujar Alana.


"Ayo berdirilah. makanya hati-hati, kalau kau terluka bagaimana?" Ken mencoba membantu Alana untuk berdiri.


"Tidak usah!" seru Alana.


"Kenapa kau jadi yang marah? ayo!" Ken masih membantu Alana untuk berdiri. namun, Alana menolaknya karna masih kesal terhadap suaminya itu. tak banyak bicara, Ken mengangkat tubuh Alana dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


"Mana yang sakit, katakan? apa lututmu sakit?" Ken memeriksa kedua lutut Alana secara bergantian.


"Hatiku yang sakit!" seru Alana sambil mengerucutkan bibirnya. Ken menghentikan aktivitasnya. ia membungkam dan hanya menatap Alana.


"Kau tiba-tiba mendiamkanku... aku tidak merasa memiliki salah apapun kepadamu. jika aku memiliki salah katakan biar aku bisa memperbaiki kesalahanku! jangan malah mendiamkanku seperti ini!" tutur Alana. kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


"Kau tidak punya salah! ayo kita istirahat." Ken mencoba menarik tangan Alana.


"Tidak mau! katakan dulu, kalau memang aku tidak punya salah  kenapa kau tiba-tiba mendiamkanku?" tanya Alana namun Ken hanya diam saja.


"Kenapa kau diam saja. bicaralah, Ken! apa kau marah karna aku tidak memperbolehkanmu makan makanan pedas tadi?" tanya Alana.


"Ken... aku tidak mengizinkanmu makan makanan pedas. karna kau memiliki alergi, aku tidak mau kau kenapa-kenapa." imbuh Alana dengan rasa khawatirnya.


"Dia tidak boleh tau kalau aku kesal karna dia terlalu asik mengobrol dengan David," gumam Ken dalam hati.


"Sudah lupakan saja, ayo kita istirahat." Ken menarik tubuh Alana mengajaknya untuk tidur.


"Aku tidak mau tidur kalau kau belum menjawabnya!" seru Alana.


"Apanya yang mau di jawab? kau mau aku marah?" tanya Ken.


"Tidak mau..." Alana menjawab dengan suara manjanya membuat Ken begitu gemas saat mendengarnya.


"Ya sudah, ayo tidurlah..." Ken memeluk Alana bahkan semakin mengeratkannya. indera penciumannya mengendus aroma harum yang berasal dari rambut Alana. dan kini, ia memindahkan indera penciumannya itu di ceruk belakang leher istrinya tersebut.


"Kenapa tubuhmu  jadi kurus kering seperti ini?" tanya Ken yang tangannya kini bergerilya meraba sebagian tubuh Alana.


"Apanya?" tanya Alana. tanpa menjawab Ken mengalihkan tangannya menyusup ke dalam balutan baju yang di kenakan istrinya tersebut.


"Ken jauhkan tanganmu!" teriak Alana mencoba menjauhkan tangan Ken dari tubuhnya.


"Ken..." Alana semakin mengeraskan suaranya saat Ken menarik paksa bajunya itu. bahkan, dalam satu tarikan saja baju itu seketika  terlepas dari tubuh sang pemiliknya.


^


Kimmy yang kala itu duduk berselonjor di bawah lantai depan kamar Ken. ia mendengar jelas suara teriakan  Alana.


"Alana berteriak?  jangan-jangan Kakak Ken memarahinya. atau menyiksanya?" kedua mata Kimmy membulat dengan panik. ia beranjak berdiri dan mengetuk pintu kamar itu.


"Alana... apa kau baik-baik saja!" teriak Kimmy sambil menggedor pintu kamar itu.


"Alana..." Kimmy semakin menggedor keras pintunya.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Jasson yang tiba-tiba berdiri di belakang Kimmy. bahkan membuat wanita itu sedikit terkejut di buatnya.  bukankah Jasson tidur di rumah Harry? lalu kenapa dia pulang? pertanyaan itu terlontar di pikiran Kimmy.


"Jasson, kau pulang?" Tanya Kimmy.


"Jasson, tolong! Alana di siksa oleh Kak Ken di dalam. Alana tadi berteriak-teriak, Kak Ken menyiksanya..." Kimmy berucap dengan begitu panik. Jasson hanya diam dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Jasson... kenapa kau diam saja. ayo tolonglah Alana..." Kimmy menggoyang-goyangkan lengan Jasson. namun, Jasson tetap diam saja.


"Ah,  kau ini tidak ada gunanya!" gerutu Kimmy. ia kembali menggedor - gedor pintu kamar Ken dan Alana.


"Kak Ken... Alana..."


"Kak Ken, tolong buka pintunya! tolong jangan menyiksa Alana. buka pintunya!" Kimmy berteriak mengencangkan suaranya. tiba-tiba tangan Jasson membekap mulut wanita itu dengan tangannya dan menggeret paksa tubuhnya untuk pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


.


Sabtu dan Minggu Nona slow update ya, soalnya lagi  ada urusan di luar kota. terimakasih ^_^