My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Kau tampan sekali



Bi Ester mengetuk pintu kamar Ken yang sedang terbuka lebar. wanita paru baya itu terlihat sedang membawakan majikannya secangkir kopi dan juga beberapa biskuit.


"Silahkan, Tuan muda." Bi Ester meletakan kopi itu persis di depan meja yang saat ini Ken duduki.


"Apa Alana masih di kamar Daddy-nya, Bi?" tanya Ken. Bi Ester mengiyakannya. Ken berterimakasi kepada pembantunya tersebut dan membiarkannya pergi keluar dari kamarnya itu.


Seusai Alana menengok Holmes dan memastikan Ayahnya tersebut beristirahat. Alana kembali ke dalam kamarnya. dan  baru saja ia masuk ke dalam kamar, namun,  kedua mata Ken tak lepas menyambutnya dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan. bahkan, kedua mata laki - laki  itu mengikuti kemana gerak tubuh Alana melangkah.


"Kenapa dia menatapku seperti itu?" gumam Alana dengan perasaan yang  tidak nyaman dan risih saat suaminya memandanginya seperti itu.


"Ehm, kau belum tidur?" tanya Alana, namun Ken hanya diam saja dan masih tak bergeming akan posisinya menatap Alana.


"Sialan, kenapa dengan dia?" Alana menggerutu dalam hati. ia tak melanjutkan pertanyaannya. ia mendekati rak buku dan mengambil salah satu buku yang terjajar rapi di sana. kini ia duduk dengan menyelonjorkan kakinya di atas tempat tidur. sesekali, ia melirik ke arah Ken. tetap saja kedua mata suaminya itu tak lepas memandanginya.


"Kenapa dengannya? apa aku ada yang salah?" Alana menutupi wajahnya dengan buku yang sedang ia baca. tak jarang, ia menaik turunkan buku yang ia pegang hanya untuk melihat Ken.


Bahkan, pemandangan yang sama di kedua matanya. sedari tadi, Ken menikmati kopinya dan tak henti memperhatikan Alana yang sedang membaca buku. demi apapun, Alana merasa begitu  risih di buatnya.


"Kenapa dari tadi dia menatapku seperti itu? aku tidak suka!" Alana kembali melirik ke arah Ken.


"Lihatlah, ekspresi wajahnya, itu." Ken menahan tawanya.


"Kenapa kau dari tadi memandangiku seperti itu?" Alana yang mulai tak tahan seketika langsung bersuara.


"Siapa yang memandangimu?" Ken bertanya balik hingga membuat Alana kesal.


"Kau pikir aku buta? jelas - jelas kau memandangiku dari tadi!" Alana bersungut kesal. Ken menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum miring hingga membuat Alana keheranan, Ken mengambil lagi cangkir kopi miliknya dan meneguk sisa kopi itu hingga habis.


"Perasaanku jadi tidak enak. lebih baik aku tidur sekarang." Alana dengan cepat meletakan bukunya di atas meja dan hendak meraih selimut untuk membalutkan ke tubuhnya. namun, sialnya, Ken terlebih dulu menghampirinya dan segera menarik selimut itu.


"Ken, kemarikan selimutku! aku mau tidur!" Alana menarik balik selimut itu. namun, rasanya percuma.


"Kenapa terburu-buru tidur?" tanya Ken.


"Aku sangat mengantuk! kemarikan selimutku!"  Ken malah membuang selimut itu ke sembarang tempat dan semakin mendekati Alana. kedua matanya kembali memandangi Alana bahkan kali ini dengan jarak yang sangat dekat.


"Jangan memandangiku seperti itu! aku tidak suka!" seru Alana.


"Aku akan terus memandangimu seperti ini! jika kau menyebalkan!" ujar Ken yang kini sedang berbisik di telinga Alana dengan posisi tubuh yang sedikit menindihnya.


"Aku menyebalkan apa?" Alana bertanya dengan kebingungan.


"Apa karna tadi aku menginjak kakimu? kan tadi aku sudah bilang. aku tidak sengaja!" seru Alana. namun, Ken hanya diam saja.


"Ayo bicaralah, aku menyebalkan apa?" tanya Alana.


"Kenapa kau masih bertanya tentang Valerie?" pertanyaan Ken membuat mulut Alana membungkam.


"Astaga, pasti Jesslyn yang memberitaunya. ahhhhhh Jesslyn." Alana bergumam dalam hati sembari menggigit bibir bawahnya.


"Si-siapa yang bertanya tentang Valerie? aku tidak bertanya!" bantah Alana. kedua matanya beralih ke sembarang arah menunjukan bahwa dirinya sedang berbohong. namun Ken hanya diam dan menatapnya. Alana melirik kembali.


"Baiklah! aku memang bertanya tentang Valerie kepada Jesslyn. aku hanya ingin tau saja. apa aku salah? kalau memang salah maafkan aku! aku tidak akan bertanya lagi!"


"Kau sudah mendapatkan jawaban dari Jesslyn?" tanya Ken. Alana menganggukan kepalanya dengan ragu.


"Kalau kau sudah tau jawabannya sekarang kau mau apa?" tanya Ken.


"Aku hanya ingin tau saja hubunganmu dengan dia, Ken. waktu di rumah singgah, semua orang membicarakan Valerie. mereka semua Memujinya, mereka seakan tidak suka melihatmu menikah denganku. bahkan temanmu tadi juga berbicara hal yang sama. aku hanya ingin tau saja tentang Valerie. jika memang kau memiliki hubungan dengan wanita itu. tidak apa-apa! aku akan menjaga jarak denganmu." Alana berucap dengan suara yang sudah memberat seakan dadanya sedang menumpu sesuatu. bahkan ia mencoba menahan air matanya hendak teejatuh itu. Ken memperhatikan wajah Alana itu dan mengusap lembut kepalanya.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, aku tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun. kecuali dirimu!" Kedua mata Ken bergantian menatap kedua mata Alana yang sayu itu.


"Dan aku sangat tidak suka jika ada seseorang yang tidak mempercayai setiap perkataanku! seharusnya kau bisa membedakan mana orang yang sedang bertutur kata dengan serius dan mana yang sedang bercanda!" imbuhnya.


"Maafkan aku." Alana menghindari tatapan mata Ken yang berbicara dengan penuh keseriusan.


"Aku tidak mau kau menanyakan hal ini lagi." suara Ken terdengar begitu datar di telinga Alana. Alana pun menganggukan kepala tanpa bersuara.


Ken mengusap wajah Alana dengan punggung telapak tangannya. ia mengangkat dagu Alana dan mencium bibir berwarna merah jambu dan tipis itu. ia memberi lumatan kecil dan semakin mininnndih tubuh Alana. namun, saat ciuman di antara mereka semakin memanas. suara ketukan pintu membuyarkan aktivitas mereka berdua.


"Kakak..."


"Alana..."


"Ken, ada Jesslyn." Alana mendorong pelan tubuh Ken. ia merapikan bajunya yang sedikit berantakan dan segera beranjak turun dari tempat tidur. Ken hanya menggerutu dan bersungut kesal karna merasa terganggu.


"Kenapa anak itu mengganggu saja," gerutu Ken sembari beranjak turun dan mengikuti Alana dari belakang.


Alana membuka pintu kamarnya, dan saat pintu terbuka, terlihat Jesslyn sedang berdiri di sana dengan memeluk sebuah bantal di tangannya.


"Jesslyn, ada apa?" tanya Alana. begitu juga dengan Ken, ia menanyakan hal sama kepada adik kesayangannya.


"Kakak... Alana... aku tidak bisa tidur. apa aku boleh  tidur bersama kalian?" Jesslyn memasang wajah yang memelas, berharap Alana dan Kakaknya mengiyakan permintaannya.


"Tidak boleh!"  saut Ken.


"Boleh!" Alana menimpali dan mengernyitkan dahinya menatap Ken.


"Tidak boleh! biar dia tidur sendiri!" seru Ken.


"Biarkan Jesslyn tidur di sini bersama kita!" saut Alana.


"Ayo, Jesslyn." Alana menarik tangan Jesslyn.


"Alana!" Ken menatap tajam kedua mata istrinya itu.


"Tidak setiap hari, Ken! kasian dia!" saut Alana. Ken sejenak menatap Alana kemudian berganti menatap Jesslyn yang begitu memelas. karna, memang, sejak dari kecil hingga sekarang. jika Jesslyn tidak bisa tidur, ia selalu mendatangi kamar Mama Merry untuk tidur bersamanya.


"Ya sudah!" Ken pun mengiyakannya. ia mendahului mereka berdua dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Alana dan Jesslyn ikut merebahkan tubuhnya. Alana tidur di posisi tengah  memeluk Jesslyn dan membelakangi Ken.


Ken menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit kesal karna hasratnya tadi belum sempat terlampiaskan sepenuhnya.


"Ayo Jesslyn, tidurlah!" perintah Alana.


"Oh, iya. Alana, apa perutmu ini sudah ada isinya?" tanya Jesslyn yang kini tangannya memegang perut datar Alana. Ken pun ikut mendengarkan percakapan mereka.


"Ada, batu!"


"Sudah tidurlah! yang kau tanyakan ada - ada saja!" seru Alana dengan memeluk erat tubuh adik iparnya itu. Jesslyn mengiyakan perintah Alana meskipun bibirnya sedikit menggerutu.


****


mereka berdua meninggalkan gadis itu di rumah sendirian.


Ken mengemudikan mobilnya menuju ke barbershop di mana dirinya berlangganan setiap kali mencukur rambutnya. namun, saat mereka berdua hendak masuk ke dalam barbershop itu. tiba-tiba langkah kaki Alana terhenti dan berbalik badan seakan hendak menghindari seseorang.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Kita cari barbershop lain saja, ya." Alana menarik tangan Ken hendak mengajaknya pergi ke sana.


"Kita sudah sampai di sini. dan kau mengajak mencari barbershop lain? kau yang benar saja!" seru Ken.


"Aku tidak mau ke barbershop lain karna ini barbershop langgananku! ayo cepat masuk!" Ken berjalan mendahului Alana untuk masuk ke dalam. namun, langkah kaki Ken terhenti saat dirinya melihat seseorang yang tak asing di sana. kedua matanya menatap tajam seseorang yang kini sedang ada di hadapannya. seakan ada rasa ketidak sukaan yang terlukis di raut wajah Ken saat ini. karna, seseorang yang di tangkap oleh pandangan kedua mata Ken saat ini tak lain ialah Darrel. jelas saja, Alana tadi sempat menghindar. rupanya, Darrel  juga hendak mencukur rambutnya di tempat yang sama dengannya. karna, memang, barbershop tempat Ken berlangganan mencukur rambut saat ini adalah barbershop dengan pelayanan  terbaik di kotanya. terlebih lagi, yang di pekerjakan ialah para barber yang sangat handal.


di sana juga terlihat Lecya yang sedang berdiri di samping Darrel dengan kedua mata yang menatap tajam Alana.


"Alana, ayo..." panggil Ken seraya melirik ke belakang. Alana lebih mendekatkan tubuhnya kepada Ken.


"Alana..." Darrel menyapa Alana dengan suara terendahnya. namun Alana hanya diam saja, Ken menarik tangan Alana dan menggandengnya.


"Perempuan tidak tau diri!" suara Lecya tertangkap dengan jelas  di telinga Alana dan Ken. Alana hanya bisa menahan emosinya. ia tidak mau mengurusi hal-hal yang menurutnya tidak penting. terlebih lagi di tempat umum seperti ini. tapi, tidak dengan Ken! Ken yang merasa kesal akan ucapan Lecya yang secara terang-terangan di tujukan kepada istrinya, membuat dirinya hendak menghampiri Lecya. namun, Alana menghentikan suaminya karna tidak ingin mencari masalah.


Ken pun menurut dengan Alana. ia dan Alana melewati Darrel dan Lecya begitu saja. dan kedua mata Darrel tak henti mengikuti langkah kaki Alana bergerak hingga membuat Lecya berteriak kesal kepadanya.


"Kau jangan macam-macam!" ujar Lecya kepada Darrel.


"Siapa yang macam-macam?" seru Darrel.


"Lebih baik kita cari barbershop lain  saja," ucap Lecya.


"Aku tidak mau! kalau kau mau mencari barbershop lain, carilah saja sendiri!" Darrel berlalu meninggalkan Lecya dan segera melanjutkan niatnya untuk mencukur rambut.


***


Alana duduk di kursi tunggu, ia menunggu Ken yang hendak memulai di cukur rambutnya oleh salah satu  Barber di tempat itu. dan terlihat Darrel juga sedang mencukur rambutnya. laki - laki itu duduk  dari  jarak satu orang yang ada di sebelah kiri Ken.


"Mau style bagaimana, Tuan Ken?" tanya barber tersebut kepada Ken.


"Tidak tau, terserah istriku saja. coba tanyakan kepadanya!" perintah Ken.


"Ehm, istri anda yang mana, Tuan?" tanya barber itu sambil menoleh ke arah beberapa wanita yang sedang duduk di kursi tunggu. Ken mengeraskan suaranya untuk memanggil Alana. bahkan membuat Darrel menoleh ke arah sana. Alana segera menghampiri suaminya tersebut.


"Ada apa?" tanya Alana.


"Katakan, kau mau model rambutku yang seperti apa?" tanya Ken.


"Kenapa aku? kau kan yang punya rambut!" seru Alana.


"Tapi, kau, kan. yang menyarankanku untuk datang ke sini. ayo cepat katakanlah!" perintah Ken.


"Ehmmm,"


"Bagaimana Nona?" tanya Barber itu seakan tak sabar karna masih banyak sekali  pelanggan yang mengantri di sana.


"Terserah saja!" ujar Alana.


"Aku tidak suka jawaban terserah! cepat kau mau model rambutku seperti apa?" seru Ken dengan kesal seraya menatap Alana dari pantulan cermin yang ada di hadapannya saat ini.


"Ya sudah, Tuan. kau pangkas saja semua rambutnya jangan di sisakan sedikitpun," ujar Alana  hingga membuat Ken membulatkan kedua matanya.


"Bicara sembarangan!" seru Ken dengan kesal. Alana terkekeh membayangkan jika tampilan rambut  suaminya itu botak.


"Tertawalah, tertawa saja sepuasmu! lihat saja kau nanti!" gerutu Ken. Alana seketika menghentikan tawanya.


"Siapa yang tertawa?" Alana memperhatikan rambut suaminya dengan seksama. lalu, ia memberi tau kepada tukang cukur model yang sekiranya pantas untuk wajah garang suaminya tersebut. Alana berdiri di samping Ken melihat secara langsung barber itu merapikan rambut suaminya. sementara Darrel tak lepas memperhatikan Alana dengan tatapan seakan menyesal dan iri.


***


Ken berdiri di depan cermin dan memperhatikan tampilan rambut barunya yang baru saja selesai di pangkas rapi  oleh barber itu. setidaknya, tampilannya kini berubah jauh lebih rapi dan tampak muda dari sebelumnya.


"Kenapa aku jadi jelek seperti ini?" gumam  Ken sembari menatap potongan rambut barunya dengan begitu seksama. Ken seketika menghampiri Alana.


"Alana, lihatlah... kenapa setelah cukur rambut, aku jadi jelek seperti ini?" tanya Ken.


"Jelek apanya? kau sangat tampan sekali!" Alana merapikan rambut Ken menggunakan tangannya. bahkan, membuat perhatian Darrel tersita karenanya.


"Jelek seperti ini kau bilang tampan? apa kau menghinaku?" seru Ken.


"Tidak! kau benar - benar tampan! Ayo kemarilah..." Alana menarik tangan Ken dan kembali mendekat ke arah cermin.


"Lihatlah, jelek apanya? kau sangat tampan. aku tidak berbohong!" Alana meyakinkan Ken dengan memegang wajahnya dan menghadapkannya lebih jelas di depan cermin. tiba-tiba Ken melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman di sana.


"Kenapa kau tersenyum?" Alana mengernyitkan dahinya dengan kesal.


"Aku sudah tau dari dulu aku memang tampan. aku hanya memastikannya saja!  untung baru saja kau bilang tampan. coba saja kau tadi bilang  jelek. aku pasti akan menyuruhmu pulang  jalan kaki hingga ke rumah!" ujar Ken.


"Dasar menyebalkan!" Alana hendak menggigit Ken. namun seketika langsung menjauhkan tubuhnya.


"Mau menggigitku?"


"Tidak! siapa juga yang mau menggigitmu, ayo pulang!" Ken mengiyakannya. mereka berdua segera pergi sari sana. namun, Ken yang tidak suka akan Darrel yang sedari tadi memperhatikan Alana. dengan sengaja ia melingkarkan tangannya di pinggang Alana dan berlalu pergi meninggalkan barbershop itu.


.


.


.


.


.


.


.


Thor visual Alana dan Ken dong.


Maaf ya, kalau aku cantumin gambar akan membuat proses review menjadi lama sekitar 2 harian.


jadi aku gak cantumin gambar.