
Jesslyn dan Kimy sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. sembari menunggu Alana, mereka berdua berbicara dan mendebatkan hal - hal yang tidak penting.
"Mana Alana? katanya mau tidur bersama kita?" tanya Kimy yang sedari tadi tak henti melihat ke arah pintu kamar.
"Biar dia tidur bersama Kakak. kenapa kau pakai acara memintanya untuk tidur bersama kita?" seru Jesslyn.
"Siapa yang memintanya? dia sendiri yang mau tidur bersama kita," bantah Jesslyn.
Getaran dan suara ponsel milik Jesslyn berbunyi. menghentikan percakapan kedua gadis itu.
Jesslyn meraih ponsel miliknya dan melihat ada satu pesan masuk tertera di layar ponselnya.
"Alana?" Jesslyn dengan segera membuka isi pesan singkat yang baru saja di kirimkan Kakak iparnya tersebut.
Jesslyn, aku tidak bisa tidur bersama kalian, maaf, ya. kalau aku tidur bersama kalian, nanti Kakakmu tidak mau tidur lagi bersamaku. nanti, bisa - bisa dia mengusirku. ~ Alana.
Jesslyn tersenyum membaca pesan dari Alana. seakan ada kepuasan sendiri di dalam hatinya.
Tidak apa - apa, lagi pula kau aneh - aneh saja, sedang bersama Kakak malah minta tidur bersama kita. ya sudah tidurlah sana. ~ Jesslyn.
Baiklah, selamat tidur. sampai bertemu besok pagi. ~ Alana.
Selamat tidur juga, Alana. ~ Jesslyn.
Jesslyn tak henti - hentinya tersenyum. hingga membuat Kimy keheranan saat melihatnya.
"Apa kau sudah gila senyum - senyum sendiri?" tegur Jesslyn.
"Kimy, apa kau tau kalau Alana tidak jadi tidur bersama kita?" Jesslyn berucap dengan begitu senangnya.
"Ya, mana ku tau."
"Makanya aku ingin memberitaumu!" seru Jesslyn.
"Kenapa memangnya?" tanya Kimy.
"Alana sepertinya tidak mau jauh dari Kakak, begitu juga dengan Kakak," ujar Jesslyn.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu?" tanya Kimy.
"Iya, lihat saja, pesan yang baru di kirimkan oleh Alana kepadaku." Jesslyn menyodorkan ponsel miliknya kepada Kimy. Kimy segera membaca historypesan singkat tersebut.
"Iya, sepertinya yang kau katakan benar. aku harap Kakak Ken dan Alana bisa saling jatuh cinta." Kimy mengembalikan ponsel itu kepada Jesslyn. ia juga merasakan hal yang sama dengan Jesslyn. merasakan ada kesenangan sendiri saat melihat hubungan Alana dan juga Ken.
"Iya, aku harap juga seperti itu. Ya sudah, ayo kita tidur." Jesslyn menarik selimutnya.
"Sebentar Jesslyn, aku mau memakai minyak serangga." Kimy meraih tasnya.
"Untuk apa memakai minyak serangga?" tanya Jesslyn dengan mengernyit keheranan.
"Aku takut di gigit serangga, sepertinya, serangga di sini ganas - ganas. kan di sini dekat pegunungan." Kimy mengambil botol minyak dan membuka penutupnya.
"Ini minyak serangga yang di belikan Papaku dari China, di jamin serangga tidak akan berani mendekat. dan kalaupun terkena gigitan serangga pasti langsung membaik jika mengoles minyak ini."
"Mana ada serangga di dalam Villa ini bodoh!" Jesslyn reflek memukul pelan kepala Kimy.
"Ada! tadi saja, leher Alana merah semua karna di gigit serangga." Kimy memulai mengoles minyak itu di leher dan sekujur tubuhnya. Jesslyn terdiam sejenak memahami kata - kata temannya itu.
"Di sini tidak ada serangga bodoh!" Jesslyn mendengus dan kembali memukul pelan kepala Kimy.
"Ya sudah kalau tidak percaya, jelas - jelas tadi aku melihat sendiri leher Alana merah semua karna di gigit serangga. aku mau mengambilkan dia minyak serangga ini, tapi, dianya malah tidak mau, kan aneh." Kimy menutup botol minyak itu dan memasukannya kembali ke dalam tas miliknya.
"Kenapa kau tidak memberitauku? kalau memang ada serangga di sini, aku kan bisa menyuruh penjaga Villa untuk segera membasminya," ujar Jesslyn.
"Aku tadi ingin memberitaumu. tapi, entahlah, Alana malah membungkam mulutku dan tidak boleh memberitaumu," ucap Kimy.
"Kenapa tidak boleh memberitaukan kepadaku?" tanya Jesslyn.
"Entahlah." Kimy mengangkat kedua bahunya.
"Tapi, kenapa, tadi, aku sama sekali tidak melihat tubuh Alana kalau sedang di gigit serangga?" gumam Jesslyn pelan.
"Karna yang di gigit hanya lehernya saja. Alana menutupi lehernya dengan rambutnya, makanya tidak kelihatan," saut Kimy.
"Memangnya hanya di leher saja?" tanya Jesslyn. Kimy mengangguk - anggukan kepalanya. Jesslyn kembali terdiam.
"Mana mungkin serangga hanya menggigit bagian leher saja?" kemudian Jesslyn membulatkan kedua matanya dan tiba - tiba tertawa geli.
"Kenapa kau tertawa?" Kimy memiringkan kepalanya dengan heran.
"Karna kau bodoh!" Jesslyn menyentuh dahi Kimy dengan telunjuk jarinya.
"Kimy, sepertinya Alana dan Kakak sudah ada di tahap yang kita harapkan. sepertinya kita tidak sia - sia datang kemari untuk memastikan hubungan mereka." Jesslyn melebarkan senyumannya.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Kimy.
"Astaga, Kimy. aku sungguh lelah berbicara dengan kebodohanmu!"
"Leher Alana merah bukan karna di gigit serangga bodoh! tapi karna Kissmark dari Kakak!" seru Jesslyn.
"Benarkah? apa Kakak Ken seganas itu," Kimy bergidik ngeri membayangkannya.
"Terserah kau bicara apa! Ayo kita mencoba menguping dan mengintip Kakak dan Alana di kamarnya," ajak Jesslyn.
"Tidak mau! kau mau cari mati sama Kakak Ken?" seru Kimy.
"Tidak! kali ini kita akan hati - hati." Jesslyn mencoba meyakinkannya.
"Tidak! nanti jika ketauan, kau pasti akan mengkambing hitamkan aku!" seru Kimy.
"Aku tidak akan mengkambing hitamkan dirimu. kita tidak akan ketauan, ayolah, Kimy." Jesslyn menarik - narik tangan Kimy.
"Tidak mau! seperti aku tidak mengenalmu saja! kau saja yang menguping. aku tidak mau di marahi oleh Kakak Ken. " Kimy membalutkan selimut dan menutupi sekujur tubuhnya.
"Sialan!" Jesslyn mengumpat kesal dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengintip Ken.
***
Keesokan paginya, Alana dan Ken melakukan perjalan kembali menggunakan mobil untuk pulang ke rumah bersama Kimy dan juga Jesslyn. perjalanan yang mereka tempuh terhalang kemacetan yang panjang. karna saat itu kebetulan terjadi kecelakaan lalu lintas di jalanan yang mereka lewati. sehingga memakan banyak waktu akibat kemacetan panjang itu. tubuh Alana tiba - tiba gemetar ketakutan seolah tak ingin melihat kecelakaan itu. jelas saja, ia masih trauma akan kecelakaan yang di alami oleh Daddynya beberapa waktu silam. Ken pun tau bagaimana ketakutan yang di rasakan oleh Alana.
"Kau kenapa? tanya Ken.
"Tidak apa - apa." Alana meremmmas tangannya yang basah akan keringat. wajahnya terlihat memucat takut.
"Kalau kau takut, tutup matamu, dan bersandarlah di bahuku." perintah Ken, Alana mengiyakannya.
"Jangan menggigit!" seru Ken.
"Iya!" seru Alana. Alana menutup kedua matanya dan menyandarkan wajahnya di bahu Ken.
"Jangan takut Alana," tutur Kimy dengan napas yang naik turun.
"Kau sendiri saja takut, malah menasehati Alana agar tidak takut," saut Jesslyn.
"Aku kan dari dulu memang takut melihat kecelakaan atau darah, entahlah, bagaimana jika kelak aku sudah resmi menjadi dokter seperti Papa. mungkin aku akan kejang - kejang terlebih dulu setiap kali menangani pasien yang mengalami kecelakaan." Kimy membulatkan kedua matanya dan bergidik ngeri saat membayangkan jika harus melihat dan menyentuh banyak darah setiap harinya, kelak.
"Andai saja, ada Jasson. aku akan memeluknya di sini," imbuh Kimy.
"Kalau kau takut darah, lalu kenapa kau mau mengambil pendidikan kedokteran?" tanya Jesslyn.
"Karna keinginan Papaku, semua keluargaku terjun di dunia medis jadi terpaksa, aku harus mengikuti jejak mereka semua." Kimy berucap seolah begitu terpaksa.
"Ya sudah, nikmati saja takdirmu, jangan mengeluh! tidak mungkin, kan. jika Papamu seorang dokter, dan membiarkanmu menjadi seorang penari. kan lucu," Jesslyn tertawa membayangkan Kimy jika menjadi seorang penari.
"Diamlah, tidak lucu!" seru Kimy.
"Lucu!" saut Jesslyn.
"Apa kalian bisa diam? kalau Kalian tidak diam, Kakak akan menurunkan kalian di sini!" seru Ken. Kimy dan Jesslyn terdiam seketika. namun, Jesslyn masih menahan tawanya.
"Iya, Kak." Jesslyn membungkam mulutnya rapat - rapat.
***
Ken terlebih dulu mengantar Kimy dan Jesslyn pulang ke rumah Mama Merry. ia dan Alana singgah sejenak. kemudian, berpamitan pulang.
Setibanya di rumah mereka. Alana langsung meminta izin kepada Ken untuk pergi ke toko kue miliknya. karna, tadi waktu di perjalanan, ia menerima pesan dari pegawainya yang mengatakan. bahwa selama dua hari ini ada wanita yang datang dan mencari- cari Alana. pegawai itu sudah bilang bahwa Alana sedang berpergian ke luar kota, namun wanita itu malah marah - marah dan hendak mengacaukan toko kue milik Alana itu.
entah wanita mana yang sedang mencari Alana.
Namun, Ken melarang keras Alana untuk pergi kemanapun. dan menyuruhnya agar pergi besok saja, Alana pun terpaksa mengiyakan perintah suaminya itu.
***
Malam harinya, seusai makan malam, Alana pergi ke kamar dan membawakan Ken secangkir kopi.
"Aku tinggal ke kamar Daddy, ya, Ken." Alana meletakan kopi itu di meja depan sofa yang sedang di duduki oleh Ken.
"Iya, aku juga mau istirahat." Ken meneguk kopi itu hingga habis. Alana pun berlalu keluar dari sana.
Ken beranjak dari duduknya, ia berpindah tempat ke atas tempat tidur. ia menyelonjorkan dan meregangkan tubuhnya akibat siang tadi begitu lelah selama melakukan perjalanan jauh. suara dering ponsel miliknya. membuat dirinya harus bergerak kembali dan berdecak kesal mengambil ponsel itu.
"Paman Leon." Ken berucap tanpa bersuara saat melihat nama itu tertera di layar ponselnya. Ken segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Iya, Paman?" sapa Ken.
"Ken, Paman ada kabar baik dari Celouis Company." suara Leon terdengar begitu semangat dari balik ponsel itu.
"Katakan, Paman. apa kabar baiknya?" tanya Ken dengan penasaran.
"Tiga perusahaan ternama ingin mengajukan kerja sama dengan Celouis Company, Ken. dan salah satu diantaranya, pernah melakukan kerja sama dengan perusahaan milik Afford," tutur Leon dengan bangganya.
"Benarkah, yang Paman katakan?" tanya Ken seakan tak percaya.
"Iya, Ken. sebenarnya Paman mau memberitaumu kemarin. tapi kata Tuan Gio. kau sedang pergi berbulan madu. jadi, Paman tidak ingin mengganggu waktumu bersama istrimu." suara Leon diriingi dengan tertawa dari balik ponsel itu.
"Paman bisa saja, haha. baiklah, Paman. terimakasih banyak. besok Ken akan ke kantor untuk menangani ketiga tender ini," ujar Ken. Leon mengiyakannya.
"Tunggu Ken, ada satu hal lagi yang perlu kau tau," ucap Leon.
"Apa, Paman?" tanya Ken penasaran.
"Paman sudah mencari tau, yang menyebabkan kerugian dan kebangkrutan atas tuduhan buruk akan Celouis Company itu tak lain ulah Paman Alana sendiri," ujar Leon. Ken begitu terkejut mendengarnya.
"Maksud Paman, itu Paman Afford?" tanya Ken. Leon membenarkannya.
"Bagaimana Paman bisa tau dan menyimpulkan kalau itu memang ulah Paman Afford?" tanya Ken.
"Paman tau semuanya dari orang kepercayaan Afford yang sudah tidak mengabdi lagi dengannya. Afford sengaja, menyuruh beberapa rekan bisnisnya bekerja sama dengan perusahaan Tuan Holmes, untuk mensabotase perusahaannya. entah bagaimana rencana mereka, yang Paman tau. mereka semua menuduh Tuan Holmes menggelapkan dana dan merugikan saham property milik clientnya. Tuan Holmes memang menerima Tender dari salah satu clientnya dan itu pun tidak sendirian. terlebih lagi, ia tak menerima uang sepeserpun. karna, yang menghandle semua nya itu rekan bisnisnya. orang suruhan Afford. tapi mereka malah meng-kambing hitamkan Tuan Holmes," tutur Leon.
"Bagaimana bisa, Paman Afford melakukan itu semua, Paman? padahal Paman Holmes adalah adik iparnya, bukan?" tanya Ken.
"Bisa saja, Ken. karna di Irlandia, saingan Afford hanyalah perusahaan milik Tuan Holmes saja," ucap Leon.
"Baiklah, Paman. terimakasih banyak atas informasinya," Leon mengiyakannya. mereka berdua sama - sama mengakhiri panggilan masuk tersebut.
"Benar - benar licik. lihatlah, Afford. aku tidak pernah bermain - main dengan perkataanku. aku akan membalas apa yang telah kau lakukan kepada Papa dan juga Paman Holmes," Ken berucap seakan ada api yang melebur di dalam jiwanya.
Ken beranjak pergi ke kamar Holmes. ia hendak memberitaukan kabar itu kepada mertuanya. di kamar, Holmes terlihat sedang berbincang bersama Alana. Ken mendekati istri dan mertuanya tersebut.
"Katanya kau mau beristirahat, Ken?" tanya Alana.
"Iya, sebentar. aku mau berbicara dengan Paman Holmes," jawab Ken seraya mendudukan tubuhnya di samping Holmes.
"Kau mau bicara apa, Nak?" tanya Holmes.
"Paman, Ken pernah berkata kepada Paman, kalau Ken akan membuat Celouis Company, bangkit kembali. apa Paman tau, tiga perusahaan ternama yang ada di kota kita, mengajukan kerja sama dengan perusahaan Paman," ujar Ken.
"Benarkah, itu Nak? jadi, Celouis Company di percaya kembali?" tanya Holmes seakan tak percaya akan perkataan menantunya itu. Ken membenarkan semuanya. Holmes bahagia bukan main mendengar perushaan yang ia rintis bersama ayahnya mulai dari nol bisa bangkit kembali, padahal ia pernah patah semangat dan hilang harapan untuk membuat perusahaan itu bangkit. namun, nyatanya? perusahaan itu bisa beroprasional kembali berkat Ken.
"Terimakasih, Nak. Paman sangat berterimakasih, kau sudah mau membantu Paman," tutur Holmes. ia perlahan mencoba merengkuh tubuh Ken untuk memeluknya. Ken memeluk tubuh mertuanya tersebut.
"Terimakasih, Nak." ucapan itu berkali - kali di lontarkan oleh mulut Holmes kepada menantunya.
"Sama - sama, Daddy." Ken menyautinya. hingga membuat Holmes tak percaya, bahwa Ken memanggilnya dengan sebutan Daddy. begitu juga dengan Alana. Holmes tersenyum mendengarnya.
"Anakku." Holmes berkaca haru. lalu, mereka berdua saling melepas pelukannya.
"Ya sudah, Daddy. Ken, mau kembali ke kamar untuk beristirahat." Ken berpamitan namun, ia melirik ke arah Alana seakan mengisyaratkan sesuatu.
"Iya, Nak. silahkan."
Ken pun berlalu pergi dari kamar mertuanya tersebut dan kembali ke kamarnya.
"Alana, Daddy, tau. mana laki - laki baik dan tidak. karna Daddy seorang laki - laki. kau tidak salah memilih suami. semoga kau dan Ken akan selalu saling mencintai satu sama lain," tutur Holmes. tangannya mencoba bergerak menyentuh kepala putrinya itu.
"Mencintai?" tiba - tiba Alana merasa sedih akan perkataan Ayahnya. namun, ia terpaksa mengiyakannya. ia melanjutkan kembali perbincangannya dengan Ayahnya yang sempat terputus. tak lama kemudian Alana mencoba mengakhir perbincangannya, karna Ayahnya terlihat sudah lelah.
"Daddy sekarang istirahat, ya." Alana membantu Holmes untuk tidur dan membalutkan selimut ke tubuh ayahnya itu. lalu, ia berpamitan kembali ke kamarnya.
****
Alana kembali ke kamar, dan ia melihat Ken merebahkan tubuhnya di sana dengan mata yang sudah terpejam, Alana menutup jendela yang tirainya terlihat masih terbuka. lalu, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Ken. ia hendak membalutkan selimut di tubuh suaminya. namun, Ken membuka kedua matanya.
"Ku kira kau sudah tidur!" ujar Alana.
"Apa Daddy sudah tidur?" tanya Ken.
"Iya, aku menyuruhnya untuk istirahat."
"Oh iya, Ken. terimakasih banyak," tutur Alana.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Ken.
"Terimakasih sudah mau membantu perusahaan Daddy," ujar Alana dengan tersenyum.
"Untuk apa, jika hanya berterimakasih saja?" tanya Ken dengan menggoda.
"Lalu kau maunya apa?" seru Alana dengan ketusnya. Ken tersenyum, ia tiba - tiba memeluk Alana dan menggeluti tubuhnya.
"Jika tau seperti ini, aku tidak akan berterimakasih kepadanya," Alana menggerutu dengan tidak jelas saat Ken mengajaknya bergelut.
.
.
.
.