
Ken tidak bisa tidur malam itu, begitu juga Alana. meskipun ia memejamkan kedua matanya tetapi bukan berarti ia tidur. Padahal sebenarnya, wanita itu sangat mengantuk sekali, namun, ia tidak mau benar-benar tidur karna takut jika Ken akan meninggalkannya sendirian. Alana membuka salah satu kelopak matanya bermaksud untuk mengintip Ken.Namun sialnya, Ken malah mengetahuinya.
"Kenapa kau tidak tidur lagi? kau takut jika aku meninggalkanmu?" tanya Ken.
"Siapa yang takut?" Alana membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Lalu, kenapa masih belum juga tidur?"
"Aku masih belum mengantuk." Alana menguap hingga mata kedua matanya terlihat berair.
"Kau ini mengantuk! Ayo tidurlah..." Ken mengusap-usap kepala Alana berharap segera bisa menidurkan wanita itu.
"Kenapa kau menyuruhku tidur? kau pasti mau meninggalkanku ke kamar David? iya, kan?" seru Alana.
"Aku menyuruhmu tidur, karna ini sudah lewat tengah malam, kau sudah mengantuk!"
"Aku tidak mengantuk... lihatlah!" Alana melebarkan paksa kedua matanya membuat Ken gemas akan melihat tingkahnya.
"Kau ini..." Ken mendesis seraya menggigit pipi Alana dengan begitu gemasnya.
"Coba saja, pipimu ini makanan, aku benar-benar akan menggigitnya."
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, aku berjanji akan menemanimu di sini. Ayo tidurlah," perintahnya seraya memeluk Alana dengan begitu erat.
"Ya sudah, aku tidur. Tapi, jangan meninggalkanku!" pinta Alana.
"Iya, tidak!" saut Ken.
"Awas saja sampai kau berani meninggalkanku!" bibir Alana berucap dengan manjanya sembari memeluk Ken dan mengendus aroma khas tubuh suaminya itu.
"Astaga, kau ini Banyak bicara sekali! " seru Ken. Alana begitu lega, ia merasa nyaman untuk memejamkan kedua matanya.
sunyi
selang beberapa menit
Tiba-tiba, pikiran Ken terlintas akan nama Valerie. "Oh, iya. Sayang, aku lupa bertanya kepadamu soal Valerie," ujar Ken namun ia tak mendapat jawaban dari Alana.
"Dia sudah tertidur." Ken melonggarkan pelukannya agar lebih leluasa melihat wajah Alana yang sudah pulas akan tidurnya. Namun, Alana kembali mengeratkan pelukannyanya seakan tak mau lepas dari suaminya tersebut, hingga membuat Ken tersenyum di buatnya.
"Dia benar-benar takut ku tinggalkan!" Ken memberi banyak ciuman di kepalanya. Ia erdiam sejenak.
"Aku masih penasaran, apa yang dikatakan Valerie kepada Alana saat aku mencari Kimmy dan Jesslyn? kenapa Alana sampai menyalahkan dirinya sendiri?" gumamnya.
"Bahkan kekacauan di dapur, ku rasa Valerie memang sengaja melakukannya." Ken menghilangkan pikiran-pikiran itu, dan mecoba mengistirahatkan tubuhnya.
***
Keesokannya, Alana terbangun terlebih dahulu, ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai baju santai miliknya, ia masih melihat Ken terlelap tidur, dengan posisi melentang sembarangan. Alana tersenyum, mengusap dahinya. Ia hendak membangunkan suaminya tersebut, namun rasanya tak tega. karna, ia tau betul semalam Ken sangat sulit sekali untuk tidur. Alana menjauhkan tubuhnya berjalan mendekati jendela dan membuka ventilasi itu, membiarkan cahaya matahari dan udara pagi menyelinap bebas ke dalam kamar yang ia tempati saat ini.
Langkah kaki Alana mengajaknya keluar dari kamar dan pergi menuju ke kamar Jesslyn, Alana langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu kamar itu terlebih dulu.
Ia sedikit terkejut saat melihat Valerie juga tertidur di antara adik ipar dan temannya itu. Alana mendekat mencoba membangunkan Jesslyn dan juga Kimmy, namun mereka tidak kunjung bangun juga, Alana terpaksa menarik salah satu kaki Kimmy, hingga wanita itu terkejut dan berteriak sangat kencang sekali, bahkan membuat Jesslyn dan Valerie terbangun dengan sendirinya.
"Kau ini sungguh berisik!" Jesslyn melotot kepada Kimmy.
"Alana mengejutkanku!" ujar Kimmy.
"Bukan mengejutkanmu, tapi membangunkanmu!" saut Alana.
"Ayo mandilah, lalu kita sarapan. Ini sudah siang, apa kalian tidak ingin pergi ke pantai?" tanya Alana.
"Aku mau ke pantai..." Kimmy dan Jesslyn begitu semangat saat mendengar kata pantai, mereka cepat-cepat turun dan berebut kamar mandi, hingga membuat keduanya saling beradu mulut. Akhirnya Kimmy yang mengalah untuk membiarkan Jesslyn terlebih dulu menggunakan kamar mandi itu.
Sementara Alana ia masih mematung akan posisinya menatap Valerie yang saat ini masih duduk berdiam diri di atas tempat tidur.
"Kau tidur di sini Nona Valerie?" tanya Alana. Valerie hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara dan segera merapikan rambut dan bajunya untuk berlalu keluar dari kamar itu tanpa berpamitan dengan Alana.
Saat dirasa Valerie sudah pergi dari sana, Alana segera mendekati Kimmy yang sedang duduk dengan wajah cemberutnya. "Kimmy, kenapa Nona Valerie tidur di sini?" tanya Alana.
"Entahlah, sepertinya bertengkar dengan kekasihnya, semalam dia terlihat habis menangis dan meminta untuk tidur bersamaku dan juga Jesslyn," jawab Kimmy.
"Menangis? menangis kenapa?" tanya Alana.
"Entahlah, apa kau tau kenapa Nona Valerie menangis?" tanya Kimmy.
"Kalau aku tau, mana mungkin aku bertanya kepadamu! Kau ini, aku sedang bertanya kau malah bertanya balik..." Alana dengan gemas mengacak-acak rambut Kimmy yang berantakan.
"Setelah mandi, cepatlah sarapan, aku akan kembali ke kamar!" perintah Alana. Kimmy segera mengiyakannya.
Alana disibukan dengan memunguti baju kotor miliknya dan juga milik Ken. namun di tengah kesibukannya, ia dikejutkan oleh Jesslyn yang tiba-tiba masuk ke dalam sana.
"Alana...."
"Jesslyn, kau mengejutkanku!"
"Maaf." Jesslyn terkekeh, lalu, ia bertanya, "Alana, apa aku boleh meminta lipstickmu? bibirku pucat sekali, aku lupa tidak membawa lipsitck, memakai lipstick milik Kimmy tetapi warnanya sangat tidak melekat sekali di bibirku."
"Boleh, pakailah lipstick milikku. Ambilah di dalam tasku!" Alana menunjuk tas miliknya yang tergeletak di atas meja yang dihimpit oleh dua sofa kecil di sana.
"Baiklah..." Jesslyn meraih tas milik Alana yang memiliki ukuran cukup besar, ia mencoba membongkar semua isi di dalam tas itu, terlihat begitu banyak sekali make up termasuk beberapa lipstick dengan warna yang berbeda, ada jam tangan dan beberapa barang lainnya berada di dalam tas itu.
Jesslyn begitu penasaran melihat semua barang-barang yang ada di dalam tas milik Alana. Tas itu memliki banyak sekali kantung dengan resleting yang tertutup. Ia membuka salah satu reseleting kantung itu dan melihat ada dua pembalut yang kemasannya belum terbuka sama sekali di salam sana. "Alana, apa ini pembalutmu?" tanya Jesslyn.
"Pembalut?" Alana menoleh ke arah Jesslyn yang sedang memegang pembalut tersebut.
"Apa kau memakainya?" tanya Jesslyn.
"Tidak... aku tidak sedang haid," jawab Alana.
"Apa pembalut ini boleh untukku? kebetulan aku sedang haid dan kehabisan pembalut," pinta Jesslyn.
"Boleh, pakailah... aku saja tidak tau kalau di dalam tasku ada pembalut," ujar Alana.
"Kau ini lucu, bagaimana bisa tidak tau?" Jesslyn terkekeh.
"Iya, rasanya aku sudah lama tidak haid. Apalagi--" Alana tak melanjutkan perkataannya, ia terdiam sejenak mengingat kembali kapan dirinya terakhir haid, namun ia sama sekali lupa.
"Apalagi apa, Alana?" tanya Jesslyn.
"Apalagi tanggal haidku tidak teratur, jadi aku lupa..." Alana melebarkan senyumnya.
"Oh..." Jesslyn menganggukan kepalanya. Lalu, ia kembali membuka resleting kantung lainnya yang ada di dalam tas tersebut, dan ia menemukan beberapa obat di dalam sana.
Jesslyn mengernyit. "Alana, ini obat apa?" tanyanya. Alana kembali menoleh ke arah Jesslyn. Ia berjalan mendekati adik iparnya tersebut.
"Oh ini..." Alana menyaut obat tersebut dari tangan Jesslyn.
"Iya, obat apa ini?" tanya Jesslyn.
"Astaga, aku lupa membuangnya. Ini sudah kadarluarsa, ehm, ini hanya vitamin saja, waktu Daddy kecelakaan aku sempat sakit," ucap Alana, ia mendekati tong sampah dan membuang obat tersebut ke dalam sana.
"Sakit? kau sakit apa?" tanya Jesslyn. Alana terlihat bingung menjawab pertanyaan Jesslyn. Ia sejenak melirik ke arah Ken yang masih tertidur.
"Kau sakit apa Alana?" tanya Jesslyn dengan begitu penasaran.
"Ehm... waktu Daddy kecelakaan, aku sangat terpukul hingga aku jatuh sakit..." jawab Alana.
"Kau kan tau, waktu itu aku sendirian, tidak ada satu orang pun yang mendukungku."
"Bahkan--" Alana menunduk dan tak sanggup saat mengingat hari-hari terberat dalam hidupnya itu. Tiba-tiba ia ingin menangis, namun Alana sekuat tenaga menahannya.
Jesslyn meletakan tas milik Alana ke tempatnya semula. Kemudian, ia memeluk kakak iparnya tersebut. "Sekarang kau tidak sendiri, semua orang menyayangimu termasuk aku."
"Terimakasih, Jesslyn. Aku tidak tau, jika aku tidak mengenalmu, mungkin hidupku tidak akan seperti ini." Alana membalas pelukan itu, air matanya lolos membasahi wajahnya.
.
.
.
.
.
.