My Introvert Husband 3

My Introvert Husband 3
Rapi sekali



"Kau memang menyebalkan, tapi kau sama sekali tidak menyusahkanku, aku lebih menyukai Alanaku yang cerewet seperti ini," Ken menarik tubuh Alana, memberi banyak ciuman dan memeluknya seraya memejamkan kedua matanya seakan tak ingin mengakhiri pelukan itu.


"Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, ayo kita tidur." Ken melepaskan pelukan itu, ia merebahkan tubuhnya, menarik Alana dan mendekapnya dengan erat, membuat Alana semakin merasa dicintai, wanita mana yang tidak bahagia memiliki suami yang wajahnya  terlihat tak ramah namun sangat penyayang seperti laki-laki yang ia peluk saat ini.


"Ken..." Mendengar panggilan Alana, Ken yang baru saja memejamkan kedua mata, kini membukanya secara paksa.


"Ada apa?"


"Lapar..." Alana memelaskan wajahnya.


"Kau tadi sudah makan malam, makan begitu banyak snack? bagaimana bisa lapar lagi?"


"Tadi yang lapar diriku, sekarang anakmu!" bantah Alana.


"Kau tadi katanya ingin membelikanku ice cream?"


"Besok saja, ya. Aku benar-benar lelah jika harus keluar rumah lagi." Tuturan Ken hanya membuat Alana diam dan begitu jengkel.


Ken mendengus kecil. "Take away? kalau kau mau aku akan menyuruh paman Lux untuk membelikannya," lanjut Ken.


"Iya, aku mau... aku mau..." jawab Alana dengan bersemangat. Ken beranjak duduk dan diikuti oleh Alana.


"Ice cream dengan nutella sepertinya enak." Alana menelan salivanya membayangkan bagaimana nikmatnya menikmati ice cream dengan campuran selai coklat tersebut.


"Baiklah, tunggulah di sini, aku akan menyuruh Paman Lux untuk membelikan Ice cream dan nutella." Ken beranjak turun dari tempat tidur dan menemui penjaga sekaligus sopirnya itu di luar rumah untuk menyuruhnya membelikan apa yang sedang istrinya inginkan.


Setelah itu, Ken kembali ke kamar dan mengajak Alana tidur, Ken memejamkan kedua matanya dan tertidur seketika, namun tidak dengan Alana yang sedaritadi terjaga dan  tidak sabar menunggu makanan yang ia inginkan segera datang.


Suara pelan  ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Membuat wanita itu bergegas turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar tersebut. Terlihat Paman Lux berdiri dengan membawa dua kantung plastik di tangannya, ia menyodorkan kantung plastik itu kepada Alana dan berpamitan pergi dari sana.


Alana begitu bersemangat menuju ke dapur, mengambil sendok, lalu kembali lagi ke kamarnya. Menutup perlahan pintu kamar itu agar tak membuat suaminya terbangun.


Alana duduk dibawa lantai, membuka kedua kantung yang di dalamnya menampakan satu toples nutella dan juga satu box ice cream berukuran sedang.


Alana dengan tak sabar membuka penutup itu, menuangkan beberapa sendok nutella di atas ice cream tersebut dan melahapnya tanpa ampun.


"Enak sekali." Alana menggelang-gelangkan kepalanya, seakan sedang berada di surga bisa memakan apa yang sedang ia inginkan. Tak memberi jeda, ia menghabiskan ice cream tersebut hingga tak tersisa dari tempatnya.


Merasa kurang puas, Alana juga tak segan menyendok selai nutella dan memakannya begitu saja, padahal sebelum hamil, Alana sangat tidak menyukai dan menghindari makanan manis apalagi memakan selai nutella tanpa menggunakan roti seperti ini. Namun tak membuat dirinya mual, malah membuatnya ingin sekali menghabiskan selai itu, namun tenggorokannya yang hampir ngilu merasa tak sanggup untuk menghabiskan selai coklat tersebut.


Alana beranjak berdiri dan meletakan selai nutella yang tersisa hanya sedikit itu di atas meja samping tempat tidur. Ia berjalan ke dapur, mengambil air dan melarutkan sisa-sisa makanan manis itu dari dalam mulutnya.


"Eherm, tenggorokanku hampir sakit."


Alana pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Lalu, ia kembali ke ke kamar, merangkak ke atas tempat tidur dan Menarik paksa tangan Ken supaya mau memeluknya, hingga gerakan itu membuat suaminya terbangun.


"Apa Paman Lux sudah datang?" tanya Ken, kedua matanya menyipit buram, suaranya terdengar samar, sebab dirinya memang benar-benar lelah.


"Sudah, aku sudah memakan ice cream dan nutellanya," jawab Alana sambil mengusap mulutnya yang masih sedikit basah.


"Ayo kita tidur. Peluklah aku!" Alana menyuruh Ken supaya mengeratkan pelukannya.


Ken hendak kembali memejamkan kedua matanya, namun, kedua matanya tak sengaja melihat ke arah meja yang tedapat toples nutella yang terlihat sudah hampir habis. Kedua mata Ken melebar dengan sempurna, ia seketika beranjak duduk.


"Alana, kau menghabiskan selai nutellanya?" tanya Ken.


"Tidak, aku masih menyisakannya sedikit." Alana ikut beranjak duduk.


"Enak sekali, aku ingin menghabiskannya, tapi tenggorakanku sangat ngilu." Alana menelan salivanya, merasakan tenggorokannya yang hampir saja sakit akibat memakan nutella tersebut.


"Astaga, Alana..." teriak Ken. "Apa kau sudah kehilangan akal menghabiskan begitu banyak selai nutella?" serunya dengan kesal. Alana hanya diam, Ken seketika beranjak turun dan meninggalkan kamar itu, lalu, ia kembali dengan membawa gelas berukuran besar yang menampakan air putih di dalamnya.


"Ayo minumlah ini!"


"Aku tadi sudah minum."


"Minumlah lagi yang banyak, nanti tenggorokanmu sakit!" perintah Ken, Alana mengiyakannya dan kembali meneguk air tersebut hingga habis.


Hanya gara-gara memakan nutella, sebelum tidur Alana harus menutup  telinga karna tak henti mendapatkan omelan dan siraman rohani dari suaminya. wkwk.


 


 


 


****


 


 


 


Keesokan paginya, David terlihat berdiri di depan cermin sambil merapikan bajunya yang sudah rapi itu. Terlihat tak berantakan, namun dirinya merasa masih ada yang kurang.


Ashley berdiri di samping David, memperhatikan sahabatnya itu dari atas hingga bawah. "Kau mau ke mana sepagi ini sudah rapi? apa kau mau menemui calon istrimu?" tanyanya sambil meletakan kedua tangan di atas pinggang seakan menatapnya penuh selidik.


"Tidak, aku ingin mengantarkan barang belanjaan milik Valerie yang tertinggal semalam," jawab David. Masih sibuk merapikan kerah kemejanya.


Ashley menepiskan senyuman meledek. "Hanya mengantarkan barang belanjaan milik Valerie, kau serapi ini?"


"Kenapa memangnya? aku memang selalu berpakaian rapi!"


"Tidak biasanya, selain bekerja, kau tidak pernah serapi ini, apalagi hanya--"


"Hanya apa?" seru David sambil bersungut.


"Ti-tidak, lupakan saja! Sudah pergilah sana, Valerie pasti menunggumu!" ledek Ashley. David melototkan kedua matanya.


"Maksudku Valerie pasti menunggumu untuk mengantarkan barang belanjaannya," Ashley terkekeh dan berlalu meninggalkan sahabatnya tersebut.


"Shit, apa yang aneh? kenapa dia meledekku seperti itu?" umpat David.


 


 


 


***


 


 


 


 


David berada di dalam mobil  menuju ke rumah Valerie untuk mengantarkan barang belanjaan milik wanita itu yang tertinggal semalam di dalam mobilnya.


Setibanya di sana, David memarkirkan mobilnya dengan sempurna di halaman rumah Valerie. Ia turun dari mobil menenteng kantung plastik yang diyakini ialah milik wanita itu, dengan langkah kaki yang bersemangat, ia mendekat ke arah pintu rumah yang terlihat tertutup rapat, punggung telapak tangannya terangkat dan  segera mengetuk pintu kayu itu berkali-kali. Merasa tak ada sautan, David hendak mengetuk pintu itu kembali, namun ia mengurungkannya, tatkala  terdengar suara sautan wanita dari dalam.


Ceklek


Pintu terbuka sebagian, menampakan Valerie berdiri dan masih  memegang gagang pintu itu,  rambutnya yang basah dibalut dengan handuk berwarna putih, sedikit membuat David tak bergeming saat melihatnya.


"David kau kemari?"  sapaan Valerie hanya membuat David sedikit menepiskan senyumannya.


"Maaf, aku baru selesai mandi. Ayo masuklah..." Valerie membuka lebar pintu rumahnya, dan mempersilahkan laki-laki yang kini menjadi bosnya itu untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk di atas sofa.


"Ada apa sepagi ini kau ke mari?" tanya Valerie, menatap heran sambil mendudukan tubuhnya di seberang sofa yang di duduki oleh David, membuat mereka berdua kini duduk saling berhadapan.


"Ehm, aku kemari ingin mengantarkan barang belanjaanmu." David menyodorkan kantung plastik yang ia bawa  itu kepada Valerie.


"Barang belanjaan?" Valerie menerimanya dan memeriksa isi kantung tersebut.


"Semalam kau melupakannya di dalam mobilku," ujar David.


"Astaga, pantas saja aku cari tidak ada... aku kira semalam aku lupa membelinya, ternyata tertinggal di mobilmu, terimakasih banyak, David. Jadi merepotkanmu," ucap Valerie.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Valerie.


"Ehm, belum, setelah dari sini aku akan mencari sarapan."


"Ini sudah hampir siang, lebih baik kau sarapan saja dulu, kebetulan sekali aku aku tadi  selesai memasak. Ayo kita sarapan bersama." Valerie beranjak berdiri bermaksud mengajak laki-laki itu untuk masuk ke dapur.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu, aku hanya ingin mengantarkan barang belanjaanmu saja."


"Sama sekali tidak merepotkan. Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku, karna semalam kau sudah mau memberiku tumpangan dan  mengantarkan barang belanjaanku yang tertingal."


David masih terdiam bingung, ia tidak terbiasa makan di rumah seorang wanita. Tapi dirinya juga tidak mungkin menolak ajakan Valerie. David beranjak berdiri. "Baiklah..."


Valerie tersenyum karna David mau menerima ajakannya. David berjalan mengikuti Valerie yang sedang berjalan mendahuluinya, menunjukan dapur yang ada di dalam rumah minimalisnya itu. Valerie menarik salah satu kursi dan menyuruh David untuk mendudukan tubuhnya di sana,  mengambilkan piring dan  memindahkan makanan di atas piring kosong itu. Membuat laki-laki itu merasa diperhatikan.


"Terimakasih..."


"Kau tidak sarapan juga?" tanya David.


"Sarapan, tapi tunggu sebentar, aku tinggal ke kamarku dulu."


David mengiyakannya.


Valerie berlalu pergi meninggalkan dapur itu untuk kembali ke kamarnya.


Sembari menunggu Valerie, kedua mata David memperhatikan sekitar. Banyak sekali makanan yang sudah  dikemas dan  tertumpuk rapi di  sana hingga membuatnya bertanya-tanya.


"Untuk apa Valerie mengemas makanan sebanyak itu?" gumam David.


Tak lama kemudian, Valerie kembali menghampirinya, rambut panjang yang setengah basah kini tergerai bebas, hingga menampakan wajah ayu wanita itu. Membuat perhatian David seketika teralihkan olehnya.


"Maaf, aku membuatmu menunggu." Valerie mendudukan tubuhnya dan memindahkan makanan di piring kosong yang baru saja ia ambil.


"Ayo kita makan!" perintahnya Memulai mendaratkan satu sendok makanan di mulutnya, begitu juga dengan David.


Mereka berdua pun mulai menikmati makanan mereka masing-masing, sambil melontarkan obrolan ringan di sela-sela makannya.


"Kau yang memasak ini semua?" tanya David sambil mengunyah pelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Valerie mengiyakannya.


"Tidak enak ya?" tanya Valerie.


"Sangat enak, kau pandai memasak," puji David.


Valerie tersenyum malu akan pujian itu. "Aku tidak sepandai itu."


"Tapi benar-benar sangat enak. Lalu, untuk apa kau mengemas begitu banyak makanan?" tanya David matanya menunjuk ke arah  tumpukan kotak makanan yang ada di ujung sana.


"Oh, itu. Aku mau membagikan makanan itu."


"Untuk siapa?" tanya David.


"Untuk siapa saja," jawab Valerie sambil melanjutkan kembali memakan makanannya.


"Oh..."


 


 


 


***


 


 


Seusai sarapan, Valerie mengambil box berukuran besar dan memindahkan makanan yang sudah ia kemas  itu ke dalam box besar tersebut. David menghampiri Valerie dan berdiri di sampingnya.


"Mau kau bawa ke mana?" tanyanya.


"Ke jembatan yang dekat dengan rumahku, aku mau pergi sebentar, kau masih ingin tetap di sini dulu, atau mau pulang?" tanya Valerie.


"Untuk apa kau pergi ke jembatan?" tanya David sambil mengernyitkan dahinya.


"Membagikan makanan ini."


"Apa aku boleh ikut denganmu?" tanya David.


"Kalau kau mengizinkan," imbuhnya.


"Kalau kau mau tentu saja boleh..."


Setelah mendapat izin dari Valerie untuk ikut membagikan makanan tersebut, mereka berdua pun berlalu keluar dari rumah.  David mengambil alih box besar yang dibawa oleh Valerie. Hendak memasukannya ke dalam mobil namun Valerie melarangnya, dirinya lebih memilih berjalan kaki karna  letak jembatan dari rumah tidaklah jauh.


David dan Valerie berjalan saling beriringan. David yang membawa box yang berisi makanan itu terlihat seperti kelelahan, karna merasa jalan menuju jembatan tidaklah dekat seperti apa yang Valerie katakan. Namun, ia tak menunjukan rasa lelah di hadapan wanita itu.


setibanya di jembatan, Valerie mengambil alih box itu dari tangan David.


"Tunggulah di sini..." David mengiyakannya. Ia sama sekali tak memindah posisi dan memperhatikan gerak tubuh Valerie yang berjalan menjauh dari jangkauannya.


David mengernyit penasaran, saat melihat Valerie di dekat jembatan tersebut. "Sebenarnya apa yang dia lakukan?" ia melipat tangan kekarnya di atas perut, masih memperhatikan Valerie dari kejauhan.


Tak lama kemudian, anak-anak jalanan terlihat menghampiri wanita itu, satu persatu dari mereka mengambil makanan dari dalam box yang Valerie pegang. Membuat David terkesiap saat melihatnya.


"Dia membagikan makanan untuk anak-anak itu?" David memindah posisinya dan berjalan menghampiri Valerie yang masih sibuk membagikan makanan tersebut.


Dari dekat, David masih memperhatikan Valerie yang tersenyum dan mengajak anak-anak itu berbicara.


"Kak Valerie tidak mau menemani kami?" tanya salah seorang anak kecil perempuan yang memegang tangan Valerie.


"Lain kali Kakak akan menemani kalian ya, hari ini Kakak tidak bisa karna ada perlu." Valerie tersenyum, mengusap kepala anak itu. Mengerti akan ucapan Valerie, mereka semua berpamitan kepada Valerie dan pergi dari sana. Dari kejauhan Valerie melihat anak-anak itu sedang menikmati makanan yang telah ia masakan.


"Kau akrab sekali dengan mereka." Suara David membuyarkan pandangan Valerie. Menoleh ke arah laki-laki itu.


"Iya, setiap dua hari sekali aku menemui mereka."


"Mereka tidak memiliki tempat tinggal?" tanya David.


"Mereka tinggal di rumah singgah seperti panti asuhan yang letaknya tak jauh dari sini, tapi tempat itu tidak terawat dan jauh dari kata layak, pengurusnya juga sangat tidak menyukaiku, itu sebabnya aku hanya bisa menemui mereka di sini, mereka adalah anak-anak yang tidak diinginkan dan dibuang oleh orang tuanya," tutur Valerie dengan tatapan ibah.


"Kenapa pengurusnya tidak menyukaimu?" tanya David.


"Dulu, aku ingin sekali memberi bantuan untuk memperbaiki tampat tinggal mereka, tapi para pengurusnya menolak bantuanku dan mereka menuduhku jika aku ada maunya, sejak saat itu mereka semua melarangku untuk datang ke sana."


David terdiam, menatap lekat wanita yang ada di sampingnya saat ini, tak mempercayai bahwa wanita itu jauh dari apa yang ia pikirkan selama ini.


Valerie menoleh ke arah david. "Ayo kita kembali," ajaknya. David mengiyakan, mereka berdua berjalan beriringan kembali ke rumah. Sesekali David melirik ke arah Valerie, seakan sedang menyusun perkataan.


"Valerie, apa hari ini kau sibuk?" tanya David.


"Tidak, pekerjaan rumah sudah ku selesaikan semua."


"Ehm, sebenarnya aku  sungguh bosan. Apa hari ini kau mau menemaniku minum kopi atau hanya sekedar jalan-jalan?" tanya David, suaranya terdengar mengecil, takut jika Valerie menolak ajakannya.


"Minum kopi?"


"Iya, jika kau mau... kalau tidak mau tidak apa-apa," ujar David.


"Tentu saja, aku mau." Valerie berucap dengan penuh semangat, membuat energi itu ikut tersalurkan kepada David yang seketika ikut bersemangat saat wanita itu mau menerima ajakanya. David dan Valerie bergegas cepat untuk mengambil mobil, dan David segera melaujkan mobilnya ke tempat yang sudah ia pikirkan sebelumnya.


 


***