My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Semakin bingung



Alana masih menundukan pandangannya ke bawah seraya menggigit bibirnya dengan perasaan takut akan melihat Ken.


"Ehm, apa Jesslyn ada,Tuan?" tanya Alana tanpa melihat Ken.


"Dia masih tidur," saut Ken, ia berlalu meninggalkan Alana masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu itu terbuka. Alana pun masuk ke dalam rumah mengikuti Ken, lalu, tiba - tiba Ken berbalik badan hingga membuat Alana terkejut.


"Tutup pintunya," perintah Ken dengan manajamkan kedua matanya. Alana mengiyakannya dan cepat - cepat menutup pintu itu, kemudian ia kembali mengikuti Ken dari belakang, saat Ken hendak masuk ke dalam kamarnya, tiba - tiba ia terkejut melihat Alana yang masih saja mengikutinya.


"Kau sedang apa mengikutiku?" tanya Ken.


"Aku ingin menemui Jesslyn," ucap Alana.


"Ini kamarku, bukan kamar Jesslyn, Jesslyn ada di kamarnya, jadi temui dia di kamarnya!" seru Ken.


"Tapi--"


"Tapi apa lagi?" tukas Ken.


"Aku tidak tau kamarnya Jesslyn, Tuan." kata Alana.


"Kemarilah, biar ku antarkan kau ke kamar Jesslyn," saut Jasson yang tiba - tiba sudah menghampiri Ken dan juga Alana. Jasson berjalan mendahului Alana, dan Alana berlalu meninggalkan Ken, mengikuti Jasson dari belakang menuju ke kamar Jesslyn. Ken hanya memperhatikan wanita itu dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Jasson menunjukan kamar Jesslyn kepada Alana. namun, pintu kamar itu terlihat terkunci saat Jasson hendak membukanya. Jasson pun mengetuk pintu itu berulang kali hingga tak lama kemudian Jesslyn membuka pintu itu dengan menguap, rambunya terlihat acak - acakan, rupanya memang Jesslyn baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kau berisik sekali, ada apa membangunkanku," seru Jesslyn dengan mengacak - acak rambutnya sembari menguap begitu lebar.


"Ini ada Alana," kata Jasson, Jesslyn mengucek kedua matanya yang buram dan ia melihat Alana sedang melebarkan senyuman kepadanya.


"Alana," sapa Jesslyn, ia tak segan memeluk Alana dengan begit erat.


"Ayo masuklah," ajak Jesslyn dengan menarik tangan Alana, namun Jesslyn menghentikan langkah kakinya dan berblik ke arah Jasson yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kenapa kau masih disini? apa kau mau mengganggu Alana?" ketus Jesslyn.


"Astaga, siapa juga yang mau mengganggu temanmu, ini aku mau pergi," saut Jasson berlalu pergi meninggalkan kamar Jesslyn. Jesslyn pun mengajak Alana masuk dan duduk di atas tempat tidur. Jesslyn berpamitan kepada Alana untuk mandi sebentar, dan Alana mengiyakannya. saat Jesslyn sedang berada di dalam kamar mandi, kedua mata Alana memperhatikan seluruh isi kamar Jesslyn, banyak sekali foto Jesslyn besama keluargannya yang terpajang di sana. Alana turun dari tempat tidur dan memperhatikan foto itu satu persatu.


tiba - tiba Alana meneteskan kembali air matanya, rasanya ia begitu iri melihat potret kebersamaan keluarga Jesslyn.


"Bahkan, aku tidak pernah foto bersama dengan Mami, Daddy dan juga Deven (adik Alana)" gumam Alana seraya menepis air matanya.


Meskipun dulu Alana kaya dan memiliki segalanya, tak banyak orang yang tau bahwa hidupnya tidak sebahagia yang orang lain kira. sampai sekarang, pun. Alana belum pernah menemukan jawaban kenapa Ayah dan ibunya selalu saja bertengkar bahkan untuk hal yang kecil. Alana tidak pernah menemukan kedamaian dalam rumahnya sejak dulu. Alana hanya bisa tersenyum getir.


"Alana." Suara Jesslyn mengagetkannya, Alana cepat - cepat menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Jesslyn.


"Kau menangis?" tanya Jesslyn.


"Tidak, siapa yang menangis. kau ini aneh," kata Alana dengan tertawa, Jesslyn menyipitkan kedua matanya melihat Alana yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Sudahlah lupakan saja, oh iya Alana, apa kau bisa memasak?" tanya Jesslyn.


"Tentu saja bisa," saut Alana.


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke dapur untuk memasak bersama," ajak Jesslyn,


"Ta-pi, kau kan masih sakit, Jess." kata Alana.


"Alana, aku baik - baik saja, ayolah." Jesslyn bergelayutan dengan memaksa Alana. dengan penuh semangat Alana  pun mengiyakannya. mereka berdua pergi ke dapur dan membongkar seluruh isi lemari es untuk mencari bahan - bahan makanan yang sekiranya bisa untuk di masak, bahkan sangking bersemangatnya, suara Jesslyn dan Alana terdengar begitu gaduh disana, gelak tawa mereka terdengar bersautan.


"Nona sedang apa? apa ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Molley yang sudah berdiri di belakang Alana dan Jesslyn.


"Eh, Bi Molley. tidak ada, Bi. tinggalkan kami berdua saja, kami ingin memasak sesuatu untuk makan malam nanti," tutur Jesslyn dengan senyum termanisnya.


"Jadi,  Bibi, hari ini tidak masak dong, Nona?" tanya Bi Molley.


"Iya, Bi. biar kami saja," kata Jesslyn. Bi Molley pun mengiyakannya dan permisi kembali ke dalam kamarnya yang ada di dekat dapur tersebut.


Kedua wanita itu kini memulai kesibukannya masing - masing untuk untuk menyiapkan bahan - bahan yang akan mereka masak. Alana terlihat memilah -  milah bumbu yang ada di dapur, namun ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari.


"Jesslyn, kenapa tidak ada cabai ataupun lada disini?" tanya Alana.


"Memang tidak ada," saut Jesslyn


"Karena, Papa dan Kakakku alergi cabai dan makanan pedas, jadi Mama dari dulu  tidak pernah masak makanan pedas," imbuh Jesslyn.


"Memangnya ada ya alergi cabai?" tanya Alana dengan penasaran.


"Ada, buktinya Papa dan Kakakku," saut Jesslyn.


"Oh ..." Alana membulatkan bibirnya.


"Jesslyn, kau duduk saja, ya. kakimu masih sakit kau perlu istirahat, biar aku saja yang memasaknya," tutur Alana.


"Baiklah, aku akan di sini sebagai tukang cicip," seru Jesslyn, hingga membuat Alana tertawa melihatnya. kemudian, Alana menyalakan kompor menggunakan api kecil untuk memasak Ikan, setelah ikan yang ia rasa sudah matang semua, Alana kini memasak sayur. sedangkan  Jesslyn, ia baru saja berpamitan  pergi ke kamar mandi, dan saat di tengah kesibukannya, Alana tak sengaja melihat Ken berada di dapur sedang menuang air putih di dalam gelas, Alana teringat akan sesuatu, ia dengan segera mengecilkan  api kompor yang masih menyala dan berjalan mendekati Ken.


"Tuan Ken, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," kata Alana. namun Ken hanya diam saja dan mulai meneguk air yang baru saja ia tuang ke dalam gelas.


"Ehm, Tuan. bolehkah aku meminta alamat rumah atau alamat kantor David?" tanya Alana. Ken melirik dan meletakan gelas itu di atas meja, ia sejenak menatap Alana dan tanpa berkata, Ken berlalu meninggalkan Alana.


"Tuan Ken," panggil Alana, namun Ken tetap saja tak menggubrisnya.


"Astaga, sombong sekali. padahal, aku hanya menanyakan alamat temannya, aku ingin bertemu dengan David, untuk mengucapkan terimakasih karna sudah membantu biaya pegobatan Daddy," gumam Alana.


"Ehm, tidak sedang apa - apa.. masakannya sudah hampir matang, ayo kita siapkan di meja makan," ajak Alana. Jesslyn dengan penuh semangat mengiyakannya, mereka berdua tak segan memindahkan makanan yang baru mereka masak di beberapa piring, kemudian menyajikannya di atas meja makan.


Dan saat menjelang malam, Jesslyn mengajak Jasson dan juga Ken untuk makan malam bersama, begitu juga dengan Alana. mereka berempat makan bersama di meja makan, tidak ada yang berbicara sama sekali waktu itu, mereka sibuk dengan aktvitas makan mereka.


"Bagaimana masakan Alana? enak, kan." Jesslyn bertanya kepada kedua saudaranya, namun keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaan Jesslyn.


"Kenapa tumben sekali, kalian tidak ada yang mengajakku berbicara?" tanya Jesslyn kepada Ken dan Jasson.


"Memangnya, sejak kapan kita pernah mengajakmu berbicara saat makan, kalau bukan dirimu dulu yang mengacau  mengajak kami berbicara," saut Jasson, dengan mengunyah makanan di mulutnya.


"Aku kan hanya tanya, bagaiman masakan Alana, tapi kalian malah diam saja," seru Jesslyn


"Jesslyn, sudah-lah," saut Alana.


"Mereka berdua sungguh menyebalkan, tapi semua masakanmu sangat  enak, Alana. biasanya kalau Kakak dan Jasson tidak suka dengan masakan orang lain, dia selalu memuntahkannya, tapi kau bisa  lihat sendiri kan, Alana.  Kakak dan Jasson menghabiskan makanannya," Heboh Jesslyn dengan menyengirkan senyumannya.


"Lihatlah, adikmu itu, Kak." Jasson menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Sudah-lah jangan di hiraukan, suka - suka dia bicara apa," saut Ken.


"Kalian membicarakanku, kan." seru Jesslyn dengan melototkan kedua matanya.


"Siapa yang membicarakanmu dasar gadis tengil," saut Jasson,


"Kau yang tengil--"


"Jesslyn, sudah! cepat habiskan makananmu," tukas Ken, Jesslyn mengiyakan perintah kakaknya dengan kesal.


tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu di depan rumah dan Bi Molley segera keluar ke depan untuk membuka-kannya. lalu, Bi Molley kembali ke dapur.


"Permisi, Tuan muda Ken. ada Tuan Ashley dan juga  Tuan David, di luar," kata Bi Molley. saat mendengar nama David, Alana langsung menaikan wajahnya melihat ke arah Bi Molley, Dan Ken meliriknya.


"Suruh saja mereka kemari, sekalian untuk makan bersama, Bi." Ken memerintah.


"Baiklah, Tuan." Bi Molley berlalu meninggalkan meja makan menemui David dan juga Ashley di ruang depan.


Ashley dan David. sesegera mungkin ke dapur untuk menemui Ken namun Ashley terkejut saat melihat Alana juga berada disana.


"Ken, ini  kan wanita yang di bar waktu itu, kan. sedang apa dia di sini? atau dia sekrang  menjadi simpananmu?" tanya Ashley dengan menunjukan jarinya kepada Alana, hingga membuat Alana menundukan wajahnya dan menelan makanan yang ada di mulutnya  dengan susah payah. Ken memperhatikan Alana yang sedang menunduk. rupanya David belum menceritakan semuanya kepada Ashley.


"Ashley, jaga cara bicaramu," tutur David.


"Tapi, dia--"


"Diamlah," seru David.


"Cepatlah kalian duduk dan makan bersama kita," ajak Ken.


"Kami sudah makan, tapi, kalau kau memaksa kami untuk makan lagi, kami tidak menolak." Ashley menyaut dengan tertawa  dan mendudukan tubuhnya di samping Jesslyn. Ken hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah kocak sahabatnya tersebut. lalu, David jga  mendudukan tubuhnya di samping Ken tepatnya di hadapan Alana.


"Hai Alana," sapa David dengan memasang senyuman termanisnya. Alana pun menyapa balik David. kini mereka semua melanjutkan makan malamnya, begitu juga dengan Ashley dan juga David, mereka berdua juga ikut makan bersama.


"David," panggil Alana,


"Iya ada apa, Alana," saut David.


"Ehm, aku mau berterimakasih," ucap Alana. David menyipitkan kedua matanya.


"Berterimakasih, untuk apa?" tanya David dengan kebingungan.


"Untuk pembiaya'an operasi Daddyku, kau kan  yang telah melunasinya. nanti, aku akan mengganti uangnya jika uangku sudah terkumpul," tutur Alana. seketika itu Ken melirik dan mendengarkan percakapan mereka berdua. tak terkecuali Jesslyn dan juga yang lainnya.


"Tunggu Alana," ucap David.


"Bukan aku yang membayar operasi ayahmu, memang, aku mau membantumu untuk membayar biaya operasi ayahmu. tapi, saat aku menanyakan kepada pegawai administrasi rumah sakit, katanya pembiayaan operasi ayahmu sudah di lunasi, makanya  aku tidak jadi membantu untuk membayar biaya operasi ayahmu, aku kira kau yang sudah melunasinya," ucap David. Alana semakin kebingungan.


"Aku mana punya uang segitu banyaknya?"


"Lalu siapa, yang membantu membiayai operasi Daddyku," gumam Alana dengan bertanya - tanya. seketika itu  Jesslyn langsung  melirik ke arah Ken yang sedang sibuk menghabiskan makananya.


"Sudah-lah  Alana, besok kita tanyakan. kepada pegawai rumah sakit, pasti kan ada bukti pembayaran dan juga nama orang yang melunasi biaya operasi Daddymu," tutur Jesslyn.


"Ehm, iya. baiklah," saut Alana.


.


.


.


.


.


.


.


ini udah dua episode aku gabung yah ,